
Fatih menggulingkan tubuhnya ke kiri ke kanan. Bayangan Shofi mengecup bibirnya membuat Fatih tak bisa tidur.
Kejadian yang tak terduga itu membuat Fatih stres sendiri. Bagaimana tidak stres jika apa yang Shofi lakukan membuat Fatih sulit untuk tidur sedang pelakunya sendiri malah enak-enak tidur.
Setelah pingsan Fatih memang langsung membawa Shofi ke apartemen nya. Dan menidurkannya di sana.
Namun, ketika Fatih ingin pergi Shofi malah memegang tangannya bahkan sampai memeluk tangannya dengan ocehan tak jelas. Membuat Fatih terpaksa menunggu Shofi melepaskan tangannya.
Dan memilih tidur di samping Shofi karena tangannya tak bisa lepas. Tapi, bukannya tertidur Fatih malah sulit tidur karena bayang-bayang itu terus menghantuinya.
Bahkan sampai jam dua dini hari Fatih baru bisa melepaskan tangannya dari Shofi dan memilih tidur di sopa. Tapi, bukannya tidur, itu tetap saja malah Fatih semakin sulit tidur.
Sudah beberapa gaya tidur Fatih lakukan tapi tetap saja tidak bisa. Membuat Fatih benar-benar kesal.
Fatih menatap tajam Shofi yang tertidur pulas. Membiarkan dia tersiksa sendirian.
Fatih berjalan kearah Shofi dengan wajah kusutnya. Bahkan rambut Fatih acak-acakan dengan mata memerah.
Fatih menatap wajah Shofi dengan intens lalu matanya terpaku pada bibir Shofi yang merah merekah. Bibir yang sudah mencuri ciuman pertamanya.
Tanpa sadar Fatih memegang bibirnya sendiri, Fatih masih bisa merasakan dengan jelas bagaimana bibir itu menempel di bibirnya. Sangat lembut nan kenyal entah seperti apa.
Fatih mendekatkan wajahnya tepat di depan wajah Shofi. Fatih menatap bibir itu dengan seksama. Bentuknya yang sangat indah dengan warna merah alami.
Entah sadar atau tidak dengan apa yang Fatih lakukan sendiri.
Plak ...
Awwss ...
Ringis Fatih ketika Shofi bangun tiba-tiba dan kepalanya membentur kening dia.
Shofi membulatkan kedua matanya ketika mendapati Fatih berada di kamarnya.
"Apa yang kamu lakukan, kenapa ada di kamarku!"
Pekik Shofi terkejut langsung memeriksa tubuhnya. Shofi bisa bernafas dengan lega ketika pakai nya masih utuh bahkan Shofi masih memakai baju yang kemaren pakai.
"Harusnya kau berterimakasih padaku, jika kau tak pingsan aku tak akan mungkin berada di sini!"
"Pingsan!"
Gumam Shofi mengingat-ingat apa ia memang benar pingsan. Namun, Shofi tak mengingatnya sama sekali.
"Terus kenapa kamu tak balik malah diam di sini!"
"Semalam kau tak mau melepaskan tanganku, bahkan sampai aku tak bisa tidur!"
"What!"
Pekik Shofi terkejut, apa benar ia memeluk tangan Fatih. Shofi pikir semalam itu guling, ah, Bagaimana bisa Shofi se ceroboh itu.
Bahkan sampai memeluk Fatih, ini tidak mungkin.
Tapi, pantas saja Shofi tidur dengan nyenyak jika Fatih pasti semalaman menjaganya.
"Emmz, apa kepalamu sakit. Maafkan aku!"
"Sudah lah, aku pergi!"
Ketus Fatih pergi keluar dengan cepat jangan sampai Shofi mengejarnya.
__ADS_1
"Kenapa dengan dia, tingkahnya aneh banget!"
Gumam Shofi merasa aneh dengan tingkah Fatih bahkan wajahnya memerah. Entah karena malu atau menahan sesuatu.
Masa bodoh lah, Shofi tak terlalu pusing memikirkan itu. Yang terpenting Shofi harus segera mandi karena harus pergi ke kampus.
Shofi menatap pantulan dirinya di cermin. Shofi seolah merasakan hal baru yang baru pertama kali Shofi rasakan lagi selama empat tahun terakhir ini.
"Pantas saja aku merasa nyaman dalam tidur, ternyata aku tidur di pelukan Fatih. Bagaimana bisa, apa memang Fatih berpengaruh dengan tidurku!"
Gumam Shofi pada dirinya sendiri, karena Shofi juga merasa tenang ketika bangun tidur. Seolah beban yang ada di pundaknya menghilang seketika.
"Aku tahu, mungkin kamu lupa tapi hatimu tak bisa berbohong!"
Gumam Shofi lagi, yakin jika Fatih merasakan hal yang sama juga.
Shofi akan terus berusaha membuat Fatih mengingat semuanya. Walau itu sulit mengingat empat tahun Fatih lupa dan tak ada satu orangpun yang mengingatkannya.
