
Berkali-kali Fatih mengetuk pintu apartemen Shofi namun Shofi tak membukanya. Sialnya lagi Fatih tak bisa masuk karena Shofi sudah mengganti kode aksesnya.
Fatih menghubungi nomor Shofi namun tak ada satupun panggilannya yang di angkat. Kekecewaan dan kepanikan tergambar jelas di wajah Shofi membuat Fatih merasa bersalah.
Niat ingin memberi kejutan malah dia sendiri yang di buat terkejut. Fatih pikir orang yang mengantar makanan yang menekan bel pintu rumahnya nyatanya malah Shofi dan kenapa juga Shofi pulang awal bukankah dia bilang akan lembur.
Akhh ...
Fatih mengusap wajahnya kasar bahkan rambutnya sampai berantakan namun melihat Fatih seperti itu malah terlihat seksi.
Ingin rasanya Fatih berteriak dan mendobrak pintu Shofi namun Fatih masih waras tak mau membuat keributan yang akan menggangu kamar lain.
Fatih teringat sesuatu membuat ia berlari langsung ke apartemen. Fatih membuka laptop guna meretas kode keamanan apartemen Shofi.
"Kakak, apa tadi itu kakak cantik!"
"Diam dek, jangan ganggu konsentrasi kakak,"
Ketus Fatih membuat Aurora mengerucutkan bibirnya kesal. Pasalnya Aurora masih shok melihat penampilan Shofi.
Ketika Shofi ke Indonesia memang Aurora belum sempat bertemu karena Aurora harus terbang kembali ke Amerika.
Aurora sungguh benar-benar terkejut dengan apa yang tai terjadi kenapa Shofi malah pergi seperti melihat hantu.
Dan yang lebih membuat Aurora kesal sang kakak sibuk sendiri dengan kepanikan yang tak jelas bahkan tak menjelaskan pada dia apa permasalahan nya.
"Kakak kan cuma jawab apa susahnya sih! kenapa dia cantik sekali!"
Gumam Aurora membuat Fatih semakin kesal adiknya itu tak mau diam. Padahal yang membuat Shofi salah faham karena kemunculan Aurora keluar memakai handuk dan bisa Fatih tebak jika Shofi salah faham atas semuanya.
Fatih kembali sibuk dengan laptop berusaha memasukan kode-kode tertentu agar bisa membobol keamanan apartemen Shofi yang ternyata canggih juga. Namun bukan Fatih namanya jika tak bisa membukanya.
Fatih kembali keluar berdiri di apartemen Shofi sambil mengetik beberapa kode yang sudah Fatih sabotase.
Klik ...
"Yes!"
Girang Fatih ketika dia berhasil membobolnya membuat Fatih langsung menerobos masuk membuat Aurora berlari ingin mengejar kenapa sang kakak masuk ke apartemen orang namun sayang pintu apartemen Shofi sudah tertutup kembali.
Fatih mengedarkan pandangannya mencari Shofi namun nyatanya Shofi tak ada membuat Fatih langsung menerobos masuk kedalam kamar Shofi.
Brak ...
Deg ..
Shofi terkejut melihat Fatih bisa masuk kedalam Apartemen nya bukankah kodenya sudah Shofi ganti kenapa Fatih bisa masuk.
Shofi menghapus air matanya kasar sambil berdiri menatap Fatih sengit.
Sedang Fatih sendiri tertegun melihat Shofi menangis bahkan kamar Shofi sudah menjadi lautan tisu.
"Ph-philo,"
"Tadi yang kamu lihat itu tak seperti yang kamu pikirkan, kamu salah faham!"
Ucap Fatih hati-hati sambil berjalan mendekat berharap Shofi mau mendengarkan ucapannya.
"Salah faham bagaimana kalian tadi akhhh ..."
Jerit Shofi sungguh tak bisa menjelaskannya karena terlalu sakit. Fatih semakin gelagapan melihat kemarahan Shofi membuat Fatih harus memutar otak untuk menenangkannya.
"Philo Apa kamu tak mempercayaiku!"
"Bagaimana aku percaya jika kamu bohong dengan pekerjaan nyatanya kalian!"
Bentak Shofi menggebu menatap tajam Fatih membuat Fatih menghela nafas berat. Fatih sungguh prustasi menghadapinya apalagi Shofi merajuk berbeda dengan wanita kebanyakan. Jika salah langkah maka bisa di pastikan akan ada perkelahian.
Srett ...
Fatih membuka bajunya hingga memperlihatkan dadanya yang bidang dengan perut kotak-kotak nya.
__ADS_1
"Coba kamu lihat apa ada yang berubah di badanku jika memang aku berkhianat!"
"Apa kamu menemukan hal yang berubah!"
Ucap Fatih bahkan sampai rela membuka baju dan memutar tubuhnya di hadapan Shofi agar Shofi percaya jika ia tak melakukan apa-apa.
Shofi hanya diam saja dengan wajah datarnya menatap tubuh Fatih dingin.
