Fatih (Rindu Yang Belum Usai)

Fatih (Rindu Yang Belum Usai)
Bab 37 Aku masih orang yang dulu


__ADS_3

Shofi menggeliat pertanda dia bangun dari mimpi indahnya.


Perlahan bulu mata lentik Shofi mengerjap-enjap lucu.


Shofi merasakan nyaman dalam tidurnya. Tidur pertama yang membuat Shofi mimpi indah. Bahkan tak perlu Shofi meminum obat dulu.


Deg ...


Shofi tertahan ketika akan bangun merasakan sebuah tangan melingkar indah di perutnya. Dengan pelan Shofi melirik ke samping guna melihat siapa pemilik tangan tersebut.


Seketika mata Shofi melotot melihat Fatih tidur di sampingnya.


Akhhh ...


Shofi menjerit kencang, membuat Fatih langsung terbangun.


Brak ...


Awwss ...


Fatih meringis karena Shofi menendang dirinya sampai terjungkal ke bawah. Membuat pinggang Fatih serasa mau copot.


"Apa yang kamu lakukan?"


Kesal Fatih sambil memegang pinggangnya yang terasa ngilu.


"Harusnya aku yang bertanya, apa yang kamu lakukan di kamarku hah, kenapa kamu bisa tidur di sini!"


Bentak Shofi menatap tajam Fatih sambil menarik selimut guna menutupi tubuhnya yang memakai pakaian lengkap. Bahkan pakaian Shofi masih yang kemaren dia pakai.


"Apa kamu tak lihat, ini kamarku!"


Bentak Fatih tak kalah kesal berusaha bangun sambil memegang pinggangnya. Kenapa tendangan Shofi kuat sekali sampai meremukkan badannya.


Shofi terdiam linglung sambil melebarkan tatapannya ke segala arah dengan tatapan polosnya.


"Ba-bagaimana bisa aku berada di sini!"


Bingung Shofi karena tak ingat. Shofi berusaha mengingat apa yang terjadi. Shofi hanya ingat ketika ia tertidur di pelukan Fatih karena merasa nyaman dan Shofi sesudah itu tak ingat apa-apa lagi.


"Pikir saja sendiri!"


Ketus Fatih memegang pinggangnya karena kesal. Rasanya pinggang Fatih seakan mau copot saja.


Shofi yang melihat Fatih kesakitan jadi merasa bersalah. Apa tendangan ku sekuat itu sampai Fatih kesakitan, pikir Shofi.


"Ma-maafkan aku,"


"Kamu mau menendang ku lagi!"


"Tidak, aku ingin membantu kamu!"


Ucap Shofi tak kalah ketus sambil memegang tangan Fatih membantu Fatih duduk di atas ranjang.


"Kenapa kau kuat sekali, awwss ...,"

__ADS_1


"Daras lemah!"


Ketus Shofi mengomel membuat Fatih hanya diam saja. Fatih terdiam seolah kata itu tak asing baginya. Bahkan Fatih memerhatikan Shofi yang terus mengomel sambil merapihkan ranjang agar Fatih merasa nyaman menyandar.


"Berbalik, biar ku urut pinggang kamu!"


Ucap Shofi membantu Fatih membalikan badannya jadi membelakangi Shofi. Perlahan Shofi mengurut pinggang Fatih karena Fatih memakai baju membuat Shofi sedikit kesusahan.


"Bisa di angkat tidak bajunya, agar aku bisa leluasa mengurutnya!"


Tanpa banyak kata Fatih langsung membuka baju nya membuat Shofi tertegun.


Perlahan tangan Shofi terulur memegangi pinggang Fatih. Shofi menatap dengan seksama bekas luka apa yang di dapatkan Fatih.


"Itu bekas kecelakaan empat tahun lalu. Bukan cuma merenggut ingatanku. Tapi juga tulang punggungku sempat cidera. Dan hari ini kamu menendang ku!"


Ucap Fatih sedikit ketus karena Shofi malah diam bukan mengurut pinggangnya.


Shofi pikir Fatih hanya akting saja agar dapat di perlakukan dengan baik. Dan mencari kesempatan dalam kesempitan. Nyatanya Shofi salah besar, ternyata Fatih benar-benar kesakitan.


Apa dulu Fatih separah itu mengalami kecelakaannya sampai sempat patah tulang juga.


"Ini pasti sakit!"


"Sekarang tidak lagi,"


"Maaf!"


"Ayo lanjutkan urutnya, kamu harus tanggung jawab!"


"Kata bunda aku sempat koma selama enam bulan. Ketika aku bangun, aku tak ingat apa-apa!"


