
Shofi dan Elsa kembali masuk kampus lagi begitupun dengan Philip.
Cherry menyambut kedua temannya dengan senyuman mengembang di bibirnya. Namun, melihat wajah datar Shofi membuat senyuman di bibir Cherry menghilang seketika.
Cherry jadi salah tingkah sendiri di tatap seperti itu. Tatapan Shofi terus tertuju pada satu titik bahkan tak peduli dengan yang lain.
"Sho--"
Cherry menghentikan ucapannya ketika Shofi tersenyum tipis lalu memasang wajah datar lagi dengan tatapan tajam membuat Cherry langsung berbalik mengikuti objek tatapan Shofi.
Glek ...
Cherry menelan ludahnya kasar, Cherry pikir Shofi marah padanya ternyata bukan padanya. Tapi pada Jarvis yang berdiri di belakang Cherry bersama Kakak.
Shofi langsung membuang muka lalu pergi melewati Jarvis dan Kaka begitu saja.
Cherry dan Elsa hanya diam saja mengikuti langkah Shofi yang sedang kesal.
Puk ..
Kaka menepuk pundak Jarvis membuat Jarvis melirik Kaka sekilas.
"Sudah gue peringatkan, lihatlah sekarang. Bahkan Shofi juga tak mau menatap muka ku!"
Ucap Kaka menghela nafas berat, jika sudah begini harus bagaimana lagi. Sedang Shofi mereka juga tahu bagaimana Shofi. Jika hatinya sudah membeku maka sulit untuk mencari lagi.
Entah Jarvis mampu mencairkannya atau tidak. Sedang Shofi sulit sekali di dekati jika sudah kecewa maka Philip akan selalu berkeliaran di mana pun Shofi berada.
Jarvis tak beranggapan apapun, ia langsung pergi saja menuju kelasnya juga.
Shofi melirik pada kursi Fatih yang kosong, pertanda bahwa Fatih tak masuk. Jarvis mengikuti arah pandang Shofi yang terus memandang kursi kosong di belakangnya.
Tangan Jarvis mengepal erat menahan segala rasa yang menyesakan dadanya. Kenapa tatapan itu Shofi berikan pada orang baru. Sungguh Jarvis tak mengerti akan hal itu. Tatapan yang tak pernah Shofi berikan pada dirinya ataupun Philip.
"Izin gak masuk,"
Ucap Cherry memegang tangan Shofi sambil tersenyum tipis.
Cherry memberi tahu Shofi kalau Fatih Taka akan masuk.
"Yang aku dengar, Fatih mengantar adiknya ke bandara!"
Deg ...
Shofi langsung menatap Cherry membuat Cherry salah tingkah.
Entah dari mana Cherry bisa mendapatkan kabar itu. Bukan Cherry namanya jika tak tak tahu kemana Fatih pergi. Karena Cherry meretas cctv kemana mobil Fatih keluar dari apartemen nya.
Karena Fatih memang diam di apartemen milik keluarga Damaresh. Dan, Shofi yang menyuruh Cherry mengawasi kemana Fatih pergi.
Tanpa pikir panjang Shofi langsung berlari keluar, walau di sana ada dosen.
Yang aku dengar, Fatih mengantar adiknya ke bandara!
Perkataan Cherry berputar kembali di ingatan Shofi.
"Apa Aurora!"
Gumam Shofi langsung masuk kedalam mobilnya.
Shofi berharap dia bisa bertemu Aurora, Shofi hanya ingin tahu kenapa Fatih bisa sekejam itu menghukumnya.
__ADS_1
Kini Shofi punya keberuntungan berharap Aurora belum melakukan penerbangan.
Shofi membawa mobil dengan kecepatan tinggi. Berharap ia tak akan terlambat.
Hingga sampai Shofi di bandara, Shofi langsung berlari mencari Aurora. Begitu banyak orang berkeliaran di bandara membuat Shofi sulit menemukan Aurora. Apalagi Shofi lupa jika ia tak sempat menanyakan pada Cherry kemana Aurora melakukan penerbangan.
Shofi terus berlari sambil mencari Aurora. Shofi yakin masih ingat bagaimana wajah Aurora. Tak lupa Shofi juga sambil menelepon Cherry guna menanyakan keberangkatannya kemana.
Shofi berlari ke arah keberangkatan Amerika, namun Shofi di hadang oleh beberapa petugas karena Shofi tak bisa masuk.
" Entschuldigung, ist der amerikanische Abflug schon freigegeben oder nicht? (Maaf, apa keberangkatan Amerika sudah lepas atau belum?)"
""Ja, Miss. Vor ungefähr dreißig Minuten (Sudah, nona. Sekitar tiga puluh menit lalu!)"
Huh ...
Shofi menghela nafas berat mendengar itu semua. Harapannya ternyata hilang seketika.
Bahkan tubuh jadi lemas, ternyata sulit sekali mencari tahu tentang Fatih.
Dengan langkah gontai Shofi meninggalkan bandara. Entah harus mencari tahu pada siapa lagi. Kenapa sulit sekali ingin tahu kenapa Fatih seperti ini. Bahkan bertemu Fatih pun tidak.
