Fatih (Rindu Yang Belum Usai)

Fatih (Rindu Yang Belum Usai)
Bab 85 Kembali ke Jerman


__ADS_3

"Hati-hati di perjalanan nak, kabarin bunda jika sudah sampai,"


"Baik bunda!"


"Jaga calon mantu bunda jangan sampai lecet!"


Bluss ...


Pipi Shofi merona mendengar ucapan Queen sedang Fatih hanya mengangguk saja.


"Bunda, papa sama Dede nanti ke sana jika wisuda tiba!"


"Bagaimana dengan Aurora Bun?"


"Adikmu satu itu biar Bunda urus, dia sedang labil!"


Queen memeluk putranya yang harus kembali ke Jerman karena studi belum selesai. Tak lupa Queen mengecup kening Fatih dengan penuh kasih sayang.


Queen menatap teduh gadis yang akan menjadi menantunya itu.


"Nak,"


Queen memeluk Shofi layaknya anak sendiri, Shofi membalas pelukan Queen dengan perasaan bahagia.


Pelukan yang sudah lama tak Shofi rasakan kini Shofi dapatkan dari Queen.


"Titip putra bunda, jika nakal lapor aja pada bunda,"


"Baik Bun!"


Shofi memeluk Queen semakin erat apalagi Queen menyuruh dia memanggil Bunda sama seperti panggilan Fatih.


"Sampai ketemu di hari wisuda,"


"Akan Shofi tunggu Bun,"


Perpisahan kali ini terasa berbeda dengan perpisahan dulu.


Dulu mereka berpisah di sini di bandara Soekarno-Hatta dengan sebuah tangisan kesedihan yang tak dapat mereka bendung.


Sebuah kesakitan yang Shofi tinggalkan namun tak bisa Shofi sembuhkan. Perpisahan yang membuat Fatih berada di titik terendah bahkan sampai kehilangan ingatannya.


Namun perpisahan kali ini terasa berbeda dengan perpisahan-perpisahan dulu. Sorot kebahagiaan kini terpancar jelas di mata Fatih bahkan Fatih menggenggam erat tangan Shofi seolah takut Shofi akan pergi.


Fatih dan Shofi melambaikan tangan pada kedua orang tuanya yang membalas lambaian itu dengan air mata yang menetes di kedua pipinya.


"Sayang, apa kamu bahagia?"


Tanya Farhan sambil merangkul sang istri mesra.


"Aku bahagia sangat sangat bahagia, akhirnya kesesakan ini bisa lepas. Shofi bagai sebuah keajaiban bagi keluarga kita. Sama seperti namanya, anugrah cinta kedua orang tuanya!"


"Lihatlah mereka hubby, tak pernah aku melihat putraku tersenyum selepas itu dan hanya Shofi yang mampu melakukannya. Padahal putraku selalu kaku dan dingin namun bersama Shofi dia terlihat hangat!"


"Anak itu banyak berubah semenjak mengenal Shofi, terlihat dewasa dan matang!"


"Aku merasa tenang jika sayang bahagia, teruslah tersenyum ya!"


Queen tersenyum sambil mengelus pipi sang suami lembut. Mereka sama-sama tersenyum saling tatapan penuh cinta.


Sudah memastikan Fatih dan Shofi masuk ke ruang check in Farhan dan Queen langsung balik.

__ADS_1


.


Shofi benar-benar merasa bahagia dengan semua ini. Dulu mereka berpisah dengan sebuah tangisan namun kini tangisan kesedihan itu tak ada.


Fatih tak lagi menunggu namun kini berada di samping Shofi.


Shofi memeluk erat lengan Fatih sambil menyandarkan kepalanya di bahu kokoh Fatih.


Mereka berdua saling pegang tangan menatap keluar jendela di mana beberapa menit lagi pesawat akan landas.


"Philo,"


"Hm,"


"Lihatlah, di sana dulu aku menunggumu berharap kamu kembali seperti di film-film!"


"Namun, penantian itu nyatanya tak membuahkan hasil, aku sadar aku bukan pemain yang memerankan pran utama di film itu!"


"Ini hidupku, kisah kita dan perjalanan kita!"


"Maaf tanpa sadar aku sudah hampir membunuh mental mu!"


Lilir Shofi mengeratkan pelukannya menatap keluar jendela di mana pesawat sudah landas.


Gumpalan awan putih yang begitu indah memanjakan mata begitupun pemandangan di bawah sana terlihat sangat indah.


"Kini aku tak lagi menunggu kamu, tapi sekarang aku berada di sampingmu. Akan menemani kemanapun kamu pergi, akan ikut dimana kamu tinggal!"


Deg ...


Shofi terdiam sejenak menelusuri kembali ucapan Fatih tentang kata tinggal.


Shofi baru ngeh akan di mana mereka tinggal ketika sudah menikah. Sedangkan Shofi tahu Fatih mempunyai tanggung jawab besar di perusahaan begitupun dengan dirinya.


