
Berniat membawa Shofi ke Indonesia sesudah wisuda namun nyatanya waktu membuat mereka cepat kembali lebih cepat.
Di sepanjang dalam pesawat Shofi dan Fatih saling menggenggam tangan satu sama lain. Saling menguatkan satu sama lain dan saling memberi peluk.
Tak ada yang lebih indah dari pada itu bukan. Saling menguatkan satu sama lain, saling melindungi dan saling memberi bahu mem-bahu.
Shofi dan Fatih mereka sangat kesal sekali karena baru bisa terbang sore tadi yang artinya mereka sampai perkiraan di pagi hari. Karena cuaca yang tidak memungkinkan.
Fatih sudah merasakan hal yang tidak beres pasti ada sesuatu yang terjadi. Fatih hanya berharap semoga pesawat cepat selesai landas.
Fatih dan Shofi dua-duanya tak bisa tidur mereka semua tak tenang dengan apa yang terjadi. Apalagi Fatih yang berada di posisi tak baik-baik saja. Amira dan Alam keduanya saudara dia bagaimana mungkin Fatih harus kehilangan dua orang yang di cintainya.
Fatih memang tak menceritakan keadaan Amira bagaimana. Fatih hanya takut Shofi juga terguncang.
Apalagi ini pertama kalinya Shofi menginjakan kaki di Indonesia setelah lima tahun silam.
Entah bagaimana keadaan di sana sekarang Shofi tak tahu. Apalagi Shofi baru datang di saat keadaan seperti ini.
Tepat jam Tujuh pagi pesawat yang Fatih dan Shofi tumpangi mendarat dengan selamat di bandara Soekarno-Hatta.
Nyatanya para anak buah Farhan sudah siap menunggu Fatih dan Shofi karena memang Fatih memberitahu jika ia akan membawa Shofi.
Shofi memejamkan kedua matanya sejenak menikmati semilir angin pagi yang menerpa wajahnya. Angin Indonesia yang begitu Shofi rindukan suasana.
Fatih menggandeng tangan Shofi bahkan sedikitpun tak mau lepas.
Jantung Shofi berdetak dengan kencang melihat begitu banyak perubahan yang terjadi di ibu kota.
Anak buah Farhan langsung membawa tuan muda menuju rumah sakit karena itu permintaan Farhan.
Fatih hanya diam saja tak mau bicara karena takut dengan jawabannya. Fatih hanya memegang erat tangan Shofi saja membuat Shofi mengelus-elus punggung tangan Fatih.
Hingga sampai mereka di rumah sakit Bunda Husna.
Shofi dan Fatih keluar dari mobil di mana salah satu bodyguard telah membukakan pintu.
"Shofi!'
Deg ...
Langkah Shofi terhenti ketika mendengar suara orang yang begitu Shofi kenal siapa pemiliknya.
Dengan ragu Shofi berbalik guna memastikan.
Grep ...
Tubuh Shofi menegang ketika mendapat sebuah pelukan.
"Shofi, benarkah ini kamu!"
"Bu-bunga!"
Lilir Shofi tak menyangka jika akan bertemu Bunga, sahabat lamanya di sini.
Bunga dan Shofi kembali berpelukan sekedar melepas rasa rindu mereka.
"Philo kita harus segera kedalam!"
Ucap Fatih membuat Shofi dan Bunga langsung melepaskan pelukan mereka.
Bunga menautkan kedua alisnya ketika Fatih menyebut Shofi Philo apakah ingatan Fatih sudah kembali, sejak kapan?
Di saat seperti ini bukan waktu Bunga bertanya. Bunga dan Shofi langsung masuk tanpa mempedulikan Fatih dan Raja yang di buat melongo oleh tingkah keduanya.
__ADS_1
Bisa-bisa Shofi dan Bunga meninggalkan Fatih dan Raja.
Fatih dan Raja mendengus kesal lalu mengikuti langkah kedua wanita di depannya.
Shofi dan Bunga berpegangan tangan seolah mereka takut terpisahkan kembali.
Hingga sampai di mana mereka berjalan menuju lorong ruang Amira.
Deg ...
Shofi dan Bunga terkejut melihat pemandangan di depan mereka. Pemandangan yang sangat menyakitkan sekali.
Bunga dan Shofi menatap orang-orang yang nampak menyakitkan.
Sedangkan keluarga besar Al-biru menatap kehadiran Bunga dan Shofi terkejut. Yang lebih terkejut lagi mereka melihat kehadiran Shofi, gadis yang lima tahun tanpa kabar dan tanpa jejak.
Shofi sangat bingung sekali di situasi yang seperti ini.
Tiba-tiba pintu ruang rawat Amira terbuka nampaklah Melati dan Jek terlihat jelas kesedihan di mata mereka.
"Mama ..,"
Lilir Shofi membuat Melati dan Jek melirik. Melati membulatkan kedua matanya melihat siapa yang ada di hadapannya.
Gadis yang dulu tinggal di rumahnya karena sebuah permasalahan rumit. Kini gadis yang sudah Melati anggap anaknya sendiri ada di hadapan dia.
"Mama!"
Shofi berhambur memeluk Melati yang sudah Shofi anggap mama sendiri.
Sungguh Shofi merasa bersalah karena baru sekarang bisa berkunjung dan dalam keadaan yang tak baik-baik saja.
"Maafkan Shofi mah, baru berkunjung ,,"
Lilir Shofi tak bisa membendung tangisannya lagi. Melati memeluk erat Shofi dengan air mata yang mengalir deras. Sungguh Melati tak menyangka jika ia akan bertemu Shofi kembali.
