Fatih (Rindu Yang Belum Usai)

Fatih (Rindu Yang Belum Usai)
Bab 23 Kekacauan Jarvis


__ADS_3

Hati Jarvis semakin hari semakin kebakaran melihat bagaimana kedekatan Shofi dan Fatih. Mereka semakin lengket saja, bahkan kemanapun Shofi pasti ada Fatih begitu pun sebaliknya.


Walau pasti kedua sahabat Shofi juga akan ikut.


Seperti belajar bareng atau makan bareng karena Fatih memang menyuruh Shofi untuk mengajak kedua temannya juga.


Walau sejujurnya Shofi kesal karena Fatih malah menyuruh kedua sahabatnya ikut. Padahal Shofi ingin berdua, karena ingin menggali kenapa Fatih bisa berubah.


Shofi berjalan beriringan dengan Fatih, sedang Elsa dan Cherry berada di belakang.


Mereka berniat akan pergi ke perpustakaan dimana mereka akan belajar bareng. Mengingat studi mereka hampir selesai.


Jarvis menghadang langkah mereka membuat Shofi menghentikan langkahnya.


"Jadi seperti ini kamu sebenarnya!"


Ucap Jarvis sinis membuat Shofi menautkan kedua alisnya bingung.


Kaka hanya bisa diam ketika Jarvis hilang kendali. Jika sudah begini Kaka tak bisa lagi memperingati Jarvis. Jarvis sudah membuat dirinya di situasi yang rumit.


"Kamu menolak ku dan sekarang kau dekat dengan anak baru ini. Apa kurang nya aku hah!"


Bentak Jarvis dengan mata memerah membuat anak-anak langsung berkerumun. Mereka menjadi bahan tontonan para mahasiswa.


Shofi hanya diam saja melihat Jarvis lepas kendali. Shofi ingin melihat sejauh mana Jarvis bertindak bodoh.


"Aku mencintaimu, kenapa kau terus menolak ku. Kau selalu jalan bersama Philip dan sekarang kau dekat dengan anak baru ini!"


"Katakan, apa kurangnya aku. Katakan hah!"


Jarvis menggoyang-goyangkan bahu Shofi dengan kencang. Namun, Shofi tetap diam saja tak menyahut sama sekali.


"Jika kau mau berselingkuh kenapa harus sama dia kenapa bukan sama aku. Aku mencintaimu,"


"Kau jalan sama Philip tapi kau juga dengan dia. Apa bedanya kamu dengan wanita di luar sana!"


"Katakan Hah, apa bedanya kamu dengan wanita di luar sana!"


Deg ...


Shofi menatap nanar pada Jarvis yang benar-benar hilang kendali sampai bicara seperti itu. Bahkan Kaka pun sampai membulatkan kedua matanya mendengar ucapan Jarvis. Sungguh, Jarvis salah besar mencari masalah dengan Shofi.


"Kau menyakitiku, dan sekarang kau jalan sama dia. Lalu laki-laki mana lagi yang kau ajak jalan. Apa Kaka ayo katakan siap--"


Plak ...


Satu tamparan melayang indah di wajah Jarvis. Bahkan sampai Jarvis memalingkan wajahnya.


Jarvis mengusap sudut bibirnya yang mengeluarkan darah. Pertanda tamparan itu sangat keras.


Semua orang membulatkan kedua matanya melihat bagaimana Jarvis di tampar cukup keras bahkan bunyinya pun terdengar nyaring.


"Dasar pengecut, beraninya kau menghina sahabat ku!"


Teriak Cherry ingin menampar Jarvis lagi namun tertahan oleh Elsa.


Ya, yang menampar Jarvis adalah Cherry bukan Shofi. Karena Shofi hanya diam saja. Tak bisa berkata apa-apa ketika Jarvis menghinanya.


Shofi hanya terlalu terkejut mendengar ucapan Jarvis. Bagaimana bisa seorang pangeran berkata serendah itu.

__ADS_1


Sungguh, Shofi hanya bisa tersenyum sinis saja. Tak menyangka jika Jarvis akan berperilaku rendah.


"Jika kau tak tahu apa-apa jangan pernah menghinanya!"


Bentak Cherry lagi greget ingin menjambak rambut Jarvis. Bahkan amarah Cherry berkobar mendengar setiap kalimat yang Jarvis ucapkan.


"Cherry,"


"Tapi, Shofi dia sudah keterlaluan!"


"Jangan sakiti diri kamu sendiri dengan memakinya atau membelaku!"


Tegas Shofi membuat Cherry terdiam, Shofi menyuruh Elsa membawa Cherry pergi. Jangan sampai Cherry juga hilang kendali.


Kini Shofi menatap dingin pada Jarvis. Laki-laki yang selalu Shofi hormati karena Jarvis seorang pangeran. Namun, tingkah Jarvis malah merendahkan drajat ia sendiri.


"Katakan apa yang membuatmu puas. Tapi, jangan pernah menyakiti sahabat ku dengan tingkah bodoh mu!"


"Seperti nya, sahabat ku jauh lebih berharga dari pada kau!"


Tegas Shofi menatap tajam pada Jarvis. Lalu Shofi menatap tajam Kaka yang hanya diam saja.


