
Dengan mata yang sedikit berat karena tak tidur semalaman membuat mata Shofi sedikit memerah membuat Shofi harus memakai kaca mata bulatnya.
Shofi bersiap untuk berangkat ke kampus, Untung saja tak ada satupun dosen yang menegur dia karena selalu mengambil cuti.
"Dek!"
Panggil Davit membuat Shofi langsung menghentikan langkahnya.
"Maafkan kakak, kakak tak bermaksud membuat kamu kelelahan!"
"Tidak apa kak, sudah biasa!"
Balas Shofi karena masih sedikit kesal dengan kelakukan kakaknya.
"Sarapan dulu ya, kenapa buru-buru!"
"Nanti saja kak di kantin, ini bukan buru-buru tapi sudah telat!"
Cetus Shofi kesal karena Davit tak mengerti. Bagaimana bisa jam sembilan di sebut buru-buru bahkan Shofi ini sudah telat masuk.
"Hay keponakan tampan, aunty berangkat dulu!"
Cup ...
"Dadah kak Angel,"
Ucap Shofi langsung melesat pergi tak membiarkan Angel bicara karena pasti akan panjang urusannya.
Shofi membawa mobil sendiri dan melarang Philip mengantarnya.
Dengan kecepatan sedang, Shofi membawa mobil Ferarri berwarna hitam. Hingga sampai Shofi di kampus.
Sudah satu bulan Shofi tak belajar pasti banyak pelajaran yang tertinggal.
Shofi sedikit berlari sambil sesekali membenarkan letak kaca matanya.
Shofi mengendap masuk ketika dosen sedang mengambil bolpoin nya terjatuh.
Huh ...
Shofi bernafas lega ketika sang dosen tak melihatnya. Elsa dan Cherry terkejut karena tiba-tiba Shofi duduk di antar mereka. Sejak kapan Shofi bak pencuri masuk secara diam-diam.
"Tumben telat?"
"Biasa!"
"Mata kamu memerah?"
"Pasti susah tidur ya!"
Ucap Elsa sekaligus menjawab pertanyaan Cherry. Shofi hanya mengangguk saja karena apa yang di ucapkan Elsa benar.
Mereka bertiga terus berbisik-bisik dengan pandangan memandang ke depan seolah mereka sedang memerhatikan dosen. Padahal mereka sedang terlibat obrolan.
Di ujung samping kanan Jarvis tersenyum-senyum melihat Shofi yang sudah kembali. Bahkan pandangan Jarvis dari tadi tak lepas dari Shofi. Sungguh Shofi selalu datang dan pergi sesuka hati membuat Jarvis selalu kehilangan jejaknya.
Kaka yang duduk di samping Jarvis hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuan Jarvis yang tak bisa menjaga pandangannya.
Sedang di belakang Jarvis seseorang tersenyum sinis melihat bagaimana Jarvis bak orang gila memandang Shofi.
"Dasar narsis!"
__ADS_1
Gumam orang tersebut merasa jijik akan ke lebay an Jarvis.
Hingga pelajaran pun selesai di tutup oleh sang dosen.
"Ahhh!"
Jerit Cherry memeluk Shofi tiba-tiba karena merasa kangen dengan sahabat juteknya ini. Membuat semua orang langsung berbalik ke arah Shofi dan Cherry karena memang posisi mereka berada di tengah-tengah.
Elsa hanya bisa menundukkan kepala karena malu dengan kelakukan bar-bar Cherry yang selalu saja begitu.
Semua orang menggelengkan kepala karena memang sudah bisa dengan tingkah Cherry yang konyol. Walaupun sudah biasa tetap saja awal mereka kaget.
"Cherry sudah lepasin, sesak tahu!"
"Sorry!"
Kekeh Cherry sambil melepaskan pelukannya.
"Bagaimana kamu sudah membuka chat grup belum?"
Tanya Cherry masih kepo dengan Shofi, berharap Shofi kali ini ikut gabung.
"Gak!"
Dusta Shofi membuat Cherry mengerucutkan bibirnya. Sedang Elsa malah terkekeh saja, entah kenapa Cherry suka sekali kepo pada siapapun.
"Kok gitu sih, kamu tahu, orangnya satu ruang sama kita!"
Deg ..
Seketika tubuh Shofi menegang mendengar penuturan Cherry. Benarkah Fatih satu ruang dengannya tapi kenapa Shofi tak melihatnya.
Ingin melihat sekeliling namun gengsi, takut Cherry malah mengejek dia. Karena Cherry dan Elsa tidak tahu tentang hubungan masa lalu mereka.
"Hay!"
Cherry tak bisa melanjutkan ucapannya ketika tiba-tiba Jarvis datang bersama Kaka. Membuat Shofi menahan nafas, karena menunggu ucapan Cherry namun terpotong karena ada Jarvis. Ingin bertanya namun Shofi tak mau membuat semuanya heboh.
