Fatih (Rindu Yang Belum Usai)

Fatih (Rindu Yang Belum Usai)
Bab 102 F2 (RYT) Santai


__ADS_3

Fatih berusaha bekerja cepat agar dia bisa mewujudkan keinginan sang istri. Dimana Shofi ingin berkunjung ke Indonesia akhir bulan depan.


Bahkan Fatih selalu bekerja lembur guna ingin mewujudkannya.


Bahkan ketika Fatih pulang Shofi pasti sudah tertidur di atas Shopa sambil menunggunya.


Halnya seperti sekarang ini, rasa lelah dan letih seketika hilang ketika melihat wajah teduh sang istri.


Fatih mendekat lalu jongkok tepat di hadapan wajah Shofi.


Cup ...


Fatih mengecup hidung mancung Shofi dengan sangat lembut.


Perlahan mata Shofi terbuka karena merasa terusik dengan apa yang Fatih lakukan.


"Sudah pulang, Dear?"


Ucap Shofi serak sambil menggeliat mengubah posisi tidurnya menyamping. Shofi mencium tangan Fatih lalu memeluknya.


Seperti nya Shofi benar-benar sangat kantuk hingga memejamkan matanya kembali.


Fatih tersenyum melihat istrinya sepertinya benar-benar kelelahan.


Fatih menggendong sang istri hati-hati karena takut membangunkannya.


Di rebahkan Shofi di atas ranjang agar Shofi lebih nyaman tidurnya. Fatih menyelimuti Shofi agar tidur Shofi semakin nyaman.


"Maafkan aku sayang,"


Gumam Fatih merasa bersalah harus membuat istrinya terus menunggu kepulangan dia. Fatih berharap sudah pekerjaan nya selesai dia lebih banyak waktu untuk sang istri.


Sudah membersihkan diri dan mengganti baju Fatih segera beranjak naik ke atas ranjang. Fatih memeluk Shofi tak lupa mencium kening Shofi sebelum benar-benar menyusul Shofi kedalam mimpi.


Tak membutuhkan lama Fatih sudah terlelap. Rasa lelah dan letih membuat Fatih dengan mudah tertidur apalagi sambil memeluk sang istri membuat tidurnya semakin nyaman.


.


Waktu telah berganti seperti biasa Shofi menyiapkan sarapan untuk sarapan mereka.


Shofi tersenyum melihat Fatih keluar kamar dengan pakaian yang sudah rapi.


"Sayang,"


Panggil Fatih sambil memberikan dasi pada sang istri. Shofi tersenyum mengerti apa yang Fatih maksud.


Shofi memakai kan dasi dengan telaten sudah jadi kebiasaan semenjak mereka menikah Shofi yang akan memasangkan dasi untuk Fatih.


Fatih menarik pinggang sang istri agar merapat padanya.


"Tangannya jangan nakal, Dear!"


Tegur Shofi karena Fatih seperti biasa selalu jahil. Tangannya tak bisa diam selalu berkeliaran.


Andai saja tak akan berangkat ke kantor tentu Shofi tak akan masalah.


Cup ...


"Sedikit!"


Elak Fatih sambil mengecup bibir merah Shofi.

__ADS_1


"Sudah, ayo sarapan!"


Ajak Shofi menarik sang suami menuju meja makan.


Bahkan sudah jadi kebiasaan pula Shofi yang akan menyuapi sarapan Fatih.


Kemanjaan Fatih setiap harinya selalu saja terlihat awalnya Shofi terkejut namun lama kelamaan Shofi menikmatinya pula bahkan Shofi sangat menyukainya. Karena Shofi merasa Fatih benar-benar tergantung pada dia.


Makan berdua minum berdua apapun selalu berbagi membuat mereka selalu menciptakan hal-hal romantis.


"Sudah, sana berangkat!"


"Vitamin nya belum!"


Rengek Fatih membuat Shofi terkekeh nyatanya masalah vitamin Fatih tak akan pernah lupa sedikit pun.


Shofi mengecup kening, hidung terakhir bibir Fatih.


"Sudah!"


"Terimakasih sayang!"


Fatih baru bisa berangkat ke kantor dengan perasaan bahagia ketika sudah mendapatkan vitamin dari sang istri.


Karena ada rapat di luar membuat Shofi berangkat siang.


Shofi membereskan kembali bekas sarapan mereka lalu mencucinya kembali.


Sudah selesai baru Shofi bisa bersiap untuk berangkat ke kantor.


Philip sudah standby di loby menunggu nona muda Al-biru turun.


"Jadwal ku hari ini apa?"


"Selesai pertemuan, nona ada kunjungan ke rumah sakit!"


"Hm,"


Shofi terdiam mengingat apa yang terjadi. Pasalnya sampai sekarang Shofi belum memberi tahu Fatih jika Aurora sudah menjadi dokter hebat.


