
Setelah kepergian Amira semuanya nampak berbeda.
Shofi beberapa hari ini selalu mengurung diri di apartemen apalagi Fatih sangat sibuk di kantor.
Shofi keluar hanya untuk melihat perkembangan baby Amira saja setelah itu ia akan kembali pulang.
Belum ada semangat di hidup Shofi kepergian Amira masih membekas di ingatan semua orang.
Padahal ini sudah hari ketujuh semenjak kepergian Amira. Bahkan sang baby juga masih berada di dalam indikator di karenakan lahir prematur. Butuh waktu untuk baby itu kembali pulih.
Rencananya hari ini setelah pulang dari rumah sakit Shofi akan berkunjung ke rumah Bunga tepatnya apartemen dimana Bunga dan Raja tinggal.
Tak lupa Shofi memberitahu Fatih jika Fatih tak usah menjemput Shofi di rumah sakit karena Shofi akan langsung pergi ke apartemen Bunga.
Fatih yang melihat pesan dari Shofi hanya menghela nafas berat padahal rencananya Fatih akan mengajak Shofi kerumah dan meluruskan ke salah pahaman yang ada.
"Nak,"
Panggil Farhan membuat Fatih langsung mematikan ponselnya.
"Apa kamu masih marah sama papa?"
Tanya Farhan duduk di hadapan sang putra. Fatih hanya diam sejujurnya Fatih tak marah namun kecewa saja dengan apa yang sang papa lakukan.
"Aku tak marah, aku cuma butuh alasan!"
"Papa melakukan semuanya demi kebaikan kamu!"
"Aku tahu, dari dulu yang papa lakukan demi kebaikan aku. Tapi kenapa papa harus menyembunyikan orang yang aku cintai dari ingatanku!"
"Aku tak masalah jika papa menutup semua akses Philo dari aku, tapi papa semuanya. Amira, Bunga, Moreo, Raja dan Rangga. Papa juga menjauhkan Philo dari mereka!"
"Apa ada alasan untuk itu, tapi lihat yang papa lakukan. Philo harus kehilangan Amira, bahkan sampai sekarang Philo begitu dingin padaku. Dia selalu merasa bersalah karena tak bisa menjadi sahabat yang baik!"
"Philo merasa jika ia datang hanya ketika dia butuh perlindungan saja, tapi Philo tak bisa berbuat apa-apa ketika masalah datang pada Amira!"
Fatih mengeluarkan segala kekesalannya karena bingung harus bagaimana membuat Shofi kembali ceria. Fatih juga tak bisa marah karena semuanya. Walau Fatih tahu apa yang sang papa lakukan salah.
"Bisakah papa keluar, aku tak mau berdebat!"
Farhan menghela nafas berat menatap putranya. Ternyata putranya sudah sangat dewasa.
Farhan tahu Fatih ingin marah namun berusaha menahannya karena tak mau menyakiti hati dia.
"Maafkan papa!"
Farhan langsung pergi meninggalkan Fatih seorang diri.
Farhan tahu Fatih sangat marah padanya namun Fatih hanya bisa menahan kemarahan itu semua agar tak menyakiti dirinya.
Papa akan mengembalikan semuanya, papa janji!
.
Shofi baru saja sampai di apartemen Bunga, Shofi menatap ke sekeliling apartemen Bunga yang nampak rapih. Lalu mata Shofi menatap bocah kecil yang berada di belakang Bunga seolah gadis itu takut dengan Shofi.
"Gak apa, Sekar memang seperti itu dengan orang baru!"
__ADS_1
"Sekar sayang, Salim sama mommy Shofi. Mommy Shofi sama seperti mama Amira!"
Kepala Sekar muncul di balik lengan Bunga menatap Shofi dengan mata beningnya. Shofi tersenyum pada Sekar dengan mata berkaca-kaca.
Sungguh Shofi tak menyangka keponakannya sudah sebesar ini.
"Bunda apa mommy ini sama dengan mommy yang selalu bunda ceritakan!"
Bunga tersenyum sambil mengangguk pada putri kecilnya.
"Maafkan Mommy sayang, mommy baru bisa berkunjung!"
Ucap Shofi sambil berjongkok di depan Sekar.
"Apa Sekar gak mau meluk mommy?"
Dengan ragu bocah itu mendekat lalu melirik pada Bunga. Sekar langsung berhambur kedalam pelukan Shofi ketika Bunga mengangguk kepala.
Shofi tak menyangka jika ia mempunyai keponakan sudah sebesar ini. Sekar terlihat imut sekali dengan pipi chubby nya.
"Apa mommy di kirim malaikat pengganti mama yang pergi!"
"Iya sayang, mommy sayang sekali pada Sekar!"
