
Fatih terus menggerutu sepanjang jalan karena sang papa menyuruhnya pulang ke Indonesia hari ini juga. Entah ada apa membuat Fatih harus pulang.
Kenapa harus mendadak seperti ini memberi tahunya.
Fatih merasa bersalah dengan apa yang ia lakukan. Fatih tidak bermaksud mengabaikan panggilan Shofi. Tapi, Fatih hanya sedang terburu-buru karena harus transit. Apa lagi Fatih belum menyiapkan apa-apa untuk pulang.
Fatih terus merutuki kebodohannya, Fatih takut Shofi menganggap dirinya laki-laki pengecut. Sudah mencium Shofi dan kini Fatih pergi seolah Fatih kabur dari masalah.
Apalagi Fatih belum menjelaskan kejadian tadi pagi dengan apa yang telah dia lakukan. Fatih hanya mengikuti nalurinya saja.
Seperti nya Fatih sudah jatuh cinta pada orang yang sama. Terlihat dari wajah Fatih yang gelisah takut Shofi benar-benar salah faham padanya.
Fatih berjanji dia akan menjelaskan ketika sudah kembali.
Bahkan di pesawat pun Fatih tak tenang bahkan tak bisa tidur memikirkan Shofi. Hingga sampai Fatih landing di bandara Soekarno-Hatta tepat dua belas malam.
Para bodyguard yang menjemput Fatih ke bandara tepat dengan Aurora juga sampai di mana Aurora di jemput oleh pak Anwar.
Kedatangan Fatih dan Aurora nampaknya saling berselisih tak jauh waktunya.
Queen dan Farhan tersenyum menyambut kedatangan putra pertamanya dengan sangat bahagia. Apalagi di Jerman Fatih sudah lima bulan lamanya.
"Ada apa Bun, kok kalian belum tidur?"
Tanya Fatih ketika baru duduk di atas sofa, kenapa kedua orang tuanya belum tidur padahal sudah malam.
"Ya, bunda kan kangen sama putra bunda. Bagaimana apa kuliahnya lancar?"
"Alhamdulillah lancar Bun,"
"Syukurlah kalau begitu. Bunda senang mendengarnya,"
"Ngomong-ngomong ada apa sih Bun, pah. Kok mendadak banget suruh kakak pulang?"
"Om Alam akan menikah besok,"
"Menikah, sama siapa? Mendadak begini apa om menghamili anak orang?"
"Wuss, kalau ngomong di jaga. Om Alam akan menikah dengan Amira!"
"Amira!!"
Pekik Fatih terkejut, bagaimana bisa om dan kakak sepupu nya menikah. Mendadak pula, sungguh Fatih tak mengerti.
"Iya, pernikahan mereka hanya sederhana bahkan di adakan nya juga di rumah nenek,"
"Kenapa begitu Bun, kok gak rame?"
"Om Alam lagi kurang sehat, ceritanya panjang nanti kakak juga tahu!"
"Bunda, Papa!!"
Teriak Aurora masuk kedalam rumah karena mendengar dari pak Anwar jika kedua orang tuanya belum tidur mereka sengaja menunggu kedatangannya.
"Jangan teriak-teriak sudah malam!"
Tegur Queen pada anak perempuan nya.
"Kangen!"
Rengek Aurora memeluk erat Queen membuat Fatih mendengus kesal.
"Kalau begitu kakak istirahat dulu Bun, pah!"
"Kakak gak peluk adek dulu,"
Rengek Aurora merentangkan kedua tangannya.
__ADS_1
"Males,"
Ketus Fatih langsung pergi ke lantai atas guna mengistirahatkan tubuhnya.
Apalagi perjalanan Jerman-Indonesia membutuhkan waktu empat belas jam lamanya. Wajar saja jika Fatih merasa lelah apalagi semalam dia juga tak bisa tidur.
Fatih berharap hari esok hari Fatih jauh lebih baik lagi.
Akhhh ...
Sial!!!
Gerutu Fatih karena wajah sendu Shofi kenapa tiba-tiba terlintas di kepalanya. Bahkan terlihat jelas wajah memelas Shofi dengan tatapan penuh kecewanya membuat Fatih benar-benar merasa bersalah.
Andai saja bukan pernikahan om Alam mungkin Fatih sudah balik lagi ke Jerman guna meminta maaf pada Shofi.
Tapi, seperti nya Fatih harus menyelesaikan dulu urusannya di Indonesia baru ia bisa balik lagi ke Jerman dan menjelaskan semuanya.
Bahwa Fatih tak berniat untuk tak memberi kejelasan atas perbuatannya pada Shofi. Fatih akan mengaku pada Shofi kalau dia mencintai Shofi.
Namun, Fatih lupa jika ia hilang ingatan dan yang ia cintai adalah orang yang sama.
