
Fatih seketika tersadar ketika Shofi menutup pintu dengan kencang.
Fatih ingin mengetuk pintu unit apartemen Shofi namun urung ketika mendengar isak tangis Shofi yang terdengar pilu. Lalu Fatih melihat map di tangannya.
Fatih memutuskan masuk saja ke dalam apartemen nya sendiri.
Fatih mendudukkan bokongnya di atas sofa. Fatih melihat kembali map coklat tersebut. Antara di buka dan tidak, namun Fatih penasaran apa isinya map tersebut.
Perlahan Fatih membukanya, seketika kening Fatih mengerut lalu detik kemudian matanya melotot tak percaya.
"Bagaimana mungkin?"
Gumam Fatih tak percaya jika Shofi sudah tiga tahun tinggal di apartemen ini. Sedang Fatih dia tinggal baru empat bulan. Perbedaan yang sangat jauh, jadi selama ini Shofi berkata jujur.
"Tidak, mungkin berkas ini palsu,"
Gumam Fatih lagi, namun sekali lagi Fatih melihat. Apalagi ada stempel dan tanda tangan milik perusahaan berarti berkas itu asli.
"Jika dia bukan mata-mata, lalu dia siapa. Kenapa bisa mengenalku, ini bukan hal kebetulan!"
Monolog Fatih bingung, bahkan Fatih juga bingung kenapa Shofi tahu banyak tentangnya.
Kamu sudah sadar, cepat bangun. Salju mulai turun, badan kamu tak kuat kedinginan!
Fatih teringat kembali ucapan Shofi, bagaimana bisa Shofi tahu jika dia terlalu kuat oleh dingin. Bukankah ini juga bukan hal kebetulan.
"Apa aku harus berpura-pura baik, supaya aku tahu siapa dia sebenarnya. Apa memang dia pernah berada di masa lalu ku!"
Gumam Fatih bingung, seperti nya Fatih harus bersikap baik agar ia tahu siapa Shofi sebenarnya.
Ya, Fatih harus pura-pura baik, karena percuma sampai sekarang Fatih belum bisa menemukan data akurat siapa Shofi sebenarnya. Bahkan dari pihak kampus pun data Shofi di jaga ketat.
"Seperti nya aku harus berterima kasih pada dia!"
Gumam Fatih lagi, karena Shofi sudah menolongnya tak meninggalkan ia pergi di saat Fatih kambuh.
Dan, Seperti nya hari ini awal baru bagi hubungan mereka dengan awal musim salju.
Fatih beranjak dari duduknya berniat berendam air hangat agar tubuhnya tak kedinginan.
Sudah selesai dengan ritual mandinya Fatih segera memakai baju dan memesan makanan untuk makan malam.
Fatih berjalan menuju balkon lalu melirik ke arah kiri. Tak ada siapapun di sana, Fatih pikir Shofi akan berada di sana seperti biasanya.
Fatih kembali masuk ketika mendengar suara pintu apartemen nya di ketuk. Ternyata pesanan Fatih sudah sampai.
"Danke mein Herr! (Terimakasih, pak!)"
Ucap Fatih ketika sudah mendapati makanannya. Fatih melirik kearah pintu apartemen Shofi lalu berjalan ke arah sana.
Fatih menghela nafas berat sebelum mengetuk pintu.
Satu dan dua kali percobaan belum ada sahutan.
"Satu kali lagi, jika dia gak keluar juga aku pergi!"
Gumam Fatih, kembali mengetuk pintu yang ketiga kalinya.
__ADS_1
"Wait!!"
Teriak Shofi dari dalam, Fatih langsung tegang ketika Shofi kali ini menyahut.
Cklek ...
Perlahan Shofi membuka pintu, Shofi menatap Fatih datar akibat terkejut Fatih berada di depan apartemen. Dan, bingung harus bicara apa.
"Aku memesan banyak makanan, sengaja ingin makan malam dengan mu. Tanda terimakasih kasih atas pertolongan mu!"
Ucap Fatih gugup karena Shofi menatap dirinya sangat datar.
"Hm,"
Shofi hanya menjawab singkat saja lalu membuka pintu lebar-lebar.
Fatih dengan kaku masuk kedalam apartemen Shofi.
Jika Shofi bersikap seperti itu membuat Fatih jadi salah tingkah sendiri.
"Letakan di meja makan saja, aku ambil piringnya!"
Ucap Shofi pada akhirnya ketika melihat Fatih kebingungan.
Shofi mengambil dua piring dengan perasaan aneh. Kenapa Fatih berubah baik padanya bahkan ucapannya tak se ketus biasanya.
Bahkan tingkah Fatih agak aneh menurut Shofi, seperti orang yang sedang malu-malu.
"Aku tak tahu apa yang kamu suka, jadi pesan ini saja!"
