
Shofi terbangun dari tidurnya namun Shofi tak mendapati Fatih di atas shopa.
Shofi mencari-cari Fatih kemana perginya Fatih sepagi ini. Shofi mengikat rambutnya sampai memperlihatkan leher putih mulusnya.
"Dear!"
Panggil Shofi karena tak biasanya Fatih tak membangunkan dia.
Shofi keluar kamar, semerbak aroma masakan menyapa hidung Shofi membuat Shofi langsung menuju ke dapur.
Shofi tersenyum melihat Fatih sibuk dengan pekerjaannya bahkan tanpa menyadari kehadiran dirinya.
Grep ...
Shofi memeluk Fatih dari belakang membuat Fatih sejenak menghentikan aktivitas sambil tersenyum.
"Sudah bangun hm?"
Tanya Fatih sambil melirik ke belakang.
"Aku pikir kamu sudah pergi!"
"Mana mungkin, sana mandi aku harus menyelesaikan masak ku!"
"Gak mau!"
Rengek Shofi sambil mengeratkan pelukannya membuat Fatih hanya tersenyum lalu menyimpan wajan dan mematikan kompor. Fatih berbalik hingga mereka saling berhadapan.
Cup ...
Fatih mengecup pelipis Shofi hingga Shofi terpejam memudahkan Fatih mengecup kelopak mata nya.
Grep ..
Fatih menggendong Shofi membuat Shofi refleks mengalungkan kedua tangannya di leher kokoh Fatih.
Fatih membawa Shofi menuju kamar mandi yang ternyata sudah di siapkan sendari tadi oleh Fatih untuk Shofi mandi.
"Mandi sendiri atau di mandikan?"
Ucap Fatih sambil menurun naikkan kedua alisnya membuat Shofi tertawa geli.
"Sana keluar!"
"Pintar!"
Ucap Fatih sambil mengelus puncak kepala Shofi membuat Shofi tersenyum.
Fatih menutup rapat kembali pintu kamar mandi lalu ia melanjutkan kembali masak yang sempat tertunda.
Menu omelette tidak terlalu buruk untuk sarapan kali ini berikut segelas jus sebagai pelengkapnya.
Sudah selesai membuat menu sarapan pagi Fatih menyajikannya di meja makan dengan sangat cantik.
Sudah merasa benar-benar selesai Fatih lalu meninggalkan unit apartemen Shofi menuju unit apartemen dirinya guna membersihkan diri.
Fatih mencuci baju kotor di mesin cuci lalu bergegas mandi guna membersihkan tubuhnya.
Fatih sedikit santai karena hari ini tidak mengantar Shofi ke kantor. Fatih ada jadwal tersendiri dengan orang lain.
Sudah selesai mandi Fatih memakai baju santai lalu pergi menuju unit apartemen Shofi di mana Shofi juga baru selesai ber-rias diri.
__ADS_1
"Ayo sarapan?"
"Sebentar Dear!"
Mereka terlihat seperti sepasang suami istri saja walau masih ada batasan-batasan tertentu namun melihat mereka membuat iri sendiri membacanya.
Cup ...
Tiba-tiba Fatih mengecup bibir Shofi bahkan sedikit **********.
"Mau bertemu siapa sih, jangan terlalu tebal memakainya aku tak suka!"
Protes Fatih ketika menyudahi ciumannya yang intinya menghapus warna merah di bibir Shofi sambil membenarkan kembali noda merah yang belepotan.
Shofi hanya diam saja dengan apa yang Fatih lakukan karena masih terkejut dengan ciuman barusan.
"Sudah, begini saja cukup!"
Ucap Fatih membuat Shofi refleks melihat pantulannya di kaca. Shofi menghela nafas pelan melihat bibirnya yang pias. Fatih memang ada-ada saja selalu tiba-tiba jika tak menyukai sesuatu.
"Ayo, sekarang sarapan dulu aku lapar!"
Ucap Fatih lagi menarik tangan Shofi membuat Shofi pasrah saja. Fatih mendudukkan Shofi di atas kursi dan mendekatkan bagian Shofi dengan jus nya.
Fatih menarik kursi agar dekat dengan Shofi membuat Shofi hanya tersenyum saja.
Aaaa ...
Shofi menghentikan gerakan tangannya yang akan memasukan omelette kedalam mulutnya ketika melihat Fatih membuka mulutnya mengisyaratkan ingin disuapi.
Shofi lupa jika Fatih selalu suka memakan bagian dirinya dan membiarkan bagian dia utuh yang ujung-ujungnya Shofi yang memakannya.
