Fatih (Rindu Yang Belum Usai)

Fatih (Rindu Yang Belum Usai)
Bab 46 Kaca mata ini


__ADS_3

Shofi tidur dengan sangat tenang dan damai. Seolah ini tidur indah kedua yang pernah Shofi rasakan.


Fatih menepati janjinya menemani Shofi tidur. Bahkan kini Fatih sendiri yang belum bangun sedang Shofi sudah bangun sendari tadi.


Shofi menatap wajah tampan Fatih dengan intens. Wajah yang selalu terlukis indah di memori Shofi.


Perlahan Shofi mengelus rahang Fatih sambil memerhatikan wajah Fatih dengan seksama. Wajah yang sama namun sikapnya yang berbeda.


Shofi kini merasa nyaman tidurnya apalagi tidur di pelukan Alam. Tempat ternyaman dan terindah.


Shofi sadar tak seharunya Shofi terlalu memaksa Fatih untuk mengingatnya. Karena semua yang terjadi salah dirinya sendiri.


Andai saja dulu Shofi tak pergi, mungkin Fatih tak akan mengalami kecelakaan. Andai saja Shofi tak pergi mungkin Fatih akan baik-baik saja dan mereka pasti tak akan Secanggung itu.


"Maafkan aku, terlalu egois!"


"Aku hanya takut kehilangan kamu lagi,"


Gumam Shofi mengelus pipi Fatih sebelum beranjak dari tempat tidurnya.


Perlahan Fatih mengerjakan matanya, Fatih melirik ke samping tak ada Shofi di tempatnya. Fatih langsung bangun mencari Shofi.


Fatih menghela nafas lega ketika melihat Shofi sedang menyusun sarapan di meja makan.


"Kenapa tak membangunkan ku!"


Bisik Fatih khas orang yang baru bangun tidur, sambil memeluk Shofi dari belakang.


"Mandi dulu sana, nanti kita sarapan!"


"Malas!"


"Fatih,"


"Apa sayang!"


"Mandi!"


"Kau,"


Kesal Shofi melepaskan pelukannya dengan paksa. Namun, kekuatan Fatih jauh lebih besar dari pada kekuatan Shofi.


Muach ...


Fatih mengecup pipi Shofi dengan sangat dalam bahkan sampai kepala Shofi ikut tergeser.


"Bagaimana tidurnya, apa nyenyak?"


Tanya Fatih sambil menyimpan dagunya di pundak Shofi.


"Hm,"


"Jawab yang jelas!"


Shofi terdiam karena malu, bagaimana bisa Fatih membuat dia nyenyak dalam tidurnya. Apalagi, Shofi bangun tidak merasakan sakit kepala dan badan pegal.


Biasanya bangun tidur Shofi akan merasa pusing dan pegal-pegal mengharuskan Shofi harus berendam supaya mem-fresh kan kembali tubuhnya.


Tapi, kali ini Shofi tak perlu berendam dulu, langsung mandi, selesai.


Mungkin benar, obat mujarabnya hanya ada di Fatih. Namun, tak mungkin bagi Shofi untuk terus tidur bersama Fatih apalagi mereka tak punya ikatan halal.


Walau di Jerman itu sudah lumrah, namu Shofi masih tetap menerapkan norma-norma kebaikan.


Shofi berbalik membuat Fatih sedikit melerai pelukannya.


"Terimakasih sudah membuat tidurku nyaman,"


"Sama-sama,"


"Sekarang mandi, nanti kita sarapan!"


"Ini dulu,"

__ADS_1


Ucap Fatih manja sambil menunjuk pipinya mengisyaratkan kan meminta sebuah kecupan.


Shofi hanya tersenyum saja lalu men-jijitkan kedua kakinya.


Cup ...


"Sudah, sana mandi!"


Ucap Shofi sambil mendorong Fatih keluar dari apartemen nya.


Dengan malas Fatih keluar dari apartemen Shofi menuju apartemen dirinya yang di mana ada di sebelah apartemen Shofi.


Shofi menutup kembali pintu apartemen nya ketika Fatih sudah pergi.


Shofi memilih bersiap-siap memakai baju untuk berangkat ke kampus. Jadi setelah sarapan tinggal berangkat.


Tidak banyak makeup yang Shofi pakai karena Shofi suka natural apalagi memang wajahnya sangat bersih.


Sudah siap dengan bajunya, tak lupa Shofi membereskan ranjang. Shofi melihat ada jaket hangat Fatih yang tergeletak. Shofi mengambilnya, lalu mencium jaket tersebut.


Harum parfum yang Fatih pakai membuat Shofi tenang. Seperti nya Shofi butuh ini jika Fatih tidak ada.


Shofi memilih menyimpan jaket itu di lemarinya dari pada memberikannya pada Fatih.


Sudah selesai Shofi segera keluar karena Fatih sudah ada di depan pintunya. Shofi segera membuka pintu apartemen nya.


Sarapan kali ini yang Shofi buat adalah sandwich dan segelas susu hangat.