Entahlah, entah sampai kapan Fatih akan terus melupakan Shofi. Karena jika Fatih jatuh cinta tanpa mengingatnya mungkin itu juga akan menjadi sedikit bumerang bagi mereka. Karena Shofi pasti menganggap bahwa Fatih mengingatnya bukan menganggap Shofi orang yang berbeda.
Kepala Fatih tiba-tiba terasa pusing sekali, bagaimana tidak pusing jika Fatih baru bisa tidur jam setengah empat dan sekarang pagi-pagi buta dia di bangunkan kembali untuk bersiap pergi ke rumah sang nenek di mana acara pernikahan om Alam akan di langsungkan.
Sungguh, seperti nya ini hari berat bagi Fatih. Fatih menghentikan langkahnya ketika tiba-tiba kepalanya terasa pusing.
Apa lagi di bawah, mendengar Aurora berdebat dengan adik bungsunya, Aksara.
Membuat Fatih mengingat sekelebat bayangan di mana Fatih pernah bertengkar dengan Seseorang.
"Kenapa menghindar?"
"Mau kamu apa sih sebenarnya!"
"Ok aku terima, sudah, aku harus pergi!"
"Mau kamu itu apa sih sebenarnya, kamu buli aku terima, jadi budak tak masalah sekarang berteman sudah. Lalu apa lagi?"
"Melihat loe kesal!"
"Bisa gak, bikin aku tenang sehari saja!"
"Gak!"
"Lalu apa gunanya pertemanan!"
"Gue hanya sedang memastikan sesuatu!"
"Apa!"
"Rahasia!"
"Ya sudah!"
"Mau kemana?"
"Kelas!"
"Tunggu!"
"Maaf, atas sikap gue selama ini!"
"Udah aku maafin,"
"Kita berteman?"
__ADS_1
"Iya!"
"Sudah kan tak ada lagi, aku harus pergi!"
Akhh ...
Fatih menjerit sakit ketika bayangan Pertengkaran itu terus berputar. Siapa orang yang berada di sana kenapa ingatan Fatih belum jelas juga.
Fatih mencoba mengingat-ingat siapa orang yang Fatih buat kesal. Kenapa Fatih belum bisa mengingatnya dengan jelas.
Fatih berusaha mengendalikan dirinya sendiri berharap rasa sakit di kepalanya itu menghilang. Jangan sampai kedua orang tuanya malah cemas memikirkan dia.
Fatih berusaha menarik nafas dalam lalu membuangnya perlahan. Berkali-kali Fatih melakukan hal seperti itu berharap sakitnya hilang.
Sudah merasa lebih baik, Fatih baru turun dan melerai perdebatan kedua adiknya.
"Ada apa, pagi-pagi sudah ribut!"
"Kakak,"
Teriak Aksara berhambur kedalam pelukan Fatih.
Aksara memang lebih dekat dengan Fatih ketimbang Aurora. Karena Aurora selalu tak mau di dekati.
"Kak Rora, pelit. Aska kan mau roti Kak Rora,"
Adu Aksara membuat Fatih tersenyum. Bagaimana Aurora tidak marah jika Aksara tingkahnya sama seperti Fatih selalu mengambil bagian orang lain.
"Kan sudah ada bagian Dede, kenapa harus mengambil punya kak Rora?"
"Punya kak Rora kan beda, lebih enak!"
Queen hanya menggelengkan kepala saja mendengar ocehan putra bungsunya. Mana ada lebih enak, perasaan semaunya sama.
Emang Askara sama persis seperti Fatih selalu menggangu sarapan Aurora dari dulu. Ketika Fatih tidak ada maka akan ada Askara.
"Sudah, mending makan punya kakak saja,"
"Gak mau, pengen punya Kak Rora!"
Rengek Aksara dengan wajah memelasnya bahkan matanya berkaca-kaca.
Huh ...
Aurora menghela nafas kasar adiknya sungguh benar-benar membuat darah tinggi. Selalu saja pintar mengambil simpatik orang.
Mana tega jika sudah begitu, Aurora tak sekejam itu.
"Ya sudah, nih kakak bagi!"
Cetus Aurora membuat Aksara tersenyum penuh kemenangan.
Baru mereka sebelum berangkat sarapan dengan tenang. Tak, ada keributan lagi membuat Fatih sedikit lega.
Sesudah sarapan semuanya baru berangkat menuju rumah nenek Dinda di mana acara pernikahan om Alam akan di laksanakan.
Tidak banyak mengundang orang, hanya keluarga dan kerabat dekat saja.
Fatih berharap acara ini cepat selesai dan bertemu hari esok di mana Fatih kembali lagi ke Jerman.
Tunggu aku phi--
Deg ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1