Memang tak ada yang berubah, bahkan tak ada bekas ciuman atau apapun. Tubuh Fatih mulus tak ada luka juga di punggungnya.
"Ini hanya salah faham, ok!"
"Tapi tadi kalian!"
Fatih malah tersenyum geli melihat kecemburuan di mata Shofi dengan tingkah merajuknya.
Shofi menautkan kedua alisnya melihat Fatih malah tersenyum apa ada yang lucu di saat seperti ini. Sungguh Shofi malah semakin di buat naik darah.
"Ya ampun Philo kau sungguh menggemaskan,"
"Kau!"
"Yang kamu lihat tadi, dia Aurora adikku!"
Shofi memicingkan kedua matanya menatap tak percaya pada Fatih.
Aurora!
Adik!
Bagaimana bisa itu Aurora kenapa Shofi tak mengenalinya jika itu Aurora.
Grep ...
Fatih memeluk Shofi tiba-tiba walau Shofi memberontak.
"Lepas!"
Cup ...
"Lepas!"
Cup ...
Cup ...
Shofi terdiam jika kali ini yang Fatih cium adalah lehernya. Membuat Shofi terdiam kaku dengan nafas tertahan. Bagaimana bisa Fatih mencium titik paling sensitif. Fatih selalu tahu kelemahan dia membuat Shofi benar-benar tak berkutik.
"Dear!"
"Hm,"
Gumam Fatih sambil mengangkat kepalanya dengan senyum yang menghiasi bibirnya.
"Aku tak bohong, tadi Aurora percayalah!"
"Jika kamu ingin bukti ayo kita ke apartemen ku!"
"Tadinya aku ingin buat kejutan untuk kamu tapi nyatanya kamu pulang cepat bukannya bilang akan lembur!"
"Philo!"
Rengek Fatih sambil mengeratkan pelukannya karena Shofi malah diam saja seolah tak mendengarkan ia bicara.
"Serius!"
"Iya, dia Aurora!"
Ucap Fatih sambil mengangguk lucu membuat Shofi menghela nafas pelan.
"Ya sudah lepaskan!"
__ADS_1
"Gak salah faham lagi!"
"Hm,"
Cup ...
Shofi membulatkan kedua matanya ketika tiba-tiba Fatih malah mengecup bibirnya ini bukan sekedar kecupan saja tadi Fatih menekannya dalam walau tak ada kesakitan di sana.
Fatih menekannya dengan sedikit hisapan membuat Shofi semakin diam dan malah membuka aksesnya sehingga Fatih dengan leluasa bisa memperdalam ciumannya.
Lama kelamaan Shofi membalas juga ketika Fatih membuatnya lupa akan kemarahan dia apalagi Fatih yang telanjang dada membuat Shofi malah gagal fokus.
"Emmz .... Dear!"
Gumam Shofi tak jelas melepaskan tautannya Shofi masih waras agar tak melakukan hal lebih.
"Kamu cintaku tak ada yang lain!"
"Aku percaya, sekarang pakai baju ya!"
"Mau bertemu Aurora!"
"Iya!"
Fatih tersenyum karena sudah berhasil meluluhkan hati Shofi kembali. Untung saja marahnya Shofi tak meledak-ledak seperti biasanya.
Fatih dengan cepat memakai baju yang sempat ia lepas tadi.
"Cuci muka dulu, Aurora pasti bertanya kenapa kamu menangis. Apa aku harus menjawab jika kam-"
Plak ...
"Dear!"
Rengek Shofi sambil memukul lengan Fatih. Pipi Shofi sudah memerah bak kepiting rebus bagaimana bisa ia se-ceroboh ini.
Apa kata dunia jika ia cemburu pada calon adik iparnya sendiri.
Aurora pasti akan menertawakannya jika itu terjadi.
Shofi keluar dari kamar mandi dengan keadaan fresh kembali membuat Fatih tersenyum lembut.
"Ngomong-ngomong sejak kapan Aurora ada?"
"Tadi sore baru sampai,"
"Liburan!"
"Kabur dari kampus,"
"Kok gitu!"
"Biasa lagi labil!"
"Ayo!"
Fatih meraih tangan Shofi keluar dari kamar dengan Shofi yang entah kenapa malah merasa gugup.
Entahlah Shofi juga tak tahu,
Cklek ...
Deg ...
Shofi diam mematung melihat siapa yang ada di depan apartemen nya. Mata Shofi menatap dari ujung rambut sampai ujung kaki Aurora. Benarkah itu Aurora sudah sebesar ini, dia tumbuh dewasa dan sangat cantik.
Padahal dulu Aurora sangat kecil sekali tapi lihatlah sekarang sudah sebesar ini.
"Kakak cantik!!"
Pekik Aurora membulatkan kedua matanya girang bisa melihat wajah Shofi sedekat ini. Wajah yang dulu membantu ia dari kejaran anak motor.
__ADS_1
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan, Vote Terimakasih ...