Fatih (Rindu Yang Belum Usai)

Fatih (Rindu Yang Belum Usai)
Bab 77 Tentang Cherry


__ADS_3

Shofi dan Elsa masih belum percaya dengan apa yang Jarvis ucapkan. Namun penjelasan Cherry membuat Elsa dan Shofi tercengang.


Jadi Jarvis orang yang sama yang akan di jodohkan dengan Cherry. Sungguh bagaimana mana bisa.


Elsa dan Shofi seolah masih belum bisa percaya dengan apa yang terjadi.


Namun yang lebih parah lagi Jarvis menceritakan bagaimana proses itu terjadi dimana Cherry berencana kabur walau harus melawan phobia nya sendiri.


Sungguh Elsa dan Shofi tak menyangka jika kisah sahabat se-menggelikan ini.


"Tunggu, bagaimana ceritanya kamu mau di jodohkan dengan Cherry sedang kamu juga pertama pasti belum tahu siapa calon istri kamu?"


Tanya Shofi penuh selidik membuat Jarvis menelan ludahnya kasar. Cherry yang mendengar pertanyaan Shofi langsung menatap Jarvis juga karena merasa penasaran. Kenapa Cherry gak bertanya tentang itu, dasar bodoh.


"It-itu ..,"


Bingung Jarvis bagaimana cara menceritakannya mendapat tatapan tajam dari Cherry membuat Jarvis sendiri jadi merasa bersalah.


"Pertama aku juga menolak apalagi aku baru meminta dari Cherry kesempatan terakhir. Namun ibu Ratu dan Raja tetap dengan pendirian!"


Jelas Jarvis sengaja menjeda ucapannya, Jarvis menatap Cherry sambil tersenyum.


"Pikiranku berubah ketika ibunda Ratu berkata jika orang yang akan di jodohkan denganku adalah teman masa kecilku, Ale!"


"Teman yang sudah delapan belas tahun lalu menghilang ketika ada sebuah penyerangan. Gadis yang menjadi cinta pertamaku!"


"Kapan kamu sadar jika orang itu adalah Cherry?"


Kini Elsa yang bertanya karena merasa penasaran dengan kisah Jarvis yang ternyata sangat memilukan juga.


"Ibunda Ratu yang memberikan berkas Ale yang sempat aku tolak, di situ aku baru sadar jika Ale ku ternyata gadis yang sudah lama berada di sekelilingku, Cherry!"


Jelas Jarvis yang memang tak menyangka jika ia akan bertemu dengan gadis kecilnya lagi dan yang lebih terkejut lagi jika gadis kecilnya adalah Cherry.


Dan, sialnya kenapa Kaka selama ini tak memberi tahu tentang kebenaran itu.


"Benarkah, tapi kenapa aku tak ingat!"


Celetuk Cherry mengerutkan kedua alisnya bingung mendengar setiap penjelasan Jarvis.


"Otak mu yang lemot,"


Sindir Elsa membuat Cherry mengerucutkan bibirnya kesal.


"Sudah-sudah, selamat saja yah untuk kalian aku berharap kau bisa menjaga Cherry!"


Ucap Shofi tegas menatap Jarvis serius, Jarvis mengangguk patuh sambil menggenggam tangan Cherry lembut.


Shofi bahagia jika Jarvis sudah sadar siapa Cherry di hidupnya.


Dan Shofi juga bahagia pada akhirnya Elsa juga bersama dengan Philip. Shofi berharap orang-orang terkasihnya bisa terus bahagia dengan hidup mereka masing-masing.


.


Acara ulang tahun Shofi yang sederhana namun terasa sangat spesial sudah selesai. Satu persatu orang-orang pulang pulang begitupun dengan Shofi dan Fatih yang memang pulang menuju apartemen bukan Mansion Damaresh.


Di sepanjang jalan tak ada banyak yang mereka bahas namun Shofi menemukan ada sedikit tidak beres melihat Fatih.

__ADS_1


Bukan Shofi baru ngeh, namun dari taman juga Shofi sudah merasa aneh apalagi melihat Fatih menelepon cukup serius entah siapa yang menelepon Fatih tadi.


Namun, Shofi enggan bertanya karena waktu mereka kurang pas tadi. Shofi berharap mereka cepat sampai karena Shofi sudah penasaran bertanya apa yang membuat Fatih murung.


Shofi menyandarkan kepalanya di pundak Fatih sambil memejamkan kedua matanya karena entah kenapa merasa kantuk.


Mungkin karena hari ini begitu banyak masalah yang Shofi hadapi apalagi dari pagi Shofi terus menangis dan marah-marah membuat tenaganya terkuras.


Fatih tersenyum melihat Shofi yang sudah tertidur. Karena tak tega membangunkannya perlahan Fatih menggendong Shofi karena memang mereka sudah sampai.


Tak ada rasa berat sedikit pun yang Fatih rasakan. Tubuh Shofi terlalu ringan Fatih gendong.


Fatih memutuskan membawa Shofi ke unit apartemen nya. Perlahan Fatih membaringkan Shofi di atas ranjangnya.


