
Ya, di antara Shofi dan Fatih tak ada yang harus di salahkan. Dua-duanya sama-sama saling menyakiti satu sama lain walau mereka tak menginginkan itu.
Namun, keadaan yang memaksa mereka seperti itu. Harus saling egois dengan keadaan masing-masing.
Setelah berbicara dari hati kehati dan Shofi juga sudah menjelaskan semuanya, jika dia tak akan pernah menikah dengan Philip kecuali Fatih pengantin prianya.
"Apapun yang terjadi aku akan tetap menunggu kamu. Berjanjilah untuk selalu hati-hati,"
Ucap Shofi setelah berhasil menguasai emosinya.
"Benarkah!"
"Apa kamu meragukan aku!"
Fatih langsung menggeleng cepat ia merasa lega sekarang jika Shofi sudah berbicara seperti itu.
"Tak ada yang bisa aku lakukan lima tahun terakhir ini dengan menanti kamu. Menanti di mana rindu ini usai. Rindu yang entah sejak kapan bersarang di hatiku. Mungkin aku bukan tipikal orang yang pandai berkata. Tapi, satu yang harus kamu tahu jika aku mencintaimu!"
"Terimakasih sayang, sudah begitu besar mencintaiku. Maaf jika aku selalu menyakitimu dengan ingatanku. Begitu banyak fazel-fazel yang bermunculan di ingatanku. Namun, aku belum bisa mengingat dengan jelas siapa orang yang ada di sana. Tapi, hatiku selalu nyaman jika dekat dengan kamu!"
"Jangan terlalu di paksa, aku takut kamu terluka!"
Lilir Shofi sendu, masih ingat dengan jelas bagaimana dokter menjelaskan tentang keadaan Fatih. Itu sangat menyakitkan bagi Fatih jika terus di paksa mengingat.
"Asal kamu tetap di sampingku!"
Shofi mengangguk mantap membuat Fatih tersenyum bahagia. Setidaknya ke salah faham-an di antara mereka sudah usia.
Apalagi Shofi juga menceritakan bagaimana ia mendapat luka di tangannya.
"Lagi-lagi aku alasan kamu terluka!"
Ucap Fatih pelan sambil mengelus tangan Shofi yang di perban.
"Ini bukan salah kamu, aku yang ceroboh tak memerhatikan jalan hingga terjadi seperti ini!"
Shofi tak mau Fatih terus menyalahkan dirinya sendiri akibat luka di tangannya. Karena Shofi tahu, ini bukan salah Fatih namun ada seseorang yang memanfaatkan situasi ini di mana mereka ingin membunuh Shofi.
Shofi sadar akan hal itu, karena tak mungkin di jalan itu tiba-tiba harus ada mobil melaju kencang sedangkan itu masih kawasan universitas Bonn Jerman.
Seperti nya memang benar, Stephen sudah melangkah jauh untuk membunuhnya. Tapi, di mana Shofi harus menemukan kakak tirinya itu.
Shofi tak akan membiarkan Stephen terus berkeliaran bebas di luar sana. Shofi hanya takut Stephen akan menargetkan orang lain dalam menjebaknya. Itulah kenapa Shofi meminta Fatih untuk hati-hati.
Bukan karena takut pada rencana sang kakak karena Shofi tahu. Davit tak akan pernah melakukan sesuatu yang beresiko jika belum mempertimbangkannya. Shofi hanya ingin tahu saja apa alasan Davit melakukan ini semua. Berniat menjauhkan dirinya dan Fatih padahal Davit tahu jika mereka saling mencintai.
Itulah yang belum dapat Shofi pecahkan sampai sekarang karena Shofi tahu Davit terlalu cerdas untuk mengatur strategi.
__ADS_1
Walau marah dan kecewa tapi Shofi tetap masih bisa mengontrol emosinya agar tidak meledak.
Kejadian bertubi-tubi membuat Shofi terlalu rumit untuk berpikir. Karena target sang kakak adalah Fatih dan target Stephen adalah dirinya.
Seolah fokus Shofi buyar ketika Fatih dalam bahaya. Padahal Shofi belum pernah mengalami hal seperti ini. Insting Shofi akan selalu tajam dalam melakukan hal apapun.
Terbukti sampai sekarang Shofi belum bisa melacak di mana Stephen berada. Karena Shofi yakin Davit pasti tahu akan sesuatu.
*Jika kamu ingat! kamu tak akan pernah membiarkan aku terluka sedikitpun. Karena kamu yang sesungguhnya, selalu jadi lindung untukku tanpa aku minta.
Kamu bagai jailangkung yang datang tak di undang pergi tanpa pamit.
