Fatih (Rindu Yang Belum Usai)

Fatih (Rindu Yang Belum Usai)
Bab 59 Keterpurukan Shofi 2


__ADS_3

Berkali-kali Shofi menghubungi Fatih namun sampai sekarang belum ada tanda-tanda nomor Fatih aktif. Entah kemana perginya Fatih kenapa menghilang tanpa jejak.


Yang lebih aneh lagi Shofi melihat dari cctv Fatih mengejar dirinya dan menghilang di balik tembok. Membuat Shofi merasa ada yang janggal seolah cctv sudah di sabotase.


Shofi yakin menghilangnya Fatih pasti ada campur tangannya Davit atau entah lah Shofi bingung.


Pikiran Shofi rasanya mau pecah saja memikirkan ini semua. Kenapa cobaan silih berganti menghantam Shofi membuat Shofi tak mampu mengatasinya sendiri.


Jika sekarang hilangnya Fatih ada campur tangan Davit Shofi bersumpah tak akan pernah memaafkan Davit sampai kapanpun.


Kenapa di balik kejadian semuanya harus Davit yang jadi dalang semuanya kenapa bukan Stephen saja.


Kenapa?


Sungguh Shofi tak habis pikir dengan semuanya.


Ingin sekali Shofi menangis meraung-raung meluapkan segala emosi, kesesakan di dadanya.


Andai saja Shofi tak memikirkan Elsa yang sedang butuh dirinya mungkin Shofi sedang menghilang untuk sekedar menenangkan hati dan pikirannya.


Di depan Elsa Shofi berusaha tetap tersenyum karena tak mau membuat Elsa semakin terpuruk. Karena tetap Shofi menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian itu semua.


"Kamu harus makan yang banyak El, Philip butuh kamu. Kamu harus kuat ya!"


Shofi berusaha menghibur Elsa walau dirinya sendiri sedang kacau.


Itulah Shofi yang selalu menyembunyikan di setiap keluh kesahnya. Menanggung sendiri tanpa berbagi dengan orang lain.


"Aku ingin bertemu Philip,"


"Ok, tapi kamu makan dulu ya!"


Elsa hanya mengangguk sama membuat Shofi tersenyum dalam kepura-puraan rasa sakit yang ia rasakan.


Dengan telaten Shofi menyuapi Elsa makan sampai minum obat.


Sebenarnya Elsa gadis kuat namun keadaan Philip membuat Elsa drop seperti ini. Hingga Elsa belum cukup kuat berjalan menuju ruang Philip harus di bantu kursi roda.


Shofi yang mengurus semuanya tanpa peduli dengan dirinya sendiri yang belum makan dari semalam.


Para bodyguard langsung menyingkir melihat nona muda mereka mendorong Elsa masuk ke dalam ruang rawat Philip.


"Aku tahu kamu butuh ruang dan waktu!"


Ucap Shofi tersenyum langsung keluar meninggalkan Elsa sendirian.


"Jaga Elsa, dan jangan ganggu dia di dalam!"


Tegas Shofi membuat para bodyguard hanya mengangguk saja.


Setelah menitipkan Elsa pada para bodyguard Shofi memutuskan pulang ke mansion utama guna memastikan sesuatu.


Sebelum itu Shofi kembali berusaha meretas cctv rumah sakit yang sudah di sabotase. Shofi yakin ada kejanggalan di dalam cctv yang di berikan pihak rumah sakit.


Mata Shofi begitu fokus menatap layar laptop nya. Mata Shofi menajam ketika melihat Fatih keluar dari mobil terburu-buru lalu berlari mengejar dirinya. Dan tiba-tiba Fatih menghilang begitu saja. Berkali-kali Shofi memutar ulang rekaman itu sampai kening Shofi mengerut.


Shofi memperbesar layar laptop ketika melihat dengan teliti ada sebuah mobil keluar dari pantulan kaca mobil lain. Shofi semakin men-zoom guna memperjelas mobil siapa itu.


Deg ...

__ADS_1


Kedua mata Shofi membulat sempurna mengetahui kenyataan yang ada. Tangan Shofi mengepal kuat dengan setetes air mata yang keluar membanjiri pipinya.


Dengan kasar Shofi menghapus air matanya lalu sepuluh jari Shofi dengan lihainya menari di atas keyboard memasukan beberapa kode khusus untuk bisa meretas kembali cctv bagian itu. Shofi hanya ingin memperjelas saja.


Lama Shofi berkutat dengan laptop nya dengan hati yang berdebar dan kedua mata yang mulai berkaca-kaca.


Deg ...


Shofi diam membisu melihat rekaman cctv yang sudah berhasil Shofi kembalikan. Dada Shofi sungguh sangat sesak sekali melihat semua itu.


Brak ...


Dengan kasar Shofi menutup layar laptop lalu menyimpan di kursi sebelah kemudi.


Brum ...


Shofi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi dengan dada bergemuruh hebat.


