
Shofi terdiam mematung melihat siapa yang ada di depan pintu apartemen nya.
Shofi tak menyangka jika om Farhan akan mendatanginya setelah satu minggu kepergian Amira dan satu minggu keberadaan Shofi di Indonesia.
"Boleh om minta waktu bicara?"
Tanpa bicara Shofi membuka pintu unit apartemen nya lalu mempersilahkan om Farhan masuk.
Farhan masuk kedalam apartemen Shofi yang cukup mewah lalu duduk di atas shopa. Shofi membuatkan minum selayaknya menjamu tamu.
Shofi duduk di hadapan om Farhan, lama mereka saling diam tak ada percakapan di antara mereka.
Shofi pun enggan untuk mengawali percakapan karena Shofi bingung apa yang harus ia katakan terlebih dahulu walah begitu banyak pertanyaan yang ingin Shofi tahu jawabannya.
"Tanyakanlah apa yang ingin kamu tanyakan, om tahu kamu begitu banyak pertanyaan yang ingin kamu tanyakan?"
Ucap om Farhan melembut tak seperti wajahnya yang tegas dan datar.
"Apa yang membuat om melakukan hal sejauh ini?"
"Aku selalu bertanya-tanya apa om dan Tante tak menyukai ku atau apa aku tak tahu. Tapi kenapa harus sejauh ini!"
"Sebelumnya om minta maaf, om tak bermaksud menjauhkan kalian atau menghapus kamu dari ingatan Fatih!"
Ucap om Farhan menatap gadis yang begitu putranya cintai. Bahkan Farhan tahu sejauh mana hubungan mereka di Jerman.
Om Farhan beranjak dari duduknya sambil menatap sebuah Poto yang terpasang di dinding.
"Lima tahun lalu om tak pernah melihat cinta di mata Fatih kecuali hanya kamu tujuannya. Bahkan Fatih rela menunggu kamu di bandara sampai sore berharap kamu akan kembali. Tak ada rasa kecewa dan patah hati yang Fatih tunjukan kecuali ketika kamu meninggalkannya!"
__ADS_1
Jelas om Farhan sambil menerawang jauh ke masa lalu. Shofi hanya bisa menutup mulutnya tak percaya dengan apa yang om Farhan katakan. Bagaimana bisa Fatih menunggunya bukankah mereka sudah sepakat Fatih tak boleh melakukan hal itu.
"Hati orang tua mana yang tak hancur ketika mendengar kabar Fatih mengalami kecelakaan. Di mana harus membuat Fatih koma selama enam bulan akibat benturan keras di kepalanya dan tulang punggungnya mengalami pergeseran. Kejadian itu hal yang paling mengerikan bagi kami bahkan istriku hampir saja mengalami keguguran akibat kesehatannya drop akibat memikirkan Fatih!"
"Aksara, putra kami bahkan sendari di kandungan di terlantarkan akibat istriku terlalu mengkhawatirkan Fatih sampai istriku jatuh sakit selama satu Minggu. Lantas apa yang harus om lakukan berada di posisi seperti itu. Bagaimana om membiarkan kamu tahu sedang kamu juga berada di titik terpuruk. Berperang melawan kebencian, dendam atau mengikhlaskan!"
"Om tahu apa yang kamu alami selama ini begitu berat lantas haruskah om membuat kamu terbebani lagi dengan keadaan Fatih yang bahkan hampir sekarat,"
"Istriku setiap hari menangis, begitupun dengan Aurora bahkan ia juga beberapa kali harus bolos sekolah karena menemani istriku. Kami berharap keajaiban akan datang, di saat keajaiban itu datang apa yang harus kami rasakan ketika kebahagiaan itu sirna tetkala dokter mengatakan jika Fatih mengalami amnesia permanen akibat benturan yang cukup keras. Mendengar kenyataan itu menjadi pukulan besar bagi kami. Dan lagi-lagi berita itu membuat istriku harus terpaksa melahirkan Aksara dengan operasi sesar!"
"Lantas apa om dan Tante salah jika menutupi keadaan Fatih dari kamu. Kami hanya tak ingin membebani kamu dengan keadaan Fatih cukup kami yang merasa terpuruk om tak mau membuat hidup kamu semakin terpuruk karena Fatih. Waktu itu kamu masih remaja, perjalanan hidup kamu masih panjang untuk sekedar mengurus Fatih apalagi om tahu di usia kamu yang masih belia kamu harus mengemban tanggung jawab besar perusahaan!"
