
Shofi menangis dalam diam, mungkin di depan kedua temannya Shofi masih bisa tegar dan kuat. Namun, kali ini Shofi tak bisa lagi membendung kesedihannya mengetahui fakta yang sangat menyakitkan.
Pantas saja selama ini Fatih tak mengenalinya. Pantas saja Fatih kasar padanya. Nyatanya Fatih telah melupakannya akibat hilang ingatan.
Bisakah Shofi mengembalikan ingatan Fatih seperti apa yang Fatih katakan.
Empat tahun semua kebenaran ini di sembunyikan darinya. Sungguh kenapa om Farhan sekejam itu padanya. Jika dulu Shofi tahu Fatih berada dalam keadaan sekarat mungkin Shofi tak akan pernah meninggalkannya.
Andai saja Shofi tak menyewa detektif swasta mungkin sampai kapanpun Shofi tak akan pernah tahu apa yang terjadi. Mungkin, Shofi akan terus berasumsi yang tidak-tidak pada Fatih.
Ya, Shofi sengaja menyewa detektif swasta karena supaya sang kakak tidak mengetahuinya. Karena jika Shofi menyewa detektif internasional maka Davit akan dengan mudah mengetahui rencananya.
Sungguh, entah apa lagi yang di sembunyikan darinya.
Kenapa orang-orang sekejam itu padanya. Tak tahukah mereka, empat tahun Shofi tersiksa dalam kerinduan. Bahkan Shofi tak bisa tidur hingga harus mengkonsumsi obat tidur.
Sekarang Shofi harus bagaimana menghadapi Fatih jika Fatih sendiri telah melupakannya. Dari mana Shofi harus mengembalikan ingatan Fatih.
Mampu kah Shofi melakukannya, atau hanya kesia-siaan.
"Apa kamu akan mengingatku kembali, atau tetap melupakan,"
Gumam Shofi dengan suara gemetarnya menatap Poto Fatih di layar ponselnya. Poto yang diam-diam Shofi ambil di setiap aktivitas Fatih.
"Apa aku mampu mengembalikan kamu seperti dulu, seperti yang pernah kamu katakan!"
"Pasti sulit hidup yang kamu jalani selama ini. Menjalani hidup bagai orang baru dengan keadaan yang berbeda,"
"Apa tak ada se titik ingatan saja tentangku!"
Lilir Shofi dengan suara parau nya bahkan nyaris tak terdengar.
"Jika dulu kamu yang mengejar ku, maka sekarang aku yang akan mengejar mu. Tak peduli seberapa kamu menolaknya. Aku akan selalu mengingatkan kamu bahwa aku benar-benar pernah berada di hati mu,"
Shofi terus saja mengajak bicara Poto Fatih, meluapkan segala isi hatinya. Berharap kesesakan di dadanya menghilang walau hanya sedikit.
Tok .. tok ...
Ketukan pintu membuat Shofi menghentikan tangisnya. Shofi menghapus air matanya lalu perjalan kearah pintu guna melihat siapa yang datang.
"Fatih ..,"
Lilir Shofi meremas dadanya yang terasa sesak. Rasanya Shofi belum siap berhadapan dengan Fatih. Shofi hanya takut tak bisa mengendalikan dirinya sendiri.
Tok ... tok ...
Fatih terus mengetuk pintu berharap Shofi membukanya. Entah kenapa Fatih merasa bersalah atas kejadian di kampus. Apalagi ketika Shofi pergi sambil menangis karena dirinya yang sudah merendahkan Shofi.
Fatih ingin minta maaf, entah karena hatinya atau ada hal lain hanya Fatih yang tahu.
Yang jelas, Fatih sulit sekali tidur karena terus terbayang-bayang wajah Shofi yang kecewa dengan tatapan penuh luka. Fatih seolah merasakan rasa sakit itu.
Tok .. tok ...
Untuk ketiga kalinya Fatih mengetuk pintu apartemen Shofi berharap Shofi membukanya. Entah kenapa hati Fatih seolah resah Walau Fatih sendiri tak tahu kenapa bisa seperti itu.
Cklek ...
__ADS_1
Shofi membuka pintu apartemen nya ketika sudah berhasil menenangkan pikirannya.
Fatih terdiam mematung menatap wajah Shofi. Mata Shofi terlihat sembab dengan hidung yang memerah menandakan jika Shofi habis menangis.
Apa Shofi menangis karena dirinya, Sungguh perasaan macam apa ini. Kenapa bisa Fatih merasa kasihan, bukankah Shofi orang asing di hidupnya.
Fatih tak sadar, jika mungkin Shofi orang asing di hidupnya tapi Fatih lupa jika Shofi bukan orang asing di hatinya.
"Maaf!"
Satu kata meluncur keluar dari mulut Fatih ketika Fatih sudah duduk di atas shopa berhadapan dengan Shofi.
