
Shofi membalut lukanya sendiri ketika sampai di apartemen.
Luka itu tak ada apa-apa nya bagi Shofi. Karena Shofi pernah mengalami hal yang lebih dari ini. Bahkan dirinya hampir merenggang nyawa.
Sesudah membalut lukanya, Shofi memakai sarung tangan plastik agar ketika ia berendam lukanya tidak basah. Begitupun dengan sayatan yang ada di tangannya. Sudah di balut Shofi lapisi lagi dengan plastik.
Shofi merendam tubuhnya agar pikirannya tenang.
Penyerangan itu begitu tiba-tiba dan anehnya kenapa orang lemah yang di kirim.
Shofi berpikir keras siapa orang di balik penyerangan itu.
Seperti nya Shofi tak perlu memberi tahu Philip atau Elsa. Shofi ingin melihat sejauh mana orang-orang ingin mencelakainya.
"Stephen!"
Gumam Shofi, nama itu terlintas di otak cerdasnya. Shofi yakin, yang menyerang dia suruhan Stephen, kakak tirinya. Siapa lagi kalau bukan dia. Karena tiga bulan lalu Stephen kabur dari penjara yang artinya Stephen pasti sedang merencanakan balas dendamnya.
Seperti nya kali ini Shofi harus hati-hati kakak tirinya pasti tak akan pernah melepaskan dia.
Sebelum penyerangan itu kembali, Shofi harus mencari tahu dimana kakak tirinya bersembunyi.
"Apa aku harus memberi tahu kak Davit!"
Gumam Shofi berpikir keras. Namun, detik berikutnya Shofi menggeleng keras. Seperti nya Shofi tak akan memberi tahu. Jika Davit tahu maka kebebasan Shofi pasti terbatas. Karena pasti sang kakak akan menempatkan beberapa bodyguard untuk menjaganya.
Philip saja sudah membuat Shofi kesal bagaimana jika banyak.
"Seperti nya aku harus cari tahu sendiri,"
Gumam Shofi lagi sambil menyelesaikan berendamnya. Shofi langsung membilas tubuhnya yang penuh busa.
Tubuhnya yang lemas dan letih kembali segar kembali.
Shofi mengenakan jubah mandinya lalu membuka pintu menuju balkon. Udara segar langsung menyeruak masuk kedalam membuat Shofi sejenak memejamkan kedua matanya. Menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya.
Shofi duduk di salah satu kursi sambil menikmati jus dan makanan yang tadi ia pesan.
Pandangan Shofi menatap pemandangan kota di bawah sana. Sangat indah sekali, apalagi langit berwarna jingga.
Sunset!
Shofi membuka gantel an yang ada di gelangnya. Memandang Poto dirinya dan Fatih yang tersenyum tipis.
"Apa kabar?"
"Apa kamu baik-baik saja!"
"Lihatlah, sunset begitu indah. Bukankah kamu selalu menyukainya!"
Monolog Shofi menatap Poto Fatih yang mulai terlihat usang.
Cup ...
Shofi mengecup Poto itu dengan setetes air mata membasahi pipinya.
"Kenapa kamu melupakanku, bukankah kamu sudah berjanji menyuruhku mengingat mu. Tapi, kenapa kamu malah melupakanku!"
Gumam Shofi sambil mencengkram dadanya kuat. Sangat sesak sekali ketika kita terlupakan.
__ADS_1
"Apa kamu tak merindukanku, lihatlah sunset itu. Aku selalu memandangnya, karena aku tahu kamu juga sama, sedang memandangnya!"
"Tapi, seperti nya rindu kita sudah berbeda!"
Lilir Shofi menggigit bibir bawahnya, dadanya sangat sesak mengingat semua kenangan yang Shofi lalui bersama Fatih. Kenangan itu terlalu manis untuk terlupakan.
Shofi menghapus air matanya lalu masuk kedalam karena Shofi harus memakai baju.
Shofi meraih ponselnya lalu menelepon Elsa, sambungan pertama langsung terjawab.
"Ke apartemen, bawa Cherry!"
Ucap Shofi langsung mematikan teleponnya lagi tanpa menunggu jawaban Elsa.
Sesudah memakai baju Shofi kembali duduk di balkon sambil menikmati sunset. Melanjutkan makan yang tadi sempat tertunda. Walau tangan kanan Shofi di perban, namun Shofi masih bisa menggunakan tangan kirinya.
Seolah tak ada beban di diri Shofi, ia bisa melakukan apa saja.
"Siapa kamu sebenarnya, seperti nya kamu memang bukan orang sembarangan!"
