
Sesuai janji Fatih, dia mengajak Shofi jalan keluar. Awalnya Shofi menolak dan meminta Fatih makan malam di apartemen nya saja karena Shofi tahu, Fatih tak kuat udara dingin apalagi sekarang sedang musim salju.
Namun, Fatih tetap memaksa jika ia ingin makan malam di luar.
Dengan sangat berat hati Shofi menurutinya.
Mereka makan malam di salah satu restoran terkenal di Bonn Jerman.
Fatih melihat cara makan Shofi mengingatkan Fatih pada sang adik yang selalu makan belepotan.
"Kau ini seperti Aurora saja!"
Deg ...
Tubuh Shofi menegang ketika Fatih tiba-tiba mengelap sudut bibirnya dengan tangan tanpa menggunakan tisu sama seperti yang sering Fatih lakukan dulu dan pasti akan berkata, "Kau ini seperti Aurora saja"
Persis seperti yang barusan Fatih katakan. Mata Shofi berkaca-kaca, ingin sekali memeluk Fatih. Walau ingatan Fatih menghilang namun, perlakuan Fatih tetap sama seperti dulu.
Melihat Shofi terdiam membuat Fatih refleks menjauhkan tangannya. Fatih tidak sadar dengan tindakan ia, Fatih tadi hanya refleks saja.
"Kau menangis?"
"Tidak!"
Elak Shofi memalingkan wajahnya sambil menghapus air mata yang nakal keluar. Sungguh, Shofi begitu rindu momen tadi. Momen dimana dulu Fatih selalu membuat dia salah tingkah dengan perlakukan manisnya.
"Itu air mata mu keluar!"
"Ini cuma air bukan batu,"
"Kau!!"
Geram Fatih kesal atas jawaban asal Shofi. Namanya juga nangis pasti air bukan batu. Fatih benar-benar di buat naik darah.
"Sudah, ayo lanjut makan!"
Ucap Shofi mengalihkan pembicaraan, tak tahukah Fatih, Shofi sedang berusaha menahan kesesakan di dadanya.
Mungkin Shofi masih bisa bicara normal, tapi lihatlah, gestur tubuh Shofi tak bisa di katakan baik-baik saja. Apalagi tangan Shofi bergetar seperti itu.
Fatih masa bodo saja tidak terlalu peduli. Fatih melanjutkan makan saja seperti apa yang Shofi ucapkan. Bahkan Fatih tak melirik sedikit pun. Dia sibuk memakan makanannya sendiri.
Berbeda dengan Shofi yang berusaha mati-matian agar tangisannya tidak pecah. Sungguh, setiap kali mereka bersama selalu mengingatkan Shofi pada Fatih nya yang dulu.
Namun, kini sikap Fatih masa bodo seolah tak peduli dengan perasaan nya. Entah sampai kapan Fatih melupakan. Apa sepanjang hidup Fatih atau masih mempunyai satu titik harapan.
Bagaimana cara Shofi untuk mengembalikan ingatan Fatih. Sedang Fatih sendiri tak berusaha mengingatnya. Fatih hanya terus menganggapnya seorang mata-mata.
Mampu kah Shofi mengubah semuanya. Atau Shofi tak mampu untuk membalikan semua keadaan yang ada.
__ADS_1
Rindu ini nyatanya hanya kesia-siaan belakang. Sebab orang yang Shofi rindukan tak mengingat ia sama sekali.
Bahkan walaupun dekat Shofi merasa jauh, sejauh mata memandang langit. Ingin Shofi mendekap nyatanya tak bisa. Ini bagai imajinasi yang membuat Shofi sulit mengatasinya. Fatih nya ada tapi bagai fatamorgana.
Kenyataan yang sangat menyakitkan sekali. Namun, Shofi harus menahannya seorang diri.
Fatih sedikit merasa heran, kenapa Shofi sendari tadi terus diam. Dari mulai makan dan sekarang sudah selesai makan pun Shofi masih tetap bungkam.
Terlihat jelas jika Shofi sedang memikirkan sesuatu.
Fatih menghentikan langkahnya berharap Shofi juga berhenti. Namun, nyatanya Fatih salah. Shofi terus berjalan dengan tatapan kosongnya. Membuat Fatih benar-benar merasa heran, Bagaimana bisa dalam sekejam mata seseorang berubah sikap.
Grep ..
Fatih mencengkal lengan Shofi membuat Shofi langsung tersadar dan menghentikan langkahnya.
"Apa kau mau mati hah, dasar bodoh!"
Maki Fatih menarik lengan Shofi sampai tubuh Shofi menubruk tubuh Fatih. Karena barusan Shofi hampir saja tertabrak mobil.
"Sorry!"
Sesal Shofi menatap Fatih sendu karena sudah membuat Fatih marah padanya.
"Kau ini kenapa, dari tadi melamun terus?"
Ketus Fatih mendudukkan Shofi di salah satu kursi.
