
Fatih memeluk erat tubuh Shofi yang masih terguncang.
Hanya tangisan yang menggema di sebuah ruangan kedap suara.
Dengan setia Fatih terus memeluk erat tubuh dengan penuh kasih sayang dan cinta.
Sesekali Fatih menghujani Shofi dengan sebuah kecupan.
"Dear, Ak-aku pembunuh,"
Lilir Shofi gemetar sungguh Shofi tadi entah kerasukan apa. Walau sebenci-bencinya Shofi dan mulut berkata pedas namun hati kecil Shofi masih ada rasa kemanusiaannya.
Fatih hanya diam saja membiarkan Shofi meluapkan segala emosinya. Fatih tahu Shofi butuh itu untuk mengeluarkan segala gejolak yang selalu membelenggu hatinya. Shofi butuh itu agar tak ada kesakitan lagi yang Shofi rasakan.
Fatih tahu Shofi butuh itu untuk mengeluarkan kesesakannya hingga hilang tak ada dendam lagi.
"Ak-aku pem-pembunuh!"
Suttt ...
Fatih mengisyaratkan agar Shofi diam, Fatih menggeleng kuat sambil menghapus air mata Shofi.
"Apa sudah lebih baik?"
Shofi hanya menggeleng dengan mata yang terus mengalir.
"Apa sudah puas?"
Hanya gelengan kepala yang Shofi lakukan sambil menatap sendu Fatih.
"Dengarkan aku baik-baik!"
Ucap Fatih lembut sambil menangkup pipi Shofi.
"Aku faham apa yang kamu rasakan, keluarkan apa yang membuat kamu sakit jangan terus di pendam. Sudah aku katakan ada aku yang akan siap menjadi lindung bagimu!"
"Aku tahu kamu tak berniat membunuh, dan kamu bukan pembunuh. Kamu Philo ku yang kuat,"
"Sudah jangan menangis, kamu tak membunuh Stephen. Pistol itu tak ada pelurunya!"
"Ta-tapi tadi--"
"Stephen hanya pingsan karena ketakutan apalagi luka di tubuhnya membuat dia lemah!"
"Dear ,,,"
"Tolong jangan lakukan hal gila lagi, apa kamu tak memikirkan perasaan ku. Bagaimana kamu di penjara lalu aku harus bagaimana!"
"Jangan lakukan hal yang membuat ku takut akan kehilangan kamu. Sudah cukup dulu aku kehilangan kamu tapi tidak dengan sekarang!"
"Apa kamu lupa, aku pernah perkata!"
Tapi satu yang harus kamu ingat! Jika kita bertemu lagi suatu saat nanti, aku tak akan melepaskan mu!
"Jika suatu saat nanti kita bertemu lagi, kamu tak akan pernah melepaskan ku!"
Ucap Fatih dan Shofi berbarengan dengan kata yang berbeda.
"Aku tak akan pernah melepaskan milikku, jadi jangan pernah berpikir untuk pergi dariku lagi!"
"Jangan kotori tangan suci kamu dengan menyentuh bajingan itu, aku tak akan membiarkannya!"
"Apa kamu memikirkan perasaan ku, jika kamu di penjara!"
Shofi terdiam mendengar setiap perkataan yang Fatih ucapkan. Shofi tak berpikir kesana Shofi lupa jika sekarang ada Fatih yang menunggunya.
__ADS_1
"Maukah kamu berjanji tak akan mengulanginya lagi?"
"Terimakasih,"
Ucap Fatih ketika Shofi menganggukkan kepala. Fatih menangkup wajah Shofi lalu mendekat padanya.
Cup ...
Sebuah kecupan mendarat di kening Shofi membuat Shofi refleks memejamkan kedua matanya.
Cup ..
Cup ...
Kecupan Fatih pindah kedua mata Shofi, kecupan sangat lembut membuat Shofi merasa tenang bahkan nafas yang memburu mulai kembali normal.
"Apa sekarang benar-benar sudah tenang?"
"Iya!"
"Apa sekarang yang ku lihat Philo ku bukan orang lain yang penuh dendam!"
"Iya, aku Philo mu!"
Fatih tersenyum dengan perasaan lega karena Shofi dengan mudah bisa mengendalikan emosinya lagi.
"Terimakasih,"
"Sama-sama, apa kamu ingin melihat keadaan Stephen!"
Shofi menggeleng kuat karena takut emosinya kembali naik jika melihat Stephen lagi.
Fatih hanya tersenyum melihat penolakan Shofi.
"Aku tahu apa yang Stephen lakukan begitu keji, bahkan dengan kematian tak akan bisa membalasnya. Biarkan dia merasa tersiksa dengan hukuman yang kak Davit berikan karena dengan kesakitan itu itu lebih baik agar Stephen bisa merasakan kesakitan dad and mom!"
"Akan ku coba!"
"Bagus!"
