
Shofi bersiap berangkat ke kampus setelah melakukan sarapan paginya.
Apalagi Philip di bawah sendari tadi sudah menunggu.
Cklek ...
Deg ...
Alangkah terkejutnya Shofi ketika mendapati Fatih tersenyum sambil berdiri di hadapan apartemen nya.
"Ayo berangkat bareng!"
Ucap Fatih menarik tangan Shofi yang malah bengong.
Shofi benar-benar terkejut dengan sikap Fatih. Ternyata Fatih benar-benar ingin memulai dari awal lagi.
Shofi melihat tangannya yang di tarik Fatih mengingatkan Shofi akan dulu. Fatih sering melakukan hal seperti ini seenak jidatnya.
"Maaf,"
Ucap Fatih refleks melepaskan genggaman tangannya ketika Shofi menatap tangannya. Fatih pikir Shofi tak suka di pegang. Padahal bukan seperti itu yang Shofi maksud.
"Mulai sekarang aku yang akan mengantar jemput kamu ke kampus, kita searah!"
"Tidak masalah kan?"
Tanya Fatih ketika sudah berada di mobil, membuat Shofi menggeleng.
"Eh, maksudnya tak masalah selagi tak merepotkan!"
Jelas Shofi cepat tak enak ketika melihat raut wajah Fatih yang berubah.
Tak ada percakapan lagi di antar mereka, hanya ada keheningan yang tercipta.
Musim dingin membuat Shofi pergi harus memakai baju hangat, bahkan sal melingkar indah di lehernya.
Begitu juga dengan Fatih, apalagi Fatih tidak terlalu kuat oleh cuaca dingin.
Musim dingin biasanya jalanan tertutup oleh salju. Ada beberapa mobil pembersih salju yang berjajar di pinggir jalan. Seperti nya mereka sudah selesai beroperasi.
Sampai mereka di kampus tetap belum ada percakapan kembali.
Semua orang heboh ketika melihat Shofi keluar dari mobil Fatih. Anak baru yang super duper dingin dan cuek. Bagaimana bisa Shofi bareng dengan Fatih.
Desak desuk membicarakan Fatih dan Shofi namun, tak akan ngaruh sedikitpun pada Shofi.
Kebersamaan Fatih dan Shofi bahkan sampai ke telinga Jarvis.
Jarvis semakin di bakar oleh api cemburu saja. Bahkan sangat kesal ketika orang-orang mengatakan jika Shofi cocok bersanding dengan pangeran es.
Ya, Fatih di juluki pangeran es karena sikapnya yang dingin dan jarang bicara sama seperti Shofi.
Begitu pun dengan Elsa dan Cherry, mereka nampak bengong melihat sahabatnya keluar dari mobil Fatih.
Elsa dan Cherry langsung menghampiri Shofi dan menariknya jauh dari Fatih.
Fatih hanya tersenyum saja, sambil mengangguk. Mengisyaratkan bahwa ia tidak apa-apa.
"Kalian apa-apa sih,"
Protes Shofi ketika kedua sahabatnya menarik dia.
__ADS_1
"Shofi, kami tahu siapa kamu. Tak biasanya kamu menempel dengan orang baru selain Philip!"
Ketus Cherry menatap tajam pada Shofi. Cherry menelisik menatap intens wajah Shofi.
"Apa kau berpacaran dengan anak baru itu. Bukankah kalian tak akur?"
Shofi hanya diam saja mendengar ocehan demi ocehan Cherry. Sahabat satunya ini benar-benar kepo banget.
"Kami hanya berteman!"
Jawab singkat Shofi sambil melengos begitu saja.
"Shofi!!"
Teriak Cherry kesal karena Shofi malah pergi. Elsa hanya menggeleng kan kepala saja melihat tingkah mereka berdua.
Walau Elsa juga penasaran, namun Elsa tak se kepo seperti Cherry.
"Shofi, jawab dong. Kok gitu sih,"
Kesal Cherry terus mengikuti langkah Shofi. Sedang Shofi hanya diam saja tak peduli dengan ocehan Cherry.
Sampai ocehan Cherry berhenti ketika mereka sudah sampai di kelas.
Cherry menatap curiga pada Fatih, mungkin Fatih ingin memanfaatkan Shofi saja. Jika seperti itu, maka Cherry tak akan pernah membiarkan itu terjadi. Cherry harus melindungi Shofi dari Fatih.
Bau-bau nya saja sudah mencurigakan karena ini terlalu tiba-tiba Fatih baik pada Shofi.
Seperti nya Cherry harus menyelidiki dulu Fatih sebelum Shofi terpengaruh.
Karena Cherry tahu bagaimana Shofi, Shofi orang yang sangat dingin dan kaku bahkan Jarvis saja sudah beberapa kali di tolak. Bagaimana mungkin bersama Fatih Shofi cepat akrab bahkan Shofi terlihat berbeda.