Sungguh Melati tak bisa membendung kesedihannya lagi melihat bagaimana keadaan putrinya.
"Bolehkan Shofi melihatnya, ma!"
Melati hanya mengangguk saja membuat Shofi menatap Bunga. Bunga mendekat lalu masuk perlahan bersama Shofi.
Bunga dan Shofi berpegangan tangan erat, hari ini pertemuan pertama mereka setelah lima tahun lamanya. Pertemuan yang sangat menyakitkan. Shofi dan Bunga tak bisa membendung kesedihannya melihat bagaimana kondisi Amira dan yang lebih terkejut lagi melihat Amira ternyata sedang hamil.
Ra,"
Sebuah panggilan membuat Amira menoleh, Amira tersenyum dengan bibir pucat nya. Melihat dua sosok yang menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
Bunga dan Shofi mendekat dengan bibir bergetar. Sungguh mereka tidak tahu keadaan apa yang telah Amira jalani.
"Ra,"
Shofi dan Bunga memeluk Amira dari samping kiri kanan.
Hiks ...
Kini tangisan mereka pecah begitu saja, tangisan itu tak bisa di bendung lagi.
Sungguh Bunga tak menyangka dengan apa yang terjadi pada sahabatnya. Mendengar kabar dari Moreo membuat Bunga dan Raja langsung terbang ke Indonesia bahkan baru pagi ini mereka sampai dan langsung meluncur ke rumah sakit walau mereka menyesal tak bisa menghadiri acara pemakaman Alam.
Begitu pun dengan Shofi yang seolah berita ini bak petir yang menyambar menghantam dadanya. Bagaimana tidak shok jika kehidupan sahabatnya se-miris ini.
Mereka tak pernah ada di saat Amira membutuhkan. Dan, sekarang melihat keadaan Amira seperti ini membuat Shofi merutuki kebodohannya sendiri.
__ADS_1
Sahabat macam apa dia yang tak ada di saat sahabat nya sedang membutuhkan. Andai saja Fatih tak memberi tahunya mungkin Shofi tidak akan pernah tahu apa-apa.
Walau pertemuan mereka juga tak bisa di bilang baik. Apalagi Shofi harus berjuang mengembalikan ingatan Fatih.
Bahkan semua keluarga juga terkejut ketika melihat Fatih datang bersama Shofi. Orang yang empat tahun tak ada kabar sama sekali.
Dan, kini muncul dalam keadaan yang tak baik-baik saja.
"Ra, kami di sini. Kami ada untuk kamu, maaf karena aku baru berkunjung,"
Sesal Shofi mengeratkan pelukannya begitu pun dengan Bunga.
Amira hanya diam saja dengan tangis yang menjawab semua. Dulu mereka bersama-sama dan keadaan yang membuat mereka berjauhan dan kini mereka kembali dalam situasi yang begitu rumit.
Bunga dan Shofi bahkan tak bisa membayangkan bagaimana menderitanya Amira. Apalagi tadi om Jek sempat menjelaskan kalau Amira sedang sakit parah.
Yang lebih terkejut lagi di sini Shofi, karena Shofi yang tak tahu apa-apa tentang Amira. Kapan Amira menikah, hamil dan kini keadaan Amira tak baik-baik saja.
Karena keegoisan seseorang membuat Shofi harus kehilangan kontak semuanya. Bahkan Shofi tak tahu apa-apa tentang kedua sahabatnya terutama Amira.
Kenapa om Farhan sekejam itu pada Shofi, demi menjauhkan dia dengan Fatih membuat Shofi juga jauh dari kedua sahabatnya bahkan Shofi sama sekali tak tahu apa-apa.
"Kamu tak sendirian lagi, ada kami!"
Awwss ...
"Ra, kamu kenapa Ra ..,"
Panik Shofi dan Bunga melihat Amira merintih kesakitan. Bunga dan Shofi tak bisa membendung kesedihannya.
Bunga langsung menekan tombol darurat berharap dokter segera datang.
"Ra, kamu tenang Ra, hiks ..,"
Sungguh Bunga dan Shofi tak kuat untuk sekedar menenangkan Amira sedang mereka sendiri tak bisa menahan tangis.
Sang dokter dan beberapa perawat masuk kedalam membuat semua keluarga nampak terkejut.
Mereka langsung berdiri melihat dari balik kaca pintu ruang rawat Amira.
Bunga dan Shofi segera menyingkir membiarkan dokter menangani Amira. Mereka berdua keluar karena memang menyuruh Shofi dan Bunga keluar.
Bunga dan Shofi saling pegang tangan karena tak sanggup melihat keadaan Amira yang seperti itu.
Sungguh perjalanan yang begitu berat Amira lalui. Amira hanya berharap anaknya bisa selamat pada waktunya.
Tim medis bekerja keras semampu mereka untuk menyelamatkan Amira dan baby-nya.
Di luar semua keluarga nampak cemas. Mereka belum sanggup jika harus kehilangan anaknya lagi.
Belum satu hari kepergian Alam mereka tak sanggup jika harus Amira pergi juga.
Shofi menatap tajam om Farhan, seolah kemarahan Shofi terpancar jelas di sana.
Membuat suasana tegang menjadi tegang kembali.
Mereka tak ada yang menyadari itu, karena pikiran mereka tertuju pada Amira.
Berharap Amira akan baik-baik saja.
Melati, entah sudah berapa kali ia pingsan karena tak sanggup melihat anaknya seperti itu.
Bersambung ....
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...