
Di sepanjang jalan Shofi terus saja memegang bibirnya yang terasa kebas karena masih teringat kejadian beberapa menit lalu di mobil.
Fatih menciumnya dengan dengan sedikit rakus bahkan sampai membuat Shofi sulit bernapas. Namun, anehnya Shofi tak bisa melawan dengan itu semua.
Elsa dan Cherry menatap aneh tingkah Shofi yang sendari tadi melamun. Bahkan wajahnya memerah.
Entah apa yang terjadi pada sahabatnya ini, kenapa akhir-akhir ini tingkahnya sangat aneh sekali.
"Shofi, kamu kenapa. Sakit?"
Ucap Cherry sambil menempelkan punggung tangannya pada pada kening Shofi.
Shofi langsung terkejut dengan apa yang Cherry lakukan.
"Kamu sakit?"
Tanya Cherry lagi karena Shofi tak menjawabnya.
"Apaan sih, aku gak kenapa-kenapa!"
"Tapi muka kamu memerah kaya gitu,"
Celetuk Elsa membuat Shofi langsung memegang pipinya.
Apa benar pipi Shofi memerah, kenapa seperti ini. Shofi bak anak remaja saja padahal dulu tidak seperti itu.
"Ah, aku gak apa, mungkin disini cuacanya panas!"
Elsa dan Cherry menautkan kedua alisnya bingung. Panas, panas bagaimana wong di Jerman sekarang sedang musim dingin.
Elsa dan Cherry benar-benar merasa heran ada apa sebenarnya yang terjadi pada Shofi.
Sedang Shofi merasa lega karena dosen segera datang jadi Elsa dan Cherry tak banyak bertanya.
Membuat Shofi bisa mengendalikan dirinya sendiri. Bahkan saking malunya Shofi tak berani melirik ke belakang di mana kursi Fatih berada.
Shofi berpura-pura fokus mendengar penjelasan dosen padahal pikiran Shofi terus terbayang kejadian tadi.
Sungguh Shofi tak menyangka bahwa Fatih akan seberani itu. Apa karena Fatih sudah mengingat siapa dirinya. Jika seperti itu, apa Shofi harus bahagia atau tidak.
Pada akhirnya usaha Shofi membuahkan hasil.
Tak sadar Shofi tersenyum sendiri membuat Elsa dan Cherry yang sendari tadi memerhatikan Shofi saling pandang aneh karena tingkah Shofi benar-benar membuat mereka benar-benar heran.
Shofi bertingkah seperti orang yang sedang jatuh cinta terlihat malu-malu tapi mau.
Untung saja Shofi menyembunyikan wajahnya di balik buku kalau tidak sudah pasti dosen sudah menegurnya karena tersenyum-senyum sendiri.
Bahkan sampai selesai dosen mengajar Shofi tetap asik dengan dunianya sendiri.
"Fatih!!!"
Teriak Shofi membuat semua orang langsung menghentikan gerakan mereka. Bahkan Fatih juga yang sudah mau keluar kelas menghentikan langkahnya.
Fatih melihat sekilas kearah Shofi lalu berbalik lagi dan pergi begitu saja tanpa ekspresi apapun.
__ADS_1
"Fatih!!"
Shofi mengejar Fatih yang terlihat aneh. Bukankah tadi pagi masih baik-baik saja kenapa sekarang Fatih terlihat dingin kembali.
Shofi mengejar Fatih namun sayang Fatih sudah pergi dengan mobilnya tanpa menoleh sedikitpun pada Shofi.
Shofi yang melihat Fatih seperti itu menjadi sedih kembali. Bagaimana bisa Fatih seperti itu.
Kenapa Fatih mempermainkan perasaan nya. Tadi hangat sekarang kembali dingin lagi. Bahkan menatap dia pun tak mau.
Kebahagiaan yang sempat Shofi rasakan kini hilang kembali. Padahal Shofi sudah bahagia menyangka jika Fatih sudah mengingatnya. Tapi, lihatlah sekarang dari cara Fatih menatapnya seolah Fatih tak peduli.
Bahkan kini Shofi menatap kepergian Fatih dengan sendu.
Elsa dan Cherry yang melihat perubahan wajah Shofi lagi merasa heran. Karena lagi-lagi Shofi bertingkah aneh.
Entah apa yang terjadi pada mereka berdua kenapa seperti itu. Seolah ada sesuatu yang terjadi.
"Shofi!"
Panggil Elsa menghampiri Shofi yang diam saja dengan tatapan sedihnya.
"Ada apa?"
Shofi hanya menggelengkan kepala saja. Karena kesal dengan apa yang Fatih lakukan padanya. Fatih benar-benar mempermainkan perasaan nya membuat Shofi benar-benar kecewa.
Elsa dan Cherry mengikuti kemana saja langkah Shofi melangkah. Sampai Shofi berhenti di taman, Shofi duduk di sana dengan perasaan kesal.
