
Elsa dan Cherry tersenyum melihat Shofi sudah kembali ke Jerman bahkan sudah masuk kampus untuk menyelesaikan tugas akhir mereka.
Elsa dan Cherry melihat jika ada kebahagiaan terpancar di mata biru Shofi. Mata yang terlihat tidak menunjukan lagi kegelapan di sana.
Shofi melambaikan tangan pada kedua sahabatnya sambil melepaskan genggaman tangannya dari Fatih.
Fatih hanya mengangguk dan tersenyum saja membiarkan Shofi menghampiri teman-teman nya. Karena Fatih dan Shofi berbeda arah dimana Fatih akan menyerahkan tugas akhir pada profesor.
Sedang Shofi karena akan membahas masalah hal lain dimana kehadiran Shofi menjadi mahasiswa memang bukan untuk menunjukan kemampuan namun hanya ingin belajar dan belajar dalam pengetahuan yang belum ia tahu.
Seperti biasa Shofi akan meminta sang profesor untuk tidak memasukan nama dia di daftar mahasiswa berprestasi. Karena hal itu sudah Shofi dapat kan dari dulu.
"Bagaimana keadaan di Indonesia, apa ada hal serius?"
Tanya Elsa karena tiba-tiba saja Shofi pergi dan menyerahkan semua pekerjaan pada dia.
"Tak terjadi apa-apa, aku hanya menghadiri pemakaman sahabat ku!"
Elsa terdiam bisa Elsa rasakan ada kesedihan yang mendalam yang terdengar dari nada bicara Shofi. Elsa yakin siapapun itu pasti orang itu bukan sekedar sahabat bagi Shofi.
"Katanya Indonesia sangat indah dengan ribuan wisata, aku jadi pengen ke sana!"
Cetus Cherry antusias seolah mengalihkan pembicaraan mereka.
"Kapan-kapan aku ajak libur ke sana, aku jamin kalian tak akan menyesal!"
"Wah jadi penasaran, seindah apa bumi Indonesia!"
Shofi tersenyum saja karena Shofi pun bingung untuk menjabarkannya. Indonesia adalah kenangan dia. Indonesia adalah cinta dia dan Indonesia adalah hidup dia karena dari Indonesia Shofi menemukan itu semua. Walau Indonesia dan Jerman tak bisa di pisahkan karena Jerman adalah bumi ke hadirnya dia.
"Kalian akan tahu jika sudah kesan, atau lihat saja di google!"
Cherry menjadi antusias mendengarnya apalagi Cherry sangat penasaran sekali dengan negara satu itu.
Elsa hanya diam saja karena dia pernah beberapa kali berkunjung walau tak sampai liburan. Namun, Elsa suka orang pribumi begitu sangat menjunjung kesopanan.
Tak mungkin juga Elsa mengatakannya bisa habis riwayat dia. Karena memang waktu itu Elsa pergi tak memberi tahu Shofi atas perintah dari Davit.
"Kapan kita akan liburan ya!"
"Bukankah kamu sebentar lagi menikah?"
"Aisst, justru itu sebelum menikah aku ingin liburan bersama kalian. Karena aku tak tahu sesudah menikah apa masih bisa bersama kalian atau tidak!"
Shofi dan Elsa saling tatap satu sama lain. Memang benar apa yang di ucapkan Cherry apalagi Cherry akan menjadi seorang putri dan tentu keadaan istana tidak akan sama dengan mereka.
"Kamu mau kemana?"
"Aku penasaran seperti apa suasana Indonesia!"
"Baiklah, nanti kita atur!"
Ucap Shofi seperti nya seru juga jika mereka liburan bertiga saja tanpa ada para lelaki. Menikmati waktu bersama tanpa ada yang posesif pada mereka.
__ADS_1
Mereka bertiga melanjutkan langkahnya menuju ruang profesor guna menyerahkan tugas akhir mereka.
Perjuangan mereka sebentar lagi usai tinggal menunggu babak baru kehidupan yang mereka akan lanjutkan nanti di kehidupan berbeda kehidupan yang sesungguhnya.
Perjalanan Shofi begitu panjang menuju titik ini.
Tugas mereka mengemban ilmu telah mereka selesaikan dengan cepat apalagi Shofi yang memang tak perlu lama untuk menyelesaikannya.
Bukan hanya sarjana hukum, ekonomi dan manajemen namun Shofi juga seorang sarjana filsuf. Berbagai bidang ia kuasai dengan cepat.
Namun, pencapaian itu tak lekas membuat Shofi berhenti belajar di kesibukannya memegang sebuah perusahaan besar. Dia tetap saja masih belajar demi memperluas wawasan nya bahkan sekarang Shofi menggeluti bidang IT.
Bidang yang memang belum Shofi kuasai di bandingkan menguasai biologi atau fisika.
