
Shofi duduk dengan tenang di hadapan sang kakak. Sedang Philip sudah tak tenang duduk di antara mereka. Rasanya Philip ingin keluar saja dari ruangan tersebut.
Di sana ada Lucky dan juga Angel sedang Ricard bermain dengan para bodyguard di lapangan.
Elsa berjalan masuk ke mansion utama karena ada berkas yang harus Davit tanda tangani.
Namun, Elsa sedikit aneh karena para bodyguard berada di luar semua.
"Apa apa, apa ada sesuatu yang terjadi?"
Tanya Elsa pada salah satu bodyguard yang menjaga tuan muda kecil.
Para bodyguard saling pandang satu sama lain. Membuat Elsa mengerutkan keningnya bingung. Perasaan Elsa jadi tak enak, apa yang sebenarnya terjadi.
Seperti ada sesuatu yang serius hingga membuat Shofi menutupi sesuatu darinya.
"Katakan?"
Tegas Elsa menatap tajam para bodyguard yang malah terlihat ketakutan. Apalagi mereka tahu, Elsa dulu adalah ketua kelompok mereka. Jadi wajar ada rasa takut pada Elsa apalagi mereka tahu bagaimana tegasnya Elsa pada anak buahnya.
"Emmz .., tuan besar ..,"
Para bodyguard saling pandang satu sama lain apa mereka harus memberi tahu atau tidak.
"Tuan besar sedang merencanakan perjodohan nona muda dan Philip!"
Deg ...
Elsa terdiam bahkan tanpa sadar Elsa langsung menjatuhkan berkas yang ia bawa. Elsa mengepalkan kedua tangannya erat dengan rahang mengeras.
Jadi ini yang di sembunyikan Shofi dan Philip, pantas saja sikap mereka terlihat berbeda.
Para bodyguard saling pandang satu sama lain, mereka bingung melihat Elsa yang hanya diam.
Elsa tersenyum kecut, lalu mengambil berkas yang tadi sempat jatuh.
Dengan sekuat tenaga Elsa menahan sesuatu yang bergemuruh di dalam dada. Terasa sesak untuk sekedar di ungkapkan.
Namun, Elsa bisa apa, ia bukan siapa-siapa untuk sekedar mengungkapkan perasaannya.
Elsa masuk ke dalam dan langsung menuju ruangan kerja yang memang sudah terbiasa langsung menuju ke sana.
Cklek ...
Deg ...
Shofi dan Philip terdiam ketika melihat Elsa ada di hadapan mereka.
__ADS_1
Shofi langsung bergeser membiarkan Elsa masuk ke dalam.
Mata Philip dan mata Elsa sempat bertemu namun dengan cepat Elsa memutuskan kontak mata mereka.
Elsa masuk kedalam langsung, namun kening Elsa mengerut melihat ruangan Davit yang berantakan seperti kapal pecah. Berkas-berkas berhamburan di bawah dan ada gelas pecah. Entah apa yang terjadi tadi membuat Elsa benar-benar merasa aneh.
Namun, Elsa tak seberani itu untuk bertanya.
"Tuan, ini berkas yang anda minta!"
Ucap Elsa hati-hati sambil menyerahkan berkas pada Davit.
"Simpan di atas meja!"
Elsa langsung menyimpan berkas itu di atas meja. Karena Davit tak bicara lagi, Elsa izin ke luar.
Sesudah urusannya dengan Davit, Elsa memilih langsung pergi dari mansion utama. Karena tak mau bertemu dengan Philip, rasanya Elsa belum sanggup jika harus bertemu sekarang.
Namun, sebuah tangan mencengkal tangannya. Dan, menarik Elsa menuju tempat yang tak terlihat orang.
Elsa hanya diam saja, enggan untuk bicara karena Elsa takut dia malah menangis.
"Apa yang kamu dengar tak seperti yang kamu pikirkan!"
"Apa yang harus aku pikirkan, sedang kamu tak pernah memberi tahuku!"
"Lalu ...,"
Lilir Elsa gemetar dengan mata mulai berkaca-kaca. Elsa rasanya tak sanggup jika harus mendengarkannya sekarang.
"Tuan besar memang menjodohkan kami, tapi aku sudah menolaknya. Percayalah ..,"
Pinta Philip menangkup wajah Elsa di mana Elsa sudah meneteskan air mata. Sekuat-kuatnya Elsa menahan tangis, air mata itu keluar juga. Bagaimana tidak keluar jika kekasihnya harus di jodohkan dengan orang lain.
