
Tubuh Shofi membeku ketika sebuah pelukan dia rasakan dari belakang. Pelukan yang begitu erat, pelukan yang Shofi rindukan.
Kenapa ini terasa nyata, apa ini mimpi indah Fatih ada di sini.
Shofi memejamkan kedua matanya menikmati wangi parfum Fatih.
Benarkah ini Fatih apa Fatih sudah sembuh Shofi tak tahu.
"Kenapa menghilang, kamu sudah membuatku sekarat!"
Ketus Fatih sambil membalikan badan Shofi kasar membuat Shofi langsung berbalik dengan mata yang masih terpejam karena Shofi takut ini hanya sebuah mimpi indah yang sewaktu-waktu jadi buruk ketika Shofi membuka kedua matanya.
Duarrr ...
Shofi membulatkan kedua matanya ketika Fatih mengecup bibirnya. Itu bukan sekedar kecupan tapi sebuah ciuman yang sangat dalam dan sedikit kasar. Seolah Fatih ingin menyadarkan Shofi jika ini nyata bukan sekedar mimpi.
"Jangan buat aku takut!"
Lilir Fatih memeluk Shofi erat ketik Fatih melepaskan ciumannya.
Shofi masih saja diam bahkan tak membalas pelukan Fatih. Walau rindu tapi Shofi bisa apa, sedang Shofi sudah memutuskan pergi dari kehidupan Fatih.
Shofi tak mau membuat semua orang terluka karena dirinya walau bukan Shofi yang menginginkan itu.
Apa ini akan jadi akhir dari kisah mereka, pertemuan mereka. Bagaimana bisa apa Shofi sanggup akan hal itu.
"Kamu kemana saja, kenapa meninggalkanku!"
"Maaf!"
Hanya kata itu yang mampu Shofi ucapkan rasanya Shofi sudah tak berdaya lagi.
"Aku harus pergi!"
"Kenapa?"
Bentak Fatih menggoyang tubuh Shofi yang malah menangis. Rasanya Shofi sudah lelah dan tak sanggup lagi jika harus menyakiti Fatih lagi.
"Ak-aku tak mau menyakiti mu!"
"Dengan cara pergi!"
Shofi mengangguk lemah membuat Fatih memejamkan kedua matanya erat dengan tangan mengepal.
"Tolong, lepaskan aku. Aku tak mau menyakiti mu hiks ...,"
"Tapi kamu sudah menyakiti hatiku!"
"Untuk itu biarkan aku pergi agar kamu baik-baik saja. Aku tak mau melihat kamu terus terluka jika berada di sampingku!"
"Maksud kamu apa!"
Bingung Fatih tak mengerti dengan apa yang Shofi pikirkan. Fatih tak merasa jika dia terluka di dekat Shofi. Justru kepergian Shofi yang membuat luka lama basah kembali.
"Apa kamu tahu, kecelakaan yang kamu alami kemaren bukan sebuah kecelakaan biasa tapi di sengaja. Apa kamu tahu siapa yang melakukannya itu Davit, kakak ku yang melakukannya hiks .., aku tak mau kamu terus tersakiti olehnya aku tak sanggup jika melihat kamu terluka hiks ..,"
"Jadi tolong biarkan aku pergi, aku tak mau kalian tersakiti karena ku. Siapa lagi yang akan jadi korban, Philip koma, Elsa drop dan kamu ...,"
"Aku tak mau terjadi sesuatu padamu, please mengerti aku!"
__ADS_1
Isak Shofi tak bisa lagi menahan kesedihan, kesakitan dan kesesakan. Sungguh ini sangat menyakiti bagi Shofi.
Jika kepergian membuat semuanya baik-baik saja apa boleh buat walau Shofi yang harus kesakitan sendiri.
"Aku sangat mencintaimu!"
Lilir Shofi sambil menangkup wajah tampan Fatih.
"Tapi aku tak mau kamu terluka karena aku!"
Sungguh ini sangat menyakitkan sekali. Jika dulu mereka berpisah dengan cara baik-baik dan sekarang mereka harus berpisah dengan cara seperti ini, saling menyakiti satu sama lain.
Kisah mereka tak sesederhana itu untuk bersatu. Masih ada dinding-dinding kokoh yang harus mereka tembus.
"Tapi kepergian mu yang membuat ku terluka buka kecelakaan itu. Sekuat apapun kakak kamu menyakitiku dia tak akan bisa merapuhkan hatiku. Namun kepergianmu yang membuat ku sakit,"
Shofi semakin terisak mendengar ucapan Fatih. Sungguh ini sangat menyakitkan sekali. Bagaimana bisa Shofi membiarkan Fatih terluka karenanya.
Sudah cukup Fatih korban terakhir Shofi tak mau ada korban lagi atau sampai Fatih terluka kembali.