"Apa kabar?"
Tanya Jarvis tersenyum semanis mungkin bahkan sampai memperlihatkan lesung pipinya.
"Baik!"
Balas Shofi cuek membuat Elsa dan Cherry hanya diam saja tak mau ikut bersua.
"Kalian mau ke kantin tidak, boleh aku bergabung?"
Deg ...
Shofi terpaku melihat sosok yang keluar begitu saja dari kelasnya dengan santai.
Tiba-tiba Shofi langsung berdiri membuat Elsa dan Cherry terkejut begitupun Jarvis dan Kaka.
Belum selesai keterkejutan mereka, kini mereka di buat terkejut kembali ketika Shofi berlari keluar begitu saja tanpa peduli pada mereka.
Shofi berlari mengejar Fatih yang keluar. Ya, Shofi yakin yang barusan ia lihat adalah Fatih orang yang Shofi rindukan bukan orang lain.
Shofi terus mencari kemana perginya Fatih, karena banyak mahasiswa lain membuat Shofi pusing. Namun, Shofi tak ingin menyerah, Shofi terus mencari kemana Fatih perginya.
Rasanya Shofi ingin menangis karena tak bisa menemukan Fatih. Dan, juga ingin menjerit memanggil nama Fatih. Namun, Shofi masih waras sehingga tak melakukannya.
__ADS_1
Elsa, Cherry, Jarvis dan Kaka berusaha mengejar Shofi yang tiba-tiba berlari begitu saja. Entah ada apa dengan Shofi kenapa tingkahnya sangat aneh.
Kepala Shofi mulai terasa pusing karena dari tadi terus berlari mencari Fatih bahkan sampai menubruk mahasiswa lain. Dan, Sesekali Shofi salah mengenali orang.
Hiks ...
Rasanya Shofi benar-benar ingin menangis karena sudah tak bisa menemukan Fatih. Apalagi kepalanya semakin berat dengan pandangan yang mulai buram.
Bruk ...
Shofi terjatuh karena tak bisa lagi menahan rasa pusing di kepalanya. Namun, sebuah tangan kokoh menahan tubuh Shofi yang akan ambruk.
Deg ...
Shofi terdiam ketika mata mereka bertemu satu sama lain. Orang yang sendari tadi ia cari kini ada di depan matanya.
"Bist du in Ordnung? (Apa anda baik-baik saja?)"
"Hey, warum starrst du? Bist du in Ordnung?(Hey, kenapa bengong. Apa anda baik-baik saja?)"
Tanya Fatih mengulang pertanyaan memakai bahasa Jerman karena Fatih pikir Shofi memang orang Jerman. Apalagi rambut Shofi yang pirang.
"Fa-fa--"
"Oh my good, baby!"
Pekik Jervis melihat Shofi yang pingsan. Jarvis langsung mengambil alis Shofi dari tangan Fatih.
Dengan senang hati Fatih memberikan Shofi pada Jarvis. Karena Fatih pikir Jarvis kekasihnya Shofi. Apalagi Jarvis memanggilnya sayang.
Shofi ingin protes akan apa yang Fatih lakukan. Namun, tubuhnya yang lemah membuat Shofi tak berdaya. Ada rasa sakit ketika Fatih mengabaikannya bahkan tak peduli padanya. Fatih pergi begitu saja tanpa menoleh sedikitpun pada dia.
Shofi ingin berteriak memanggil nama Fatih namun tak kuasa karena kesadarannya mulai hilang.
Dengan cepat Jarvis membawa Shofi ke ruang kesehatan. Elsa dan Cherry langsung menyusul Jarvis ketika melihat Shofi pingsan. Begitupun dengan Kaka langsung ikut kesana.
Keadaan Shofi langsung menyebar luas bahkan sampai terdengar ke telinga para profesor dan dosen.
Bagaimana tidak menyebar luas jika Shofi gadis terpopuler di universitas Bonn Jerman. Dan tentu, Shofi menjadi anak emas bagi semuanya.
Shofi langsung di tangani oleh dokter ahli yang memang di khususkan bekerja di universitas Bonn Jerman.
Semuanya menunggu di ruang kesehatan membiarkan dokter memeriksa Shofi.
Elsa paling cemas di sini karena jika Davit sampai tahu adiknya jatuh pingsan maka dia akan mendapat hukuman.
Elsa berdoa dalam hati semoga saja tak terjadi apa-apa dengan Shofi.
Elsa tahu, Shofi pingsan mungkin karena kelelahan bekerja. Apalagi Shofi pasti tak menjaga pola makannya di sana.
Oh tuhan semoga Shofi baik-baik saja!
Jerit batin Elsa cemas bahkan tangannya sampai gemetar.
"Bagaimana keadaan Shofi?"
Mampus aku!
Batin Elsa memejamkan kedua matanya ketika Philip sudah ada di sini.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...