Sungguh, Shofi tak bisa menahan kekecewaan ini.


Shofi pergi dengan perasaan kecewa, marah dan sedih. Bagaimana bisa Jarvis bisa berkata seperti itu.


Bahkan di depan Cherry, entah bagaimana perasaan Cherry mungkin Cherry akan merasa sakit hati sama seperti Shofi.


Jarvis yang mendengar ucapan Shofi barusan bingung. Karena tak mengerti dengan apa yang Shofi maksud.


Menyakiti Cherry maksudnya apa, apa yang mereka maksud. Kenapa juga Cherry yang marah. Harusnya Shofi yang memakai dan menampar dia.


Akhh ...


Bugh ...


Jerit Shofi sambil meninju tembok meluapkan segala kekesalannya.


Shofi bukan gadis cengeng yang akan meraung-raung. Andai saja tadi Shofi tak bisa mengendalikan amarahnya mungkin dari tadi Jarvis sudah babak belur. Namun, Shofi masih menjaga perasaan Cherry.


"Kenapa malah tembok yang dapat pukulan,"


Ucap Fatih menatap Shofi yang sedang menahan amarahnya. Fatih tersenyum seringai menatap Shofi yang hanya diam saja.


Shofi hanya tak habis pikir, apa yang ada di hadapannya adalah Fatih atau bukan. Kenapa Fatih terlihat berbeda, Fatih nya yang dulu tidak seperti ini.


Apa Fatih sekarang benar-benar tak peduli lagi pada dia. Bahkan ketika Shofi di hina, Fatih malah diam saja. Sungguh hinaan Jarvis tak sebanding sakitnya dengan ketidak pedulian Fatih.


"Kenapa, apa ada yang salah!"


Ucap Fatih ketika di tatap aneh oleh Shofi. Shofi hanya menggeleng saja, karena bingung harus bicara apa sedang Fatih sudah tak peduli lagi.


"Aku heran, kamu yang di hina kenapa Cherry yang marah. Ada apa sebenarnya hubungan kalian itu?"


Ucap Fatih duduk di samping Shofi yang hanya diam saja.


"Cherry marah bukan karena hinaan itu, tapi Cherry marah karena menyukai Jarvis. Laki-laki yang sudah menghina sahabatnya sendiri. Cherry hanya ingin menghentikan tingkah Jarvis yang rendah, tapi bingung hingga sebuah tamparan yang melayang!"


"Cherry pasti sedang merasa sedih karena sudah menampar orang yang di cintainya. Tapi Cherry juga jauh merasa sedih orang yang Cherry cintai malah melukai aku!"

__ADS_1


"Jadi itu alasan kamu menolak dia, karena sahabat kamu!"


"Bukan!"


"Terus, apa karena .., siapa tadi, ah, Philip?"


"Bukan!"


Fatih terdiam karena bingung dengan jawaban Shofi. Kenapa semuanya bukan. Jika bukan itu alasannya terus apa. Fatih menjadi penasaran sendiri apalagi Shofi terkenal dingin.


"Lalu!"


Shofi berbalik menatap Fatih dengan mata berkaca-kaca. Terlihat jelas sebuah kerinduan di sana. Namun, sang pengobat rindu tak mengerti membuat Shofi mengepalkan kedua tangannya erat.


"Apa ada laki-laki lain, selain mereka?"


"Ada!"


"Siapa?"


Tanya Fatih semakin penasaran, siapa laki-laki yang membuat Shofi bisa menolak seorang pangeran. Fatih yakin, orang itu pasti orang istimewa di hidup Shofi.


Shofi memalingkan wajahnya sambil menghapus air mata yang tiba-tiba keluar.


"Siapa, hey kau belum menjawabnya?"


"Tunggu, mau kemana. Kamu belum menjawab pertanyaan ku!"


Ucap Fatih mencengkal lengan Shofi yang ingin pergi karena tak kuat di permainkan seperti ini oleh Fatih.


"Kamu!"


"Aku, maksudnya?!"


"Ya, kamu alasan aku menolak mereka!"


Ha .. ha ..


Fatih tertawa terbahak-bahak mendengar jawaban konyol Shofi. Bagaimana bisa Shofi bicara seperti itu.


Ini sangat membingungkan. Bukankah mereka baru kenalan. Bagaimana bisa Shofi secepat itu mencintainya.


"Jangan ngawur, kita baru berteman. Bagaimana bisa kamu mencintaiku?!"


Ketus Fatih tak habis pikir dengan jawaban Shofi.


Shofi hanya bisa mengepalkan kedua tangannya erat. Dalam keadaan seperti ini, Fatih masih bisa bercanda. Bagaimana bisa, Fatih mempermainkan hatinya. Apa Fatih ingin membalasnya, dengan rasa sakit dia dulu.


Ingin sekali Shofi menangis, namun sekuat tenaga Shofi menahannya.


Ting ...


Sebuah pesan masuk, membuat Shofi lebih baik membuka pesan dari pada melihat Fatih. Namun, seketika tubuh Shofi membeku melihat pesan yang ia baca.


Ini mustahil!


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1


__ADS_2