Shofi menghentikan urutannya mendengar ucapan Fatih. Apa separah itu yang Fatih alami. Entah bagaimana kejadiannya Shofi tak tahu.


Fatih berbalik menghadap Shofi di mana Shofi sedang menekuk lututnya di lantai. Fatih menangkup pipi Shofi sambil sedikit mengangkat dagunya agar Shofi bisa melihat dia.


"Jadi, bisakah kamu bersabar untuk terus menungguku. Selama ini aku tak tahu masa laluku. Karena kedua orang tua tak pernah memberitahu sampai aku bertemu kamu. Di sini .,"


Fatih membawa tangan Shofi ke atas dadanya dan menempelkan tangan Shofi tepat di detak jantung Fatih.


"Aku selalu merasa ada yang hilang setiap kali hatiku berdebar. Tapi aku tak tahu itu apa, terkadang aku bertanya-tanya pada diriku sendiri apa yang telah hilang dari hatiku. Terkadang aku merasa sakit di sini tapi aku tak tahu apa yang membuatku sakit. Terkadang aku rindu tapi aku tak tahu apa yang aku rindukan. Selama ini aku selalu mencari jawabannya sampai di mana kamu datang!"


"Debaran itu sama persis setiap kali aku dekat denganmu. Percayalah kalau aku mencintaimu!"


"Tapi, aku ingin kamu mencintai diriku yang dulu bukan sekarang!"


"Maka ajarkan aku bagaimana cara mencintai kamu yang dulu!"


Shofi terdiam menatap wajah Fatih yang terlihat serius. Bahkan Shofi terlalu sulit membedakan mana palsu dan mana asli.


"Aku tak bisa mengajarkan itu, karena hanya kamu yang tahu caranya!"


"Aku akan berusaha!"


Shofi melepaskan tangannya di dada Fatih lalu beranjak membuka gordeng kamar Fatih.

__ADS_1


Fatih hanya menatap sendu Shofi yang terlihat datar. Entah dengan cara apa lagi Fatih membuktikannya.


"Aku akan kembali ke kamarku, mandilah. Nanti aku akan bawa sarapan ke sini!"


Ucap Shofi tanpa melihat lawan bicaranya. Shofi bicara sambil mengambil baju hangat, tas dan sepatunya bersiap pergi.


Namun, Fatih menahan tangan Shofi agar tidak pergi.


"Kenapa kamu tak bertanya apa yang terjadi semalam. Kenapa kamu bisa berada di kamarku?"


Shofi berbalik sambil menghela nafas berat menatap Fatih yang masih telanjang dada.


"Aku cukup tahu siapa kamu, dan aku tak perlu bertanya karena pakaian ku juga lengkap,"


Jawab Shofi datar menatap Fatih kesal karena bisa-bisa bertanya seperti itu.


"Apa kamu se-percaya itu?"


"Iya!"


"Bagaimana jika empat tahun ini sudah merubah semuanya!"


Ucap Fatih menyeringai mendorong Shofi sampai Shofi terjatuh di atas shopa.


Shofi hanya diam saja dengan tatapan datarnya menatap dada bidang Fatih yang polos dengan perut kotak-kotak nya.


Jika perempuan lain mungkin akan tergoda dengan semua itu. Tapi, tidak dengan Shofi yang menatap Fatih semakin datar.


Fatih menatap bulu mata lentik Shofi yang berkedip-kedip lucu dengan mata bening birunya.


Fatih selalu terhipnotis jika melihat bola mata itu. Sangat indah dan cantik.


Cup ...


Satu kecupan mendarat di pelipis kanan Shofi membuat Shofi memejamkan kedua matanya hingga Fatih dengan mudah mengecup kelopak mata Shofi. Kecupan lembut membuat Shofi diam mematung karena mengingatkan Shofi pada Fatih yang pertama kalinya mengecup matanya.


Kecupan yang sama persis Fatih lakukan dulu di matanya.


Fatih kembali menjauhkan bibirnya dengan senyum seringai karena Shofi malah diam. Sedang ingatan Shofi jauh kembali pada empat tahun lalu.


Kenangan itu masih membekas di ingatan Shofi. Tak ada sedikitpun dalam satu detik yang Shofi lupakan dalam kenangan mereka.


Fatih memiringkan wajahnya ingin meraih bibir Shofi namun tertahan oleh tangan Shofi.


Shofi langsung tersadar dan menatap kedalam bola mata Fatih.


"Aku tahu empat tahun memang sudah merubah segalanya. Tapi, itu kamu bukan aku!"


"Aku masih orang yang dulu!"


Bruk ....


Shofi membalikan tubuh Fatih hingga Fatih yang duduk di shopa sedang Shofi yang mengungkung Fatih.


Bersambung ....

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2