"Sekar juga sayang mommy!"
"Hore, Sekar punya mommy baru!"
Girang Sekar membuat Shofi dan Bunga tersenyum. Sekar memang jika sudah merasa aman dengan orang baru ia akan cepat akrab seolah mereka sudah kenal lama.
"Sayang, bawa mommy nya duduk ya. Bunda mau buat minum dulu!"
Bunga pergi ke dapur guna membuat minum untuk Shofi. Rasanya mereka masih belum menyangka di pertemukan di saat yang seperti ini.
Pertemuan yang harus membuat mereka meletakan Amira pergi.
"Rasanya kita belum bisa mengobrol santai dari pertemuan pertama?"
"Ya, situasi yang tak memungkinkan!"
"Bagaimana kabarmu, bagaimana bisa kamu menghilang tanpa jejak?"
Tanya Bunga membuat Shofi menghela nafas berat.
"Perjalanan terlalu sulit, tapi aku bukan menghilang namun keberadaan kalian yang tak bisa aku cari tahu!"
"Bagaimana bisa, selama empat tahun terakhir ini kami mencari mu justru kamu yang tak bisa kami lacak. Kami pikir kamu benar-benar sudah tak peduli lagi!"
Shofi terdiam mengepalkan kedua tangannya erat. Sungguh rencana Farhan dan Davit sangat luar biasa.
Mereka bukan hanya menutup akses Shofi tapi juga menutup akses teman-teman nya.
"Terakhir aku sempat melihat kamu delapan bulan lalu ketika di London. Aku melihat kamu namun aku tak bisa mengejar kamu karena terlihat banyak bodyguard yang menjaga kamu!"
"Benarkah,"
"Iya, bahkan pada waktu itu aku menyuruh Amira mencari tahu keberadaan mu. Namun anehnya cctv tak memperlihatkan kamu lagi!"
__ADS_1
"Maafkan aku, aku memang sempat ke London karena urusan pekerjaan. Anak buah ku yang sengaja menghilangkan jejak ku agar musuh tak bisa melacak keberadaan ku!"
"Kenapa kita sulit sekali mendapatkan informasi satu sama lain, ini aneh!"
Bingung Bunga sekarang terlihat dewasa semenjak menikah dan punya anak.
Kalian akan sulit karena om Farhan yang menutup aksesnya. Begitupun aku, karena kakak ku sendiri yang menutupnya.
Batin Shofi kesal ingin sekali marah namun Shofi tak bisa. Entah kenapa Shofi merasa ada hal besar yang om Farhan tutupi dari dirinya.
Entah rahasia apa Shofi tak tahu apa karena Farhan atau sebab dirinya.
"Sudah yang terpenting kita bertemu!"
Ucap Shofi memecah keheningan apalagi Sekar baru saja tidur siang.
"Iya, namun kisah kita terasa kurang!"
"Ya, aku berharap Amira dan om Alam tenang di alam sana!"
"Terus sekarang, bagaimana kabar Fatih kenapa dia bisa bersama kamu bukankah Fatih masih hilang ingatan?!"
"Tidak, Ingatan Fatih sudah kembali beberapa hari lalu!"
"What, jadi Fatih--"
"Ya, Fatih baru mengingat siapa aku dan kalian beberapa hari lalu walau dengan kejadian rumit!"
"Bahkan membuat Fatih kembali ingatannya harus mengorbankan yang lain!"
"Maksudnya!"
Bunga benar-benar tak mengerti dengan apa yang Shofi bahas.
"Kejadian di Jerman tak mudah aku lalui bahkan ingin membuat Fatih ingat kembali kakak ku harus merencanakan hal yang sama persis ketika Fatih kecelakaan!"
"What!!"
Pekik Bunga terkejut Bagaimana bisa sekejam ini.
"Fatih memang tidak kenapa-kenapa dalam insiden itu namun Philip adik asisten kakak ku yang sempat mengalami koma satu Minggu!"
"Oh ya ampun, aku benar-benar tak menyangka hidup kalian begitu rumit,"
Cetus Bunga, membayangkannya saja membuat Bunga pusing.
"Terus langkah apa yang akan kalian ambil selanjutnya?"
"Aku belum tahu, bahkan aku menghindar dulu dari Fatih. Aku hanya ingin menenangkan diri dulu sebelum menentukan langkah selanjutnya!"
"Aku hanya bisa berdoa semoga kalian baik-baik saja,"
"Terimakasih, dan mungkin hari Minggu aku akan kembali ke Jerman!"
"Secepat itu?"
"Banyak pekerjaan yang harus aku kerjakan, aku tak mungkin meninggalkan kantor terlalu lama!"
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote, Terimakasih .....