Aurora memang tiba-tiba meminta Shofi untuk tak membicarakan hal itu pada kedua orang tuanya terutama Fatih. Harusnya ketika Shofi menikah Aurora mengumumkan itu tapi entah alasannya Aurora mencegahnya.


Shofi hanya bisa diam saja karena Aurora pun tak memberi tahu dia.


Sebagai kakak ipar tentu Shofi khawatir akan ada sesuatu yang di sembunyikan Aurora. Shofi hanya bisa mendukung Aurora saja apapun yang di lakukan.


Shofi tak tahu jika menjadi dokter itu tak ada dari keturunan Al-biru. Dan Aurora adalah satu-satunya anggota keluarga yang berbeda dan itu di tentang oleh Farhan.


Entah bagaimana bisa Aurora sekarang sudah menjadi dokter ahli bedah sedang di Amerika Farhan memasukan Aurora ke universitas yang berbeda.


"Philip, jaga adik iparku jangan sampai terjadi sesuatu pada dia!"


"Baik nona, saya sudah menempatkan orang untuk menjaganya sesuai perintah nona!"


"Bagus!"


Sebagai anak tunggal tentu Shofi sangat menyayangi Davit sebagai kakak angkatnya begitu juga dengan Aurora sebagai adik iparnya. Shofi tak akan membiarkan hal kecil mengusik Aurora. Shofi harus menjaganya jangan sampai Fatih tahu akan hal itu.


Philip memberhentikan mobilnya tepat di lestoran berbintang lima. Karena mereka mengadakan pertemuan di sana.


Seperti biasa Shofi akan selalu menjadi pusat perhatian bagi siapapun yang melihatnya. Apalagi Shofi satu-satunya keturunan Damaresh.

__ADS_1


"Jaga pandangan anda sebelum saya melepas mata anda dari tempatnya!"


Cetus Philip menatap tajam pada sang asisten klien nya. Philip akan selalu menjadi ganda terdepan bagi Shofi.


Menatap teguran dari Philip membuat sang klien merasa tak enak. Pasalnya ia tahu siapa father yang ia hadapi.


"Maaf atas kelancaran asisten saya,"


Mohon sang klien benar-benar takut jika Philip bertindak lebih yang akan merugikan perusahaan dia.


Siapa yang tak tahu asisten satu ini benar-benar paling di takuti.


Shofi mengangkat tangannya pertanda Philip jangan bicara lagi. Philip diam ketika mendapat isyarat dari sang nona muda.


"Semoga pertemuan kita selanjutnya saya tak melihat beliau!"


Ucap Shofi santai namun sangat menohok di akhir kalimatnya terlihat elegan dengan gaya datarnya.


Shofi berlalu begitu saja karena pembahasan merek sudah selesai.


Philip mengikuti sang nona muda meninggalkan klien nya yang mengepalkan tangan menatap tajam asisten nya.


Shofi tak peduli apa yang di lakukan klien nya pada asisten. Bagi Shofi jangan pernah mengusik dia jika tak ingin di usik.


"Cari tahu orang tadi, jangan sampai meninggalkan dendam!"


"Baik nona!"


Shofi selalu saja bekerja sangat bersih dan rapih karena memang Shofi tak mau meninggalkan kebencian dari generasi ke generasi.


Sudah cukup hidupnya diliputi dendam yang membuat hidup Shofi berantakan.


"Jangan beritahu orang rumah sakit kalau kita akan berkunjung!"


"Itu sudah beres!"


Shofi mengangguk puas dengan kinerja Philip. Philip selalu saja tak mengecewakan dia.


"Oh iya, buatkan agenda untuk Elsa, dia akan ikut dengan ku ke Indonesia!"


"Baik nona!"


Philip tak pernah bertanya ataupun protes. Ia akan menuruti apapun yang di perintahkan Shofi.


Bagi Philip perintah Shofi adalah kehausan baginya.


Shofi tak bicara lagi karena Philip sudah mengerti apa yang ia maksud.


Shofi memang selalu melakukan agenda berkunjung ke rumah sakit tanpa konfirmasi terlebih dahulu karena Shofi ingin tahu bagaimana kinerja orang-orang nya.


Itu sudah menjadi kebiasaan bagi Shofi dan agenda itu selalu berubah-ubah di setiap dua bulan sekali.


Shofi sudah tak sabar sampai ke rumah sakit guna melihat kinerja orang-orang terutama ingin bertemu Aurora.


Bersambung ...


Jangan lupa Like Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...


Pengumuman untuk para reader semuanya!!!


Kisah Raja dan Bunga sudah tayang ya🤭🤭

__ADS_1



Yuk buruan serbu jangan sampai ketinggalan update nya😉


__ADS_2