
Jika Cherry saat ini sedang bahagia dengan acara lamarannya. Berbeda dengan Elsa yang masih setia menemani sang kekasih yang belum sadarkan diri sampai saat ini.
Dengan setia Elsa menjaga Philip siang dan malam. Mengurus Philip dengan baik dan penuh kelembutan.
Setiap hari mengelap tubuh dan wajah Philip dengan telaten seolah tak ada rasa jijik di hati Elsa.
"Sayang, kapan kamu akan bangun. Aku mohon bangunlah aku sangat merindukan kamu,"
Lilir Elsa menatap sendu Philip yang masih belum sadar dari komanya. Entah sampai kapan Philip berbaring lemah tak berdaya bahkan belum ada tanda-tanda Philip akan bangun.
Ingin marah namun marah pada siapa!
Elsa hanya bisa diam dengan rasa sakitnya sendiri setiap hari melihat sang kekasih berbaring lemah tak berdaya.
Bahkan keadaan Elsa pun semakin menurun, terlihat badan Elsa yang sedikit kurusan. Entah apa jadinya jika Philip bangun, Philip pasti merasa sedih melihat keadaan Elsa.
Jika Elsa sibuk mengurusi Philip dan terus mengajak Philip berbicara. Berbeda dengan Shofi yang sendari pagi mondar mandir mencari sesuatu.
Bahkan nampak jelas wajah Shofi yang begitu prustasi.
Bahkan kamar yang tadinya sudah rapih sekarang menjadi acak-acakan kembali.
Di setiap sudut sudah Shofi cari namun sampai saat ini Shofi belum menemukannya. Rasanya Shofi ingin menangis saja jangan sampai barang itu menghilang.
Fatih hanya diam melihat sendari tadi Shofi terus mencari sesuatu dan Fatih pun enggan bertanya. Fatih hanya diam saja menatap Shofi yang terlihat prustasi.
Namun, ketika Shofi menangis prustasi Fatih mendekat. Entah apa yang membuat Shofi menangis seperti itu.
"Philo, kamu kenapa?"
"Apa yang kamu cari, sampai menghancurkan apartemen sendiri!"
"Barang ku hilang, dia hilang hiks ..,"
Fatih melongo mendengar jawaban Shofi, karena sebuah barang Shofi sampai menghancurkan apartemen sendiri. Sungguh Fatih tak habis pikir emang barang apa yang Shofi maksud, se-berharga kah barang itu sampai Shofi takut kehilangannya.
"Emang apa yang hilang, barang apa?"
"Gelangku hilang, kenapa bisa tidak ada. Aku rasa aku tak pernah melepaskan gelang itu. Aku harus mencarinya lagi ..,"
Panik Shofi sambil beranjak kembali masuk ke dalam kamar lalu mulai mencari untuk yang ketiga kalinya. Bahkan di kamar mandi pun Shofi terus mencari dengan air mata yang tak henti keluar.
Bagaimana bisa gelangnya hilang, dan Shofi tak sadar kapan itu terjadi. Jika sampai gelang itu benar-benar hilang Shofi tak akan pernah memaafkan dirinya sendiri. Bagi Shofi gelang itu separuh hidupnya, separuh kerinduannya. Shofi bisa kuat karena gelang itu, Shofi bisa bertahan melewati masa sulit karena gelang itu.
__ADS_1
Melihat Shofi yang prustasi membuat Fatih menjadi kesal sendiri melihatnya.
"Stop Philo, stop!"
Kesal Fatih menahan kedua tangan Shofi yang mengobrak-abrik kamarnya bahkan sudah tak terbentuk lagi.
"Stop, apa yang kau lakukan. Gelang apa, apa sebegitu berharga gelang itu sampai kau menghancurkan kamar kamu!"
Geram Fatih tak sadar sudah membentak Shofi membuat Shofi terdiam dengan air mata yang terus mengalir.
"Tapi aku tak mau kehilangan gelang itu hiks .., tak mau!"
Lilis Shofi menggelengkan kepalanya kuat, gelang itu begitu berharga bagi Shofi. Karena gelang itu yang sudah menemani Shofi selama ini.
"Apa gelang itu begitu berharga?"
Shofi hanya mengangguk saja dengan air mata yang masih mengalir.
"Apa yang melebihi gelang itu berharga dari sang pemberinya?"
"Karena gelang itu yang selalu mengingatkan ku pada pemberinya. Dan terakhir yang dia titipkan agar aku bisa menjaga hatiku untuknya!"
"Lima tahun gelang itu mengikatku agar tak ada sosok yang aku rindukan selain pemberi gelang itu. Dan kau bertanya apa gelang itu lebih berharga dari pemberinya?"
