
Brak ..
Davit terperanjat ketika pintu ruangannya di buka dengan kasar.
Davit semakin membulatkan kedua matanya tetkala melihat siapa yang berani membuka pintu ruangannya tanpa permisi.
Tatapan tajam menghunus Davit yang duduk tenang walau aura di ruangan itu begitu mencengkram.
Bahkan Lucky sang asisten tak berani masuk melihat dua manusia yang bersitegang itu. Lucky lebih baik memilih mundur dari pada ikut campur. Karena bisa habis dirinya jika ikut masuk.
"Ada apa?"
Tanya Davit santai seolah tak terjadi apa-apa karena memang Davit tak tahu apa yang membuat Shofi datang ke ruangannya dengan tatapan membunuh.
"Apa kakak sudah puas dengan semua ini. Menghancurkan hati Shofi!"
"Membuat hubunganku dengan Fatih hancur!"
Teriak Shofi menggebu dengan dada naik turun. Sungguh Shofi tak bisa menahan kesabarannya lagi.
"Apa sebenarnya mau kakak hah, kenapa kakak tega lakukan ini padaku!"
Davit hanya diam saja dengan wajah datarnya menatap kemarahan Shofi yang menggebu. Walau Davit sedikit bingung kenapa tangan Shofi di perban.
"Jika kakak ingin menghancurkan ku, silahkan. Tapi, tolong hiks ... jangan hancurkan perasaan Elsa. Elsa tak tahu apa-apa dengan semua rencana kakak!"
"Kenapa kakak bisa berbuat sekejam ini!"
"Apa maksud mu!"
Sanggah Davit baru angkat bicara karena Shofi malah membawa-bawa Elsa yang notabennya memang Davit tak pernah mengusik Elsa.
"Apa kakak sekarang masih pura-pura tak tahu!"
"Gara-gara kakak Philip kritis di rumah sakit. Harusnya aku yang berada di sana, itu kan yang kakak mau!"
"Kenapa sekarang diam hah, apa kakak sudah puas dengan semua ini. Aku tak tahu apa masalah kakak. Aku tak tahu apa rencana kakak. Kenapa kakak ingin sekali menghancurkan hati Shofi, kenapa aku harus punya kakak seperti kau. Aku benci kakak hiks ..,"
Shofi berteriak meluapkan segala emosinya yang menyesakan dada. Bagaimana Shofi tak marah jika di balik semuanya Davit yang lakukan.
Andai saja Davit tak memberi tahu Fatih dan Fatih tak akan marah padanya. Tentu Philip tak akan pernah mengalami hal mengerikan ini. Dan, sekarang Shofi harus menanggung penderitaan itu di atas penderitaan-penderitaan Elsa.
"Aku benci kakak aku benci!!!"
Brak ...
Shofi menutup pintu ruang Davit dengan kencang bahkan sampai membuat Davit terkejut. Sekarang, kemarahan Shofi tak bisa terkendali lagi.
Davit hanya bisa diam dengan semua yang barusan terjadi.
Philip!
Kritis!
Bagaimana bisa?
Pertanyaan itu terus berputar di otak Davit mendengar semua luapan amarah Shofi. Tidak hanya Davit yang terkejut mendengar Philip berada di rumah sakit begitupun dengan Lucky sebagai seorang kakak tentu shok tak sengaja mendengar Shofi mengatakan jika Philip berada di rumah sakit.
Kapan kejadiannya kenapa tak ada yang memberi tahunya. Davit langsung keluar dengan perasaan cemas.
Deg ...
__ADS_1
Davit terdiam melihat Lucky ada di hadapannya. Apa yang harus Davit jelaskan pada sahabatnya dan juga asisten nya jika benar Philip berada di rumah sakit.
"Tuan, apa benar Philip berada di rumah sakit?"
"Saya tidak tahu, kenapa kejadiannya jadi seperti ini. Bukankah target kita adalah Fatih, kenapa Philip!"
"Cepat cari tahu!"
Lucky langsung mengangguk walau sejujurnya hatinya tak tenang. Walau bagaimanapun Philip adalah adik dia satu-satunya.
Lucky langsung menelepon anak buahnya yang bertugas. Tak lama sambungan telepon terhubung.
"Apa kalian sudah menjalankan misi?"
"Maaf tuan, motor kami dalam masalah. Misi kami gagal!"
Deg ...
Lucky langsung terdiam dengan dada bergemuruh. Lalu, siapa yang sudah membuat kekacauan ini.
Philip!
Lucky langsung berlari menuju lift berharap lift itu segera membawanya ke loby.
"Adikku mengalami kecelakaan, cari tahu di rumah sakit mana sekarang!"
