
Acara pernikahan om Alam berjalan dengan lancar. Fatih bahagia bisa melihat om dan kakak sepupu nya akhirnya bersatu.
Fatih turut bahagia akan itu semua.
Semua orang sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Begitu pun dengan Aurora yang sibuk memotret momen kebahagiaan itu.
Namun, lagi-lagi kepala Fatih merasa sakit kembali membuat Fatih menghindar dari orang-orang. Apalagi Fatih merasa tak nyaman ketika ada salah satu tamu yang terus memperhatikannya.
Wajah itu seolah tak asing, namun Fatih belum bisa mengingat dengan jelas sang pemilik wajah tersebut.
Karena semakin terasa sakit Fatih langsung pergi begitu saja mencoba menenangkan pikirannya.
Kenapa akhir-akhir ini kepalanya mulai terasa berat. Dan, bayangan-bayangan masa lalu berputar kembali.
Ketika Fatih bertemu dengan orang-orang yang terus memperhatikannya seolah mereka mengenalnya.
Namun, bayangan itu masih samar di ingatan Fatih.
Karena terasa berat seperti nya Fatih membutuhkan suasana baru.
Fatih memilih keluar menghindari kebisingan dan mencari udara segar. Berharap di luar Fatih mendapatkan ketenangan.
Fatih niatnya ingin mencari udara segar terhenti ketika melihat seseorang duduk di atas kursi roda.
Fatih mengerutkan kening, seolah mengingat siapa orang tersebut. Namun, Fatih sedikit lupa siapa namanya.
Mata mereka saling bertemu satu sama lain. Ada sebuah kebencian dan kerinduan dari pasang mata tersebut.
Fatih, menatap Moreo dengan penuh kebencian karena yang Fatih ingat Moreo orang yang pernah mencelakai sang adik.
Sedang Moreo menatap Fatih penuh kerinduan.
Moreo ingin sekali berjalan dan memeluk sahabatnya. Namun, apalah daya, Moreo tak seberani itu apalagi Fatih belum mengingatnya.
Karena tak mau berlama-lama melihat Moreo Fatih memilih langsung pergi.
"Tunggu!"
Ucap Moreo memberanikan diri bicara ketika Fatih akan pergi meninggalkannya.
Fatih menghentikan langkahnya ketika Moreo mencegah dia. Sekelebat bayangan tiba-tiba datang membuat Fatih memejamkan kedua matanya kuat. Namun, sayang bayangan itu blur, belum jelas siapa saja orang-orang yang terlintas di sana.
"Apa kamu benar tak mengingatku?"
Tanya Moreo mencoba memberanikan diri. Fatih yang mendapat pertanyaan seperti itu langsung berbalik dan Moreo sudah berada tepat di hadapannya.
"Ka-kau, kau yang hampir mencelakai adikku!"
Moreo tersenyum getir, ternyata apa yang di katakan om Farhan benar. Fatih ingat hanya keburukannya saja bukan masa dimana mereka menjalin persahabatan.
Persahabatan yang begitu indah mereka jalani. Bahkan mereka bukan sahabat lagi melainkan seperti saudara yang tak terpisahkan.
__ADS_1
"Maaf,"
Ucap Moreo membuat Fatih tersenyum sinis.
"Tak ada kata maaf bagi bajingan seperti mu!"
"Terus kenapa kamu tak menghajar ku!"
"Mau, namun papa melarang!"
Ketus Fatih, ya, karena Farhan melarang Fatih untuk membalas dendam pada Moreo. Walau sebenarnya tangan Fatih sudah gatal untuk menghajar ya.
"Apa kamu benar tak ingat sama sekali, tentang dimana aku berubah. Kebersamaan kita di masa SMA!"
Fatih terdiam mendengar ucapan Moreo yang tak masuk akal. Apa benar dia satu sekolah dulu dengan Moreo. Tapi kenapa sang papa dan Sang Bunda tak memberitahu.
Yang mereka ceritakan hanya Rijal saja tak ada nama yang lain.
"Jangan membual!"
Ketus Fatih meninggalkan Moreo begitu saja. Karena jika terus berada di sana Fatih takut tak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Karena Fatih hanya mengingat keburukan Moreo bukan persahabatan mereka.
"Apa kau tak ingat juga tentang Shofi!"
Deg ...
Seketika tubuh Fatih menegang mendengar nama Shofi di sebutkan. Bagaimana bisa nama itu sama persis dengan nama Shofi yang ada di Jerman.
