
Rumah sakit ...
Di sebuah ruangan yang sangat di jaga ketat bahkan tak boleh ada orang yang masuk ke dalam kecuali orang-orang tertentu.
Fatih berbaring lemah dengan perban di kepalanya.
Keringat dingin bercucuran di dahi Fatih dengan kening mengerut. Seolah Fatih tak nyaman dalam tidurnya.
Tergambar jelas kegelisahan di wajah pucat Fatih bahkan keringat semakin membanjiri leher Fatih.
Bibir Fatih bergerak seolah ingin mengatakan sesuatu namun sulit.
"Sh-shofi ..,"
"Shof- Shofi!"
"Jangan pergi!"
Teriak Fatih bangun dari tak sadarkan dirinya dengan nafas memburu. Dada Fatih naik turun seolah habis lari maraton dengan keringat yang bahkan sampai membanjiri tubuhnya.
Fatih melirik ke kanan ke kiri bak orang linglung. Sampai Fatih sadar jika ia sedang berada di rumah sakit.
Shark ...
Fatih mencabut selang infus di punggung tangannya lalu turun dari ranjang dengan wajah ketakutan.
Akhh ...
Jerit Fatih memegang kepalanya yang terasa berdenyut-denyut bahkan Fatih hampir saja terjatuh menubruk meja.
Fatih berusaha berjalan lagi di sisa tenaganya, entah ada apa dengan Fatih kenapa se-panik itu seolah Fatih ketakutan akan suatu hal.
Para bodyguard yang bertugas menjaga ruangan Fatih terkejut melihat Fatih keluar dalam keadaan tak baik-baik saja. Bahkan punggung tangan Fatih berdarah akibat Fatih mencabut paksa jarum infus.
"Tuan, anda mau kemana?"
Tanya salah satu bodyguard menghalangi Fatih pergi. Mereka tak bisa membiarkan Fatih pergi dalam keadaan seperti itu bisa-bisa nyawa mereka taruhannya.
"Minggir!"
Bentak Fatih berusaha menerobos para bodyguard yang menghadangnya.
Hingga terjadi keributan, Fatih harus pergi, Fatih tak mau apa yang ia mimpikan terjadi.
Tidak!
Shofi tak boleh pergi, dia tak boleh meninggalkan Fatih. Entah mimpi apa membuat Fatih ketakutan seperti itu.
Bahkan dalam tubuh Fatih yang lemah seolah timbul kekuatan kuat melawan para bodyguard yang menghalangi langkahnya.
"Lepas sialan, akhh .."
Teriak Fatih memberontak sambil mendorong beberapa bodyguard.
Jiwa mafia Fatih seolah berkobar kembali dalam dirinya. Bahkan membuat para bodyguard yang berbadan besar terkejut dengan apa yang Fatih lakukan.
Bugh ...
Fatih tersungkur akibat bogeman dari salah satu bodyguard.
Fatih mengepalkan tangannya erat dengan rahang mengeras.
__ADS_1
Fatih bangkit menatap tajam pada bodyguard yang berani meninjunya. Bola mata hitam pekat Fatih seolah menenggelamkan semua bodyguard.
Mereka terkejut melihat tatapan Fatih yang berbeda dari biasanya. Tatapan itu sangat mengerikan sama persis seperti tatapan Davit ketika marah.
Fatih mengepalkan kedua tangannya bahkan sampai timbul retakan. Seolah jiwa tarung Fatih bangkit dari semedinya.
"Kalian!"
Geram Fatih ber lari meninggalkan semua bodyguard yang nampak ber-bengong melihat Fatih melarikan diri.
Fatih bukan berniat melarikan diri namun mencari Shofi jauh lebih penting dari pada meladeni para bodyguard yang entah siapa yang mengutusnya.
Fatih terus berlari walau kepalanya terasa pusing. Yang terpenting bagi Fatih adalah dia bisa keluar dari rumah sakit.
Padahal Fatih pergi masih menggunakan baju pasien. Orang-orang melihat Fatih aneh ada juga yang menatap kasihan.
Bagaimana tidak aneh jika Fatih di sangka orang yang kabur dari rumah sakit bahkan Fatih pergi tanpa menggunakan alas kaki.
Entah bagaimana jadinya kaki Fatih ketika dia sudah sadar.
Fatih terus berlari sampai menjauh dari rumah sakit. Merasa sudah aman Fatih beristirahat sebentar di sebuah kursi taman.
Nafas Fatih memburu dengan pundak naik turun.
Entah kemana Fatih mencari Shofi, yang pasti tujuan Fatih sekarang adalah apartemen Shofi. Fatih berharap Shofi berada di sana.
Sebenarnya Fatih sebelum benar-benar pergi dari rumah sakit Fatih mencari Shofi dulu di rumah sakit namun Fatih tak menemukannya hingga Fatih memilih mencari Fatih ke apartemen nya saja.