Ucap Fatih membuka makanan yang dia beli tadi. Cukup banyak membuat Shofi terkejut.
Shofi berusaha bersikap biasa walau merasa aneh kenapa Fatih sehangat ini.
"Ayo makan, jangan di lihatin terus!"
Ucap Fatih membuat Shofi mengangguk kaku.
Sumpah! keadaan mereka begitu canggung banget sampai Shofi sulit menelan makanan. Di tambah memang Shofi gak nafsu makan.
Walau begitu Shofi berusaha menelan semua makanan itu menghargai usaha Fatih. Sesekali mereka melempar senyum canggung.
"Maaf jika selama ini aku bersikap kasar!"
Ucap Fatih tulus menatap Shofi ketika mereka sudah selesai makan.
"Tidak masalah!"
"Baiklah, Bagaimana kalau kita benar-benar berteman!"
Ucap Fatih lagi membuat Shofi menautkan kedua alisnya bingung.
"Maaf, awalnya aku curiga kamu itu mata-mata tapi setelah membaca berkas itu, aku percaya kamu memang bukan penguntit!"
"Jadi, apa kamu mau memaafkan temanmu!"
Ucap Fatih lagi menatap penuh harap pada Shofi.
__ADS_1
Shofi mengangguk kaku membuat Fatih tersenyum lebar.
"Baiklah, awal musim dingin ini kita awali pertemanan kita,"
Ucap Fatih sambil mengulurkan tangannya, dengan senang hati Shofi menyambutnya. Pada akhirnya Fatih sendiri yang meminta kembali pertemanan itu seperti yang pernah Fatih lakukan dulu.
"Ah, namai Shofi kan?"
Shofi hanya mengangguk kaku saja karena bingung pada Fatih. Kenapa bicara seperti itu.
"Baik, Shofi, kamu sekarang bisa memanggil namaku!"
"Emmz, boleh aku meminta nomor mu?"
Deg ...
Shofi benar-benar terkejut dan merasa heran dengan tingkah Fatih yang berubah
Entah apa yang terjadi pada Fatih. Apa akibat kesakitan tadi hingga otak Fatih tergeser menjadi baik.
Shofi mengetikan nomor ponselnya di ponsel Fatih.
"Sudah,"
"Terimakasih, banyak!"
"Seperti nya Aku harus balik,"
"Silahkan!"
Fatih kembali ke apartemen nya lagi dengan senyum seringai di bibirnya. Entah apa yang Fatih rencanakan.
"Sebentar lagi aku akan tahu, Bagaimana kedok aslimu!!"
Gumam Fatih tersenyum iblis, Fatih masih menyangka kalau Shofi tetap mata-mata yang sewaktu-waktu akan menyerang dia. Sewaktu-waktu akan menghancurkan dia.
Karena terlahir di keluarga yang bukan sembarangan membuat Fatih terus waspada di manapun dia berada karena Fatih tahu, mungkin di luar sana musuh sedang berkeliaran merencanakan sesuatu seperti yang sudah-sudah.
Fatih merebahkan tubuhnya di atas ranjang sambil menatap langit-langit kamarnya.
Fatih kembali mencoba mengingat siapa gadis di dalam mimpinya itu. Mimpi yang terlalu samar membuat Fatih sulit mengenali wajah gadis tersebut.
Kepingan-kepingan fazel mulai berdatangan semenjak Shofi terus mengusiknya.
Fatih yakin, Ingatan itu kembali sepotong-sepotong ketika Fatih berada di dekat Shofi. Itulah salah satu alasan Fatih mendekati Shofi supaya ingatannya kembali dan Fatih akan tahu seburuk apa Shofi terhadapnya dulu.
Jika Fatih benar-benar menemukan kejahatan Shofi. Maka Fatih tak akan segan-segan untuk menghancurkan Shofi kembali.
Jika Fatih berpikir demikian maka berbeda dengan Shofi yang sangat bahagia Fatih bersikap manis padanya. Walau Shofi tak tahu apa yang di rencanakan Fatih, Shofi tak peduli. Yang terpenting Fatih kembali bersikap baik walau itu pura-pura.
Bagi Shofi, yang terpenting ia bisa kembali dekat walau hanya sebatas pertemanan. Karena Shofi yakin, Fatih akan kembali membuka hatinya untuk dia dan memaafkan kesalahan di masa lalu yang meninggalkan Fatih.
Karena Shofi yakin, di hati Fatih masih ada namanya. Di hati Fatih masih merindukannya. Dan, di hati Fatih hanya dia satu-satunya sunset itu.
Sunset yang selalu membuat Fatih rela menunggu sampai sunset itu kembali datang. Dan, kini Shofi sudah datang, sudah kembali berada tepat di hadapan Fatih.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih...