Fatih (Rindu Yang Belum Usai)

Fatih (Rindu Yang Belum Usai)
Bab 16 Kemarahan Shofi


__ADS_3

Shofi dan Philip baru saja selesai melakukan pertemuan. Begitu banyak pekerjaan yang harus mereka bahas sampai selesai malam.


Shofi menjatuhkan bokongnya di kursi kebesarannya. Rasanya hari ini cukup melelahkan bagi Shofi.


Sudah sedikit tenang, Shofi menghidupkan kembali ponselnya. Karena memang, kalau sedang meeting ponsel Shofi akan mati.


Beberapa pesan dan panggilan masuk dari Cherry, Angel dan Davit.


Shofi membuka satu persatu chat dari mereka dimana Davit menyuruhnya pulang ke mansion bukan ke apartemen. Begitupun dengan Angel.


Terakhir Shofi membuka chat dari Cherry seketika mata Shofi membulat sempurna melihat Poto yang di kirim Cherry. Bahkan di grup juga ada, bukan hanya Poto tapi juga Vidio di mana memperlihatkan Jarvis memukul Fatih.


Shofi mengepalkan kedua tangannya erat dengan rahang mengeras.


Tanpa bicara Shofi beranjak dari duduknya lalu meninggalkan ruangannya.


Elsa dan Philip terkejut melihat tiba-tiba Shofi keluar dari ruangannya dengan raut wajah keras. Terlihat jelas sekali Shofi menahan amarahnya.


"Selesai ini, biar saya yang mengejar nona!"


Ucap Philip cepat sambil menyerahkan berkas pada Elsa. Philip langsung berlari mengejar Shofi yang sedang di kuasai amarah. Philip harus bisa menghentikannya jangan sampai Shofi kenapa-kenapa.


Sial!


Philip langsung berlari menggunakan tangga darurat ketika pintu lift sudah tertutup. Philip berharap ia bisa mengejar Shofi.


"Nona tunggu!"


Teriak Philip menghalangi jalan laju mobil Shofi.


"Minggir!"


Bentak Shofi menatap tajam pada Philip namun Philip menggeleng kuat. Bahkan saking kesalnya Shofi berkali-kali menekan klakson supaya Philip menyingkir. Namun, Philip masih kekeh pada pendirian nya Philip tak akan pernah membiarkan nona mudanya pergi dalam keadaan marah.


"Nona, biarkan saya yang antar, tolong?"


Pinta Philip memohon supaya Shofi mengizinkan.


"Minggir, Philip!!"


"Tidak, saya mohon non?"


Philip terus memohon agar Shofi tak bertindak gegabah.


Philip terkejut melihat nona mudanya marah karena tak biasanya nona mudanya semarah ini. Entah apa yang terjadi, sampai nona muda seperti itu.


"Biar saya yang menyetir!"


Mohon Philip sekali lagi membuat Shofi menghela nafas kasar.


Shofi langsung pindah ke kursi samping kemudi dan membiarkan Philip membawa mobil.


Philip menghela nafas lega karena nona mudanya masih bisa tenang. Sungguh, Philip sudah di buat jantungan.


"Apartemen!"


Tanpa banyak bicara lagi Philip langsung melajukan mobilnya menuju apartemen.


Entah ada apa, kenapa nona mudanya memilih pergi ke apartemen. Apa nona mudanya sedang berantem dengan tuan Davit hingga nona mudanya sekarang lebih sering pulang ke apartemen. Atau apa, Philip tak mengerti.


Melihat raut wajah marah Shofi saja sudah membuat Philip sulit bertanya karena tak mau jika ia yang kena semprot.


"Cepat!"

__ADS_1


Cetus Shofi membuat Philip sedikit menambah kecepatan hingga sampailah Shofi di sebuah hotel.


"Jangan ikuti aku!"


Perintah Shofi langsung keluar tanpa menunggu Philip membukakan pintu.


Shofi langsung bergegas masuk lif menuju lantai lima belas di mana apartemen yang Shofi tuju.


Philip yang masih ada di loby merasa ragu antara mengikuti atau tidak.


Ting ...


Pintu lift terbuka membuat Shofi langsung keluar dengan tangan mengepal erat. Bahkan suara langkah kaki Shofi begitu nyaring terdengar.


Tok .. tok ..


Shofi mengetuk pintu dengan tak sabaran. Namun, belum juga ada yang menyahut. Tapi, Shofi tak menyerah begitu saja. Ia terus mengetuk pintu bahkan sampai beberapa orang yang lewat menatap aneh.


Cklek ...


Pintu di buka, namun Shofi langsung mendorongnya hingga membuat orang yang membuka pintu terkejut.


Bagaimana bisa Shofi tahu unit apartemen nya.


"Jelaskan!"


Ucap Shofi to the point memperlihatkan layar ponselnya.