"Ngomong-ngomong kenapa kamu tinggal di apartemen. Bukankah kamu punya rumah?!"


"Aku hanya lebih nyaman di sini,"


"Oh, kapan-kapan kenalkan aku pada keluarga mu!"


Uhuk ..


Shofi tersedak sandwich yang ia makan membuat Fatih dengan cepat menyodorkan susu.


"Hati-hati,"


Fatih hanya mengangguk saja sambil tersenyum. Shofi membalas senyuman Fatih dengan senyuman kakunya.


Bagaimana bisa Fatih bicara seperti itu, sungguh membuat Shofi bingung. Karena percuma Fatih tak akan mengingat keluarganya terutama Davit.


"Jangan di pikirkan, jika kamu belum siap membawaku bertemu keluarga kamu,"


Ucap Fatih sambil menggenggam tangan Shofi, Shofi hanya menggeleng saja.


"Kedua orang tuaku sudah meninggal!"


Lilir Shofi membuat Fatih terkejut, Fatih terkejut karena belum ingat siapa Shofi. Mungkin jika sudah Fatih tak akan mempertanyakan hal itu.


"Maafkan aku, aku belum ingat. Apa di masa lalu aku tahu jika kedua orang tua kamu sudah tak ada?"


"Iya, kamu tahu semuanya tentangku tanpa aku jelaskan!"


"Maaf,"


"No problem,"


Ucap Shofi berusaha tersenyum, ternyata sangat menyakitkan terlupakan dari memori orang tersayang dari pada kepergian.


Karena pergi mungkin masih bisa mengingat, namun hilang ingatan ada tapi terasa tak ada.


"Kita berangkat!"


Ucap Shofi cepat karena tak mau membahas lebih lanjut lagi masalah itu. Fatih mengangguk saja faham dengan apa yang Shofi rasakan.


Karena kepergian sesungguhnya lebih menyakitkan dari pada sekedar hilang ingatan atau pergi untuk sementara.


Fatih menggenggam tangan Shofi, dengan satu tangan memegang stir.


"Aku pulang akan ke mansion, kemungkinan akan bersama Philip,"

__ADS_1


Ucap Shofi tiba-tiba membuat Fatih langsung menghentikan mobilnya.


Fatih menatap inten Shofi, kenapa Shofi selalu saja banyak rahasia. Kadang menjadi orang ceria, kadang dingin, kadang cuek. Sikap Shofi begitu berubah-ubah dengan cepat membuat Fatih sulit untuk memahami bagaimana karakter Shofi.


"Apa ada sesuatu yang kamu sembunyikan?"


"Tidak ada, kakak iparku sedang hamil dan Richard masih sakit. Jadi aku harus menjaganya!"


"Apa kamu selalu seperti ini, menjaga orang lain namun diri kamu sendiri kamu abaikan?"


"Mereka keluargaku,"


"Aku tahu, tapi bagaimana kamu tidur di sana. Apa kamu akan menggunakan obat sialan itu!"


Ketus Fatih menatap tajam pada Shofi, membuat Shofi tersenyum tipis. Melihat Shofi tersenyum membuat Fatih malah semakin kesal.


"Apa kamu khawatir!"


"Aisst, kau ini!"


Geram Fatih memilih keluar mobil saja apalagi memang mereka sudah sampai kampus sejak tadi. Namun, Shofi menahan lengan Fatih.


Membuat Fatih mau tak mau harus diam, namun Fatih enggan untuk berbalik.


Shofi menangkup pipi Fatih lalu mengarahkannya pada dia.


"Aku janji aku tak akan meminum obat itu, karena memang di mansion tidak ada obat nya,"


"Janji!"


Shofi mengangguk yakin membuat Fatih kembali tersenyum cerah.


"Kita keluar,"


Deg ...


Shofi membulatkan kedua matanya ketika Fatih malah menciumnya.


"Fa-fatih!!"


Ucap Shofi melepaskan diri, bukannya terlepas tapi malah semakin menempel karena Fatih menahannya.


"Sekarang kau harus menurut perintahku!"


Ucap Fatih tegas ketika Fatih melepaskan ciumannya.


"Mulai hari ini, kau harus memakai kaca mata!"


Cup ...


"Karena mata ini milikku!"


Cup ...


"Dan ini juga milikku, tak ada yang boleh melihatnya selain aku!"


Cup ...


Fatih langsung keluar dari mobil ketika sudah menghujani Shofi dengan kecupannya di kedua mata Shofi dan hidung.


Sedang Shofi sendiri hanya diam kaku dengan apa yang Fatih lakukan. Mengingatkan Shofi pada kelakukan Fatih dulu yang selalu menegaskan kalau dia adalah milik Fatih.


"Fatih!"


Geram Shofi ketika sudah sadar, lalu membuka kembali kaca mata yang Fatih pakaikan tadi.


Shofi berniat menyimpannya namun tertahan ketika melihat kaca mata itu.


"Kaca mata ini!"


Gumam Shofi bergetar, melihat sebuah kaca mata yang Shofi kenal siapa pemiliknya.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...



__ADS_2