
Tangan Shofi masih di perban karena lukanya belum kering. Untung saja Shofi memakai baju hangat yang kebesaran jadi Shofi bisa menyembunyikan lukanya dari Philip.
Namun bukan Philip namanya jika mata tajamnya tak merasakan sesuatu yang aneh. Tapi, walaupun begitu, Philip bersikap biasa saja.
Shofi bernafas lega ketika Philip tak curiga padanya.
Shofi biasa beriringan dengan kedua temannya masuk kampus. Berbeda dengan Philip yang memang beda jurusan dan tentu gedungnya berbeda dengan gedung Shofi.
Shofi menatap Fatih sambil berjalan menuju kursinya berada. Sudah dua hari Shofi tak melihat Fatih. Hari ini Shofi kembali melihatnya. Namun, kali ini Fatih membalas tatapannya. Bahkan Fatih menggerakkan kepalanya seolah bertanya kenapa.
Shofi hanya menggelengkan kepala saja. Obrolan mereka menggunakan gerakan tubuh yang di mengerti oleh masing-masing.
Hingga dosen masuk mereka tetap melakukan hal yang sama. Di mata Shofi, hanya ada Fatih, di hatinya hanya ada Fatih. Tak ada yang lain selain Fatih Fatih dan Fatih.
Shofi tersenyum ketika Fatih mengisyaratkan untuk Shofi melihat ke depan karena dosen sedang menerangkan.
Shofi pun mengangguk saja lalu menatap kedepan. Ada perasaan bahagia yang tak bisa Shofi jabarkan ketika Fatih mulai bersikap hangat.
Setidaknya Fatih tidak terlalu cuek dan dingin. Yang terpenting mereka kembali menjalani hubungan baik walau itu hanya sebatas teman.
Tanpa terasa jam kuliah pertama sudah habis.
Fatih beranjak dari duduknya berjalan ke arah Shofi.
"Bisa bantu jelaskan ini,"
Ucap Fatih pada Shofi sambil membuka buku catatan nya yang ada beberapa bagian Fatih lingkari.
"Tentu!"
Jawab Shofi membuat Fatih tersenyum tipis.
Elsa dan Cherry hanya diam karena mereka tidak terlalu faham akan bahasa Indonesia. Kecuali jika Fatih berbicara bahasa Inggris mungkin Elsa dan Cherry mengerti.
Fatih berjalan keluar di ikuti Shofi dari belakang.
Di mana Fatih memilih atap gedung untuk mereka berdua.
Shofi hanya mengikuti saja kemana Fatih membawanya pergi.
"Di sini, jelaskan,"
"Aku tahu, kamu mampu menyelesaikan masalah itu. Katakan apa yang ingin kamu katakan!"
Ucap Shofi berdiri di pembatas balkon sambil melihat ke bawah sana.
"Apa yang membuatmu seyakin itu?"
"Karena aku tahu siapa kamu!"
"Benarkah!"
Ucap Fatih melangkah mendekati Shofi bahkan sampai punggung Shofi menempel di pembatas balkon.
Fatih mengurung Shofi dengan kedua lengannya. Di mana Fatih mencengkram erat pembatas itu.
"Sejauh apa kau menyelidiki ku?"
Cetus Fatih membuat Shofi terdiam menatap intens wajah Fatih yang serius. Apa Shofi tidak salah dengar, jika Fatih menuduh Shofi menyelidikinya.
__ADS_1
"Buat apa aku menyelediki orang yang sudah aku tahu!"
"Jangan membual, katakan, ada niat apa kau selalu membuntuti ku!"
Shofi semakin menautkan kedua alisnya bingung. Fatih malah menuduhnya menyelidiki dan membuntuti, maksudnya apa.
Semakin kesini Shofi semakin heran juga, ada apa dengan Fatih. Kenapa Fatih selalu menuduh dia yang enggak-enggak.
"Aku benar-benar tak mengerti apa yang kamu maksud!"
"Jangan bohong, apa kau seorang agen yang di sewa untuk mendekati ku!"
Deg ...
Shofi membulatkan kedua matanya tak percaya dengan apa yang Fatih ucapkan. Bagaimana bisa Fatih berasumsi seperti itu.
Apa Fatih benar-benar melupakannya sampai tega berkata seperti itu. Sungguh dada Shofi sangat sesak dan sakit. Kenapa Fatih bisa bicara seperti itu.
Bahkan mata Shofi sudah mulai berkaca-kaca sambil menatap Fatih penuh kekecewaan.
"Aku bukan penguntit, aku bukan menyelidiki mu ataupun agen. Ak-aku Shofi yang ingin dekat dengan kamu kembali!"
"Jika kamu bukan semuanya kenapa kamu kemaren di serang bahkan dengan mudahnya melumpuhkan mereka!"
Tekan Fatih membuat Shofi terdiam, ternyata Fatih melihat penyerangan kemarin tapi kenapa Fatih tak membantunya malah membiarkan ia terluka.
