
Hari ini Shofi kembali berencana mendekati Fatih kembali. Namun dengan cara yang kedua. Entah cara apa yang akan Shofi gunakan. Yang pasti Shofi akan meminta yang dulu pernah Fatih pinta.
Shofi berharap Fatih akan sedikit berubah padanya. Shofi berharap Fatih mau memaafkan nya.
Shofi bukan orang yang mudah putus asa dalam hal apapun. Ia akan melakukan apapun demi mencapai keinginannya. Empat tahun sudah Shofi berjuang sampai menjadi seperti ini.
Maka Shofi juga akan melakukan hal yang sama mendapatkan Fatih kembali.
Fatih sudah mencuri hati Shofi secara terang-terangan dulu. Maka, Shofi sekarang akan meminta pertanggung jawaban Fatih karena sudah membuat dia jatuh cinta.
Jika Fatih berpura-pura tak mengingatnya maka Shofi akan perlahan memancing Fatih untuk kembali pada Fatih yang dulu.
"Boleh aku duduk?"
Sapa Shofi pada Fatih yang sedang membaca buku di perpustakaan.
Fatih hanya diam saja malas untuk sekedar menjawab. Dia terlalu malas meladeni wanita gila satu ini. Yang terus mendekatinya, entah kenapa wanita ini selalu mengaku mengenalnya.
Karena tak mendapati jawaban, Shofi berasumsi bahwa Fatih mengijinkannya.
Shofi duduk berhadapan dengan Fatih yang sedang fokus membaca buku. Mata tajamnya tak teralihkan sama sekali.
Fatih semakin matang dengan dengan penampilan yang berbeda. Rambut yang dulu selalu berantakan kini tertata rapih bahkan membuat Fatih semakin berkarisma. Andai saja Fatih sehangat dulu, Shofi mungkin meminta Fatih untuk tak dandan rapih karena di kampus ini selalu saja membicarakan Fatih membuat Shofi panas sendiri.
Namun, Shofi bisa apa. Dia hanya bisa diam menahan kecemburuan itu.
"Bo-bolehkah saya bertanya sesuatu?"
Tanya Shofi hati-hati takut Fatih malah pergi seperti yang sudah-sudah.
Fatih tak peduli, ia terus saja fokus membaca buku. Bagi Fatih membaca buku hal penting dari pada sekedar meladeni wanita gila di depannya.
Fatih sudah pusing karena hidupnya terus di kejar-kejar Shofi terus. Entah siapa nama gadis ini Fatih juga tak peduli.
"Fa-fa--"
"Jangan sebut nama saya!"
Ketus Fatih mulai membuka mulut. Fatih tak suka namanya di panggil oleh orang yang tak dia kenal. bagi Fatih Shofi hanya orang gila yang berusaha bersikap sok kenal sok dekat.
Padahal mereka baru bertemu dan Shofi sudah mengusik dia selama sebulan ini.
Namun, Fatih terus bersikap cuek bebek tak mau meladeni Shofi. Bagi Fatih, jika dia meladeni maka dia juga akan ikut-ikutan gila.
"Maaf,"
Sesal Shofi karena bingung harus memanggil Fatih apa. Masa Shofi harus memanggil Fatih kamu, panggilan yang terlalu akrab.
"Emmz, terus saya harus panggil apa?"
"Terserah!"
Shofi menghela nafas berat, Fatih selama sebulan ini selalu begitu membuat Shofi benar-benar teruji kesabarannya.
Bagi, Shofi Fatih semakin menggila mengerjainya.
__ADS_1
"Baiklah, tuan bolehkah saya bertanya?"
"Saya bukan tuan, you!"
Sekali lagi Shofi menghela nafas berat, bingung harus mencari panggilan apa lagi.
"Ok .. ok .. saya akan langsung saja!"
Putus Shofi karena kesal sendiri seolah Fatih sedang mengerjainya.
"Apa mengenal saya?"
Tanya Shofi menunjuk Fatih lalu menunjuk dirinya. Seolah Shofi bertanya apa Fatih benar tak mengenalinya.
"No!"
"Sama sekali!"
"No,"
"Apa ini sebuah kebohongan!"
"No!"
Tekan Fatih karena Shofi sepertinya tak mengerti bahasanya.
"Di masa lalu?"
Deg ...
Kini Fatih terdiam karena dia juga tak mengingat bagaimana masa lalunya. Waktu dia zaman sekolah pun Fatih belum mengingatnya bagaimana Fatih akan mengingat wanita di depannya yang selalu memaksa dia.
"Saya tak punya masa lalu bersama anda. Sudah saya harus pergi!"
Ucap Fatih tiba-tiba seperti terburu-buru membuat Shofi langsung mencengkal lengannya.
