
Keadaan Shofi semakin terpuruk ketika sudah tiga hari tak ada kabar dari Fatih. Seolah Fatih kembali menghilang bak di telan bumi.
Shofi benar-benar merasa kecewa dengan apa yang Fatih lakukan. Seolah Fatih sudah mempermainkan dirinya.
Kenapa Fatih sekejam itu pada dia, setelah apa yang Fatih lakukan Fatih malah pergi. Apa Fatih benar-benar hanya ingin mempermainkan perasaan nya. Tapi, kenapa Fatih setega itu.
Bahkan setelah Fatih pergi, Shofi kembali murung dan banyak diam seperti sebelumnya membuat Elsa dan Cherry merasa kasihan.
Mereka ingin Shofi bahagia, tapi kini kebahagiaan Shofi kembali hilang. Bahkan sikap Shofi kembali tertutup setelah Shofi kembali ke mansion. Entah apa yang terjadi apa kah ada masalah keluarga atau apa.
Jikapun ada masalah kantor, Elsa juga pasti tahu. Tapi, ini seperti nya masalah lain dan Cherry yakin itu masalah serius.
"Aku pulang duluan!"
Ucap Shofi tanpa menunggu jawaban dari kedua sahabatnya. Shofi keluar begitu saja dengan tampang datarnya.
Di parkiran Philip sudah menunggu seperti biasa. Shofi langsung masuk saja tanpa banyak bicara. Begitupun dengan Philip langsung melajukan mobilnya.
Nampaknya mereka berdua terlihat serius seolah memang sedang ada masalah besar dan Elsa tak perlu tahu.
"Bagaimana hubunganmu dengan Elsa?"
Tanya Shofi serius membuat Philip menghela nafas berat.
"Jangan sampai Elsa tahu dari orang lain. Kita sudah sepakat akan menolak rencana kakak ku!"
Ketus Shofi menjadi jengkel ketika mengingat sang kakak. Kenapa sang kakak seolah sedang merencanakan sesuatu.
"Nona kan kan tahu, apalah daya saya. Saya tak seberani itu!"
"Philip kau!"
Geram Shofi menatap tajam pada Philip. Tangannya mengepal erat dengan rahang mengeras.
Brak ...
Awwsss ...
Ringis Shofi ketika kepalanya terbentur dasboard mobil.
"Nona tidak apa?"
Panik Philip mengeram kesal ketika ada sebuah mobil yang sengaja menabrak mobil mereka.
Sial!
Geram Philip ketika ada tiga mobil mengejar mereka.
Sedangkan Shofi malah tersenyum iblis, bukannya panik malah terlihat santai sambil membenarkan rambutnya.
Seperti nya musuh salah jika menyerang sekarang. Apalagi dalam keadaan Shofi yang butuh pelampiasan amarahnya.
__ADS_1
Seperti cocok bagi Shofi melampiaskan kekesalan dan amarahnya pada musuh yang kembali menyerangnya.
Seperti nya ini juga kiriman dari kakak tiri Shofi.
"Berhenti!"
Perintah Shofi pada Philip yang sedang fokus menyetir.
"Non, ini bahaya!"
"Berhenti!"
Cittt ...
Philip langsung menghentikan mobilnya spontan membuat tiga mobil yang mengejar Shofi langsung membelokan mobilnya agar tidak terjadi benturan. Namun, sayang karena reflek dua mobil malah saling bertabrakan.
Shofi tersenyum iblis melihat itu semua seolah rasa kesalnya belum nya belum hilang Shofi langsung keluar.
Philip menggeram kesal ketika nona mudanya begitu nekad. Bagaimana dia kalau terluka, maka habislah riwayat Philip di tangan Davit.
Namun, Philip salah. Philip malah diam mematung melihat Shofi menembak tiga mobil yang mengejar. Entah sejak kapan Shofi membawa pistol seingat Philip mereka tak pernah membawa pistol kemanapun mereka pergi kecuali para bodyguard yang menjaga mereka.
Namun, Philip lupa yang dia bawa mobil Shofi yang di dalam mobil itu sudah tersedia semuanya.
"Scheiße, das Mädchen will uns umbringen. Lauf weg, bevor diese Laser uns erreichen (Sial, gadis itu mau membunuh kita. Kabur, sebelum laser itu membidik kita!)"
Teriak salah satu pembunuh bayaran karena mereka belum siap bertarung akibat mobil mereka saling bertabrakan. Sedang Shofi sudah membuat temannya tertembak.
"Verdammt! (Cepat sialan!)"
Huh ...
Shofi meniup ujung pistol yang ia pegang. Dengan senyum seringainya.
Glek ...
Philip hanya bisa menelan ludahnya kasar melihat bagaimana sadisnya nona muda. Karena baru kali ini nona muda nya bersikap mengerikan.
