Fatih (Rindu Yang Belum Usai)

Fatih (Rindu Yang Belum Usai)
Bab 74 Kemarahan


__ADS_3

Sesudah mengetahui kenyataan semuanya Shofi banyak diam. Tak jarang ketika Fatih bicara Shofi tak pernah merespon sama sekali.


Melihat Shofi seperti itu membuat Fatih bingung karena tak biasanya Shofi bersikap seperti ini.


Entah apa yang Shofi pikirkan tentang semuanya apa Shofi akan membenci om Farhan atau tidak. Sedang Fatih sendiri belum bisa meminta penjelasan pada sang Papa.


"Philo, apa kamu marah sama papa?"


Tanya Fatih sambil memegang tangan Shofi yang sibuk mengaduk-aduk jus.


"Tidak!"


Jawab Shofi singkat membuat Fatih menghela nafas berat. Ada banyak yang berubah di diri Shofi lima tahun terakhir ini dan Fatih merasakan itu.


"Bulan depan kita sudah wisuda, apa kamu mau ikut denganku ke Indonesia?"


"Philo!"


"Apa!"


Fatih menghela nafas berat ketika Shofi lagi-lagi tak merespon pertanyaannya.


"Bulan depan kita sudah wisuda, apa kamu mau ikut denganku ke Indonesia?"


Ucap Fatih mengulang pertanyaan nya berharap kali ini Shofi merespon.


"Aku tak tahu!"


"Maka aku akan memaksa, kita harus tahu alasan papa. Kenapa dia menutup akses kamu. Dan kenapa papa tak pernah menceritakan tentang kamu padaku. Aku hanya ingin masalah ini cepat selesai, kamu terlihat murung dari kejadian kemaren!"


"Aku tak apa Dear, aku hanya sedang banyak pikiran!"


"Apa karena Indonesia atau Stephen?!"


Shofi menghembuskan nafas berat sejujurnya dua-duanya hal yang membuat Shofi tak berdaya. Tapi, sekarang Shofi hanya sedang memikirkan Stephen bagaimana pertemuan kedua mereka nanti.


Apa akan baik-baik saja atau tidak, sungguh Shofi sangat pusing sekali. Bagaimana cara Shofi menjelaskan pada Stephen tentang sebuah kebenaran yang ada.


Sedang Shofi di larang untuk membunuh Stephen oleh Davit, Davit hanya mengijinkan cukup kasih pelajaran saja.


"Apa nyawa harus di bayar dengan nyawa!"


Deg ...


Fatih membulatkan kedua matanya mendengar apa yang Shofi katakan. Sungguh Fatih tak menyangka jika Shofi akan mengucapkan kata mengerikan itu.


Fatih menggeser kursinya hingga bersebelahan dengan Shofi. Fatih dapat melihat pancaran kebencian di mata itu pancaran yang selalu Shofi perlihatkan dari dulu.


Pancaran kesakitan, rindu dan dendam bersarang menjadi satu menguasai setiap amarah Shofi.


"Philo, apa selama ini kamu belum mengikhlaskan kepergian dad and mom?"


Tanya Fatih serius menatap kedalam bola mata Shofi yang tergambar jelas sekali kebencian itu masih menguasai hatinya.


Melihat Shofi yang terdiam membuat Fatih memejamkan kedua matanya lalu perlahan terbuka kembali dengan sorot mata tajam.


Grep ...


Fatih menarik tangan Shofi cukup kasar lalu menyeretnya pergi dari kantin membuat semua orang terkejut dengan apa yang Fatih lakukan.


Terutama Elsa dan Cherry yang sama-sama baru bisa masuk kampus bahkan Cherry belum sempat menceritakan kebahagiaan yang ia rasakan pada teman-teman nya.


"Dear, apa yang kau lakukan lepas!"

__ADS_1


Berontak Shofi yang terkejut melihat marah menguasai Fatih.


Bahkan Fatih mencengkram erat pergelangan tangan Shofi hingga membuat Shofi kesakitan.


Bagaimana Shofi tidak terkejut jika Fatih bersikap seperti dulu yang selalu kasar padanya. Bahkan tak mendengarkan rintihannya. Bisa di pastikan pergelangan tangan Shofi memerah.


Drumm ...


Drumm ...


Fatih membawa mobil dengan kecepatan tinggi membuat jantung Shofi mau copot saja.


Jelas di sini Shofi yang marah kenapa sekarang Fatih yang terlihat marah bahkan lebih menyeramkan dari pada marahnya Davit.


Karena marah ya Fatih hanya diam dengan tatapan mautnya membuat Shofi jadi ketakutan sendiri.


Namun Shofi tak bisa mencegah Fatih karena mereka juga sedang di kuasai amarah.


Entah apa yang membuat Fatih berubah seperti itu, bukankah harusnya Shofi yang berada di posisi itu.


Cittt ...


Fatih menghentikan mobilnya sembarang sambil menahan Shofi agar kepalanya tidak membentur dasboard.


