Fatih (Rindu Yang Belum Usai)

Fatih (Rindu Yang Belum Usai)
Bab 79 Ketegangan


__ADS_3

Sungguh keadaan Amira membuat pukulan besar bagi Shofi.


Shofi tak menyangka jika keadaan Amira sangat mengerikan. Bahkan Amira harus menanggung semuanya sendiri.


Shofi tak bisa jauh dari Amira bahkan Shofi membantu Melati mengurus Amira. Tak sedikitpun Shofi pergi meninggalkan Amira bahkan Shofi meminta maaf pada Fatih jika ia terlalu fokus pada Amira.


Fatih pun tak masalah karena mengerti Amira jauh lebih membutuhkan Shofi saat ini dari pada dirinya. Apalagi Fatih masih Shok atas kepergian om Alam membuat Fatih banyak diam.


Sedang Bunga, dia tak bisa seperti Shofi standby terus di rumah sakit karena harus mengurus anak dan suaminya. Apalagi Sekar yang tak bisa diam, jika di bawa ke rumah sakit takut malah menggangu Amira.


Amira sendiri hanya banyak diam dan Sesekali menulis. Entah apa yang Amira tulis hanya dia yang tahu. Shofi hanya akan membantu apa yang Amira butuhkan.


Begitulah hari-hari yang Amira jalani, tanpa ada obrolan sedikitpun. Walau Amira tahu, kedua orang tuanya akan datang di waktu dia tidur. Padahal, Amira akan selalu mendengar setiap kalimat yang kedua orang tuanya ucapkan.


Bahkan sekalipun dengan Shofi, Amira belum bisa mengobrol banyak. Dia hanya mengangguk atau mengedipkan mata sebagai isyarat menjawab pertanyaan Shofi.


Bagi Shofi tak masalah, yang terpenting dia bisa sedikit menebus waktu yang telah hilang selama hampir lima tahun ini.


Amira memegang tangan Shofi membuat Shofi langsung menatap Amira sambil tersenyum.


"Ada apa?"


Tanya Shofi lembut, dulu Amira yang selalu bertanya seperti itu ketika Shofi dalam keadaan rapuh. Menjadi pundak bagi tempat berlindung ya.


"Apa butuh sesuatu katakanlah, apa?"


Amira hanya menggelengkan kepala, namun Amira berusaha bangun membuat Shofi dengan sigap langsung membantu menyandarkan Amira supaya nyaman duduknya.


Amira membawa tangan Shofi pada perut buncitnya. Membuat Shofi terdiam dengan wajah linglung nya. Bahkan tubuh Shofi mematung merasakan gerakan kecil dari perut Amira.


Amira tersenyum tipis membuat mata Shofi berbinar.


"Ra, dia menendang!"


Pekik Shofi girang lalu duduk mendekat mengusap perut Amira. Gerakan dari baby Amira terasa jelas di tangan Shofi membuat Shofi bahagia.


"Di menyukaiku, aku yakin dia pasti gak sabar ingin segera melihat ibunya!"


"Aku yakin, kamu pasti sembuh!"


Amira hanya tersenyum saja melihat Shofi bahagia memegang perutnya.


"Jaga dia untukku!"


Deg ...


Seketika senyuman di bibir Shofi lenyap bak di telan bumi. Shofi menatap Amira tak percaya, bagaimana bisa Amira bicara seperti itu.

__ADS_1


Melihat Amira yang seperti ini membuat Shofi terpukul namun sebisa mungkin Shofi selalu berusaha nampak baik-baik saja walau hati Shofi sangat hancur.


Shofi menatap Amira dengan mata berkaca-kaca.


"Ra, aku yakin kamu akan sembuh. Aku akan berusaha mendatangkan dokter-dokter luar negeri untuk membantu persalinan kamu nanti!"


Amira hanya menggeleng saja sambil tersenyum tipis seolah kepergian sebentar lagi menyapa.


Tak ada yang bisa Amira sesali dengan keputusan yang ia ambil. Bukankah hidup itu harus berkorban atau di korbankan.


Tak ada yang abadi, semuanya pasti akan pulang ketempat asal.


Bagi Amira, ia sudah cukup bertahan menahan segala rasa sakit itu. Amira hanya ingin istirahat sejenak. Agar kesakitan itu menghilang.


"Maaf selama ini tak mencari mu!"


"Tidak Ra, aku yang harus minta maaf karena tak pulang ke sini. Maaf aku tak ada di saat kamu butuh!"


"Jaga Fatih, cinta dia masih sama seperti dulu walau ingatannya belum kembali. Tapi, Fatih selalu merasa dalam hidupnya ada yang menghilang. Dan, setiap kali di dekat kamu, jantung Fatih berdebar. Membuat Fatih yakin, jika kamu adalah belahan hatinya yang hilang. Percayalah, Fatih akan mengingat semuanya!"


