Fatih (Rindu Yang Belum Usai)

Fatih (Rindu Yang Belum Usai)
Bab 115 Extra prat


__ADS_3

Shofi dan Mentari sedang bermain di taman belakang mansion.


Mereka berdua nampak akrab layaknya ibu dan anak.


Sungguh kehangatan yang Shofi berikan membuat Mentari merasa nyaman. Kehangatan yang selama ini Mentari rindukan seolah Shofi bisa memberikannya.


"Aunty!"


Teriak Richo berlari membuat Mentari langsung bersembunyi di balik punggung Shofi.


"Es ist okay, Schatz, sie werden deine Freunde sein.


(Tak apa sayang, mereka akan menjadi teman kamu,)"


Ucap Shofi lembut namun Mentari masih tak mau muncul ke permukaan. Mentari tak suka orang baru apalagi anak seusianya.


"Tante, wer ist das schüchterne Mädchen?(Aunty siapa gadis pemalu itu?)"


Tanya Richo mendekat membuat Mentari semakin mengeratkan pegangannya mengisyaratkan tak mau ada orang baru apalagi omongannya tak di mengerti.


"Sayang gak apa Mentari percaya kan sama Mommy!"


Ucap Shofi lembut sambil mengelus kepala Mentari yang dapat Shofi raih. Mentari menatap Shofi seolah mencari kebohongan namun Mentari tak menemukannya.


"Hay!"


"Sayang perkenalkan ini kak Richo dan yang di sana kak Richard!"


Ucap Shofi memperkenalkan dua jagoannya putra dari Davit dan Angel.


"Mereka kakak Mentari, anak kakaknya mommy!"


Dengan tahu Mentari menatap Richo yang tersenyum cerah membuat Mentari bergidik. Perlahan tatapan Mentari tertuju pada Richard yang berdiri dengan wajah datarnya.


Deg ...


Mentari langsung menunduk takut melihat tatapan tajam Richard yang seolah mengulitinya.


Cih,


Richard mendelik tajam menatap Mentari yang ketakutan. Richard tak suka jika ada orang yang memenangkan perhatian Shofi dari pada dirinya.


Shofi adalah Aunty nya tak boleh ada yang mengambilnya dari dia. Bagi Richard Mentari adalah orang asing di keluarganya.


"Schwester, wirf sie nicht böse an, Sun hat Angst!“


(Kak jangan memelototinya, Mentari ketakutan!)"


Tegur Richo tak suka pada kakak nya selalu kaku dan dingin bahkan tak pernah ada senyuman di bibirnya membuat Richo selalu malas ke mana-mana harus di antar Richard padahal bodyguard pun sudah cukup.


""Bananen (Dasar pisang!)"


Ketus Richo langsung mendekati Mentari yang menunduk.


"Tante, bitte sag: „Hab keine Angst vor der Sonne! (Aunty tolong katakan jangan takut pada Mentari!)"


Shofi tersenyum mendengar perkataan Richo yang selalu welcome pada orang baru yang dekat dengannya. Berbeda dengan Richard memang yang suka merajuk jika dia dekat dengan orang lain bahkan dengan Richo sendiri sebagai adiknya.

__ADS_1


"Sayang, kata kak Richo jangan takut bolehkah kak Richo berteman dengan Mentari!"


Mentari menatap Richo yang selalu tersenyum membuat Mentari mengangguk kaku apalagi bahasa yang mereka gunakan Mentari tak mengerti.


Richo kegirangan melihat Mentari mengangguk pertanda bahwa Mentari menerima pertemanannya.


"Kakak apa kakak akan diam di sana terus, tak maukah memberi pelukan pada Aunty!"


Ucap Shofi tersenyum sambil merentangkan kedua tangannya berharap Richard mau bergabung.


"Apa kakak marah!"


Shofi sengaja memasang wajah sedihnya membuat Richard mendelik jika sudah seperti ini mana bisa Richard mendiamkan Aunty nya.


"Tante hat wieder betrogen (Aunty selingkuh lagi!)"


Ketus Richard membuat Shofi terkekeh sambil memeluk keponakan tersayangnya.


Sungguh Shofi merasa geli dengan keponakannya yang satu ini. Dulu Richard menuduhnya selingkuh karena menikah dengan Fatih dan sekarang menyebutnya selingkuh lagi karena ada Mentari. Richard memang anak pencemburu sama seperti Davit dulu walau selalu kaku dan dingin di luar.


Richard semakin menatap tajam Mentari membuat Mentari semakin menunduk takut apalagi tatapan itu tatapan tak suka.


Tatapan sinis Richard layangkan apalagi Mentari terlihat bodoh tak mengerti apapun yang Richo katakan.