Shofi menepikan mobilnya ke pinggir jalan. Lalu Shofi menundukkan kepalanya ke stir mobil.
Hari ini seperti nya hari berat bagi Shofi.
Tok .. Tok ..
Shofi terkejut ketika mobilnya di ketuk sangat kencang oleh beberapa orang yang tak di kenal.
"Hinausgehen!! (Keluar!!)"
Teriak salah satu orang yang mengetuk kaca mobil Shofi. Sebisa mungkin Shofi berusaha tenang. Shofi pikir mungkin itu hanya perampok yang ingin merampok uangnya.
"Ini yang kalian mau, ambillah!"
"Leider ist es Ihr Leben, das wir wollen (Sayangnya, nyawa anda yang kami mau!)"
Deg ...
Seketika Shofi langsung waspada melihat salah satu dari yang mengepung mobilnya mengeluarkan pisau.
"Raus, oder du stirbst! (Cepat keluar, atau anda mati!)"
Cih, pede sekali
"Baik!"
Perlahan Shofi membuka pintu mobil, lalu keluar.
Brak ...
Bugh ...
Shofi dengan cepat membuka pintu mobil kasar hingga membuat dua preman terjungkal dan satunya lagi Shofi tendang.
Suasana nampak semakin tegang, ketika Shofi melawan dan sialnya jalan yang Shofi lewati sangat sepi.
Seperti nya Shofi harus hati-hati, nyawanya dalam bahaya di mulai dari sekarang.
Shofi beberapa langkah mundur guna membuat kuda-kuda. Ada lima preman yang menggodanya dan tentu menginginkan nyawa Shofi. Bahkan dari semua preman itu, membawa pisau.
__ADS_1
Siapa mereka?
Batin Shofi waspada, Shofi langsung menghindar ketika ada salah satu dari lima preman menyerang dia.
Dan, di susul oleh empat lagi. Sebisa mungkin Shofi melawan dengan hati-hati. Untung saja dia memakai celana jadi memudahkan Shofi untuk bergerak.
Empat tahun ini cukup bagi Shofi berlatih menghadapi berbagai serangan. Dan, kali ini serangan tiba-tiba tanpa pengawalan.
Shofi yakin serangan ini sudah direncanakan dengan matang.
Bugh ...
Shofi berhasil menendang satu musuh sampai terjungkal.
Tinggal empat orang lain, seperti nya Shofi harus memukul titik lemah dari organ musuh agar kekuatan mereka melemah.
Berbagai latihan yang selama ini Shofi lakukan membuat kekuatan Shofi semakin bertambah. Apalagi ketika latihan Shofi akan selalu ingat kata-kata Fatih.
Dasar lemah!
Kau itu memang lemah akan tetap lemah!
Kata-kata itu akan terus terngiang di telinga Shofi. Membuat Shofi mempunyai semangat 45.
Begitupun sekarang, Shofi dengan mudah menangkis serangan lawan. Walau membawa pisau bagi Shofi itu hanya pisau mainan saja.
"Siittt, wanita ini tak bisa di remehkan!"
Geram salah satu preman kesal ketika pisau yang dia pegang terlepas dari tangannya dan malah berpindah pada Shofi.
Begitupun preman yang lain yang semakin waspada ternyata orang yang harus mereka celaka-i bukan orang sembarangan.
Ilmu bela dirinya begitu kuat walau tangan Shofi juga terluka akibat sayatan pisau.
Brak ..
Shofi menendang kuat satu preman yang paling berbadan besar sampai terpelanting menubruk mobil Shofi. Bahkan sampai kaca spion mobil Shofi patah.
"Sial, seperti nya kita harus kabur. Gadis itu bukan tandingan kita. Lihatlah, gerakannya begitu cepat!"
Ucap preman yang tadi Shofi banting bahkan pinggangnya sampai sakit serasa mau patah saja.
Mata tajamnya berubah menjadi kesal ketika dia di kalahkan oleh seorang gadis. Melihat gerakannya saja seolah Shofi orang terlatih. Bahkan mendapatkan sayatan juga Shofi tak merasakan kesakitan.
"Kita pergi dari sini!"
Teriak ketua preman menarik mundur teman-teman nya.
"Sial, woy jangan kabur!!!"
Teriak Shofi melempar pisau yang berhasil dia rebut sampai mengenai kaki salah satu preman hingga terjatuh. Namun, temannya berhasil menyeretnya masuk mobil.
Mata biru Shofi menatap tajam kepergian preman. Tangannya mengepal erat dengan darah yang mengucur.
Shofi melihat telapak tangannya dengan senyuman iblis. Seolah luka itu tak sakit sama sekali.
Shofi kemudian membuka jaket yang ia kenakan lalu melihat tangannya yang terkena sayatan. Untung saja Shofi menggunakan jaket kulit jadi sayatan di tangannya tak terlalu dalam.
"Siapa yang menyuruh cecunguk itu menyerang ku!"
Gumam Shofi masuk ke dalam mobil, lalu melakukannya menuju apartemen.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...