"Aku tak tahu Ra, jangan terlalu banyak berpikir. Fokuslah pada kesembuhan kamu. Aku bisa mengatasi masalahku,"


Ucap Shofi membenarkan selimut Amira, Shofi membiarkan saja Amira berasumsi jika Fatih masih hilang ingatan. Shofi hanya tak mau Amira banyak pikiran di saat kondisi dia yang seperti ini.


Amira tersenyum saja melihat bagaimana Shofi mengalihkan pembicaraan. Pasti selama ini hidup yang Shofi jalani berat juga.


"Apa ayah dan mama ada?"


"Sebentar aku panggilkan,"


Ucap Shofi lagi membuat Amira hanya tersenyum tipis saja mengalihkan rasa sakit yang begitu menyesakan dadanya.


Shofi membuka pintu, semua orang yang ada di luar langsung berdiri.


Shofi tersenyum menatap Jek dan Melati.


"Ayah, mama. Amira ingin bicara sama kalian,"


Ucap Shofi membuat Melati memegang tangan Jek erat. Sungguh Melati tak sanggup. Bisakah Melati kuat sekedar tersenyum agar putrinya tak merasa sedih.


Dengan ragu Jek dan Melati masuk ke dalam, sedang Shofi duduk di dekat Dinda sengaja menghindar dari Tante Queen dan Om Farhan.


Shofi bukan maksud seperti itu, hanya saja Shofi takut jika ia tak bisa mengendalikan emosinya atas keingintahuan alasan apa kenapa om Farhan menutup aksesnya tentang Fatih.


Sedang Fatih entah kemana perginya, semenjak Shofi sibuk mengurus Amira Fatih juga sibuk membantu sang papa di kantor walau di antara putra dan papa itu masih belum bertegur sapa karena Fatih kesal dengan apa yang papa lakukan padanya.


Di keadaan seperti ini Farhan juga hanya bisa menghela nafas berat karena putranya sedang merajuk pada dia.

__ADS_1


Begitu juga dengan Shofi yang semenjak datang ke Indonesia Shofi belum bertegur sapa dengan Farhan. Shofi hanya bersikap biasa pada Tante Queen saja atau Aurora.


Suasana tegang semakin mencengkram ketika timbul masalah baru yang banyak orang tak sadar.


Orang-orang hanya bersyukur dan bahagia bisa melihat Shofi kembali. Bagi mereka Shofi sudah seperti bagian dari keluarga mereka sendiri. Apalagi di masa lalu hubungan mereka sangat baik.


Namun sebuah insiden membuat hubungan Shofi dan Farhan begitu dingin apalagi Farhan sudah tahu dari Davit tentang bagaimana kejadian di Jerman.


Sebenarnya Farhan dan Queen sangat bahagia ternyata rencananya sudah berhasil mengirim Fatih ke Jerman agar ingatannya kembali.


Walau Farhan dan Queen tahu jika Shofi pasti kecewa pada dirinya. Farhan belum ada waktu yang pas untuk meluruskan semuanya dan menjelaskannya. Apalagi Farhan tahu, emosi anak muda memang selalu labil.


Farhan berjanji akan menjelaskan semuanya ketika situasi telah normal.


Queen menatap sendu pada Shofi yang terlihat dingin walau Queen tahu alasan diamnya Shofi.


"Shofi ,,"


Panggil Queen memberanikan diri berbicara agar hubungan mereka tidak terlalu canggung.


"Ada yang mau Tante bic--"


Brak ...


Dinda, Fandi, Queen, Farhan dan Shofi terkejut ketika Jek membuka pintu kasar sambil berlari memanggil Dokter.


Tangisan Melati terdengar nyaring membuat keadaan semakin tegang.


Bukankah keadaan Amira mulai stabil kenapa sekarang kembali mencengkram.


Tangisan Amira dan Melati terdengar sangat jelas membuat mereka semua juga sangat panik.


Para dokter langsung berbondong masuk menangani Amira.


Melati terpaksa harus keluar karena dokter memerintahkan mereka untuk keluar.


Tangisan mereka pecah melihat bagaimana Amira di dorong menuju ruang operasi seperti nya kali ini keadaan Amira cukup serius.


Yang lebih mengejutkan lagi Amira mengalami pendarahan hebat.


Bahkan sampai Melati pingsan di pelukan Jek melihat bagaimana tersiksanya Amira.


Pada hari itu semuanya begitu panik, cemas, sedih dengan keadaan itu. Tak pernah menyangka jika Amira akan mengalami hal itu.


Shofi sudah tak bisa membendung kesedihannya lagi. Dengan cepat Shofi menghubungi Fatih memberi tahu keadaan Amira.


Shofi berharap tak ada hal yang menakutkan mereka dengar.

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan, Vote Terimakasih ...


__ADS_2