
Shofi seperti nya harus berterima kasih pada Jarvis karena kemaren sudah membawa ia ke ruang kesehatan.
Shofi hanya tak mau Jarvis berpikir lebih pada diri ya. Jarvis akan menjadi sahabat Shofi tak lebih dari itu.
Hari ini mata kuliah tidak terlalu padat, membuat Shofi dan kedua temannya memilih langsung ke kantin saja.
"Boleh gabung?"
Tanya Jarvis meminta izin terlebih dahulu karena memang Shofi tak menyukai orang yang tak sopan.
"Ya!"
Jawab Shofi singkat padat, Elsa hanya menautkan kedua alisnya bingung. Tak biasanya Shofi mau bergabung dengan Jarvis. Sedang Cherry terlihat biasa saja karena Cherry senang jika mereka bisa makan bareng-bareng lagi seperti dulu.
Jarvis senang bukan kepalang ketika Shofi akhirnya memberi nya izin. Pertanda jika Jarvis punya harapan kecil.
Perempuan memang akan selalu luluh jika laki-laki nya terus berjuang tanpa lelah.
"Terimakasih kemaren sudah membawaku ke ruang kesehatan,"
Ucap Shofi tulus tak mau Jarvis nantinya malah salah faham.
"Sama-sama, "
Jawab Jarvis tersenyum lebar karena bahagia Shofi bisa bicara hangat tak se datar biasanya.
Namun, senyuman itu seketika lenyap begitu saja ketika Shofi tiba-tiba beranjak. Seolah Shofi sudah membuatnya terbang lalu Shofi jatuhkan kembali.
"Silahkan lanjutkan makan kalian!"
Ucap Shofi kembali dingin langsung beranjak dari tempat duduknya.
Grep ...
Kaka menahan paha Jarvis agar tetap duduk, jangan buat ulah lagi.
Elsa dan Cherry hanya mengulum senyum geli karena Shofi mereka tetap sama. Shofi bersikap hangat karena ingin berterima kasih saja.
Mereka pikir Shofi berubah pikiran dan mulai membuka hatinya. Nyatanya tetap sama, selalu cuek sekuat apapun Jarvis berjuang.
"Boleh duduk di sini?"
Izin Shofi tiba-tiba di hadapan Fatih yang baru duduk juga.
Sontak, Elsa dan Cherry melebarkan kedua matanya menatap Shofi tak percaya. Bagaimana bisa Shofi malah ingin duduk dengan anak baru itu.
Berbagai asumsi mulai muncul di benak mereka berdua. Pasalnya Shofi tak pernah bersikap se konyol itu pada anak baru. Bahkan mendekatinya, malahan Shofi akan bersikap dingin pada siapapun.
Fatih melirik sekilas pada Shofi yang meminta izin duduk dengannya. Walau, Fatih sedikit mengerutkan keningnya ketika Shofi berbicara menggunakan bahasa Indonesia. Fatih pikir Shofi asli Jerman dan tak akan mengerti jika dia menggunakan bahasa Indonesia.
Fatih melirik ke segala tempat yang memang terlihat penuh.
"Hm,"
__ADS_1
Fatih hanya bergumam saja membuat Shofi tersenyum berarti Fatih mengizinkannya.
Fatih dengan santainya sibuk makan tanpa peduli dengan keberadaan Shofi.
Sedang Shofi sendiri di buat bingung kenapa sikap Fatih sedingin itu padanya seolah tak mengenal dirinya. Apa se benci itu Fatih terhadap dirinya.
"Kau gak makan!"
Ketus Fatih karena mulai risih dari tadi Shofi terus memandang dia.
Shofi semakin terkejut mendengar nada bicara Fatih yang seolah risih akan kehadiran dirinya.
"Fa-fatih!"
Gagap Shofi mencegah Fatih pergi, Shofi bernafas lega ketika Fatih duduk kembali.
Fatih menatap tajam wanita di depannya yang memanggil nama dia. Bagaimana mungkin orang asing bisa tahu namanya. Bahkan Fatih baru melihat wajah Shofi kemaren.
Shofi jadi salah tingkah sendiri di tatap tajam oleh Fatih. Apa Fatih se benci itu terhadap dirinya. Kenapa rasanya hati Shofi sesakit ini, apa Fatih benar-benar sudah melupakannya.
"Siapa kau, kenapa bisa tahu nama ku?!"
Deg ...
Shofi membulatkan kedua matanya menatap tak percaya pada Fatih. Bagaimana bisa Fatih bicara seperti itu. Apa Fatih sedang pura-pura tak mengenalinya atau bagaimana mana. Apa Fatih sedang mempermainkan dirinya. Sungguh Shofi benar-benar tak percaya.
"Kenapa tahu namaku, katakan siapa kau!"
"Fa-fatih!"
Lilir Shofi sendu bagaimana bisa Fatih sekejam itu pada dirinya.