"Cari tahu juga siapa yang harus bertanggung jawab atas semuanya!"
Tutt ....
Lucky langsung mematikan teleponnya bertepatan dengan lift terbuka.
Benar dugaan Lucky, Davit langsung menjatuhkan ponselnya tetkala melihat laporan dari Lucky.
"Ba-bagaimana bisa!"
Lilir Davit tak menyangka jika rencananya akan gagal. Namun, dari insiden itu Philip menjadi korban tabrak lari.
Pantas saja Shofi marah besar padanya jika kejadian ini begitu sangat mengerikan.
Sial!
Umpat Davit langsung pergi meninggalkan kantor menuju rumah sakit di mana Philip di rawat.
.
Di rumah sakit terbesar di Bonn Jerman Philip terbujur kaku di atas brankar dengan selang yang menancap di beberapa titik vital.
Dengan setia Elsa menemani Philip bahkan sendari kemaren Elsa tak beranjak sedikitpun. Elsa hanya mampu diam dengan tatapan sayu nya. Tak ada air mata yang keluar lagi, mungkin karena Elsa sudah lelah untuk terus menangis.
Cherry dan Shofi hanya duduk di luar membiarkan Elsa di dalam sendirian. Shofi tak mau menggangu Elsa, pasti di sini Elsa yang paling terpukul di antara yang lain.
Shofi sedikit lega meluapkan segala emosinya pada sang kakak tadi pagi. Walau Shofi masih marah dan kecewa pada Davit. Karena semua terjadi ulah Davit, Shofi yakin targetnya Fatih bukan Philip.
Shofi sungguh tak habis pikir dengan jalan pikiran Davit. Kenapa Davit jadi seperti ini.
Se-egois itukah sang kakak menghancurkan hatinya. Tak tahukah Davit jika Shofi sangat kesakitan sekali.
"Shofi, lebih baik kamu selesaikan masalah kamu dengan Fatih. Elsa biar aku yang menjaga!"
Ucap Cherry hati-hati, sungguh Cherry sangat sedih sekali melihat kedua sahabatnya terpuruk.
__ADS_1
"Tapi, El membutuhkanku!"
"Aku tahu, tapi jika masalah kamu terus berlarut. Aku yakin Fatih akan semakin meyakini jika asumsinya benar!"
Deg ...
Shofi terdiam mendengar penuturan Cherry. Sejak kapan Cherry bisa berkata sebijak ini seolah ini bukan Cherry sahabat mereka. Tapi, dalam keadaan ini Cherry sungguh bisa berkata bijak juga.
"Percaya padaku, Frozen akan baik-baik saja!"
"Baiklah, aku pergi. Ingat! kalau ada apa-apa kasih tahu aku!"
Cherry hanya mengangguk saja, Shofi segera pergi menuju apartemen Fatih. Shofi berharap Fatih ada di sana.
Shofi tak peduli seberapa sakit tangannya di gunakan untuk menyetir. Bagi Shofi, Fatih yang paling utama dari apapun.
Baru saja Shofi memarkirkan mobil, Shofi melihat Fatih keluar loby dengan pakaian santainya. Dengan cepat Shofi keluar mobil sambil berlari.
"Fatih!"
Deg ....
Fatih terkejut mendengar suara Shofi memanggilnya. Fatih terus berjalan semakin cepat karena tak mau bertemu Shofi. Kenyataan itu sangat menyakiti bagi Fatih.
"Fatih tunggu!"
Shofi berlari kecil karena Fatih malah semakin mempercepat jalannya. Hingga mereka berdua terlibat kejar mengejar kembali.
Fatih terus mempercepat jalannya hingga tak memerhatikan jalan.
"Fatih awas!!"
Teriak Shofi membulatkan kedua matanya melihat sebuah motor hilang kendali.
Brak ...
Dari samping mobil boks datang membuat pengendara motor terkejut hingga membanting stir.
Kejadian itu terlihat tepat di depan mata Fatih. Bahkan Fatih sampai terdiam kaku menyaksikannya.
Kejadian itu seolah membuat Fatih mengingat sesuatu yang tak asing baginya.
Keringat dingin membasahi dahi Fatih dengan tangan gemetar. Fatih masih Shok melihat kecelakaan motor di depannya. Bahkan Fatih masih diam walau banyak orang yang melintas.
Kepala Fatih terasa pusing dengan potongan fazel-fazel yang terus berputar di ingatannya..
"Fatih!"
Bruk ...
"Fatih!"
Pekik Shofi terkejut ketika Fatih malah pingsan tepat di depannya. Membuat semua orang semakin bingung harus menyelamatkan yang mana.
"Fatih ku mohon bangun, Fatih jangan buat aku takut hiks ..,"
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih...
__ADS_1