Jarvis yang masih terkejut oleh kedatangan Shofi yang terlihat marah kini mengerti. Ternyata karena masalah di kampus, sialnya siapa orang yang berani memfoto dan mem-vidio nya.


"Ak-aku hanya tak suka kamu dekat dengannya. Bagaimana jika anak baru itu ada niat jahat padamu, gelagatnya mencurigakan. Jadi aku hanya memberi sedikit pelajaran!"


Ucap Jarvis bohong, padahal Jarvis menyuruh Fatih menjauhi Shofi.


"Aku peringatkan, jangan usik Fatih, jika itu terjadi maka kamu berhadapan denganku!"


"Satu lagi, seperti nya pertemanan kita cukup sampai di sini!"


Deg ...


Jarvis terkejut akan apa yang Shofi ucapkan. Bahkan Jarvis terlihat aneh melihat begitu marahnya Shofi pada dia. Apa istimewa nya Fatih di banding dia, dan kenapa Shofi sebegitu membelanya bahkan berani membentaknya.


"Shof, ak-aku tidak bermaksud seperti itu. Ak--"


Hati Jarvis semakin sakit ketika Shofi mundur mengisyaratkan jangan mendekat. Shofi sudah benar-benar terlanjur kecewa dengan Jarvis.


Tak seharusnya Jarvis menyakiti orang yang tak tahu apa-apa. Terlebih itu Fatih yang Jarvis sakiti, orang yang Shofi cintai.


"Cemburu silahkan itu hak mu, tapi jangan bodoh. Aku harap jangan temui ku, jika kamu tak mau aku membencimu!"


Jarvis mengepalkan kedua tangannya erat bahkan rahangnya sampai mengeras. Jarvis menatap nanar kepergian Shofi yang meninggalkan luka untuknya.


Kenapa Shofi tak pernah Meliriknya, apa kurangnya dia. Kenapa harus anak baru, kenapa harus orang lain.


.


Berkali-kali Shofi menghela nafas kasar bahkan terlihat bahu Shofi naik turun pertanda amarah Shofi masih ada.


Philip dengan setia menunggu Shofi, melihat Shofi keluar buru-buru Philip langsung membukakan pintu mobil.


Kini Philip tak mau bertanya ada apa dengan Shofi. Karena Philip sudah tahu kenapa Shofi biasa semarah itu.


Philip tak menyangka, nona mudanya bisa berbuat seperti itu.

__ADS_1


.


Sedang di apartemen Fatih, Fatih masih diam mematung karena rasanya sulit sekali untuk bergerak.


Bahkan membalas pelukan pun suaranya Fatih tak mampu saking terkejutnya.


"Ba-bagaimana bisa tahu aku berada di sini?"


Tanya Fatih ber bata saking terkejutnya melihat adiknya ada di sini.


Ya, yang memeluk Fatih adalah Aurora, adik dari Fatih sendiri.


Lama Fatih terdiam dalam rasa terkejutnya kini Fatih berbalik menatap tajam pada adiknya. Kenapa bisa ada di Jerman dan kenapa tahu juga dimana unit apartemen nya.


"Ya ampun, Dek. Kenapa ada di sini, katakan. Apa papa sama bunda tahu?"


Tanya Fatih menatap tajam sang adik, kenapa bisa terbang ke Jerman. Bukankah sang adik sedang kuliah di Amerika.


"Adek ikut sama uncle Smith, cuma sehari aja libur kak. Please, jangan kasih tahu bunda ya terutama papa!"


Mohon Aurora dengan wajah memelas nya.


Fatih menghela nafas kasar bisa-bisa adiknya malah liburan di saat seperti ini. Sejak kapan adiknya menjadi bolos belajar.


"Kak, jangan kasih tahu ya, please!"


"Gak janji!"


"Ih, kakak kok gitu sih,"


Rengek Aurora bergelayut manja pada lengan kekar Fatih.


"Tunggu-tunggu, bibir kakak kenapa berdarah!"


Pekik Aurora terkejut melihat bibir sang kakak berdarah.


"Biasa laki-laki!"


"Masalah apa, cewe?"


"Mungkin!"


"Masa sih, apa kakak sudah melupakan k--"


Aurora membekam mulutnya ketika hampir saja dia keceplosan. Fatih langsung menatap Aurora intens bahkan sampai memicing membuat Aurora salah tingkah.


"Ah, adek ngantuk. Mau tidur!"


Ucap Aurora sambil menguap berjalan menuju kamar sang kakak.


Fatih terdiam melihat adiknya pergi, Fatih tidak salah dengar. Adiknya berkata melupakan, siapa yang melupakan.


"Aku yakin, Aurora pasti tahu sesuatu!"


Gumam Fatih mengerutkan keningnya bingung. Karena telinga Fatih masih tajam untuk mendengar ucapan Aurora.


Masa sih, apa kakak sudah melupakan k--


Fatih berusaha mengingat masal lalunya lagi sambil menggabungkan ucapan Aurora.


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1


__ADS_2