Menjadi lindung ternyaman untukku bersembunyi. Setelah itu kamu akan pergi dengan tampang datar seolah tak terjadi apa-apa.
Kapan aku merasakan momen itu lagi, momen yang selalu aku sukai di diri kamu. Menarik tanganku tiba-tiba tanpa permisi untuk membawaku menuju ketenangan.
Hingga aku tak pernah merasa takut jika berada di sampingmu.
Apa hilang ingatan kamu menghilangkan juga semua sikap kamu.
Sikap cuek namun peduli, dingin namun perhatian. Sok jual mahal namun cinta, itulah kamu.
Fatih ku yang kuat bukan lemah!
Jerit batin Shofi sambil menelusup kan kepalanya di dada bidang Fatih. Shofi memeluk erat tubuh Fatih seolah takut Fatih akan pergi.
Mungkin, ikatan mereka terlalu kuat walau masih terhalang ingatan. Hingga Fatih sendiri bingung dengan dirinya sendiri.
Maafkan aku yang belum mengingat siapa dirimu sepenuhnya.
Aku memang jatuh cinta padamu namun benar kata kamu. Cinta yang kumiliki sekarang terasa asing kamu rasakan.
Lalu aku harus apa, sedang aku sendiri rapuh dalam keadaan ini. Sakit ini membuatku sekarat. Hingga aku tak tahu lagi apa yang harus aku lakukan.
Sekarang hadirku hanya membuat kamu terluka. Lalu apa yang harus aku lakukan sedang aku tak mau melepas mu.
Aku sudah sangat jatuh cinta pada kamu orang yang aku lupakan di masa lalu.
Maafkan aku, aku janji akan terus berusaha mengingat siapa jati diriku sendiri. Dan siapa kamu di hidupku.
Filosofi Alin Damaresh!
Batin Fatih baru tahu nama lengkap Shofi ketika Fatih berkunjung ke rumah Shofi. Sekarang Fatih mengerti kenapa bisa Shofi satu apartemen dengannya karena apartemen tempat Fatih tinggal adalah apartemen milik keluarga Damaresh.
Yang tak lain yang tak bukan hotel itu milik Shofi sendiri.
Namun, ada yang aneh dan sekarang baru Fatih rasakan.
__ADS_1
Kenapa sang Papa mempersiapkan hotel milik keluarga Damaresh. Bukan hotel-hotel yang lain.
Jika dulu Shofi sangat dekat dengan keluarganya sesuai dengan cerita Shofi lalu kenapa dulu tak ada satupun keluarganya yang membahas tentang Shofi. Dan, sekarang sang Papa seolah sedang mendekatkan kembali Shofi dan dirinya.
Fatih yakin, pasti ada sesuatu yang keluarganya sembunyikan.
Bukankah ini bukan sebuah kebetulan yang tak sengaja tapi sepertinya di sengaja.
Seperti nya Fatih juga harus mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Sayang,"
"Hm,"
"Bolehkan aku tanya sesuatu?"
"Apa!"
"Apa kamu mengenal Moreo?"
"Iya, aku mengenalnya. Moreo sahabat kamu, apa kamu melupakannya juga?!"
"Hm,"
"Dulu kamu selalu kemana-mana empat orang. Moreo, Raja, Rangga dan kamu sendiri. Kalian bukan hanya sahabat tapi sudah seperti saudara sendiri. Persahabatan kalian begitu sempurna satu sama lainnya. Begitupun dengan aku, Amira dan Bunga!"
"Aku sangat merindukan mereka, entah bagaimana kabar Amira dan Bunga sekarang. Aku sahabat yang buruk bisa melupakan mereka ..,"
"Bahkan aku tak tahu, apa Bunga sudah punya anak atau belum bersama Raja. Dan, Amira entah lah ..,"
Ucap Shofi sendu mengingat mereka semua. Shofi bukan tak mau bertanya pada Fatih, Shofi hanya takut Fatih juga melupakan sahabatnya yang lain sama seperti Fatih melupakan dirinya.
"Kak Amira baik-baik saja tapi aku tak ingat orang-orang yang kamu sebutkan tadi!"
Jujur Fatih karena memang Fatih tak mengingat orang-orang yang Shofi sebutkan tadi. Yang Fatih ingat hanya Amira dan Moreo, itupun tidak seperti yang Shofi ceritakan.
Shofi mengigit bibir bawahnya, ternyata bukan tentang ia yang terlupakan. Semua sahabatnya juga terlupakan oleh Fatih. Sungguh malang nasib Fatih, pasti Fatih sangat tersiksa akan hal itu.
"Jika kamu tak mengingat mereka, kenapa bisa tahu Moreo?"
"Dia orang jahat yang ingin mencelakai Aurora!"
Deg ...
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ....
__ADS_1