"Om melakukan semua ini untuk kebaikan kalian berdua. Berharap kamu akan fokus dengan tujuanmu dan Fatih bisa menerima keadaannya yang terasa baru bagi dia. Dan di saat waktu tiba om dan kakak kamu sudah merencanakan semua ini. Pertemuan kamu dan datangnya Fatih ke Jerman. Karena om tahu, kamu satu-satunya orang yang mampu mengembalikan ingatan Fatih di saat Fatih mulai bertanya-tanya ada yang hilang dalam dirinya. Merasa kehilangan, sakit dan sesak Fatih tersiksa karena hal itu namun Fatih sendiri tak tahu apa yang membuat hatinya seperti itu, jawabannya hanya satu! ikatan kalian begitu besar hingga di saat kamu merasakan rindu maka Fatih akan merasakan rasa sakit itu!"
"Kamu pasti tahu bagaimana rasanya kehilangan, begitupun dengan om dan Tante tak mau kehilangan Fatih jika harus memaksakan Fatih mengingat semuanya karena itu akan membahayakan kesehatan Fatih sendiri. Itulah alasan kenapa om menutup akses kamu agar kamu tak tahu apa-apa tentang Fatih. Sekarang kamu bisa putuskan antara marah dan diam!"
Ucap om Farhan panjang lebar menjelaskan semua apa yang terjadi di masa lalu. Masa yang sangat sulit bagi mereka.
Bagaimana bisa Fatih mengalami hal se-mengerikan itu bahkan membayangkannya saja membuat Shofi takut. Akankah Shofi sekuat itu jika berada di posisi Queen jawabannya tidak.
Shofi tak akan kuat menjalani dan menerima semuanya. Hidup bersama orang yang tak mengenalinya rasanya akan terasa aneh dan menyakitkan.
Farhan menghampiri Shofi lalu menarik Shofi kedalam pelukannya. Tangisan Shofi semakin menjadi ketika Farhan memeluknya erat layaknya seorang ayah memeluk putrinya sendiri.
Pelukan pertama yang Farhan berikan pada Shofi membuat Shofi serasa sang Daddy hidup kembali.
"Dad hiks!!!"
Shofi semakin mengeratkan pelukannya seolah yang ia peluk adalah sang Daddy.
__ADS_1
Farhan mengelus-elus rambut Shofi dengan penuh kasih sayang karena memang Farhan sudah menganggap Shofi sebagai anaknya sendiri bahkan dari dulu.
Perlahan Farhan melerai pelukannya sambil memegang kedua bahu Shofi. Farhan menghapus air mata Shofi dengan kedua ibu jarinya.
"Semuanya sudah berlalu, maukah kamu membuka lembaran baru dengan Fatih. Jangan mengungkit masa lalu!"
Shofi hanya mengangguk sebagai jawaban atas pertanyaan Farhan.
"Maafkan om dan Tante ya?"
Lagi-lagi Shofi hanya mengangguk saja bak anak kecil yang di nasehati sang ayah.
"Sekarang jangan menangis ya, temui Fatih dia selalu merasa bersalah atas semuanya!"
"Berjanjilah untuk selalu bahagia, om titip Fatih pada kamu!"
Sungguh rasanya Shofi tak bisa menjawab hanya anggukan saja sebagai jawabannya atas segala ucapan Farhan.
"Baiklah, om pamit dulu ya om tunggu kamu di rumah sebelum kamu berangkat kembali ke Jerman!"
Farhan merasa lega setelah menjelaskan semuanya walau sebenarnya itu hanya sebagian saja.
Farhan semakin lega lagi ketika melihat respon Shofi yang baik-baik saja tak menyela ataupun berdebat dengannya.
Sungguh Shofi masih belum bisa percaya dengan apa yang Fatih alami. Itu pasti sangat menyakitkan sekali.
Sekarang Shofi faham kenapa om Farhan dan sang kakak melakukan itu semua. Mereka benar, semuanya karena dirinya menginginkan yang terbaik.
Kini tak ada alasan lagi untuk Shofi marah, kecewa, sedih karena semuanya sudah usai.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...