
Perlahan kedua mata lentik Shofi mengerjap-enjap pertanda Shofi bangun dari pingsannya.
Awas ....
Shofi merintih kesakitan sambil memegang kepalanya yang begitu berat.
Shofi melebarkan penglihatannya menatap pada sekeliling ruangan dimana ia berada.
Shofi sudah tahu, dirinya berada di ruang kesehatan.
Huh ...
Shofi menghela nafas berat melihat selang infus yang menancap di punggung tangannya. Entah sudah berapa ratus kali punggung tangan Shofi di sakiti jarum infus.
Shofi sendiri an di dalam, Shofi tahu pasti Philip yang melarang siapa saja masuk ke ruangannya.
Seketika ingatan Shofi kembali sebelum ia pingsan. Shofi memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sesak. Mengingat betapa acuhnya Fatih pada dia. Apa Fatih semarah itu di masa lalu hingga tak peduli lagi pada dia.
Atau, Fatih membenci dia karena semua yang Shofi lakukan. Sungguh, Shofi pikir pertemuan mereka akan menjadi pertemuan melepas rindu yang membelenggu. Nyatanya itu semua hanya fatamorgana.
Fatih tak peduli lagi pada dia, bahkan membiarkan orang lain membawa dia. Apa se-benci itukah Fatih pada dia. Jika begitu maka Shofi harus berjuang untuk mengembalikan Fatih yang dulu.
Namun, itu pasti tidak mudah bagi Shofi lakukan. Mengingat betapa egoisnya dia dulu meninggalkan Fatih.
Ini hadiah kecil dari aku, semoga kamu suka.
Mungkin harganya tidak seberapa, semoga kamu bisa menjaganya.
Ini kenangan dari ku, supaya kamu ingat bahwa ada laki-laki yang begitu tulus mencintaimu.
Jaga gelang ini untukku, jika suatu saat nanti kita bertemu. Dan, ketika kamu masih memakai gelang ini, itu pertanda aku selalu di hatimu. Jika gelang ini tak kamu pakai ketika kita bertemu kembali maka, namaku sudah kamu ganti.
Aku mencintaimu!
Shofi meremas gelang yang ada di pergelangan tangannya ketika mengingat bait-bait kata yang Fatih ucapkan di Bandara sambil Fatih memasangkan gelangnya sendiri.
Hiks ...
Shofi menangis pilu mengingat potongan fazel-fazel yang terus bermunculan di ingatannya.
Kenangan mereka terlalu manis untuk di ingat walau waktu mereka dulu hanya sebentar. Tapi, mampu menghadirkan kenangan manis di hidup Shofi. Bahkan sampai saat ini nama Fatih masih ter tahta di hatinya. Tak ada yang lain, hanya Fatih seorang.
Apa sekarang Fatih yang benar-benar melupakannya. Bukankah Fatih sendiri yang berpesan agar tak melupakannya. Lalu ini apa, Fatih sendiri yang malah melupakan nya.
Apa sesakit itu yang dulu Shofi torehkan pada Fatih.
"Maafkan aku!"
Lilir Shofi mengigit bibir bawahnya. Lalu dengan perlahan Shofi mencium gelang tersebut.
__ADS_1
Cklek ...
Pintu ruang rawat Shofi di buka dari luar pertanda bahwa ada orang yang akan masuk. Buru-buru Shofi menyeka air matanya.
Elsa dan Cherry masuk kedalam setelah memohon pada Philip untuk di izinkan masuk. Bahkan Jarvis dan Kaka pun tak di perbolehkan.
Pada akhirnya hanya Elsa dan Cherry saja yang di perbolehkan masuk.
Sudah tiga jam lamanya Shofi tak sadarkan diri dan sekarang Shofi baru sadar.
"Ya ampun, Shofi. Jangan membuatku takut!"
Ucap Elsa langsung duduk di kursi yang tersedia begitupun dengan Cherry.
"Maaf!"
Sesal Shofi karena pasti gara-gara dirinya pingsan membuat sahabatnya kesusahan.
"Kami yang minta maaf gak bisa menjaga kamu. Kata dokter belum ada asupan yang kamu makan?"
Shofi hanya mengangguk saja karena memang benar, ia belum sempat sarapan karena terburu-buru. Di tambah semalaman Shofi gak tidur. Padahal badan Shofi butuh istirahat karena sudah melakukan perjalanan bisnis.