Fatih Shofi tidak seperti itu, Fatih Shofi selalu melindunginya dari bahaya bukan malah membiarkannya. Sungguh Shofi merasa sudah tak mengenal sosok di depannya lagi.
Percuma Shofi menjelaskan bagaimana pun jika Fatih nya sudah berubah bahkan lebih kejam dari sebelumnya.
"Kenapa diam, apa kau takut sekarang kedokmu terbongkar!"
Grep ..
Shofi menangkup pipi Fatih dengan cukup keras membuat Fatih terkejut. Shofi menariknya agar semakin dekat dengannya.
"Tatap mataku dengan jelas apa kamu di sana menemukan kebenarannya. Ayo tatap!"
Ucap Shofi gemetar menatap kedalam bola mata hitam Fatih.
"Tatap mataku!"
Tekan Shofi lagi membuat Fatih terpaku menatap kedalam bola mata biru Shofi. Fatih seolah tenggelam kedalam bola mata itu.
Fatih terus masuk sampai ke dasarnya, bola mata bening kebiruan bak samudra yang menenggelamkan Fatih. Fatih seolah pernah melihat bola mata ini, tapi di mana, kapan. Bola mata ini seolah tak asing bagi Fatih.
"Mata ini hanya boleh gue yang melihatnya!"
"Kenapa!"
"Loe milik gue!"
"Mata ini milikku! bukan milik mu!"
"Pakai!!"
"Pakai!!"
Akhh ...
__ADS_1
Jerit Fatih tiba-tiba kepalnya terasa sakit. Sekelebat bayangan berputar kembali di ingatannya.
Fatih langsung mundur sambil memegang kepalanya yang terasa sakit. Bayang-bayang itu terus berputar.
Mata ini hanya boleh gue yang melihatnya ..
Fatih benar-benar tak asing dengan bola mata itu. Seperti pernah melihat dari seseorang namun sialnya Fatih belum bisa mengingat dengan jelas siapa pemiliknya.
"Fatih, kamu kenapa, Fatih!"
Ucap Shofi terkejut karena tiba-tiba Fatih memegang kepalanya. Bahkan Fatih terlihat kesakitan sekali membuat Shofi cemas.
"Akhh ... Sakitt!!"
Jerit Fatih lagi sambil memukul-mukul kepalanya. Shofi semakin bingung, cemas dan panik dengan apa yang Fatih lakukan. Ada apa dengan Fatih kenapa bisa kesakitan seperti itu.
"Fatih stop, jangan menyakiti diri kamu!"
Bentak Shofi tak tahan melihat Fatih terus memukul-mukul kepalanya. Dengan keberanian Shofi memeluk erat Fatih.
"Sakit hiks .. sakit ...,"
"Fatih ku mohon tenang lah, aku di sini ada aku di sini tenanglah, tenanglah!"
Ucap Shofi gemetar memeluk erat Fatih yang terus menjerit kesakitan. Namun, Shofi tak akan membiarkan Fatih menyakiti dirinya sendiri.
Semakin Fatih menggeram kesakitan maka semakin erat juga Shofi memeluk Fatih.
"Ma-mata i-itu ma--ma-ta ..,"
"Fatih ... Fatih ..,"
Teriak Shofi ketika Fatih tak sadarkan diri di dalam dekapannya.
"Fatih, hey bangun Fatih!"
Shofi terus menepuk-nepuk pipi Fatih namun Fatih tetap sama.
Shofi membenarkan duduknya walau kotor Shofi tak peduli. Shofi menidurkan Fatih di atas pangkuannya.
"Apa yang sebenarnya terjadi, kenapa kamu kesakitan. Mata, mata apa yang kamu maksud!"
Lilir Shofi gemetar melihat Fatih tak sadarkan diri. Bahkan kening Fatih mengerut seolah Fatih sedang menahan kesakitan.
Baru kali ini Shofi melihat Fatih seperti ini. Kenapa juga Fatih lepas kendali.
Shofi memeluk kepala Fatih Sesekali menciumnya. Sungguh Shofi ingin mendekap erat Fatih dalam keadaan sadar bukan dalam keadaan Fatih tak sadarkan diri.
"Kamu kenapa, apa kamu sakit selama ini. Sakit apa, kenapa tak bilang, apa dengan cara ini kamu menghindar. Tolong jangan seperti ini, hatiku sakit melihatnya hiks ..,"
Tetesan air mata Shofi jatuh ke kening Fatih tanpa Shofi sadari.
Shofi tak tahu, apa kesalahannya di masa lalu sebesar itu sampai Fatih jadi seperti ini. Apa yang harus Shofi lakukan jika begini.
"Tolong bangunlah, jangan siksa aku dengan cara seperti ini!"
Lilir Shofi mengelus pipi Fatih lalu mendekapnya erat kembali seolah takut Fatih akan pergi.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...