"Bohong, mana mungkin kamu menolaknya. Kamu selalu mendengar--"
Elsa tak bisa meneruskan ucapannya ketika bibirnya di bungkam oleh Philip dengan air mata yang keluar membasahi pipi Elsa bahkan terasa asin bercampur manis di bibir Philip.
"Percayalah sayang, aku sudah menolaknya. Begitupun dengan nona muda. Kamu harus percaya ya!"
Ucap Philip memeluk sang kekasih dengan erat. Berharap Elsa percaya bahwa dia memang benar-benar menolak perjodohan itu.
Elsa hanya diam saja karena memang percaya jika Shofi akan menolaknya. Namun, Elsa ragu jika Philip menolaknya karena Elsa tahu, Philip akan selalu patuh akan ucapan Davit.
Entahlah, antara percaya dan tidak Elsa tidak tahu. Elsa berharap apa yang di katakan Philip benar adanya.
"Apapun yang terjadi, aku akan tetap memilih kamu!"
__ADS_1
Ucap Philip lagi berharap Elsa akan mengerti posisinya. Hal ini juga yang tak bisa Philip hindari apalagi ini titah dari Davit dan sang kakak juga menyetujuinya.
Hubungan Elsa dan Philip memang di sembunyikan. Karena memang mereka berdua sudah sepakat untuk menyembunyikan nya. Apalagi karena mereka juga jarang bertemu karena sibuk dengan urusan masing-masing.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata menatap mereka dengan tatapan tajamnya. Tatapan itu bak elang yang mengawasi mangsanya.
Shofi tersenyum tipis melihat apa yang di lakukan Philip.
Tak pernah sekalipun Shofi melihat Philip menentang sang kakak. Tapi, tadi apa yang di lakukan Philip sangat keren di mana jawaban Philip membuat Davit dan Lucky marah sampai membanting gelas dan beberapa berkas.
Shofi pikir Philip akan diam saja tunduk seperti sebelum-sebelumnya. Nyatanya Philip cukup gentle dan cocok dengan Elsa.
Shofi tak perlu menolak karena sudah Philip sendiri yang menolak. Andai saja Philip diam saja tadi maka Shofi yang akan maju untuk bicara. Namun, nyatanya Philip perlu di acungi jempol dengan apa yang Philip lakukan.
"Ujian kalian baru di mulai, dan aku pastikan aku tak akan membiarkan siapapun memisahkan kalian!"
Gumam Shofi menatap Elsa dan Philip. Terlihat jelas dari tatapan keduanya. Jika mereka begitu saling mencintai dan menyayangi.
Melihat Elsa dan Philip akur kembali membuat Shofi lega. Shofi memilih pergi meninggalkan mansion utama menuju apartemen nya berada.
Shofi sengaja tak memberi tahu Philip agar Philip bisa ada waktu menghabiskan waktu bersama Elsa. Apalagi Shofi tahu, mereka jarang sekali berduaan untuk sekedar melepas rindu.
Shofi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang sambil menikmati suasana jalan di mana banyak pepohonan yang di lindungi salju.
Shofi menghentikan mobilnya di sebuah taman. Shofi membuka atap mobilnya membiarkan salju turun membelai wajahnya.
Shofi ingin sekali menghabiskan musim dingin bersama Fatih. Namun, nyatanya itu hanya khayalan semata.
Sudah tak ada harapan bagi Shofi untuk bersama. Karena Fatih sendiri yang sudah pergi begitu saja setelah mendapatkan apa yang Fatih mau.
Tak peduli dengan perasaannya yang hampir meledak.
"Sekuat apa kamu melupakanku, apa aku mampu mengembalikannya. Sedang kamu sendiri tak pernah berjuang mengingatku. Apa aku pantas berharap jika kamu akan mengingatku suatu hari nanti!"
Gumam Shofi sambil memegang gelangnya erat.
Satu-satunya kenangan yang Shofi punya. Apa Fatih akan mengingatnya jika Shofi memperlihatkan gelang itu.
Atau akan tetap sama pada ingatan sekarang.
"Ini satu-satunya harapanku, jika kamu tak mengingatnya juga seperti nya lebih baik aku pergi!"
Gumam Shofi lagi, karena merasa tak ada gunanya hidup satu negara dengan orang yang kita rindukan di setiap hari namun nyatanya orang itu lupa. Hanya akan ada banyak kesakitan lagi yang Shofi terima. Dan, Shofi takut tak bisa mengendalikannya. Hingga lupa caranya me-lupa. Dan, pada akhirnya Shofi sendiri yang merasa sakit.
Karena Shofi tahu, kasus yang Fatih alami sangat kecil kemungkinan bisa mengingatnya kembali.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...