"Aku sudah bawa makan untuk kamu, sekarang kamu makan ya?"
Bujuk Elsa lagi membuat Shofi menurut. Sebenarnya Shofi sangat malas makan apalagi mengingat sikap Fatih yang dingin membuat selera makan dia menghilang.
Dengan sigap Cherry membantu Shofi menyandar agar dengan mudah makan.
"Biar sama aku saja!"
Ucap Shofi lemah membuat Elsa menghela nafas lalu memberikannya pada Shofi.
Shofi memang tak suka di suapin karena Shofi gak mau terlihat lemah.
"Habisin ya!"
Shofi berusaha menelan makanan yang Elsa bawa. Walau tak nafsu Shofi berusaha menelannya. Hanya sedikit yang Shofi makan, ketika Shofi menyudahi makannya.
"Ini obatnya!"
Ucap Cherry menyerahkan beberapa obat pada Shofi yang sudah Cherry siapkan.
Shofi tanpa protes langsung meminumnya. Seolah obat adalah makan sehari-hari Shofi.
"Kamu istirahat lagi, biar kami yang menjaga,"
"Tak apa, aku tak mau tidur lagi!"
"Tapi, mata kamu memerah,"
__ADS_1
"Ini efek bergadang tadi malam. Sudah entar juga sembuh!"
Elsa tak mau membantah lagi karena percuma. Shofi tak akan mau menuruti semua perintah ya.
"Sebenarnya tadi kamu lari kenapa, siapa yang kamu kejar?"
Tanya Cherry yang tak bisa tak kepo barang sejenak pun. Elsa langsung menatap tajam Cherry yang malah bertanya seperti itu dalam keadaan begini. Sungguh mulut sembrono Cherry tak bisa di rem dengan benar. Seperti Elsa harus membeli jarum jahit agar Cherry tak banyak bertanya.
"Akhh, tapi tadi kamu so sweet bangetttt, di peluk anak baru itu!"
Awwsss ...
Ringis Cherry ketika mendapat cubitan dari Elsa. Elsa sangat kesal sekali karena Cherry tidak bisa di kasih kode.
"Sakit tahu!"
"Diam Cher!"
"Aku kan cuma mau tahu, karena tiba-tiba saja Shofi berlari!"
Sungguh Elsa benar-benar greget dengan tingkah sahabatnya satu ini. Yang polos dan suka ceplas-ceplos kalau ngomong. Jika saja Shofi tak sakit sendari tadi sudah Elsa bungkam mulut ember Cherry.
"Tadi hanya ingin menemui Philip saja, tapi tiba-tiba kepalaku pusing!"
Bohong Shofi karena tak mau kedua sahabatnya tahu jika yang ia kejar adalah Fatih. Shofi hanya ingin memastikan sesuatu terlebih dahulu.
Mendengar kata Philip membuat Cherry jadi bungkam. Pasalnya Cherry sangat takut sekali pada Philip yang tak pernah sekalipun tersenyum. Bahkan tatapannya begitu tajam penuh intimidasi.
Satu-satunya orang yang tak mau Cherry kepo in hanya Philip saja. Karena Cherry masih sayang dengan nyawanya. Walau Cherry sebenarnya sangat ingin tahu apa hubungan antara Philip sama Shofi. Bahkan Philip seolah punya wewenang khusus atas diri Shofi.
Bahkan Jarvis dan Kaka pun di larang masuk.
Sekelas Jarvis pun tak berani melawan Philip, mungkin karena Philip terlalu kejam pada siapapun.
"Oh!"
Hanya kata oh yang Cherry ucapkan, membuat Elsa tersenyum geli. Pasalnya Elsa tahu kalau Cherry tak menyukai Philip berada di sekeliling Shofi.
"Mua tanya lagi?"
Tawar Shofi karena melihat Cherry malah diam.
Cherry menggelengkan kepala tanda bahwa ia tak akan bertanya lagi, cukup sampai di situ.
Shofi dan Elsa tersenyum geli melihat wajah ketakutan Cherry jika membahas Philip. Padahal, bagi Shofi Philip pria baik penuh tanggung jawab dan pengertian. Namun, memang sikap Philip jika pada orang lain seperti itu. Sangat dingin melebihi Shofi sendiri.
Bersambung ...
Jangan lupa Like,Hadiah komen dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1