Shofi menyuapi baby besarnya dengan telaten sesekali menyuapi dirinya sendiri sampai habis tinggal bagian Fatih yang masih utuh maka Shofi harus memakannya sendiri.
Jika di perhatikan memang seperti itu dan Fatih akan menambah sarapannya dengan memakan buah.
"Apa tidak apa berangkat sendiri?"
Tanya Fatih sekali lagi memastikan Shofi karena memang hari ini Fatih tak bisa mengantar Shofi.
"Tidak apa Dear, kamu meragukan aku!"
"Bukan, aku cuma kasihan sama mobilnya mungkin dia akan kelelahan mengingat siapa yang mengemudikannya!"
Ha .. ha ...
Shofi tertawa lepas bahkan hampir saja tersedak mendengar ucapan konyol Fatih. Fatih memang ada-ada saja sejak kapan Fatih selalu melawak bukankah itu bukan sikap Fatih.
"Tenang, dia tidak akan sampai pusing kok!"
"Ok .. ok ..,!"
"Ya sudah sana berangkat!"
"Kalau pulang bisa jemput?"
Fatih terdiam sedikit berpikir apa dia bisa menjemput atau tidak. Melihat Fatih yang seperti sedang berpikir membuat Shofi tak enak mungkin Fatih memang benar-benar tak bisa hari ini.
"Ya sudah kalau tak bisa, aku gak apa kok!"
"Maaf ya!"
__ADS_1
"Iya, aku berangkat ya!"
"Tunggu!"
Tahan Fatih mencengkal tangan Shofi lalu menariknya membuat Shofi terjatuh di pangkuan Fatih.
"Maaf ya!"
Sekali lagi Fatih minta maaf karena merasa tak enak hati hari ini memang Fatih benar-benar tak bisa.
"Iya gak apa, aku ngerti kok!"
Ucap Shofi lembut sambil mengelus rahang Fatih. Shofi tak mau membuat Fatih merasa bersalah akan hal itu. Padahal Shofi memang benar-benar tak masalah dan mengerti jika Fatih tak bisa menjemput atau mengantarnya.
"Aku janji besok pulang aku jemput!"
Cup ...
Fatih mengecup bibir Shofi cepat tak membiarkan Shofi protes dengan apa yang ia lakukan.
Shofi yang tadinya akan protes malah di buat bungkam dengan apa yang Fatih lakukan namun lama kelamaan Shofi membalas ciuman itu tak kalah menuntut.
Pluf ..
Fatih menghentikan ciumannya karena malah takut kebablasan jika terus di teruskan apalagi Shofi harus segera berangkat ke kantor.
"Vitamin nya sudah!"
"Semangat kerja nya!"
Shofi di buat melongo dengan apa yang Fatih lakukan sungguh Fatih memang benar-benar selalu saja melakukan semau yang dia mau tanpa peduli perasaannya.
Padahal Shofi tak mau menyudahi itu tapi Fatih malah tiba-tiba melepaskan nya.
Seperti nya mereka harus benar-benar segera menikah jangan sampai kebablasan nantinya.
Walau Fatih dan Shofi tahu, mereka tak akan pernah melakukan hal lebih dari sekedar ciuman walau sedikit tekanan dan penuh tuntutan.
"Ingat! jangan lembur!"
"Iya .. iya bawel!"
Kesal Shofi menggerutu sambil pergi berangkat ke kantor. Fatih hanya tersenyum saja melihat muka kekasihnya yang masam dengan apa yang ia lakukan barusan.
Fatih melirik jam tangannya lalu menghela nafas pelan. Masih ada waktu untuk Fatih membereskan bekas sarapan tadi.
Mencuci lalu menyimpan kembali di tempat semula.
Sesudah merasa sudah selesai Fatih bergegas pergi juga meninggalkan unit apartemen Shofi lewat jalur yang berbeda.
Sedang Shofi terus saja menggerutu sepanjang jalan karena lagi-lagi Fatih berhasil membuat ia kesal setengah mati bercampur malu. Seolah-oleh Shofi yang menginginkan lebih.
"Awas saja Dear, akan ku balas!"
Kesal Shofi tersenyum seringai entah apa yang ada di otak cerdasnya kenapa senyuman itu seolah mengerikan.
"Ok, semangat Philo kita lihat siapa nanti yang kalah!"
Gumam Shofi tersenyum seringai menatap pantulannya di kaca depan. Shofi sudah siap dengan kemudinya.
"Berangkat!"
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like Hadiah, komen, dan, Vote Terimakasih ...