"Dasar lemah!"
Dam ...
Hati Shofi belum selesai dangan rasa sakitnya kini di hantam kembali dengan ucapan Fatih. Ucapan yang dulu sering Fatih lontarkan pada dia.
Shofi yakin, Fatih hanya pura-pura tak mengenalnya karena rasa sakit yang dulu pernah ia toler kan. Buktinya Fatih masih ingat dengan kata itu. Kata yang selalu Fatih lontarkan.
Shofi berlari berusaha mengejar kepergian Fatih. Namun, sayang, Shofi kehilangan jejak.
Ke sana kemari Shofi mencari kemana Fatih pergi kenapa cepat sekali Fatih menghilang.
"Maafkan aku,"
Sesak hati Shofi mulai menangis. Di sudut lorong di mana tak ada siapapun di situ. Shofi menangis sejadi-jadinya sambil sesekali memukul-mukul dada dia. Seolah Shofi ingin kesesakan di dadanya menghilang. Namun, semakin kencang Shofi menangis rasa sesak itu semakin menjadi.
Hiks ...
Shofi menggigit punggung tangannya berharap tangisannya tidak terdengar oleh orang lain.
Sungguh, siapapun yang mendengar tangisan itu mereka akan merasa sendu. Seolah mereka merasakan apa yang Shofi rasakan.
__ADS_1
Apa sesakit ini yang Fatih rasakan dulu ketika Shofi mengabaikannya. Jika Shofi tahu rasanya sakit Shofi dulu tak akan pernah mengabaikan Fatih barang sedetikpun tak akan pernah.
Elsa dan Cherry saling diam melihat bagaimana rapuhnya Shofi. Baru kali ini mereka melihat Shofi yang berbeda. Bahkan tangisan pilu ini mereka baru mendengarnya.
Ada apa sebenarnya dengan Shofi, apa yang terjadi. Kenapa Shofi bisa menangis seperti ini. Dan kenapa pula Shofi mengejar Fatih, apa kemaren juga Shofi pingsan gara-gara mengejar Fatih.
Tapi, apa alasannya, kenapa Shofi seperti itu. Bahkan sebelum nya Shofi tak pernah sedetikpun mengejar laki-laki.
Kehadiran Fatih membuat Shofi berubah. Sebenarnya siapa Fatih itu kenapa Shofi bertingkah seolah mengenal Fatih. Bukankah mereka baru bertemu. Tapi, kenapa sikap Shofi seolah mereka sudah lama mengenal.
Berbagai asumsi terus berputar di otak cerdas Elsa sedangkan Cherry hanya bisa ikut-ikutan menangis dalam diam melihat kerapuhan Shofi. Ingin mendekat namun tak bisa. Karena takut Shofi malah mengusir mereka.
Elsa menarik Cherry bersembunyi ketika tak mendengar tangisan Shofi lagi. Pertanda bahwa Shofi sudah bisa merendam Amarahnya.
Shofi menyeka air matanya kasar, jika Fatih pura-pura melupakan maka Shofi akan membuat Fatih kembali mengenalnya. Kembali mengingatkan kenangan mereka bahwa Shofi sudah menepati janjinya.
Janji tak akan ada laki-laki lain selain Fatih. Janji tak akan melupakan Fatih dalam keadaan apapun. Shofi sudah melakukannya, tapi kenapa malah Fatih sendiri yang melupakannya.
"Semarah apapun kamu, akan ku buat kamu jatuh cinta lagi!"
Tekad Shofi sudah bulat pada dirinya sendiri. Biarlah kata orang berkata apa tentang dirinya. Karena mereka tak tahu yang sebenarnya. Jika Fatih melepaskannya maka Shofi akan mengikat kembali Fatih dalam hidupnya.
Anggap saja Shofi egois untuk sekali lagi, yang penting Shofi bisa membuat Fatih memaafkan kesalahannya.
Shofi keluar dari lorong tersebut dengan keadaan baik-baik saja. Bahkan Shofi berusaha memasang wajah datarnya kembali sebelum benar-benar keluar.
Untung saja Shofi masih memakai kaca mata bulat karena matanya belum sembuh benar. Jadi, Shofi bisa sedikit menyembunyikan bekas tangisannya.
Sesudah Shofi pergi, Elsa dan Cherry kembali muncul.
"Frozen apa kamu tahu sesuatu?"
"Gak!"
"Baru kali ini aku lihat Shofi seperti itu!"
Ucap Cherry sendu merasa kasihan pada Shofi.
"Mungkin terlalu banyak beban di pikirannya,"
"Apa kamu tahu?"
"Gak!"
Cherry mengerucutkan bibirnya kesal karena Elsa terus saja menjawab simpel.
Bersambung ..
Jangan lupa Like, Hadiah,, komen, dan Vote Terimakasih ...
.
__ADS_1