Tak ...
"Mata di jaga,"
"Habis ini mencurigakan!"
"Hus, jangan seperti itu. Shofi akan marah!"
"Aku dengar!"
Ketus Shofi menatap tajam kedua sahabatnya yang sendari tadi terus berbisik-bisik padahal Shofi mendengarnya.
Elsa dan Cherry hanya tersenyum saja, di tatap seperti itu oleh Shofi.
Hingga mereka bertiga diam ketika dosen mulai masuk dan memulai pelajaran.
Shofi begitu fokus mendengarkan penjelasan dosen. Berbeda dengan Cherry dan Elsa yang saling bisik satu sama lain mengenai perubahan Shofi. Bagi mereka perubahan Shofi terlalu cepat, jadi wajar mereka mencurigai Fatih yang sudah meracuni otak Shofi.
Andai saja Shofi cerita mungkin Cherry dan Elsa tak akan berani sekali pun berkomentar. Mereka pasti akan bungkam dengan semuanya.
Shofi hanya tak suka di kasihani hingga sampai sekarang Shofi belum bercerita siapa Fatih sebenarnya.
Sekedar untuk memikirkan Fatih, Shofi akan membuat kedua sahabatnya sibuk mencari tahu siapa dalang penyerangan itu. Karena Shofi yakin, itu ulang Stephen.
Shofi harus tahu dimana bajingan itu bersembunyi.
Shofi tak akan melepaskannya kali ini, Stephen harus mendapat hukuman yang berat lagi.
"Diam, jika tidak aku akan menghukum kalian!"
__ADS_1
Tulis Shofi di selembar kertas membuat Elsa dan Cherry menelan ludahnya kasar. Mereka pikir Shofi sedang fokus nyatanya mata Shofi selalu tajam dalam hal apapun.
Hingga membuat Elsa dan Cherry terdiam kaku ketika melirik Shofi yang menatap tajam mereka karena tak hentinya membicarakan Fatih.
Sampai di mana dosen sudah selesai dengan pembahasannya.
Sesudah selesai Fatih langsung beranjak menemui Shofi.
"Kantin!"
Shofi hanya mengangguk saja membuat Fatih tersenyum.
"Kalian teman Shofi?"
"Perkenalkan, saya Fatih!"
Ucap Fatih memperkenalkan diri pada kedua sahabat Shofi.
Elsa dan Cherry terkejut melihat tangan Fatih terulur. Mereka saling tatap karena tak mengerti dengan bahasa yang Fatih gunakan. Setidaknya Fatih menggunakan bahasa Inggris jika ingin mereka faham. Shofi tersenyum melihat kebingungan Fatih dimana uluran tangannya tak di sambut oleh kedua sahabatnya Shofi.
"Mereka tak mengerti bahasa Indonesia,"
Ucap Shofi supaya Fatih tak salah faham. Fatih menghela nafas, Fatih pikir mereka tak menyukai dirinya.
"Stellen Sie sich vor, ich bin Fatih! (Perkenalkan, saya Fatih!)"
Ucap Fatih, mengulang perkenalannya menggunakan bahasa Jerman. Elsa dan Cherry baru mengerti apa yang Fatih katakan.
"Elsa!"
Ucap Elsa menerima uluran tangan Fatih. Sedang Cherry nampak ragu-ragu karena Cherry kurang suka pada Fatih. Walau begitu Cherry juga menghargai karena tak mau Shofi marah padanya.
"Cherry!"
"Fatih,"
Shofi hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Cherry yang terlihat jelas sekali tak menyukai Fatih.
Padahal Cherry orang pertama yang kepo akan Fatih. Tapi, sekarang lihatlah, Cherry bak musuh bagi Fatih.
Walau begitu Shofi santai saja karena tahu, Fatih orang yang cuek. Fatih tak akan peduli dengan sikap Cherry.
Melihat interaksi Fatih dan Shofi membuat Jarvis benar-benar semakin membenci Fatih.
Bagaimana bisa Shofi sehangat itu pada Fatih, yang notabenenya anak baru. Sedang pada dia Shofi tak pernah seperti itu.
Cih ...
Jarvis berdecak kesal, Bagaimana bisa Shofi seperti itu.
Bukankah Shofi dekat dengan Philip dan sekarang dekat dengan anak baru. Sungguh Shofi tak lebih dari wanita jahat yang mempermainkan hati laki-laki.
Kini di pandangan Jarvis Shofi hanya wanita seperti itu.
Sungguh menjijikan, Shofi sama saja seperti wanita di luar sana. Yang tak puas dengan satu laki-laki.
Hati yang patah membuat Jarvis hilang kendali. Apalagi Jarvis masih marah akan ucapan Shofi yang membela Fatih dari pada dirinya. Hingga Jarvis berasumsi dengan asumsi yang tak seharusnya Jarvis pikirkan.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih
__ADS_1