"Apa kamu tak mengingatnya, Shofi!"
Ulang Moreo sambil mengeja nama Shofi berharap Fatih akan ingat dengan nama itu.
"Siapa dia aku tak peduli!"
"Benarkah!"
Kini Moreo yang tersenyum mengejek Fatih membuat Fatih mengepalkan kedua tangannya erat.
"Apa kau tak mau bertanya siapa dia?"
"Tak penting!"
"Sampai kamu hampir di buat tak waras oleh Shofi!"
Fatih menghentikan kembali langkahnya mendengar ucapan Moreo. Fatih berbaik menatap tajam Moreo.
Siapa yang Moreo maksud, kenapa harus nama itu yang di sebut.
"Apa kamu ingin mendengar satu cerita,"
__ADS_1
Ucap Moreo sengaja menjeda ucapannya karena ingin melihat reaksi Fatih. Moreo tersenyum tipis melihat kebimbangan di wajah Fatih.
"Dulu, Shofi anak cupu yang selalu di buli bahkan sampa jatuh pingsan. Tapi, siapa sangka, gadis itu malah membuat sang pem-buli malah jatuh cinta. Bahkan yang katanya cupu ternyata dia suhu bahkan lebih jago dari yang sang pem-buli kira. Filosofi Alin, sebuah nama yang unik seunik orangnya. Mata biru yang selalu membuat kamu tenggelam jika memandangnya. Bahkan kamu selalu melindungi dia dari berbagai bahaya sampai kamu tak peduli diri kamu dalam bahaya. Kisah kalian terlalu unik untuk sekedar di jabarkan, tapi cinta kalian begitu kuat dari yang terkira. Kamu begitu mencintai Shofi sepenuh hati, bahkan kamu selalu memanggil Shofi dengan panggilan Philo!"
"Jika kamu menganggap ceritaku bohong, maka kamu cari sendiri tentang siapa Filosofi Alin. Pak Anwar tahu semuanya, ak--"
"Stop!!! jangan membual ...,"
Teriak Fatih memegang kepalanya yang terasa sangat sakit sekali. Sungguh, Fatih merasa tak sanggup mendengar cerita itu. Fatih langsung berlari pergi meninggalkan Moreo begitu saja. Moreo hanya bisa menatap Fatih sendu. Sungguh malang jika mereka di pertemukan.
Moreo tak bisa membayangkan bagaimana jadi Shofi yang terlupakan dalam hidup orang yang di cintai ya.
Moreo hanya berharap, Fatih bisa mengingat kembali kisah mereka.
Fatih terus berlari menuju rumahnya tak peduli lagi dengan acara di dalam sana.
Fatih menangis mengurung diri di dalam kamar dengan kepala yang mau pecah saja.
"Jika benar dia, kenapa aku tak mengingatnya kenapa hiks .., kenapa!"
Fatih terus memukul-mukul kepalanya yang terasa sakit. Dadanya terasa sesak ketika Fatih mengingat kembali perkataan Shofi.
"Apa kamu sudah melupakan ku!
"Lupakan apa, bukankah kita baru beberapa kali bertemu!"
"Apa kamu benar-benar tak mengenaliku?"
"Sudah saya katakan saya tak kenal anda, terus bagaimana mungkin anda kenal saya!"
"Katakan siapa anda?"
"Ak-aku!"
"Katakan!"
"Orang yang mencintaimu!"
Orang yang mencintaimu ...
Orang yang mencintaimu ...
Kalimat itu terus terngiang di telinga Fatih. Membuat Fatih semakin kesakitan.
Apa benar, Shofi yang ia kenal benar-benar pernah berada di sana lalunya. Jika iya, bagaimana bisa Fatih melupakannya dengan begitu sangat keras. Bahkan tak ada setitik ingatan pun yang mengingatkan ia pada Shofi.
Jika benar begitu, Shofi pasti akan merasa sakit hati karena sikap dirinya selama ini. Sungguh Fatih tak bermaksud melupakan masa lalunya namun ingatan Fatih yang merenggut semuanya sampai tak ada yang tersisa di ingatan Fatih.
Kesadaran Fatih mulai menghilang dengan rasa sakit yang ia rasakan. Sungguh, hari ini terlalu berat bagi Fatih mengingatnya.
Hanya ada setitik bayangan namun masih membuat Fatih ragu jika itu Shofi.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan, Vote Terimakasih ..