"Fatih benar-benar melupakanku!"
"Aku pikir dia sudah mengingatku, nyatanya aku salah. Dia berubah dia berbeda, seolah menjadi orang asing bagiku!"
"Apa yang harus aku lakukan, kenapa Fatih seperti itu. Dia melupakanku bahkan tanpa menyisakan setitik kenangan saja!"
Elsa dan Cherry memeluk Shofi yang menangis. Mereka faham betul apa yang di alami Shofi. Hari-hari yang Shofi lalu selalu dengan bekerja dan bekerja. Tak pernah mereka melihat Shofi tersenyum lepas tanpa beban.
Hidup Shofi selalu dingin dan tertutup. Namun, ketika ada Fatih kehidupan Shofi nampak berbeda seolah ada setitik harapan untuk hidup kembali. Mulai terbuka dan tersenyum seolah Shofi menemukan dunianya kembali.
Kali ini Shofi kembali murung, dan bersedih karena sikap Fatih yang berbeda lagi.
Elsa tahu betul bagaimana Shofi selalu menceritakan sosok istimewa di hidupnya. Tapi, nyatanya sosok itu telah lupa akan semuanya. Elsa faham bagaimana berada di posisi Shofi saat ini.
Terkadang Shofi bahagia hanya bisa melihat Fatih saja. Tapi, ketika melihat sikap Fatih yang seperti itu membuat Shofi kembali terpuruk.
Penantian empat tahun itu nyatanya belum cukup mengembalikan sebuah rindu yang masih berlayar jauh.
Seperti nya Shofi masih butuh waktu untuk mengembalikan keadaan seperti semula.
"Dia pergi bahkan tanpa menoleh sedikitpun hiks ..,"
Isak Shofi merasa sesak, Apa ini yang Fatih rasakan dulu ketika ia meninggalkannya. Kenapa sesakit ini. Andai saja Shofi tahu rasanya mungkin Shofi tak akan pernah meninggalkan Fatih sama sekali. Dan, mungkin Fatih juga akan tetap sama menjadi Fatih dulu.
Tapi, semuanya sudah terlambat, ini sudah terjadi hanya waktu yang bisa menjawab semuanya.
Kenapa Shofi kembali lemah, seperti ini. Padahal sebelum nya Shofi tak pernah menangis di hadapan kedua sahabatnya.
__ADS_1
Tapi, kali ini Shofi seolah terlihat rapuh. Sangat menyakitkan sekali.
"Shofi!"
Shofi menghentikan tangisannya ketika namanya di panggil.
Elsa dan Cherry langsung melerai pelukannya. Mereka terdiam melihat Jarvis berada di hadapan mereka.
Dari kejadian itu, Jarvis memang tak berani mendekat apalagi Kaka menasehatinya jangan dulu mendekat jika Shofi tak ingin marah kembali.
"Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan?"
Shofi terdiam lalu menatap kedua sahabatnya mengisyaratkan mereka untuk pergi.
Elsa tahu untuk meninggalkan, namun melihat Shofi yang meyakinkan membuat Elsa dan Cherry langsung menjauh.
"Ada apa?"
Tanya Shofi to the point, Shofi tak suka basa basi apalagi hubungan mereka tak sebaik itu.
"Maaf,"
Kata maaf meluncur di bibir Jarvis dengan perasaan bersalahnya.
"Maaf atas perlakuanku Minggu lalu sudah membuatmu malu. Aku hanya terlalu cemburu!"
Sesal Jarvis, dengan perasaan bersalahnya. Sedang Shofi hanya diam saja menunggu sampai mana Jarvis menjelaskan.
"Aku tak akan mengganggumu lagi, siapapun yang kamu pilih semoga itu kebahagiaan kamu!"
"Besok aku akan kembali ke Inggris, sekali lagi aku minta maaf. Semoga jika kita bertemu di suatu hari nanti, kita masih bisa menjadi teman baik!"
Ucap Jarvis tulus, kini Jarvis sadar jika cinta tak bisa di paksakan. Apalagi Jarvis melihat jika Shofi bahagia dengan pilihannya.
Karena melihat Shofi yang terus diam tak mengucapkan satu katapun membuat Jarvis seperti nya harus segera pergi.
"Aku pergi,"
Shofi menatap punggung Jarvis yang berbalik.
"Jarvis!"
Panggil Shofi membuat Jarvis menghentikan langkahnya kembali lalu berbalik menatap Shofi.
Shofi beranjak dari duduknya lalu mendekat kearah Jarvis.
"Aku tahu kamu mencintaiku, tapi aku tak bisa membalas perasaan mu. Bukalah hati kamu untuk orang lain, karena ada yang lebih tulus mencintaimu dari pada cintamu padaku!"
Ucap Shofi membuat Jarvis menautkan kedua alisnya bingung.
"Apa maksudmu!"
"Tak sadarkan kamu, jika Cherry menyukaimu!"
Deg ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...