Sontak, Fatih menatap tajam lengannya yang di pegang Shofi. Fatih paling tak suka orang lain sembarang memegang lengannya.
"Maaf,"
"Baiklah, jika kamu tak mengenal ku tak apa. Tapi, bolehkah aku sekali lagi mengenal kamu!"
Ucap Shofi lembut seolah Shofi sudah tak bisa lagi menekan Fatih.
Fatih bukannya menjawab, dia langsung pergi begitu saja membuat Shofi benar-benar kecewa. Apa Fatih benar-benar tak mau berhubungan lagi dengannya. Bagaimana bisa Fatih berhubungan lagi sedang Fatih sendiri yang memasang benteng Koko agar Shofi tak bisa menembusnya.
Apa separah itu Shofi meninggalkan luka sehingga membuat Fatih tak mau mengenalnya lagi.
"Apa kamu benar-benar telah melupakan ku!"
Lilir Shofi menatap sendu kepergian Fatih yang begitu cepat. Seolah Fatih benar-benar tak suka di dekatnya.
Elsa dan Cherry menatap aneh pada Shofi. Bagaimana bisa sahabat dingin mereka berubah seperti itu.
Sejak kedatangan Fatih ke sini Shofi bersikap aneh. Bahkan secara terang-terangan mendekati Fatih. Seolah itu bukan diri Shofi. Shofi yang mereka kenal tak pernah berbuat se konyol itu.
__ADS_1
Shofi selalu di kejar bukan mengejar orang lain dan bahkan Fatih hanya anak baru.
Entah ada daya tarik apa sehingga Fatih bisa membuat Shofi bertingkah aneh.
Tak ada yang tahu masalah mereka karena Shofi sendiri yang tahu.
Shofi menjatuhkan kembali bokongnya di atas kursi. Dengan perasaan campur aduk.
Terlihat jelas kesedihan di mata Shofi. Melihat bagaimana cara Fatih memandangnya.
Tatapan itu terlalu dingin hingga Shofi tak bisa mencairkannya.
Sesakit inikah terlupakan oleh orang yang kita cintai. Sungguh dada Shofi terasa sesak untuk sekedar mengucap kata rindu.
Rindu itu belum juga usai sebab pemilik rindu itu sendiri yang memilih pergi. Memilih melupakannya, lantas Shofi harus bagaimana dengan rindu yang terus membelenggunya. Rasanya rindu itu semakin sakit dengan bagaimana cara Fatih memandangnya.
Tak ada cinta, tak ada kerinduan. Hanya kedinginan yang Shofi lihat dari tatapan Fatih sebelum pergi.
Padahal, Shofi tak tahu, Fatih pergi kali ini bukan untuk menghindar lagi. Tapi, kepala Fatih tiba-tiba terasa pusing.
Ucapan Shofi membuat Fatih seolah tak asing dengan kata-kata itu.
Masa lalu!
Apa benar Shofi pernah berada di masa lalunya. Bagaimana bisa, bahkan tak ada satupun orang yang mengingatkan Fatih akan teman atau sahabat perempuan.
Apa Fatih harus mencari tahu, bagaimana masa lalunya. Namun, mencari tahu dari siapa. Bahkan keluarga jika Fatih bertanya tentang masa sekolahnya mereka selalu punya jawaban alasan untuk mengalihkan pembicaraan.
Pada siapa Fatih harus bertanya, sedang semua orang seolah kompak menyembunyikannya dari dia.
Baiklah, jika kamu tak mengenal ku tak apa. Tapi, bolehkah aku sekali lagi mengenal kamu!
Akhh ...
Fatih menggeram sakit, sambil memegang kepalanya. Ketika mengingat ucapan Shofi lagi.
Sekali lagi!
Kata itu yang terus berputar di memori Fatih. Fatih mencoba mencari jawaban itu.
Jika seseorang berkata sekali lagi berarti ada pertemuan pertama yang pernah mereka lalui. Tapi, kenapa Fatih sulit sekali mengingat masa lalunya.
Fatih mencoba mengingat-ingat namun hasilnya nihil. Fatih tak mengingat apapun, yang ada semakin Fatih memaksa mengingat semakin sakit pula kepala Fatih.
"Ap-apa benar dia pernah berada di masa laluku!"
Gumam Fatih tak berdaya karena sulit sekali untuk mengingatnya.
Walau ada sekilas bayangan yang terlintas namun bayangan itu tak jelas Fatih ingat.
Fatih membasuh mukanya agar terlihat segar kembali.
Karena sudah bisa mengendalikan dirinya sendiri Fatih keluar dari toilet.
Tujuan Fatih saat ini adalah pulang, ya Fatih memilih pulang saja karena ada sesuatu yang harus Fatih kerjakan.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah,, komen, dan Vote Terimakasih ...