Grep ...


Fatih terdiam mematung ketika Shofi menahan badannya. Perlahan kedua mata Shofi terbuka dengan tatapan sayu.


"Dear!"


"Iya!"


"Kangen!"


Fatih terkekeh mendengar apa yang Shofi katakan. Bagaimana bisa berkata kangen sedang mereka sendiri dari tadi sama-sama.


"Peluk!"


Rengek Shofi membuat Fatih dengan senang hati memeluk tubuh Shofi sambil Fatih juga berbaring di samping Shofi.


"Kenapa Hm, aku di sini!"


Fatih terdiam mendengar ucapan Shofi seolah menampar dirinya. Apa ini waktu yang pas mengatakan semuanya.


Entah bagaimana reaksi Shofi jika mengetahui kebenaran ini. Fatih sungguh tak akan mempu jika harus melihat Shofi terpuruk lagi. Baru saja Shofi merasakan kebahagiaan keluarga dan para sahabatnya apa sekarang Shofi harus mengalami hal menyakitkan lagi.


"Kenapa Hm, apa ada sesuatu yang terjadi?"


Tanya Shofi sambil mengelus dada bidang Fatih dada ternyaman buat Shofi berbaring.


"Apa kamu mau ikut aku ke Indonesia?"


Bukannya menjawab Fatih malah memberikan pertanyaan lain.


"Kapan?"


"Besok!"


Deg ...


Shofi terdiam mendengar kata besok, kenapa harus mendadak seperti ini apa ada sesuatu yang mendesak hingga membuat Fatih harus terbang besok.


"Dear, katakan apa ada sesuatu yang terjadi?"


Ucap Shofi bangun dari tidurnya, kini Shofi duduk berhadapan dengan Fatih yang ikut duduk pula.


"Sebenarnya kak Amira sudah menikah dengan om Alam!"

__ADS_1


"What!!"


Pekik Shofi terkejut bagaimana bisa Fatih tak menceritakan hal itu pada dia.


"Philo maafkan aku,"


"Tak apa, teruskan!"


Tegas Shofi membuat Fatih menghela nafas berat. Sungguh ini berita yang sangat menyakitkan sekali.


"Om Alam mengalami penyakit meningitis yang sudah menyerang selaput otak. Sekarang keadaan kritis dan kak Amira mengalami drop!"


Shofi membekam mulutnya tak percaya dengan apa yang Fatih ucapkan. Bagaimana bisa Amira mengalami hal sulit ini sedang dirinya tak ada di samping Amira.


"Ke-kenapa kamu tak pulang hah. Ayo sekarang kita berangkat!"


"Philo ini sudah malam, dan penerbangan pun sedang di hentikan karena ada badai. Kita hanya bisa menunggu besok!"


"Ta-tapi Amira, kita gunakan Jet pribadi!"


"Tetap gak bisa Philo, aku tadi sudah mencoba namun tak mendapatkan akses penerbangan karena terlalu berbahaya!"


"Ta-tapi!"


"Sudah besok kita akan berangkat, sekarang kita tidur!"


Di sini entah siapa yang harus di hibur dan menghibur. Kenapa jadi Shofi yang di hibur Fatih bukan Shofi menghibur Fatih.


Bukankah Alam dan Amira keluarga Fatih dan tentu pasti Fatih yang lebih sedih dari pada Shofi.


Namun, semua orang juga tahu jika Amira lebih dari sahabat di hidup Shofi. Bagaimana Shofi tak panik dan cemas jika Amira selalu ada untuknya namun di saat keadaan seperti ini Shofi tak ada untuk Amira.


Sahabat macam apa Shofi, kenapa ia tak tahu apa-apa tentang semuanya. Terlalu banyak masalah hingga Shofi juga lupa akan kabar sahabat-sahabat dulu.


"Dear,"


"Sudah, tidur jangan banyak tanya!"


Ucap Fatih memeluk Shofi erat berharap Shofi akan cepat tidur. Bukan hanya Shofi di sini yang cemas namun juga Fatih.


Cup ...


Shofi malah mengecup bibir Fatih membuat Fatih terdiam dengan apa yang Shofi lakukan.


"Jika kamu ingin menangis menangis lah. Aku tahu kamu yang paling rapuh di sini, jangan sok kuat di hadapanku. Biarkan aku menjadi pelipur kali ini!"


Ucap Shofi tersenyum tipis sambil mengelus pipi Fatih.


Shofi tadi hanya shok saja karena baru tahu apa yang terjadi pada Amira. Shofi juga tak menyalahkan Fatih karena Fatih baru kembali ingatannya.


Shofi merentangkan kedua tangannya membuat Fatih langsung berhambur kedalam pelukan Shofi.


Jika begini Fatih tak bisa menahan kesedihannya lagi.


Shofi mengelus rambut Fatih sambil menepuk-nepuk punggung Fatih pelan.


Mereka berdua sama-sama sedih dan sama-sama saling menguatkan.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih .....


__ADS_2