Bahkan lebih mengerikan dari pada Davit, Philip jadi bergidik ngeri sendiri melihatnya. Sungguh keturunan Damaresh memang tak bisa di ragukan. Ada darah Damaresh yang mengalir di dalam tubuh Shofi. Seorang anak mafia bawah tentu Shofi sudah tak takut lagi dengan ancaman.
"Ayo pergi,"
Ucap Shofi santai masuk kembali ke dalam mobil.
"Philip!!!"
Teriak Shofi membuat Philip langsung terkejut dan ia langsung terbirit masuk kedalam mobil.
"Jangan sampai kak Davit tahu tentang barusan!"
"Baik nona!"
__ADS_1
Ucap Philip berkeringat dingin, sungguh seperti nya yang di samping Philip bukan Shofi tapi orang lain.
Shofi duduk dengan tenang setidaknya kekesalan dan amarahnya sedikit berkurang. Hingga membuat Shofi sedikit bisa melupakan tentang kekesalannya pada Fatih.
.
Sedangkan di tempat tersembunyi Stephen menatap pada anak buahnya yang lagi-lagi gagal menjalankan misinya. Sudah jalan kedua berniat melenyapkan Shofi tapi lagi-lagi malah anak buahnya yang di buat terluka.
"Blöd, warum wieder fehlgeschlagen. Du hast gegen ein Mädchen verloren, das ist eine Schande (Bodoh, kenapa gagal lagi. Kalian kalah sama perempuan dasar memalukan!)"
Bentak Stephen menatap tajam anak buahnya yang menunduk.
Andai saja keadaan Stephen tak semiskin ini mungkin ia bisa menyewa pembunuh bayaran yang proposional. Bukan pembunuh kaleng-kaleng yang baru segitu saja kabur.
Stephen mengepalkan kedua tangannya, Stephen berjanji akan membunuh Shofi dengan tangannya sendiri. Karena Shofi sudah merampas semuanya dari dia. Maka yang dulu jadi milik dia harus menjadi miliknya kembali.
Jika dia tak mendapatkan apa-apa maka Shofi juga tak boleh mendapatkan semuanya.
Kebencian yang Gresela tanamkan di diri Stephen dari kecil membuat Stephen tumbuh menjadi anak serakah, arogan dan penuh dendam.
Stephen berpikir keras, jika adik tirinya lihai dalam hal apapun berarti Stephen harus melakukan rencana lain.
Rencana kali ini harus benar-benar matang dan tak mencolok agar Shofi tak sadar jika dirinya dalam bahaya.
Sebuah ide gila muncul di kepala Stephen membuat anak buahnya bergidik ngeri melihat perubahan wajah bos mereka. Yang sama-sama mengerikan dan nyawa mereka sama-sama dalam bahaya.
Stephen sudah berjanji, ia akan membalas dendam demi kematian sang mama yang mati demi bisa membuatnya keluar.
Stephen tak akan pernah menyia-nyiakan pengorbanan sang mama. Shofi harus membayar mahal atas perbuatannya.
Stephen benci Shofi, sampai kapan pun Stephen akan membencinya.
Karena bagi Stephen, Shofi adalah penghancur keluarga nya. Karena Shofi sang Daddy juga tak menyayanginya. Dan, Shofi harus membayar semuanya. Penderitaan dia dan sang mama yang selalu tersisihkan.
Bahkan dulu dia harus tinggal beda mansion karena Shofi ada di mansion utama.
"Ich habe versprochen, es von ihnen zurückzufordern. Sie müssen ihr bisheriges Handeln teuer bezahlen. Du beruhigst Mam, Stephen wird alles packen, wie Mama gesagt hat (Aku berjanji akan merebut kembali dari mereka. Mereka harus membayar mahal atas perbuatan mereka selama ini. Kamu tenang Mam, Stephen akan merebut semuanya seperti yang mama ucapkan!)"
Gumam Stephen sambil menatap Poto dirinya dengan sang mama. Bahkan Stephen tak punya Poto dirinya bertiga dengan sang Daddy.
Mengingat itu membuat Stephen benar-benar benci pada Shofi.
Stephen akan membuat Shofi kembali seperti dulu berada dalam ketakutan. Dan, tak akan pernah membiarkan Shofi hidup tenang sedikitpun.
Jika dia sengsara maka Shofi juga harus sengsara.
"Warte, meine liebe Schwester, ich werde dafür sorgen, dass dein Leben in meinen Händen liegt. Und bald werde ich dafür sorgen, dass du nie wieder frische Luft atmen kannst!
(Tunggu adek ku sayang, akan ku pastikan nyawamu ada di tanganku. Dan, sebentar lagi ku pastikan kau tak akan pernah bisa menghirup udara segar!)"
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...