Kenapa Shofi baru kepikiran akan hal itu, Shofi sekilas melirik Fatih lalu membuang pandangannya lagi keluar jendela.


"Ada apa?"


"Gak!"


"Jangan banyak pikiran, kita nikmati momen ini dan terimakasih sudah mau memaafkan papa dan Bunda!"


"Sama-sama dan terimakasih sudah membuat ku menjadi putri mereka!"


"Aku bahagia, seolah Daddy dan mommy kembali hidup dan aku merasakannya dalam jiwa mereka. Aku beruntung punya kamu yang terlahir dari wanita hebat seperti Bunda!"


"Ya dia memang wanita terhebat di hidupku, bahkan sebesar apapun kesalahannya aku tak bisa marah pada dia. Karena aku tahu kesalahannya hanya sebagian kecil dari perjuangannya!"


"Seperti nya kita harus ke makan dad and mom!"


"Buat apa?"


"Ingin berterima pada mereka sudah melahirkan kamu ke dunia. Kamu gadis hebat dari yang terhebat, kamu kuat dari yang terkuat!"


"Dan, meminta restu untuk memiliki kamu seutuhnya,"


Bluss ....


Pipi Shofi merona mendengar ucapan Fatih bagaimana bisa Fatih se-narsis itu. Tapi Shofi menyukainya dan rasanya Shofi selalu ingin dekat dengan Fatih.


Shofi semakin merapat memeluk lengan Fatih membuat Fatih terkekeh. Fatih mengelus-elus rambut Shofi lembut.

__ADS_1


"Sudah, tidur nanti kalau sudah sampai aku bangunin!"


Perjalanan empat belas jam bukan waktu yang mudah dan cepat. Kemungkinan mereka berdua sampai dini hari.


Para bodyguard sudah siap menjemput nona muda mereka di Bandara.


Shofi tak lama sudah terlelap, di dekat Fatih rasanya Shofi mudah sekali untuk tertidur. Terasa nyaman dan damai seolah Shofi tak takut lagi untuk mimpi buruk.


Fatih tersenyum ketika melihat Shofi sudah tertidur. Dengan sangat hati-hati Fatih menyelimuti Shofi agar Shofi merasa nyaman dan tenang dalam tidurnya.


"Mimpi indah, Philo!"


Gumam Fatih sambil mengelus puncak kepala Shofi lembut.


Tatapan itu begitu meneduhkan, penuh cinta dan sayang.


Fatih berharap semuanya sudah usai dan ia bisa segera melamar Shofi. Itu adalah hal yang paling Fatih tunggu-tunggu menjadikan Shofi milik dia seutuhnya.


Agar Shofi tak ada alasan untuk pergi lagi dalam keadaan apapun. Entah seberapa sakit yang Shofi rasakan Fatih berjanji akan menggantinya dengan kebahagiaan.


"Emmz ,,,"


Shofi menggeliat dalam tidurnya membuat selimut yang ia pakai sedikit melorot. Perlahan bulu mata lentik Shofi mengerjap pertanda sebentar lagi matanya terbuka.


Shofi tersenyum melihat Fatih yang tertidur juga. Padahal tadi Fatih akan menjaganya dan membangunkan dia ketika sudah sampai. Tapi sepertinya malah Fatih yang akan di bangunkan nanti oleh Shofi mengingat sebentar lagi pesawat akan mendarat.


Entah berapa jam Shofi tidur rasanya sangat nyaman dan damai.


Seperti nya Fatih kelelahan hingga dia juga ikut tertidur.


Shofi mengelus pipi Fatih dengan sayang lalu membenarkan selimut yang Fatih pakai.


Sungguh sangat romantis bukan tingkah mereka. Saling melindungi satu sama lain. Andai dulu kisah mereka tak seribet itu mungkin sekarang mereka sudah menikah dan mempunyai anak.


Membayangkan nya saja membuat Shofi merasa geli sendiri.


"Dear,"


Panggil Shofi sambil mengelus pipi Fatih ketika sudah ada pemberitahuan jika pesawat bersiap mendarat.


"Dear bangun , sebentar lagi sudah sampai!"


Perlahan mata Fatih terbuka sambil merenggangkan tangannya yang terasa kaku.


"Maaf aku ketiduran!"


"Tidak apa, terimakasih sudah menjagaku!'


Mereka berdua sama-sama tersenyum satu sama lain menggambarkan cinta yang begitu dalam.


Semua orang keluar dari pesawat begitu juga Fatih dan Shofi.


Para bodyguard sudah siap menyambut kedatangan Shofi dan Fatih bahkan mobil pun sudah di siapkan.


"Silahkan nona,"


Ucap salah satu bodyguard membukakan pintu untuk Shofi dan Fatih.


Sesudah Shofi dan Fatih masuk, sang bodyguard langsung meninggalkan bandara menuju apartemen mereka.


Bersambung ..

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan, Vote Terimakasih ...


__ADS_2