Ucap Fatih lembut sambil mengelus puncak kepala Shofi dengan sayang membuat Shofi mulai bisa tersenyum walau hanya senyum tipis.
Apa yang Fatih lakukan sungguh manis membuat Shofi merasa tersanjung. Shofi sangat menyukai apa yang Fatih lakukan, mengingatkan Shofi pada sang Daddy yang selalu seperti itu ketika mengingatkan dirinya.
"Apa aku masih seperti Aurora?"
Fatih tersenyum lebar mendengar ucapan Shofi seolah sedang mengejeknya. Padahal Fatih baru saja akan mengatakan itu namun urung ketika Shofi sudah mendahuluinya.
"Terimakasih,"
Cup ...
Saking bahagianya Shofi mengecup bibir Fatih sekilas. Shofi bersyukur bisa mencintai laki-laki hebat Fatih. Laki-laki yang selalu mengerti perasaan dan selalu tahu cara menenangkan hatinya dengan caranya sendiri.
Laki-laki yang selalu hebat di mata Shofi tak ada duanya dan tak akan ada laki-laki yang seperti Fatih.
"Aku sayang mencintai mu,"
"Aku lebih dari itu!"
"Siap mengikhlaskan semuanya?"
"Iya, tapi tidak dengan kehilangan kamu!"
Kali ini Shofi yang berhambur memeluk Fatih, sekarang Shofi sadar jika Fatih adalah harta berharga yang Shofi miliki. Harta yang tak akan ternilai harganya walau harga itu masih di bawah cinta dan sayang Shofi pada kedua orang tuanya.
__ADS_1
Rasanya sangat nyaman berada di pelukan Fatih. Merasa aman dan tenang seolah tak ada lagi ketakutan yang Shofi rasakan. Seolah Fatih dapat menyerap energi negatif dalam dirinya.
"Aku sangat lelah,"
"Kita pulang!"
Ajak Fatih langsung melerai pelukannya namun Shofi malah mengeratkan kembali pelukannya.
Fatih terkekeh melihat tingkah manja Shofi dengan enteng Fatih mengangkat tubuh Shofi.
Fatih menggendong Shofi meninggalkan tempat ancaman bagi musuh. Fatih mendudukkan Shofi dengan hati-hati di kursi samping kemudi. Dengan cepat Fatih masuk kedalam mobil dan melajukan mobilnya meninggalkan tempat tersebut.
Entah dari siapa Fatih bisa tahu tempat terkutuk itu, Shofi enggan menanyakannya karena Shofi tahu pasti sang kakak yang memberi tahunya.
Fatih benar, Shofi hanya harus mencoba ikhlas atas semua yang terjadi pada dirinya. Agar hatinya selalu mendapat kedamaian dan kenyamanan.
Tentang Stephen tahu yang sebenarnya atau tidak Shofi tak peduli. Shofi akan menyerahkannya pada Davit. Apalagi melihat bagaimana keadaan Stephen tadi membuat Shofi bergidik ngeri.
Fatih benar, kematian terlalu mudah bagi Stephen, dan hanya membiarkan Stephen hidup dalam siksaan maka itu menjadi pembalasan yang sangat mengerikan. Karena Stephen akan merasakan hidup namun dalam jurang kesakitan menuju kematian yang sangat mengerikan.
Shofi memeluk lengan kekar Fatih posesif sambil menyandarkan kepalanya di pundak Fatih.
Tempat ternyaman bagi Shofi bersandar di kala hatinya lelah.
"Dear, ini bukan jalan pulang?"
Tanya Shofi ketika sadar jika Fatih tak membawanya langsung pulang. Namun entah mau kemana Fatih membawanya pergi.
"Lalu!"
"Kok lalu, ini kita mau kemana?"
"Lihat saja nanti kita mau kemana?"
"Sudah jangan protes, nurut saja napa!"
Tegas Fatih membuat Shofi mengerucutkan bibirnya lucu.
Fatih hanya mengulum senyum saja melihat tingkah Shofi yang merajuk bibirnya itu seolah meminta di kecup.
Cup ...
"Sudah jangan cemberut!"
Ucap Fatih mengecup pipi Shofi dengan gerakan cepat.
Fatih menghentikan mobilnya di sebuah taman.
Fatih meminta Shofi untuk menutup matanya dengan kain hitam.
"Kenapa harus pakai ini,"
"Kan surprise, ayo jalan!"
Fatih menuntun Shofi jalan menuju taman yang sudah di hias secantik mungkin.
Entah surprise apa yang akan Fatih berikan pada Shofi bahkan Shofi pun heran dan kapan Fatih menyiapkan ini semua.
"Semoga kamu suka ya,"
Bisik Fatih di telinga Shofi sambil membuka penutup mata Shofi.
Deg ....
Shofi terdiam dengan mulut menganga menatap tak percaya dengan apa yang ia lihat.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...