Shofi hanya diam saja dengan segala perasaan yang bergejolak di hatinya.
"Maaf, sudah membuat kamu menangis,"
"Tak apa!"
Jawab Shofi santai seolah tak terjadi apa-apa di antara mereka.
"Aku ke sini bukan cuma untuk meminta maaf saja tapi ada hal yang ingin aku bicarakan!"
Ucap Fatih menatap Shofi yang terlihat dingin tak seperti biasanya. Membuat Fatih tak nyaman dengan tatapan Shofi.
"Aku tak tahu, alasan apa, kenapa kamu mendekatiku!"
"Berikan aku satu alasan yang dapat aku fahami jika memang kamu bukan orang jahat!"
"Karena kamu adalah orang yang aku cintai!"
Shofi tersenyum kecut mendengar jawaban Fatih, kenapa begitu sulit meyakinkan Fatih.
"Waktu SMA, kita dulu satu sekolah di SMAN 10 Jakarta!"
"Itu tidak cukup membuktikannya, bisa saja kamu mencari tahu!"
"Apa aku terlihat berbohong,"
Ucap Shofi mengepalkan kedua tangannya erat. Ya, Shofi sadar Fatih pasti akan mempertanyakan itu. bagaimana bisa Shofi membuktikannya sedang semua kenangan mereka ada di ponsel dia yang hilang.
Shofi mengerti Fatih tak akan mudah percaya mengingat Fatih bukan orang sembarangan. Tapi, harus dengan cara apa Shofi membuktikannya. Dengan kata-kata Shofi yakin Fatih tak akan mempercayainya. Karena Fatih pasti berpikir dia mencari informasi itu agar bisa menjawab pertanyaan nya.
"Aku tidak tahu apa kamu berbohong atau tidak. Seperti nya pertemanan kita cukup sampai di sini!"
"Apa kamu takut mengingatku kembali!"
"Tidak, aku cuma takut aku akan menemukan kecurangan mu dan aku tak akan melepaskan mu!"
"Jika begitu kita jalani hubungan kita seperti dulu, waktu pacaran!"
"What!!! apa kau gila!"
"Kamu benar aku gila, maka kita buktikan jika memang aku pernah ada di masa lalu mu!"
"Tapi tidak dengan cara itu, cukup berteman saja!"
"No, kita pacaran!"
__ADS_1
"Tidak!"
"Seperti nya kau takut kalah!"
Ejek Shofi sengaja memancing Fatih, Shofi faham betul bagaimana karakter Fatih.
"Ok, aku terima! tapi jika kamu tak berhasil membuktikannya jangan salahkan aku menyakiti mu!"
"Baik, akan ku buktikan jika aku orang yang kamu cintai dari dulu!"
Ucap Shofi penuh keyakinan. Shofi akan berusaha mengingatkan Fatih kembali bagaimana pun caranya. Tak peduli seberapa sakit nanti yang Shofi dapatkan yang terpenting bagi Shofi rindu itu kembali.
Fatih terdiam melihat keseriusan di mata Shofi. Mata biru bening dengan pancaran ke yakinkan kuat. Seperti nya Fatih merasa tak asing dengan mata itu.
Seolah Fatih pernah melihatnya tapi di mana.
Fatih menelisik setiap inchi wajah Shofi, mengingat-ingat apa benar Shofi pernah berada di masa lalu nya. Melihat kegigihan Shofi membuat Fatih jadi gamang sendiri.
"Jika di perhatikan, apa kamu campuran?!"
"Mommy ku asli Bali dan Daddy Jerman!"
"Pantas saja wajahmu terlihat ada lokal nya, apalagi jika rambutmu hitam!"
Deg ...
Shofi terkejut dengan apa yang Fatih ucapkan. Ucapan itu mengingatkan Shofi akan sesuatu.
"Apa kamu mewarnai rambutmu?"
"Iya,"
"Sayang sekali, seperti nya kamu lebih cocok berambut hitam!"
"Benarkah!"
"Iya!"
"Apa kamu ingin tahu kenapa aku mewarnai rambutku!"
"Tidak!"
"Sayang sekali, padahal orang yang menyuruhku mengganti warna rambut adalah orang yang spesial di hidupku!"
Deg ...
Jantung Fatih berdetak sangat kencang ketika Shofi mengedipkan sebelah matanya.
Jika terus seperti ini maka Fatih sendiri yang akan kalah tanpa perlu menunggu mengingat kembali.
Apa Fatih akan jatuh cinta pada orang yang sama namun berbeda situasi. Siapa yang akan menolak pesona Shofi. Bahkan Jarvis pun tergila-gila dengan Shofi.
Namun, bukan itu yang Shofi inginkan. Shofi ingin Fatih kembali, mengingat dia dan mencintai dia dengan cara uniknya.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah,, komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1