Otaknya yang cerdas membuat Shofi mudah memahami semuanya. Bahkan di usianya yang genap dua puluh tiga tahun dia sudah menyandang beberapa gelar bahkan Shofi lebih cocok menjadi seorang profesor dari pada mahasiswa.
Sesudah urusannya selesai mereka bertiga memutuskan untuk cari makan. Namun, Cherry harus pergi terlebih dahulu untuk melakukan sedikit urusan dengan keluarga kerajaan.
Alhasil tinggal Shofi dan Cherry saja yang makan di kantin.
"El,"
"Hm!"
"Bagaimana keadaan Philip?"
Tanya Shofi karena memang ia belum melihat batang hidung Philip.
"Dia baik-baik saja,"
"Terus apanya?!"
"Hubungan kamu?"
"Baik-baik saja!"
"Maksud aku, apa kamu akan menikah dengan Philip dalam waktu dekat ini?"
Elsa terdiam mendengar pertanyaan itu, Elsa dan Philip memang sepakat akan menikah tapi bukan di tahun ini.
Itu permintaan Philip karena ada yang harus Philip selesaikan terlebih dahulu. Elsa juga tak tahu urusan apa yang sedang Philip kerjakan karena memang Philip tak memberi tahunya.
Philip hanya memberi tahu itu titah Davit, jika begitu mana berani Elsa ikut campur.
"Seperti nya tidak, aku ingin mewujudkan cita-cita ku dulu!"
Alibi Elsa tak mungkin mengatakan yang sebenarnya Elsa hanya takut Shofi bermasalah dengan Davit.
"Baiklah, aku akan mendukungmu!"
"Tapi, biarkan aku bekerja keras sendiri tanpa campur tangan kamu!"
Mohon Elsa tak mau Shofi membantu dia dalam prosesnya. Elsa mau dia berhasil dengan kerja keras ia sendiri bukan karena bantuan Shofi.
__ADS_1
Karena Elsa tahu mudah bagi Shofi mewujudkan apa yang Elsa cita-cita dengan hitungan menit karena kekuasaan Shofi yang luas.
"Baiklah, aku tak akan ikut campur. Tapi ingat, persaingan menjadi seorang pengacara itu tak mudah!"
"Aku tahu, untuk itu biarkan aku menghadapinya sendiri!"
"Hati-hati jika bergelut dengan politikus-politikus!"
Elsa tersenyum seringai begitu pun dengan Shofi. Bagi mereka mereka tak takut akan hal itu.
Itulah kenapa Elsa ingin menjadi seorang pengacara, menegakan keadilan bagi yang lemah memberantas kejahatan yang semena-mena.
"Itu tujuanku!"
Ha .. ha ...
Shofi dan Elsa tertawa menertawakan tingkah mereka sendiri. Bagi mereka menghadapi para pejabat begitu mudah dari pada menghadapi mafia bawah.
Apalagi keluarga Shofi memang di lindungi oleh negara. Bagaimana tak di lindungi jika Shofi dan anak buahnya tiga tahun lalu membantu negara memberantas para *******, perdagangan ilegal, pencucian uang dan bandar narkoba.
Siapa yang berani pada Shofi kecuali orang-orang yang tak tahu bagaimana sepak terjangnya Shofi. Bahkan Shofi bisa saja menekan dewan-dewan dengan satu kali tepuk maka semua nya hancur karena Shofi mempunyai akses mereka.
"Seperti nya kamu harus ku angkat menjadi penasehat perusahaan!"
"No, sebagai sekertaris saja sudah pusing!"
"Philip yang lebih pusing dari kamu,"
"Ya .. ya ..,"
"Philo!"
Elsa dan Shofi menoleh ketika Fatih memanggil nama Shofi.
"Sudah selesai?"
"Sudah, aku lapar!"
Dengan entengnya Fatih memakan makanan Shofi yang belum habis akibat terlalu asik mengobrol.
Elsa hanya diam saja tidak berani bersua melihat kelakuan Fatih yang baru Elsa lihat.
Sedang Shofi membiarkan saja karena memang Fatih selalu saja seperti itu. Sipat asli mulai keluar semenjak ingatan Fatih kembali.
Salah satunya, Fatih selalu suka memakan makana orang lain.
"Masih lapar?"
"Seperti nya sudah kenyang!"
Ucap Fatih sambil mengelap mulutnya dengan tisu lalu minum minuman bekas Shofi juga.
Tapi Fatih suka memakan makanan orang tergantung siapa orangnya dulu. Jika orang itu yang Fatih sayang maka Fatih akan seperti itu tapi jika bukan mana mau Fatih memakan bekas orang kecuali makanannya belum di makan sama sekali.
__ADS_1
Bersambung...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...