
Keadaan Fatih semakin memburuk apalagi dari kemaren tidak ada asupan makanan yang masuk kedalam mulut Fatih.
Bahkan Shofi yang membawa motor Fatih kembali ke apartemen. Shofi takut terjadi sesuatu pada Fatih.
Dengan hati-hati Shofi memapah Fatih, dua sekuriti yang melihat bos mereka membawa Fatih langsung mendekat membantu.
Sampai dua sekuriti membaringkan Fatih di kamar Shofi.
"Terimakasih!"
Ucap Shofi pada dua sekuriti yang sudah membantu ia membawa Fatih.
"Jangan pergi!"
Gumam Fatih dengan mata terpejam membuat Shofi tak kuat melihat keadaan Fatih.
Shofi ingin membawa Fatih ke rumah sakit langsung namun Fatih menolaknya.
"Aku di sini aku tak akan pergi kemana-mana,"
Ucap Shofi gemetar, Shofi membuka sepatu Fatih seketika mata Shofi membulat melihat telapak kaki Fatih yang memerah dan sedikit bengkak.
Karena memang Fatih tak menggunakan. kaus kaki akibat terlalu terburu-buru tadi.
Suhu tubuh Fatih sangat tinggi membuat Shofi tak bisa membendung kesedihannya lagi.
Dengan cepat Shofi menyiapkan air ke dalam wadah sedang guna mengompres Fatih. Dengan telaten Shofi mengompres Fatih namun Fatih tidak bisa diam. Kepalanya terus bergerak ke kanan dan ke kiri membuat kompres yang di buat Shofi terjatuh.
"Philo ... Philo ...,"
Fatih terus saja memanggil nama Shofi dengan bibir gemetar. Shofi tak bisa lagi membendung ke sedihannya melihat keadaan Fatih seperti ini.
"Ak-aku di sini!"
Isak Shofi tertahan sambil mengelus pipi Fatih.
Fatih langsung memegang tangan Shofi lalu membawanya kedalam pelukan dia dengan sangat erat bahkan sampai Shofi terhuyung hampir menindih tubuh Fatih jika Shofi tidak menahannya dengan satu tangannya lagi.
Karena tak tega melihat Fatih seperti ini Shofi membaringkan tubuhnya perlahan lalu menarik Fatih kedalam pelukannya.
Fatih langsung memeluk erat tubuh Shofi membuat Shofi bisa merasakan hawa panas dari tubuh Fatih.
"Tenanglah, aku di sini aku tak akan ke mana-mana!"
Ucap Shofi semakin mengeratkan pelukannya sampai Fatih tenang dan tak menyebut-nyebut nama nya lagi.
"Apa yang sebenarnya terjadi dengan mu, kenapa kaki kamu bengkak,"
Gumam Shofi ketika Fatih sudah tidur dalam pelukannya bak anak kecil yang menyusup pada ibunya.
Shofi mengelus-elus rambut hitam Fatih sampai Fatih benar-benar tenang dalam tidur nya.
Merasa Fatih sudah tertidur pulas perlahan Shofi melepaskan pelukannya dengan hati-hati takut membuat Fatih terbangun lagi.
Shofi bernafas lega ketika Fatih tidak terusik berarti Fatih benar-benar sudah damai di alam mimpinya. Shofi melanjutkan mengompres Fatih kembali dan mengelap wajah, tubuh dan kaki Fatih supaya Fatih semakin nyaman.
Sudah selesai Shofi memilih membersihkan diri karena merasa gerah apalagi dari kemaren Shofi memang belum mandi bahkan Shofi semalaman tertidur di makan kedua orang tuanya.
Tak ada rasa takut di diri Shofi apalagi pemakaman Jerman aman tidak terlihat menyeramkan apalagi pemakamannya berjejer rapi dan bersih.
.
Perlahan mata Fatih mengerjap-enjap pertanda jika Fatih sebentar lagi bangun.
__ADS_1
Awas ...
Fatih meringis memegang kepalanya yang terasa berat. Fatih mengerutkan kening ketika di keningnya ada kompres-an.
"Philo,"
Panggil Fatih terkejut tak mendapati Shofi di sampingnya. Fatih langsung beranjak dengan rasa paniknya.
"Philo ... Philo!!!"
Panggil Fatih semakin panik karena tak mendapati Shofi di kamar begitu kamar mandi dan balkon.
Fatih berlari keluar guna mencari Shofi tergambar jelas ketakutan di wajah Fatih.
"Philo ... Philo .., Philo!!"
Teriak Fatih keras membuat Shofi terkejut mendengar teriakan Fatih.
"Fatih!"
Deg ...
Fatih langsung berbalik dengan nafas memburu berlari kearah Shofi yang sedang berada di dapur.
Grep ...
Fatih memeluk Shofi erat seolah takut Shofi pergi membuat Shofi terkejut dengan apa yang Fatih lakukan bahkan sendok yang sedang Shofi pegang langsung terjatuh.
"Ak-aku pikir ka-kam--"
"Aku di sini tenanglah, aku di sini!"