"Apa kamu benar-benar tak mengingatku?"
"Aissttt, kau ini bicara apa hah!"
"Tapi, kenapa sikap kamu menjelaskan jika kamu hanya pura-pura lupa!"
"Aku benar-benar tak mengingat mu, kenapa kamu beranggapan seperti itu!"
Ketus Fatih mulai kesal karena Shofi terus memancingnya.
"Sikap kamu yang seperti ini yang membuatku ragu jika kamu hilang ingatan!"
"Fatih, selalu mengelap bibirku ketika makan dan dia selalu berkata 'Kau seperti Aurora saja', Fatih selalu marah jika aku terlihat lemah, dan Fatih ku akan terlihat cemas jika aku dalam bahaya!"
Teriak Shofi sambil terisak sungguh Shofi sangat merindukan Fatih tapi kenapa Fatih tak mengenalnya. Ingin sekali Shofi menarik Fatih kedalam pelukannya. Mencurahkan segala rasa di dada.
Fatih terdiam karena terkejut melihat Shofi seperti itu. Bahkan berteriak di depan wajahnya.
Tangisan itu membuat Fatih benci, Fatih paling benci melihat perempuan menangis di depannya.
Fatih perlahan jalan mendekat, lalu menarik Shofi kedalam pelukannya. Shofi bukannya berhenti menangis malah semakin terisak ketika Fatih memeluknya.
__ADS_1
Sebuah pelukan yang empat tahun lebih Shofi rindukan. Sebuah pelukan tempat ternyaman bagi Shofi untuk mencurahkan semuanya.
Fatih membiarkan Shofi menangis jika dengan itu Shofi akan tenang.
Fatih hanya bingung, cara dia bersikap, karena memang Fatih lupa masa lalunya. Bagaimana bisa Fatih percaya jika Shofi pernah berada di hatinya jika tak ada satupun bukti yang membuktikannya.
Andai saja Shofi mempunyai satu bukti, mungkin Fatih akan mempertimbangkannya. Tapi, ini tak ada, Bagaimana bisa Fatih percaya.
"Aku tidak tahu, apa kamu benar pernah ada di hidupku atau tidak! yang jelas aku tak mengingatmu atau mengenalmu. Mungkin Fatih yang kamu maksud bukan aku tapi orang lain!"
Ucap Fatih karena merasa kasihan pada Shofi. Fatih bisa merasakan jika Shofi mempunyai cinta besar bagi sosok itu tapi bukan dirinya karena Fatih sendiri tak mengenalnya.
"Kamu boleh menganggap aku sebagai Fatih mu, aku tak masalah selagi kamu tenang!"
Ucap Fatih lagi membuat Shofi perlahan menghentikan tangisannya. Shofi melerai pelukannya, lalu mengangkat kepalanya guna melihat wajah Fatih.
Perlahan Shofi menangkup wajah Fatih membuat Fatih terdiam.
"Jika kalian orang yang berbeda, kenapa wajah ini begitu sama. Jika kalian orang yang berbeda kenapa sikap kalian sama dalam waktu tertentu. Bukankah ini bukan suatu kebetulan ..,"
Lilir Shofi sendu menatap kedalam bola mata Fatih.
"Aku begitu merindukannya, bahkan rindu ini membuatku sekarat ..,"
Lilir Shofi lagi dengan tatapan yang mulai mengembun kembali.
Fatih terdiam seolah terhipnotis oleh bening birunya mata Shofi. Kenapa Fatih selalu tak bisa menolak pesona tatapan ini. Tatapan ini begitu bening meneduhkan, membuat Fatih seolah merasakan rasa yang berbeda.
"Ak-aku sangat mencintaimu Fatih, sangat ..,"
"Empat tahun tak cukup bagiku melupakanmu, kamu selalu berada di bayanganku, menghantui di setiap tidurku sampai aku susah tidur!"
"Apa kamu tahu hiks .., aku selalu minum obat jika ingin tidur, kenapa kamu selalu membelengguku dalam ruang rindu sedang kamu sendiri sudah tak merindukan aku lagi!"
Oceh Shofi membuat Fatih menautkan kedua alisnya. Kenapa ucapan Shofi mulai melantur bahkan Fatih tak mengerti dengan apa yang Shofi katakan.
Grep ...
Shofi menangkup wajah Fatih kembali dengan cukup kuat bahkan sampai bibir Fatih maju kedepan.
Shofi mencengkram baju Fatih kuat dengan kesadaran yang mulai menghilang.
Cup ...
Fatih membulatkan kedua matanya ketika Shofi mengecup bibirnya. Bahkan rasanya Fatih tak bisa bernafas dengan apa yang Shofi lakukan.
Sial, ciuman pertamaku!!
Geram Fatih ingin marah, namun marah pada siapa jika pelakunya malah pingsan.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen,, dan Vote Terimakasih ...