Fatih (Rindu Yang Belum Usai)

Fatih (Rindu Yang Belum Usai)
Bab 83 Baikan


__ADS_3

Fatih tersenyum bahagia ketika melihat pesan masuk dari Shofi.


Shofi meminta Fatih ke apartemen nya sekalian makan malam di apartemen Shofi.


Rasa lelah yang sempat menghantam kini lenyap seketika. Dengan cepat Fatih membereskan semua pekerjaan lalu bergegas pergi.


Rijal menautkan kedua alisnya melihat Fatih pergi dengan terburu-buru bukan kerena rasa panik namun terlihat bahagia.


Bagaimana Fatih tidak bahagia semenjak kepergian Amira Shofi mendiamkannya dan sekarang Shofi mau berbicara lagi dengannya.


Sepanjang jalan Fatih terus tersenyum sambil fokus menyetir berharap Fatih cepat sampai ke apartemen Shofi. Rasanya Fatih sudah sangat rindu tak memeluk Shofi.


Menempuh perjalanan empat puluh lima menit Fatih sampai di apartemen Shofi apalagi jalanan Jakarta cukup macet karena memang waktu pulang kerja.


Fatih berlari masuk kedalam namun lift sialnya sudah penuh menggunakan lift satu lagi tak terbuka-buka. Terpaksa Fatih harus berlari mengunakan tangga darurat.


Fatih terus berlari menggunakan tangga darurat bahkan sampai berkeringat saking ingin cepat bertemu dengan Shofi.


Tok ..


Tok ...


Shofi tersenyum ketika mendengar suara pintu apartemen nya di ketuk Shofi yakin itu Fatih.


Shofi berlari kecil menuju pintu lalu membuka pintu perlahan.


Deg ...


Shofi terdiam melihat Fatih berkeringat bahkan bajunya sangat basah dengan nafas naik turun membuat Shofi menautkan kedua alisnya bingung apa yang terjadi pada Fatih.


"Dear, tunggu! kamu kenapa berkeringat seperti ini?"


Tanya Shofi menahan dada Fatih ketika Fatih akan memeluknya.


"Lari,"


"What!!"


Pekik Shofi terkejut mendengar jawaban polos Fatih. Bagaimana bisa Fatih berlari bukankah ada lift. Bingung Shofi pasalnya unit apartemen Shofi berada di lantai dua puluh.


"Kangen!"


Shofi menghembuskan nafas berat ketika Fatih malah memeluknya erat. Untung saja keringat Fatih wangi jika bau mana mau Shofi di peluk. Apalagi Fatih memeluknya sangat erat sekali bahkan baju Shofi sampai basah.


Shofi membiarkan saja apa yang di lakukan Fatih toh Shofi juga sangat kangen pada Fatih.


"Sudah ya, ganti baju dulu nanti masuk angin!"


Ucap Shofi lembut sambil melerai pelukannya.


Shofi masuk kedalam kamar guna mengambil salah satu kaus miliknya yang kebesaran mungkin akan cukup di badan Fatih.


Fatih membuka kemejanya yang memang sangat basah oleh keringat. Gerakan Fatih seolah lambat di mata Shofi membuat Fatih terlihat tampan berkali lipat.


Apalagi ketika dada bidangnya terlihat dan perutnya yang kotak-kotak sangat menggoda iman. Namun, bagi Shofi itu hal biasa bahkan Shofi terlihat santai saja.


"Keringkan dulu, baru pakai kausnya!"


"Iya Philo,"


Fatih menerima handuk kecil lalu mengelap keringatnya. Sudah merasa kering Fatih memakai kaus milik Shofi yang berwarna pink. Untung saja bajunya besar jadi cukup di badan Fatih kalau kecil entah bagaimana bentukan Fatih mungkin ketampanan nya menghilang.


Shofi mengulum senyum melihat Fatih memakai baju pink terlihat lucu dan menggemaskan.

__ADS_1


"Gak hilangin ketampanan ku kan?"


"Narsis!"


Fatih terkekeh melihat Shofi memerah sendiri bukan Fatih yang merasa malu.


"Sudah, sekarang kita makan aku sudah sangat lapar!"


Cetus Shofi menarik tangan Fatih menuju meja makan.


"Akhh .. Dear!"


Kesal Shofi terkejut dengan apa yang Fatih lakukan. Fatih malah mendudukkan Shofi di atas pangkuannya.


"Sudah jangan protes!"


"Aku mau makan masa begini!"


"Kita makan sepiring berdua saja,"


Shofi menghembuskan nafas berat sungguh Fatih kenapa manja seperti ini. Walau pada akhirnya Shofi merasa nyaman berada di pangkuan Fatih.


Shofi menyuapi Fatih makan sesekali menyuapi dirinya sendiri.