Potong Shofi cepat baru sadar dengan apa yang terjadi pada Fatih. Shofi mengelus-elus punggung lebar Fatih berharap Fatih akan tenang.
Ucap Shofi lembut sambil melerai pelukannya walau sebenarnya Fatih enggan melepaskan.
"Duduk lah,"
Shofi mengiring Fatih duduk di kursi meja makan. Lalu Shofi menyiapkan bubur yang tadi sempat ia tertunda menuangkannya ke dalam mangkok.
Shofi duduk di samping Fatih lalu mengaduk-aduk bubur sambil meniupnya supaya tidak terlalu panas.
Aaaa ...
Shofi menyodorkan suapan pertama pada Fatih dengan ragu Fatih menerimanya.
"Kamu harus makan supaya cepat sembuh!"
Ucap Shofi sambil memberikan suapan keduanya baru dengan lahap Fatih menerimanya.
Shofi tersenyum ketika Fatih mau makan dan bahkan sekarang Fatih malah terlihat kelaparan. Bagaimana tidak kelaparan jika sendari kemaren Fatih belum makan.
"Syukurlah panasnya sedikit menurun, sekarang minum obat ya!"
Shofi menjauhkan punggung tangannya di kening Fatih lalu memberikan Fatih obat penurun panas dan beberapa vitamin supaya tubuh Fatih kuat.
Sudah selesai Shofi kembali ke dapur guna membereskan bekas masak dan mencucinya.
Fatih mengekor Shofi dari belakang membuat Shofi menggelengkan kepala. Fatih bak anak kecil yang takut kehilangan ibunya.
"Duduk saja, ini hanya sebentar kok!"
Ucap Shofi lembut karena merasa lucu Fatih mengekor dia. Fatih hanya menggelengkan kepala saja dengan wajah memelasnya.
__ADS_1
Karena tak tega membuat Fatih menunggu Shofi dengan cepat menyelesaikan pekerjaannya. Lalu membawa Fatih menuju sopa.
"Kenapa?"
Tanya Shofi menautkan kedua alisnya ketika Fatih malah menggeleng.
Huh ...
Shofi menghela nafas pelan lalu menatap Fatih. Kini tatapan Shofi mulai serius, seperti nya ini waktu yang pas Shofi bertanya.
"Sejak kapan?"
"Apa!"
"Sejak kapan kamu mengingatku?"
Jelas Shofi membuat Fatih terdiam seolah sedang mengingat-ingat kapan ia bisa mengingat Shofi dengan jelas.
"Kemaren, ketika aku bangun dari mimpi buruk!"
Shofi menautkan kedua alisnya bingung dengan jawaban Fatih.
"Mimpi itu sangat menyakitkan, di mana kamu pergi meninggalkan aku. Sama seperti kamu meninggalkan aku di Bandara,"
"Aku terbangun dan mendapati kamu tak ada di sampingku. Di sana aku ketakutan takut jika mimpi itu jadi kenyataan sampai aku memaksa bangun guna mencari kamu namun kondisiku sangat lemah sampai aku hampir terjatuh dengan kepalanya yang berdenyut sakit dimana bayangan-bayangan tentang kamu bermunculan bahkan terekam jelas di memoriku hingga aku sadar aku sudah mengingat kamu, Philo ku!"
Mata Shofi berembun mendengar penjelasan Fatih sungguh ini sangat mengharukan. Shofi sangat bahagia jika Fatih benar-benar sudah mengingatnya kembali.
"Maafkan aku yang sudah melupakanmu, aku tahu harimu pasti berat dengan semua ini!"
Hiks ...
Shofi tak bisa membendung kesedihannya lagi. Karena memang benar apa yang di katakan Fatih bahkan bukan hanya berat tapi Shofi hampir sekarat.
Fatih menarik Shofi kedalam pelukannya mencoba menenangkan emosi Shofi.
"Ak-aku sangat merindukan kamu hiks ..,"
"Aku tahu!"
"Aku mencintai kamu,"
"Aku tahu!"
"Terimakasih sudah menepati janji mu untuk selalu menungguku. Terimakasih sudah berjuang mengembalikan ingatanku, maaf jika aku menyakitimu dengan sikapku dulu!"
"Aku tahu di hatimu hanya ada aku seorang dari dulu sampai sekarang. Terimakasih sudah menjadikan aku laki-laki hebat yang membuat kamu setia berada dalam ruang kerinduan!"
"Sekarang aku sudah kembali, maukah kamu memulai hubungan yang dulu sempat tertunda?"
Tanya Fatih sambil menangkup wajah Shofi dengan kedua tangan kokoh Fatih.
Shofi hanya bisa mengangguk saja membuat Fatih tersenyum tipis.
"Kamu memang milikku!"
Cup ...
Fatih mengecup bibir Shofi dengan sangat lembut membuat Shofi refleks memejamkan kedua matanya menikmati setiap sentuhan yang Fatih berikan.
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan, Vote Terimakasih ...
__ADS_1