Fatih (Rindu Yang Belum Usai)

Fatih (Rindu Yang Belum Usai)
Bab 20 Merasa Dejavu


__ADS_3

Shofi sengaja tak memberi tahu kedua sahabatnya begitupun dengan Philip. Shofi hanya menyuruh Philip pulang duluan saja karena Shofi ada urusan.


Urusan menunggu Fatih sampai sadar kembali.


Shofi terus saja menatap Fatih yang masih tak sadarkan diri di pangkuannya. Shofi jadi teringat akan kenangan mereka ketika di Kampoeng Awan.


Pandangan Shofi menerawang jauh ke sana, kenangan manis yang mereka lalui. Shofi masih ingat ketika waktu itu.


Shofi memegang tangan Fatih sambil menyandarkan kepalanya di bahu Fatih.


"Kamu kedinginan, kenapa gak masuk saja ke tenda?"


"Gue ingin menikmati suasana ini, lihatlah, langit begitu indah!"


Shofi mendongak menatap langit yang di taburi bintang-bintang. Berkedip-kedip seakan sedang menggoda sepasang anak manusia yang hanyut dalam kenyamanan satu sama lain.


"Mereka sangat indah!"


Ucap Shofi masih menengadah menatap ke langit sana.


"Ada yang lebih indah dari pada mereka!"


"Apa?"


Tanya Shofi duduk tegak sambil melirik ke arah Fatih.


Tiba-tiba Fatih tidur di atas pangkuan Shofi membuat Shofi terkejut.


"Wajah ini lebih indah dari pada mereka!"


Mengingat Momen itu membuat Shofi tersenyum getir. Nyatanya Fatih sudah banyak melupakan kenangan indah itu. Kenangan yang tak pernah satu detik pun Shofi lupakan.


Sungguh miris bukan!


Empat tahun hanya bisa merindu sendirian. Berharap rindu itu akan usai ketika mereka di pertemukan kembali. Nyatanya, rindu itu belum usai.


Entah harus butuh berapa lama lagi Shofi untuk menunggu Fatih kembali.


Apa Shofi harus terus menunggu sampai sisa hidupnya. Berharap impinya akan terwujud bersama Fatih.


Tapi melihat bagaimana sikap Fatih yang cuek, dingin dan kejam padanya membuat harapan-harapan itu kian mengikis.


Shofi masih menerka-nerka kenapa Fatih bisa menuduh dia dengan sekejam itu. Apa ada yang berubah selama empat tahun ini di Indonesia yang tak pernah Shofi tahu. Jika iya, kenapa anak buahnya tak satupun yang memberi tahu.

__ADS_1


Anak buahnya hanya bilang, baik baik dan baik tak ada yang lain.


Shofi menatap wajah Fatih dengan intens, mencoba berpikir keras dengan keadaan ini.


Deg ....


Shofi terkejut ketika melihat ada bekas jahitan di bagian sisi kepala Fatih. Ketika Shofi mengelus-elus rambut Fatih. Tak sengaja jari Shofi mengusap bagian yang aneh. Ketika Shofi menyibaknya itu bekas jahitan, Shofi tahu itu. Walau bekas itu mulai tak terlihat tapi Shofi bisa mengenalinya.


Berbagai asumsi terus berputar di kepala Shofi. Bagaimana mungkin anak buahnya tak melapor jika Fatih mengalami luka. Apa jangan-jangan ..


Shofi mengepalkan kedua tangannya erat dengan rahang mengeras.


Shofi yakin, ini ulah sang kakak yang menekan anak buahnya supaya tak memberi tahu apa yang sebenarnya terjadi. Shofi yakin, ada hal besar yang di sembunyikan darinya.


Seperti nya Shofi harus mencari tahu sendiri tentang Indonesia. Bila perlu Shofi menyewa detektif handal untuk menyelidikinya. Ada apa empat tahun lalu.


Bukankah sikap kejam Fatih bukan hal kebetulan jika Fatih terus bersikap tak mengenalnya. Pasti ada hal yang mereka sembunyikan dari dia terutama Davit. Shofi yakin sang kakak menyembunyikan hal besar darinya.


Jika tak ada sesuatu Shofi yakin Fatih tak akan pernah se kasar ini padanya. Karena Shofi tahu, di hati Fatih cuma ada dia bukan yang lain.


Shofi menyimpan tangannya tepat di dada Fatih.


"Apa namaku tetap di sini, atau sudah Ter delete. Apa rindu itu masih ada atau sudah musnah. Katakan, jika namaku sudah kau gantikan dengan yang lain,"


Gumam Shofi tersenyum getir, empat tahun bukan hal mudah memendam rindu. Empat tahun bukan hal mudah mengenang. Empat tahun bukan hal mudah menanti.