"Dasar bodoh!"


Deg ...


Mentari mengerti kata itu membuat Mentari mengepalkan kedua tangannya erat. Mentari sudah biasa di Indonesia dirundung oleh teman-teman dan sekarang Richard mengatainya bodoh.


Tatapan mereka mengibarkan tatapan permusuhan membuat Shofi langsung sigap menyikapi.


Tegur Shofi tak mau Mentari merasa tak nyaman apalagi Richard menggunakan bahasa Indonesia mengejek Mentari.


"Dia memang bodoh Aunty, bisu pula lihatlah Richo dari tadi bicara tapi dia tak mengerti sama sekali!"


Shofi menghela nafas berat keponakannya satu ini keras kepala juga sama seperti Angel. Kata-kata nya selalu pedas menyakiti siapapun.


Richo yang melihat Mentari diam kembali membuat Richo kesal pada sang kakak. Richo yakin ini pasti ulah sang kakak dan sialnya Richo belum mengerti bahasa Indonesia.


"Willst du dort mit mir spielen (Mau main denganku, di sana!)"


Ucap Richo sambil menunjuk ke taman luar membuat Mentari hanya bisa menggeleng saja karena tak mengerti dengan bahasa yang Richo ucapkan.


Mentari menatap Shofi dengan mata berkaca-kaca. Bagaimana bisa baru satu hari di Jerman Mentari sudah mendapati orang yang ketus padanya bahkan terlihat tak menyukai dia.


"Sayang!"


Shofi merasa bersalah melihat kepergian Mentari yang pasti pergi ke kamar barunya.


"Bruder, was ist das für ein wunderschönes Mädchen, du Banane (Kakak apakan gadis cantik itu, dasar pisang!)"


Ketus Richo kesal pada sang kakak baru saja Richo senang punya teman cantik kini tak ada lagi karena ulah sang kakak.


Siapapun yang berteman dengan Richo pasti akan kabur karena seram melihat Richard yang selalu menatap teman-teman Richo tajam.


Bagaimana Richo punya teman jika sang kakak selalu membuat mereka takut.

__ADS_1


"Tch, du solltest mit einem Jungen befreundet sein, nicht mit diesem seltsamen Wesen! (Cih, harusnya kau berteman dengan laki-laki bukan makhluk aneh tadi!)"


"Kakak hiks ..,"


Richo berlari sambil menangis ke pelukan sang Daddy karena kebetulan Davit dan Angel baru datang.


Melihat pertengkaran kecil membuat Shofi pusing Shofi memilih pergi menyusul Mentari saja karena gadis malang itu yang paling membutuhkan ia.


"Sayang boleh mommy masuk!"


Ucap Shofi sambil mengetuk pintu, tak ada jawaban di dalam membuat Shofi memberanikan diri masuk.


Deg ...


Shofi tertegun melihat putrinya bersembunyi di sudut ranjang dengan kepala yang di tenggelamkan di antara dua lututnya.


"Maafkan Mommy, Apa kakak mentari marah sama Mommy?"


Ucap Shofi lembut sambil mengusap puncak kepala Mentari.


"Adek, bisakah membujuk kakak Mentari agar memaafkan Mommy!"


Mentari mengangkat kepalanya sambil menggeleng menatap sendu Shofi. Hati Shofi sungguh tersayat melihat tatapan penuh luka dari netra polos itu.


"Mommy nangis!"


Ucap Mentari polos sambil menghapus air mata Shofi padahal mata Mentari sendiri memerah.


"Maafkan Mommy!"


"Mommy gak ada salah kok, Mentari hanya takut!"


Cicit mentari polos dengan netra beningnya berputar kesana kemari seolah takut jujur.


"Apa karena kak Richard!"


Mentari mengangguk ragu karena memang itu ada benarnya.


"Maafkan kak Richard ya, dia memang seperti itu tapi maukah Mentari percaya sama Mommy?"


"Apa!"


"Kak Richard memang kaku dan dingin seperti pisang tapi di sini dia baik dan penuh kasih sayang!"


Ujar Shofi sambil menyentuh dada Mentari memberi pengertian. Shofi yakin Mentari gadis pintar dia akan mengerti ucapannya.


"Tapi tatapannya menakutkan mom!"


"Maka tatap balik lah di sana Mentari akan menemukan kebaikan. Sama seperti Mentari makan manisnya isi durian di balik kulitnya yang penuh duri!"


Mentari terdiam seolah mencerna setiap kalimat yang Shofi ucapkan.


Mentari gadis pintar dan tentu cepat tanggap apapun yang Shofi ucapkan.


"Akan kakak coba mom!"


"Pintar!"

__ADS_1


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2