Shofi bersiap berangkat ke kampus di mana Fatih sendari tadi sudah menunggunya.
Shofi tersenyum manis ke arah Fatih membuat Fatih bergidik ngeri dengan senyuman itu.
"Ayo!"
Ucap Shofi sambil menggandeng tangan Fatih bak layaknya seorang ke kasih.
Fatih nampak risi dengan apa yang Shofi lakukan. Fatih berusaha melepaskan gandengan Shofi tapi nampaknya Shofi memegang erat lengan Fatih bahkan sampai mereka masuk mobil baru Shofi melepaskannya.
"Apa kau tak ingat dengan apa yang kau lakukan semalam?"
Pancing Fatih ingin melihat bagaimana reaksi Shofi.
"Semalam, emang apa yang aku lakukan?"
"Apa kau lupa!"
"Iya, emang apa yang aku lakukan!"
Fatih menatap tajam Shofi, bagaimana bisa Shofi melupakan kejadian semalam. Sedang Fatih sendiri tersiksa.
"Apa yang aku lakukan, ayo katakan. Apa aku lasak atau mengigau yang tidak-tidak!"
"Tidak, lupakan!"
Ketus Fatih karena percuma, Shofi pasti memang lupa akan semuanya.
Fatih kembali melanjutkan mobilnya karena kesal dengan tingkah Shofi.
Sedang Shofi sendiri menaikan bahunya acuh melihat sikap Fatih yang seperti itu. Karena bingung juga jika Fatih tak menjelaskannya.
Fatih semakin kesal ketika Shofi terlihat biasa saja setelah menyiksanya. Sungguh Fatih belum pernah di buat uring-uringan seperti ini. Dan Shofi berani-beraninya membuat Fatih seperti ini.
Jika laki-laki sudah Fatih hajar dari tadi.
"Hey, kenapa mukanya di tekuk seperti itu?"
Tanya Shofi memancing Fatih, Fatih hanya diam saja karena tak mau meladeni Shofi lagi karena sudah terlanjur kesal.
"Apa memang ada sesuatu yang terjadi tadi malam, kita melakuka--"
Citttt ...
__ADS_1
Fatih langsung mengerem dadakan membuat Shofi terkejut. Hampir saja kepalanya terbentur dasboard jika Shofi tak memakai sabuk pengaman.
"Apa kau mau membunuhku hah, kenapa berhenti!"
Kesal Shofi membenarkan tata rambutnya yang berantakan.
Deg ...
Shofi terdiam ketika wajah Fatih berada di depannya. Bahkan rasanya jantung Shofi mau copot saja.
Fatih menatap tajam bola mata Shofi yang membulat. Terlihat jelas bening biru bola mata Shofi membuat Fatih seolah hanyut kedalam sana.
Wajah ini kenapa membuat Fatih terpesona bahkan Fatih baru terpesona dengan seorang gadis.
Fatih menurunkan pandangannya pada bibir Shofi yang mengkilap seolah menantang Fatih untuk mendekat. Apalagi bibir itu yang sudah berani mencuri ciuman pertamanya.
Glek ...
Shofi menelan ludahnya kasar dengan mata semakin membulat sempurna ketika sebuah benda kenyal menyentuh bibirnya. Bahkan ada sebuah tekanan yang sangat lembut membuat Shofi terdiam dengan perasaan tak menentu.
"Itu yang kamu lakukan, apa sekarang sudah mengingatnya!"
Ucap Fatih sambil menjauhkan bibirnya dari bibir Shofi.
Shofi hanya bisa mengerjap-enjap kedua matanya tak percaya dengan apa yang Fatih ucapkan. Bahkan dengan refleks Shofi menyentuh bibirnya.
Akhhh .....
"Kenapa kamu mencuri ciuman pertamaku!!"
Jerit Shofi sambil memukul Fatih membuat Fatih terkejut dengan reaksinya.
Bagaimana bisa Shofi menuduh dia mengambil ciuman pertama nya sedang Shofi sendiri yang mengambil ciuman pertama Fatih.
"Dasar mesum, kamu jahat hiks ...,"
"Berhenti!!"
Kesal Fatih karena Shofi terus memukulnya, Fatih mencengkal kedua lengan Shofi dan menguncinya di dada Fatih. Hingga wajah mereka saling berdekatan.
Mereka sama-sama terdiam dengan nafas naik turun.
"Berhenti seolah kamu koran, kamu yang semalam mencuri ciuman pertamaku!"
"Bohong, kenapa aku tak ingat!"
Elak Shofi karena memang Shofi tak ingat apa-apa.
"Benarkah tak ingat?"
Tanya Fatih tersenyum seringai, kenapa Fatih bisa terpesona pada Shofi yang terkadang bertingkah konyol seperti barusan yang langsung mengangguk gemas.
"Benarkah?"
"Gak!"
Deg ...
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1