"Kamu masak atau beli?"


"Masak, apa gak enak?!"


"Enak, rasanya sama persis kaya masakan Bunda!"


"Benarkah!"


"Iya,"


Shofi mengelap bibir Fatih yang belepotan dengan lembut membuat Fatih tersenyum.


Mereka berdua menikmati makan malam bersama dengan sebuah candaan ringan sampai mereka selesai makan.


Sudah selesai makan Shofi kembali membereskan meja makan lalu mencuci piringnya kembali.


"Dear, lepas aku susah gerak nih!"


"Gak mau!"


Rengek Fatih entah kenapa sangat manja sekali. Bahkan menggangu Shofi mencuci piring.


Shofi membilas tangannya ketika sudah selesai lalu mengelap supaya tangannya kering.


Shofi membalikan tubuhnya menghadap Fatih.


"Kenapa Hm, manja banget!"


Tanya Shofi lembut sambil mengelus rahang tegas Fatih.


"Bolehkah aku duduk, kakiku pegal!"


Tanpa bicara Fatih menggendong Shofi lalu mendudukkannya di atas shopa ruang tamu. Dengan cepat Fatih langsung membaringkan kepalanya di atas pangkuan Shofi bahkan Fatih menelusup kan kepalanya di perut rata Shofi membuat Shofi kegelian.


Shofi menyisir rambut Fatih dengan lima jarinya.


"Hari minggu aku harus kembali ke Jerman!"


Fatih langsung menatap Shofi dimana Shofi menundukkan kepala.

__ADS_1


"Tentu, kita akan kembali bersama!"


"Bukankah kamu masih ada banyak pekerjaan di sini!"


"Kamu lupa, sebentar lagi kita wisuda ya aku harus segera kembali ke Jerman mempersiapkan semuanya!"


Shofi menepuk jidatnya sendiri karena lupa akan hal itu. Bagaimana bisa Shofi melupakan tentang wisudanya.


"Sayang,"


"Hm,"


"Maukah kamu memaafkan papa dan Bunda sebesar apapun kesalahan mereka?"


Ucap Fatih sambil duduk tegap menatap serius pada Shofi.


"Pertanyaan itu harusnya ku tanyakan padaku, apa kamu akan memaafkan mereka?"


Ucap Shofi tak kalah serius menatap kedalam bola mata Fatih.


Fatih terdiam menatap kedepan, pikiran Fatih menerawang jauh entah kemana.


"Entah kenapa kali ini aku tak bisa marah pada papa ataupun bunda. Aku tak tahu alasan apa yang membuat mereka menjauhkan mu dari ku tapi entah kenapa aku tak bisa marah seolah ada sesuatu yang jauh lebih besar mereka rasakan sekedar rasa kecewaku pada mereka!"


"Maka, jawabanku akan sama seperti kamu!"


"Maksudnya?"


Tanya Fatih bingung kenapa Shofi bicara seperti itu.


"Tadi om Farhan datang menemui ku, dia mengatakan semuanya yang terjadi. Mungkin sekarang itulah yang menjadikanku tak bisa marah lagi, bahkan untuk sekedar marah pun rasanya aku tak sanggup!"


"Sekarang aku bersyukur, mereka sudah menjaga kamu dan membiarkan kamu kembali pada ku!"


Ucap Shofi tersenyum sambil mengelus pipi Fatih.


"Papa menceritakan semuanya pada kamu, tapi kenapa padaku tidak!"


"Karena aku yakin kamu tak akan kuat mendengarnya!"


"Tapi aku ingin tahu alasannya!"


"Maka jadikan kehangatan ini alasan nya!"


Ucap Shofi memeluk lengan Fatih lalu menyandarkan kepalanya di pundak Fatih. Sungguh Shofi juga bahkan tak sanggup untuk sekedar menceritakan ulang.


Kesakitan om Farhan dan Tante Queen nyatanya jauh lebih besar dari rasa kecewa Shofi sendiri. Bahkan Shofi mungkin tak akan sanggup jika dulu berada di posisi Tante Queen.


Kini Shofi mengerti semuanya, orang tua akan melakukan apa saja demi kebaikan anaknya walau pada akhirnya harus di benci.


Shofi berjanji akan menjaga Fatih dengan sepenuh hati. Sebagai Tante Queen menjaga Fatih untuk selalu tetap hidup.


"Sebelum berangkat, aku ingin bertemu keluarga kamu!"


"Benarkah! apa kamu benar sudah baik-baik saja?!"


"Ya, aku tak marah atau kecewa lagi pada om Farhan, Tante Queen ataupun pada kak Davit!"


"Syukur lah!"


Bersambung ...


Jangan lupa, Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1


__ADS_2