Jika pada akhirnya Fatih memang sudah tak mencintainya lagi, maka Shofi akan terima. Asal katakan jangan diam. Agar Shofi bisa memutuskan kemana lagi arah ia melangkah..


Walau sekujur nya Shofi belum tahu, tujuan dia kemana untuk sekedar menenangkan hatinya.


Tes ...


Tes ...


Seperti nya musim salju mulai turun, Shofi menengadahkan kepalanya ke atas guna melihat bagai mana cara kerja salju perlahan turun.


Shofi mengulurkan telapak tangannya kanannya yang masih di perban. Hingga salju yang berjatuhan hinggap di telapak tangan Shofi.


Shofi tersenyum, ternyata musim sangat cepat berlalu. Dan, jika sudah memasuki musim dingin maka Shofi harus membersihkan baju hangat, sal kemanapun dia pergi.


"Kamu kedinginan, kenapa gak masuk saja ke tenda?"


"Gue ingin menikmati suasana ini, lihatlah, langit begitu indah!"

__ADS_1


Deg ...


Shofi terkejut ketika mengingat Fatih tidak kuat oleh cuaca dingin. Refleks Shofi menatap Fatih, namun Shofi terdiam seolah membeku ketika Fatih sudah membuka kedua matanya. Shofi terdiam seolah sulit untuk bicara, terlalu kelu untuk sekedar bersua.


Bibir Fatih bergerak seolah ingin mengatakan sesuatu namun, dengan cepat Shofi memotongnya.


"Kamu sudah sadar, cepat bangun. Salju mulai turun, badan kamu tak kuat kedinginan!"


Ucap Shofi cemas, sambil membantu Fatih untuk bangun. Fatih yang ingin protes tertahan karena badannya masih lemas apalagi memang apa yang Shofi katakan benar apa adanya.


Shofi membopong Fatih kembali masuk dimana universitas sudah mulai kosong karena para mahasiswa nya sudah pulang sendari tadi. Hanya ada sebagian orang saja yang mungkin ada tambahan kelas.


Fatih diam saja ketika Shofi menarik tangannya seolah Fatih merasa Dejavu akan momen ini. Fatih merasakan keadaan ini seolah persis yang Fatih impikan. Tangannya di tarik oleh seseorang dalam mimpi itu. Walau kenyataan Shofi yang menarik lengan Fatih.


Fatih diam saja karena merasa tak asing dengan keadaan ini. Seolah Fatih pernah merasakannya. Namun, dimana? kapan? Fatih tak tahu persis tapi rasa ini rasa tak asing bagi Fatih.


Fatih melihat tangan kanannya yang di gandeng oleh tangan kiri Shofi sampai menuju parkiran. Shofi menyuruh Fatih masuk kedalam mobilnya sendiri.


Shofi membawa mobil Fatih menuju apartemen nya.


Fatih hanya diam saja dengan pikirannya sendiri. Bahkan tanpa sadar, Fatih meraba dadanya yang dimana jantungnya berdetak kencang.


Ini hal pertama Fatih rasakan, kenapa jantungnya berdetak tak stabil jika di dekat Shofi. Selalu ada debaran halus yang tak Fatih mengerti entah kenapa bisa seperti itu.


Bahkan lamunan Fatih sampai menghilangkan kesadarannya. Sampai-sampai Fatih belum sadar jika ia sudah sampai di gedung unit apartemen nya.


"Sudah sampai, ayo keluar!"


Ucap Shofi menarik kembali tangan Fatih membuat Fatih kembali merasa perasaan aneh yang menggelitik hatinya.


"Ini berkas jika aku bukan penguntit atau memata-matai kamu. Kamu bisa lihat sejak kapan aku tinggal di sini. Istirahat lagi, badan kamu butuh istirahat!"


Ucap Shofi memberikan sebuah berkas ketika sudah berada tepat di depan pintu kamar Fatih. Lalu Shofi beranjak meninggalkan Fatih menuju Apartemennya sendiri.


Shofi buru-buru menutup pintu, lalu Shofi menyandarkan punggungnya di sandaran pintu. Air mata Shofi kembali keluar membasahi pipinya. Dadanya semakin sesak sekali ketika Shofi mengingat dulu Fatih yang suka menarik tangannya asal.


Mau itu secara paksa atau Shofi suka rela, Fatih yang selalu menggenggam erat tangannya. Tapi, kini Shofi yang menarik Fatih, tapi sayang seperti nya itu semua sudah tak berarti apa-apa lagi di hati Fatih.


Apalagi tatapan Fatih yang dingin seolah tak suka Shofi memegang tangannya.


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1



__ADS_2