Tanpa bicara Fatih keluar lalu dengan kasar membuka mobil bagian Shofi dan menarik Shofi keluar.


"Sekarang, di sini katakan jika kau mau membunuh Stephen!"


Geram Fatih tertahan menatap tajam pada Shofi sambil menunjuk kedua makan kedua orang tua Shofi.


"Bersumpah di hadapan mom and dad jika kau akan menjadi seorang pembunuh, ayo katakan!"


Bentak Fatih menggelegar membuat Shofi tertegun bahkan kedua matanya mulai berkaca-kaca sangat takut melihat amarah Fatih.


"Apa yang kau pikirkan hah, aku tahu kehilangan adalah kesakitan yang menyakitkan. Tapi apa dad and mom menginginkan itu!"


"Apa dengan cara itu membuat dad and mom kembali, apa kau akan puas dengan semuanya!"


"Kenapa diam hah,"


"Stop!!! hiks ... jangan katakan lagi,"


Pekik Shofi tak sanggup jika terus di bentak oleh Fatih. Rasanya hati Shofi sangat sakit sekali. Apalagi Fatih menyuruh ia bersumpah di depan kedua orang tuanya. Ya tentu, dad and mom tak akan pernah menginginkan anaknya menjadi seorang pembunuh.


"Kenapa sekarang menangis, bukankah kau tadi ingin menjadi seorang pembunuh hah!"


"Bersumpah jika kau akan melakukannya agar dad and mom tahu jika putri tercinta mereka sudah mengotori tangannya demi nyawa yang tak akan pernah kembali!"


"Ku bilang stop!!!! stop!!!"


"Ya aku akan membunuhnya kenapa tidak, bukankah nyawa harus di bayar nyawa!"


Duarrr ...


Fatih mengepalkan kedua tangannya dengan mata menggelap lalu menyeret Shofi kembali dengan kasar.


Brak ...


Fatih menutup kencang pintu mobil ketika Shofi sudah masuk.


Fatih kembali menjalankan mobil dengan kecepatan tinggi.


Dua insan itu telah di kuasai amarah yang tak terkendali. Bahkan Shofi terus memberontak ketika Fatih mencengkal tangannya kuat.

__ADS_1


Namun, Fatih ternyata lebih kuat dari yang Shofi duga. Dua anak sama-sama anak mafia dengan keras kepalanya yang tak bisa di atur.


Entah kemana Fatih akan membawa Shofi kenapa sekarang malah Shofi sendiri yang merasa ketakutan.


Sebuah pagar tua terbuka dengan sendirinya ketika mobil Fatih melintas. Terlihat bangunan tua yang tak terawat namun siapa sangka jika Fatih membawa Shofi ke penjara bawah.


Sekilas mungkin itu adalah bangunan tua kosong namun jika sudah masuk ke dalam maka akan nampak tempat yang jauh lebih mengerikan.


Para bodyguard menunduk hormat ketika Shofi dan Fatih masuk. Entah dari siapa Fatih tahu letak penjara bawah keluarga Damaresh.


Brak ...


Fatih menendang kuat pintu besi di mana di dalamnya ada Stephen yang meringis kesakitan akibat beberapa kali di siksa.


Shofi membulatkan kedua matanya melihat luka-luka di sekujur tubuh Stephen. Begitupun Stephen terkejut melihat kehadiran adik tirinya.


Dua-duanya memandang dengan penuh kebencian satu sama lain dengan alasan berbeda.


"Bukankah kau sudah bersumpah maka ayo, bunuh dia sekarang!"


Deg ...


Stephen membulatkan kedua matanya mendengar apa yang Fatih ucapkan.


Tak ...


"Ayo bunuh!"


Bentak Fatih memberikan pistol yang sudah Fatih ambil pelatuknya. Fatih memberikannya pada Shofi namun Shofi terus memberontak tak mau.


"Bunuh!"


Stephen beringsut ketakutan dengan teriakan tidak jelas seolah memohon jika ia tak mau di bunuh.


"Stop, Fatih aku tak mau!"


"Kenapa hah, bukankah tadi kau mau membunuhnya, ayo bunuh!"


"Tidak! lepas hiks ...,"


"Ayo bunuh!"


"No .. no ..."


Dorrr ...


Akhhh ...


Sebuah jeritan menggema di penjara bawah setelah satu tembakan melesat membuat para penghuni lain gemetar merasa ketakutan jika mereka akan di eksekusi juga.


Fatih terdiam dengan tatapan tajamnya menatap Stephen yang tak berdaya.


Tubuh Shofi mematung dengan tangan gemetar menatap objek di depannya.


Bruk ...


Tubuh Shofi melotot kelantai dengan pistol yang ikut terjatuh juga. Air mata Shofi keluar mengalir deras dengan tubuh yang mulai terguncang.


"Tidak!!!"


Jerit Shofi kuat sambil menatap nanar tangannya yang barusan memegang pistol.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...



__ADS_2