Fatih menatap intens Shofi yang masih menangis dengan hidung kembang kempis. Rasanya Fatih tak bisa tak menahan diri untuk tak bisa mencium bibir Shofi yang entah dari kapan selalu menjadi candu bagi Fatih.
Tubuh Shofi menegang tetkala Fatih mengecup bibirnya lama penuh kelembutan dan sedikit penekanan.
Entahlah, kenapa Shofi selalu membuat hati Fatih berbunga-bunga. Cinta yang Shofi miliki begitu suci dan tulus walau terkadang Shofi selalu gengsi untuk mengungkapkan isi hatinya.
Dulu seperti itu, namun sekarang seperti nya Shofi lebih berani mengungkapkan perasaannya.
Kerinduan membuat Shofi tak bisa menahan perasaan nya lagi. Apalagi sekarang Fatih sudah mengingatnya. Membuat Shofi takut jika Fatih tiba-tiba kembali berubah.
Fatih melepaskan Shofi ketika merasa Shofi sulit bernafas. Nafas mereka memburu satu sama lain bahkan Shofi dan Fatih bisa merasakan nafas mereka masing-masing.
Fatih menarik Shofi kedalam pelukannya memeluk dengan penuh kasih sayang.
"Kenapa baru sekarang kamu seperti ini, kenapa tidak dari dulu, hm!"
"Kenapa baru sekarang aku merasa berharga di hatimu, kenapa tak dulu kau tunjukan perasaan itu!"
"Aku selalu menunggu momen ini, momen di mana kamu meluapkan semua perasaanmu. Buka Philo dulu yang selalu menyangkal akan perasaannya,"
__ADS_1
"Terimakasih Philo, terimakasih ..,"
Ucap Fatih membuat Shofi terdiam sambil menautkan kedua alisnya. Apa maksud Fatih kenapa Fatih bicara seperti itu. Jangan bilang jika Fatih yang menyembunyikan
"Apa kamu mencari ini!"
Ucap Fatih membuyarkan lamunan Shofi.
Shofi membulatkan kedua matanya melihat gelang yang Fatih pegang. Itu gelang yang sendari tadi Shofi cari kenapa Fatih tak bicara jika gelang itu ada di dirinya.
"Awalnya aku selalu penasaran kenapa setiap kesempatan kamu selalu mengecup gelang ini dengan sebuah harapan besar. Aku selalu cemburu melihat pancaran cinta yang kamu tunjukan ketika menatap gelang ini. Bahkan di waktu tidurpun kau selalu memeluknya. Apa tatapan cinta itu kau peruntukan pada ku atau pada benda ini?"
Shofi menghela nafas berat, ada rasa kesal di hati Shofi ternyata Fatih yang mengambil gelangnya. Namun, ada rasa lucu juga kenapa Fatih bersikap kekanakan seperti ini. Membuat Shofi teringat akan kemping di Kampoeng Awan. Wajah Fatih memang selalu terlihat dingin, namun perilaku Fatih selalu bertingkah manja dan pemaksa.
Bagaimana bisa Fatih cemburu pada benda pemberiannya sendiri sungguh aneh, namun itulah Fatih. Tak suka jika hati dan pikiran Shofi teralihkan pada selain dirinya.
"Ya tentu pada kamu, tapi gelang ini berharga juga di hatiku karena dengan gelang ini aku selalu bisa menatap wajahmu dan gelang ini satu-satunya benda yang bisa mengingatkan ku padamu!"
"Bukankah dulu kamu selalu mencuri foto ku diam-diam. Kenapa hanya Poto di gelang ini yang kau tatap?!"
"Karena semua tentangmu di rampas oleh kakak ku!"
Geram Shofi mengepalkan kedua tangannya erat. Mengingat bagaimana ponselnya hilang semua itu karena ulah sang kakak.
Shofi tak habis pikir dengan jalan pikiran sang kakak kenapa ia tega berbuat sekejam itu padanya.
Fatih terdiam, tergambar jelas banyak luka yang Shofi lalui selama ini. Apa yang harus Fatih lakukan agar bisa mengembalikan semuanya.
"Maafkan aku karena gelang ini membuat kamu terluka,"
"Aku di sini, aku sudah kembali. Tak akan ku biarkan siapapun menyakiti kamu lagi!"
Shofi memeluk erat Fatih begitupun Fatih membalas pelukan Shofi tak kalah erat.
"Terimakasih sudah menjaganya untukku, sayang!"
Gumam Fatih sambil mencium puncak kepala Shofi bertubi-tubi.
"Sekarang kita kerumah sakit ya,"
"Hm,"
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan, Vote Terimakasih ...