Gumam Fatih menatap Shofi dengan intens. Sendari tadi memang Fatih memerhatikan Shofi karena memang apartemen Fatih bersebelahan dengan apartemen Shofi.
Awalnya Fatih terkejut ketika pulang dari bandara ia melihat Shofi berkelahi dengan orang-orang tak di kenal. Fatih mengikuti Shofi karena penasaran kemana Shofi akan pergi dengan luka di lengannya.
Fatih pikir Shofi akan kesulitan menyetir mengingat telapak tangannya mendapat luka. Namun, melihat cara Shofi mengemudi membuat Fatih benar-benar tak percaya.
Bahkan yang lebih terkejut lagi, ternyata Shofi satu hotel dengannya. Membuat Fatih semakin mencurigai Shofi sebagai mata-mata.
Apalagi Fatih baru tahu jika unit apartemen Shofi di samping unit apartemen nya.
Pantas saja Shofi tahu nama dia berarti selama ini Shofi memata-matai dia.
Bisa Fatih lihat, ada sesuatu di balik tatapannya.
Fatih terus memerhatikan setiap tingkah dan gerakan Shofi.
"Kamu memang misterius, bersandiwara lah selagi mampu. Jika aku menemukan kamu berbuat jahat maka jangan salahkan aku menghancurkan mu!"
Gumam Fatih menatap Shofi yang kembali masuk kedalam lagi.
Ternyata Elsa dan Cherry sudah berada di depan pintu apartemen Shofi.
Cklek ...
Shofi membuka pintu dan mempersilahkan kedua sahabatnya masuk.
Cherry tersenyum girang karena baru pertama kali menginjakan kakinya di apartemen Shofi. Sedang Elsa biasa saja karena memang sudah biasa.
"Tangan kamu kenapa, apa ada sesuatu yang terjadi?"
Tanya Elsa panik mendekat ke arah Shofi. Cherry yang sedang melihat-lihat langsung teralihkan fokusnya oleh ucapan Elsa.
"Aku di serang!"
Ucap Shofi santai membuat Cherry membulatkan kedua matanya.
"Apa! di serang. Sama siapa, apa kamu punya musuh!"
Pekik Cherry panik melihat lengan Shofi yang di perban saja membuat Cherry bergidik ngeri.
__ADS_1
"Diam!"
Ketus Elsa karena Cherry heboh sendiri,. seperti orang yang baru lihat luka saja.
"Cherry, kamu ingin bekerja bareng kita bukan!"
"Ya tentu, asal bisa bareng kalian!"
Jawab Cherry sumringah karena bisa bergabung dengan kedua temannya.
"Retas cctv di jalan xxx,"
"Ya tentu!"
Tanpa pikir panjang, Cherry langsung duduk di meja belajar Shofi lalu sibuk dengan apa yang Shofi perintahkan.
Elsa menghela nafas, Cherry langsung saja bekerja tanpa bertanya apa.
"Apa yang terjadi?"
Tanya Elsa kenapa sekarang Shofi malah melibatkan Cherry.
"Aku yakin, penyerangan yang terjadi pasti ada sangkut pautnya dengan Stephen. Aku ingin Cherry bergabung,"
"Apa, Philip sudah tahu?"
Shofi terdiam karena memang belum memberitahu Philip.
Elsa menghela nafas, bagaimana mungkin Shofi tak memberi tahu Philip akan kejadian ini.
"Aku mohon, jangan dulu beri tahu Philip. Kamu tahukan bagaimana kak Davit jika tahu ada penyerangan!"
Huh ..
Elsa menghela nafas berat, mengerti dengan apa yang Shofi ucapkan. Namun, Elsa yakin, lambat laun Davit akan tahu kejadian ini.
"Jadi ini alasan kamu memilih Cherry untuk menjadi pihak IT?"
"Ya, kita lihat siapa yang sedang mencoba bermain-main dengan ku!"
"Baiklah, maka sekarang izinkan aku bekerja!"
Shofi mengangguk saja, Elsa langsung duduk di atas sofa sambil memangku laptop nya. Elsa sudah tahu apa yang harus ia kerjakan.
Shofi lupa jika ia belum membereskan bekas makan tadi.
Shofi melirik ke samping merasa ada seseorang yang memerhatikan nya. Namun, tak ada orang lain membuat Shofi menghela nafas.
Apa kamu belum pulang, jika sudah lihatlah Sunset begitu indah.
Aku akan selalu menunggu kamu kembali seperti kamu yang selalu menunggu tibanya sunset.
Semoga rindu ini kamu merasakannya, bahwa kamu akan tetap berada di kerinduan ini.
Batin Shofi tersenyum tipis lalu kembali kedalam dan tak lupa menutup pintunya.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1