Berkali-kali Fatih menghentikan taxi namun tak ada satupun taxi ataupun mobil lain yang berhenti. Membuat Fatih prustasi hingga Fatih memutuskan jalan di sepanjang jalan menuju apartemen Shofi.
Sungguh rasa lelah sangat menyiksa Fatih apalagi Fatih harus berjalan pula dalam keadaan tak baik-baik saja.
Baju pasien yang Fatih kenakan sudah basah kuyup akibat keringat yang tubuh Fatih keluarkan. Berjalan selama dua jam membuat Fatih sangat lelah bahkan rasanya penglihatan Fatih mulai kunang-kunang.
Namun, Fatih terus memaksa jalan agar cepat sampai.
Kaki tanpa alas dengan baju pasien yang menempel di tubuh Fatih membuat Fatih seperti orang tak waras saja apalagi rambut Fatih sangat acak-acakan.
Fatih tak peduli dengan tanggapan orang, bagi Fatih ia harus bertemu Shofi. Fatih takut Shofi akan meninggalkannya sama seperti Shofi meninggalkan Fatih dalam mimpi buruk nya.
Sang resepsionis menatap Fatih bingung pasalnya mereka menyangka Fatih orang gila apalagi kakinya begitu kotor dengan keadaan berantakan hingga membuat sang resepsionis menyuruh sekuriti mengusir Fatih.
"Apa-apa kalian, lepas!"
"Dasar gila, pergi sana!"
"Sialan, siapa yang gila. Kalian tidak tahu siapa aku!"
"Lihatlah penampilan anda, kau merusak keadaan di hotel kami!"
"Pergilah sebelum kami berbuat kasar!"
"Sialan lepas!"
Kesal Fatih ingin sekali meninju sekuriti yang terus menyeretnya. Namun, keadaan Fatih begitu lemah hingga yang Fatih bisa lakukan hanya memberontak saja.
"Aku penghuni apartemen di sini, jika kalian tak percaya check saja!"
Kepala Fatih benar-benar, tak tahukah mereka jika Fatih sangat lelah sekali dan ia butuh istirahat sejenak.
Kedua sekuriti saling pandang satu sama lain lalu berbisik-bisik. Hingga salah satu dari mereka masuk kedalam dan satunya lagi tetap menjaga Fatih.
__ADS_1
Fatih duduk di lantai loby karena kepalanya semakin berdenyut sakit.
"Maafkan kami tuan, kami lalai!"
Ucap salah satu sekuriti yang tadi sempat kedalam guna mengecek apa Fatih memang salah satu pemilik apartemen di hotel mereka.
"Cih, akan ku pecat kalian!"
Bentak Fatih langsung masuk dengan sempoyongan karena tubuhnya benar-benar tak berdaya.
Kedua sekuriti hanya saling tatap satu sama lain. Mereka menjadi takut apalagi mereka baru ngeh jika Fatih orang yang selalu bersama Shofi pemilik hotel tempat mereka bekerja.
Jangan sekarang, please ..
Lilir Fatih tak tahan, sebenar lagi ia sampai di unit apartemen Shofi.
Dengan lemah Fatih mengetik kode kamar apartemen Shofi karena memang Fatih tahu nomornya dari Shofi.
"Sayang!"
Panggil Fatih lemah memanggil nama Shofi lalu mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan.
Sepi!
Itulah yang Fatih rasakan, entah kemana perginya Shofi.
"Sayang!"
Panggil Fatih lagi berjalan menuju kamar Shofi dengan tubuh yang Sesekali ambruk. Fatih berusaha bangkit lagi hingga sampai Fatih memegang gagang pintu.
"Sayang!"
Bruk ...
Fatih terjatuh karena sudah tak sanggup lagi menahan bobot tubuhnya.
Dengan tatapan lemah, Fatih menatap kamar Shofi yang terlihat kosong seolah tak ada penghuninya.
Apa kamu benar-benar pergi meninggalkanku lagi!
Jerit Fatih di sisa kesadarannya hingga mata Fatih terpejam akibat kelelahan.
.
Di tempat lain Shofi meringkuk dengan air mata yang terus mengalir membasahi pipinya.
Shofi memeluk erat tubuhnya dengan kesedihan yang terlihat jelas. Sungguh malang sekali nasib Shofi, kenapa sang kakak tega melakukan ini semua pada dirinya.
Mom, Dad. Philo kangen kalian hiks ...
Bawa Philo pergi mom, Philo tak sanggup lagi!
Ini sangat menyakitkan!
Jeritan kesakitan dan kesesakan Shofi, seolah sekarang inilah titik kerapuhan Shofi.
Entah dimana sekarang Shofi berada yang jelas Shofi berada di tempat paling nyaman bagi hidup Shofi.
Bersambung ...
Jangan lupa Like Hadiah, komen, dan, Vote Terimakasih ...
__ADS_1