Mata Shofi memerah dengan tangan yang mencengkram erat stir mobil. Sungguh otak Shofi sudah tak bisa di ajak berpikir jernih. Dada Shofi sangat sesak dan sakit sekali mengingat bagaimana cctv memperlihatkan Fatih sengaja di tabrak oleh body belakang mobil milik Lucky seolah-olah itu hanya sebuah kecelakaan bukan di sengaja.


Yang membuat Shofi semakin sakit lagi ketika Fatih langsung tak sadarkan diri dengan ponsel yang tergeletak retak di samping Fatih.


Pantas saja Fatih hilang tanpa jejak semua ini karena ulah sang kakak. Kenapa harus Davit yang menjadi alasan kehancuran hati Shofi kenapa.


Kenapa harus Davit, kenapa Davit tega melakukan ini semua. Melakukan hal yang menyakiti hati Shofi.


Dulu Davit adalah pelindungnya tapi kenapa sekarang Davit jadi alasan kesakitan hatinya.


Citt ...


Shofi menghentikan mobilnya tepat di depan mansion Damaresh. Shofi keluar buru-buru bahkan sampai membanting pintu mobilnya.


Shofi langsung masuk ke dalam dengan amarah yang menggebu.


"Aunty,"


Deg ...


Shofi menahan nafas mendengar suara Richard memanggilnya. Dengan susah payah Shofi mengatur nafasnya agar tidak melampiaskannya pada Richard.


Shofi berusaha tersenyum sambil berbalik menyambut Ricard ke dalam pelukannya.


"Aunty kemana saja, Richard kangen!"


"Maafkan aunty ya, aunty banyak sekali pekerjaan,"


Ucap Shofi berusaha bersikap biasa saja di depan Richard.


"Aunty janji, jika urusan aunty selesai aunty akan bawa Richard jalan-jalan,"


"Janji!"


"Iya, sekarang aunty mau ketemu Daddy. Apa Richard tahu Daddy di mana?"


"Di ruang kerja!"


"Ya sudah, aunty mau bertemu Daddy dulu ya!"


Shofi mengisyaratkan pada pengasuh Richard untuk segera membawa Richard pergi ke ruang mainnya.

__ADS_1


"Aunty!"


Panggil Richard lagi membuat Shofi menghembuskan nafasnya.


"Kenapa ada Poto aunty di ponsel belajar Richard,"


Shofi menautkan kedua alisnya bingung mendengar ucapan Richard. Karena setahu Shofi ponsel belajar Richard tak bisa untuk berfoto-foto. Bagaimana bisa ada Poto dirinya di sana.


"Richard!"


Deg ...


Davit terkejut mendapati Shofi bersama Richard.


Tangan Shofi gemetar mengambil ponsel yang sedang di pegang Richard. Ponsel yang sangat Shofi kenal siapa pemilik ponsel itu.


Bagaimana bisa ponsel ini berada di tangan Richard.


Shofi menatap Davit dengan mata memerah, bahkan mata bening samudra itu kembali mulai berkaca-kaca.


Davit tak menyangka jika ini adalah akhir dari semuanya. Davit mengibaskan tangannya mengisyaratkan pada pengasuh untuk membawa Richard pergi.


"Kenapa, Kak?"


Tanya Shofi gemetar menatap kecewa pada sang kakak. Kakak yang selalu ia banggakan ternyata dalang kesakitan Shofi selama ini.


Bagaimana bisa Shofi tidak tahu jika ponsel dirinya yang dulu hilang ternyata karena ulah sang kakak.


Kenapa?


Jerit Shofi dengan lelehan air mata yang membasahi pipinya. Hancur sudah hati Shofi mengetahui pakta baru.


"Apa kakak sudah puas!"


"Lima tahun kakak menyembunyikan ini semua dan menghapus koneksi dengan mereka,"


"Kenapa?"


Hiks ...


Sungguh Shofi sudah tak sanggup lagi untuk marah-marah meluapkan segala emosinya. Mungkin hati Shofi sudah teramat sakit untuk sekedar di jabarkan.


"Apa kakak juga benar-benar menyuruh orang membunuh Fatih!"


"Kau tak lebih dari Stephen, kalian sama saja!"


Duarr ...


Davit terkejut melihat tatapan kecewa, marah dan sedih Shofi. Kenapa harus sekarang Shofi tahu di saat Davit belum menjelaskan apa-apa.


"Selamat, kakak sudah berhasil menghancurkan hati ku!"


Shofi pergi begitu saja tanpa menunggu Davit bicara. Shofi menggenggam erat ponsel dia dulu yang sempat hilang. Nyatanya Davit yang menyimpan semua ini. Kenapa Shofi tak pernah merasa curiga dengan semuanya.


Namun, apa alasan Davit menghancurkan hati Shofi sedemikian besar. Bahkan sampai bertahun-tahun lamanya.


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1


__ADS_2