"Please, biarkan aku pergi. Aku sudah lelah dengan semua ini!"
Lilir Shofi menatap sendu Fatih yang terdiam dengan tangan yang mengepal erat sendari tadi.
Cup ...
Shofi mengecup bibir seksi Fatih dengan gemetar. Namun kecupan itu terasa lembut sekali. Walau Fatih tahu bibir Shofi gemetar ketika menciumnya.
"Jangan cari aku!"
Shofi membalikan badan dengan tangis yang kembali pecah bahkan Shofi sampai mengigit punggung tangannya agar isakan itu tak terdengar.
Ini pilihan Shofi maka Shofi harus kuat, jika ini kemauan sang kakak dia meninggalkan Fatih maka akan Shofi lakukan.
Shofi terus berjalan tanpa menoleh kembali. Itulah Shofi, jika sudah melangkah maka ia tak akan pernah mundur kembali walau harus menyakiti atau tersakiti.
Sudah benarkah ini pilihan Shofi tapi kenapa Shofi terlihat tak berdaya.
Fatih menatap nanar punggung Shofi yang terus melangkah maju tanpa peduli dengan dirinya.
Kenapa Shofi selalu egois memutuskan sesuatu dengan sepihak tanpa meminta pendapat Fatih.
Kenapa!
Kenapa Shofi terus menjungkir balikan hatinya dan mengenalkan Fatih dengan rasa sakit dulu.
"Kenapa kau sekejam ini!"
Teriak Fatih membuat Shofi memejamkan kedua matanya namun langkah Shofi terus berjalan.
"Kenapa kau memberiku luka yang sama, kenapa kau hadir jika pada akhirnya kau menyakitiku kembali, kenapa?"
"Kau egois dari dulu kau selalu egois memutuskan sesuatu tanpa memberi tahu ku dulu, kenapa?"
"Tak bisakah kau memikirkan perasaan ku. Ku mohon berhenti!"
"Berhenti ku bilang berhenti brengsek!!!"
Teriak Fatih dengan air mata yang mulai terjatuh membelai pipinya. Sungguh ini sangat menyakiti hati Fatih.
__ADS_1
"Berhenti Philo!!!"
Deg ...
Langkah Shofi terhenti dengan tubuh menegang. Jantung Shofi berdetak hebat mendengar Fatih memanggil nama kesayangannya. Nama yang sudah lima tahun tak terdengar di telinga Shofi.
"Philo ..,"
Shofi semakin membulatkan kedua mata ketika Fatih memanggil nama kesayangannya lagi.
Ini bukan mimpi kan!
Dengan ragu Shofi berbalik berharap apa yang ia dengar itu nyata bukan sekedar halusinasi.
Tes ...
Tes ...
Air mata Shofi semakin deras keluar tetkala melihat Fatih merentangkan kedua tangannya berharap Shofi akan berhambur kedalam pelukannya.
"Apa kamu tak merindukanku si perindu sunset ini!"
Hiks ...
Shofi berlari kembali pada Fatih yang masih berdiri di tempat semula. Suasana yang menyakitkan seolah berganti dengan suasana haru yang tak bisa Shofi tahan lagi.
Benarkah Fatih sudah mengingat panggilan itu panggilan sayang yang Fatih sematkan untuk dirinya.
Shofi berusaha berlari kencang seolah ingin segera berhambur kedalam pelukan Fatih pelukan yang sudah sangat lama Shofi rindukan.
Akankah rindu ini benar-benar akan terbalaskan. Apakah rindu ini akhirnya usai karena sang pemilik rindu sudah kembali.
Jika iya Shofi ingin waktu ini berhenti agar Shofi sejenak bisa merasakan jika memang Fatih sudah mengingatnya.
Bruk ...
Fatih terjatuh karena rasa pusing dan lelah menyiksa tubuhnya. Namun, sebelum terjatuh Shofi sudah lebih dahulu menahannya.
"Fa-fatih ..,"
Lilir Shofi gemetar memeluk erat Fatih sampai tak ada jarak di antara mereka.
"Philo, aku lelah!"
"Hiks ... jangan tinggalkan aku lagi ..,"
Shofi semakin mengeratkan pelukannya tak sanggup mendengar Fatih bicara lagi.
Mereka sama-sama menangis dalam sebuah pelukan yang Shofi rindukan begitupun dengan Fatih.
Entah sejak kapan Fatih mengingat tentang Shofi yang jelas Fatih sekarang meningkatnya bahkan mengingat dengan jelas kisah mereka dulu dan panggilan kesayangan Fatih.
"Jangan tinggalkan aku!"
"Maaf hiks ... maaf!"
"Ak-aku tak akan meninggalkan kamu lagi tak akan!"
Isak Shofi tak sanggup membendung kebahagiaan nya mengetahui fakta jika ingatan Fatih sudah kembali.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih .....