
"Aunty..,"
Lilir Richard memeluk Shofi erat. Bocah itu memang dekat sekali dengan Shofi. Wajar jika Richard sakit ingin dengan Shofi karena semenjak Shofi kuliah waktu Shofi dan Richard jadi berkurang.
"Aunty di sini, sudah ayo tidur lagi!"
Ucap Shofi memeluk Richard yang terlihat lemah, wajah nya pucat.
Shofi menepuk-nepuk bokong Richard berharap Richard segera tidur. Melihat Richard membuat Shofi mengingat Tante Queen.
Dulu ketika Shofi meninggalkan Indonesia Tante Queen sedang mengandung. Entah laki-laki atau perempuan adik Fatih Shofi tak tahu. Mungkin, usia mereka hampir sama dan tumbuh seperti Richard.
Shofi memang sangat menyayangi Richard seperti adiknya sendiri. Dengan penuh kasih sayang Shofi terus menepuk-nepuk Richard berharap Richard segera tidur. Seperti nya Richard kecapean akibat bermain. Hingga menyebabkan Richard demam hal itu wajar di usia anak yang sedang aktif-aktifnya.
Menjadikan anak menjadi lebih kuat lagi daya tahan tubuhnya.
Shofi menyelimuti Richard lalu mengecup kening Richard dengan sayang. Karena Richard sudah tidur pulas.
Shofi keluar sesudah memastikan Richard benar-benar tidur.
"Bagaimana dek, apa Richard masih rewel?"
Tanya Angel ketika Shofi baru keluar dari kamar.
"Tidak, Richard sudah terlihat baik kok. Dia sudah tidur pulas,"
Angel bernafas lega mendengarnya, karena dari kemaren Richard rewel terus bahkan sulit tidur. Dan, hanya nama Shofi yang terus di sebut.
Angel hanya takut kenapa-kenapa pada anaknya. Jika seperti itu terus mana bisa Angel tenang.
"Muka kakak kenapa, kok pucat?"
Tanya Shofi balik sambil duduk biar mengontrolnya nyaman.
"Kakak gak tahu, mungkin karena masuk angin. Dari tadi sore mual,"
"Emang kakak habis di mana?"
Angel terdiam antara menjawab atau tidak. Karena pasti Shofi akan marah padanya. Jika tak di jawab juga Shofi pasti akan menyelidikinya.
Huh ...
Jika punya adik teliti ribet juga, membuat Angel harus hati-hati menjelaskan.
"Kakak habis main sky, cuma sebe--"
"Kakak!"
Geram Shofi menatap tajam sang kakak, Angel terdiam karena Shofi yakin marah pada dia.
"Kakak main sky, dan ninggalin Richard sendirian atau jangan-jangan Richard juga di bawa ke sana!"
Selidik Shofi membuat Angel terdiam karena tebakan Shofi benar.
Shofi menghela nafas berat melihat Angel hanya diam. Karena Shofi tahu, kakak nya tak pandai berbohong dalam hal apapun.
Sekali berbohong jadi ketahuan, pantas saja Richard sakit karena di sana cuacanya sangat dingin apalagi lagi musim salju. Bagaimana mungkin sang kakak berbuat ceroboh seperti ini. Seperti bukan Angel saja, karena yang Shofi kenal Angel selalu teliti dalam hal apapun bahkan membawa Richard main pun harus dengan keadaan bagus.
"Maafkan kakak, kakak juga gak tahu kenapa ingin main sky dan kebetulan Richard juga ingin main di luar jadi sekalian!"
Shofi menautkan kedua alisnya bingung, seolah ada kejanggalan. Karena tak biasanya sang kakak berbuat ceroboh. Apalagi Davit mengizinkannya. Ini hal yang sangat aneh sekali.
__ADS_1
"Apa ada sesuatu yang kalian rencanakan?"
Tanya Shofi penuh selidik, karena Shofi mencium bau-bau rencana. Apalagi Richard sakit sangat kebetulan sekali.
"Tidak ada, kakak cuma mau minta maaf atas kejadian tempo hari?"
"Kakak tidak tahu apa-apa tentang perjodohan itu!"
Shofi menghela nafas berat, bagaimana bisa sang kakak menjadikan Richard umpan agar dirinya bisa pulang ke mansion karena ingin membicarakan hal yang membuat Shofi emosi.
"Tapi kenapa harus Richard, kak?"
"Tidak sayang, Richard memang sakit akibat kedinginan di tempat sky. Bukan dari bagian masalah kita. Percayalah ..,"
"Tapi kakak sudah keter--"
Hoek ...
Hoek ...
Angel merasa mual kembali, dengan cepat Angel berlari menuju wastafel memuntahkan isi perutnya.
Shofi yang melihat itu menjadi terkejut dan ikut panik juga. Shofi membantu Angel menepuk-nepuk pundaknya Sesekali mengelus berharap Angel tenang.
"Kak Davit kemana?"
Tanya Shofi karena sendari tadi tak melihat sang kakak.
"Katanya akan lembur,"
"Kakak duduk di sini!"
Shofi membantu Angel duduk di sopa kembali. Lalu, Shofi memanggil dokter untuk menangani Angel. Shofi takut terjadi hal yang serius terhadap Angel. Apalagi Richard juga sedang sakit dan pasti membutuhkan Angel.
Teriak Shofi membuat Philip langsung muncul di hadapan Shofi.
"Jemput dokter Maria sekarang,"
"Baik nona muda!"
Philip langsung melesat pergi tanpa menunggu perintah lagi. Apalagi Philip sempat melihat istri tuan besar terlihat kesakitan.
Sesudah Philip pergi Elsa yang muncul menemani Shofi.
"Aunty,"
Deg ...
Shofi langsung berdiri karena terkejut mendengar panggilan Richard. Jangan sampai Richard melihat Mommy nya dalam keadaan sakit karena bisa gawat.
"El, tolong jaga kakak, aku harus menangani Richard dulu,"
"Baik!"
Shofi langsung berlari menuju dimana suara Richard berada. Richard memang akan memanggil orang yang terakhir tidur dengannya jika ia terbangun orang itu tidak ada di sampingnya.
"Sayang, kenapa keluar!"
Ucap Shofi sambil menggendong Richard yang terlihat linglung.
"Aunty kemana, Richard takut!"
__ADS_1
Rengek Richard sambil memeluk leher Shofi. Shofi kembali membawa Richard ke dalam kamarnya. Shofi sedikit bernafas lega setidaknya demam Richard sudah mulai turun.
"Jangan takut ada Aunty di sini,"
"Richard takut, Richard mimpi takut hiks ...,"
Rengek Richard memeluk erat leher Shofi seolah takut Shofi akan pergi lagi.
Shofi mengeratkan pelukannya pada Richard berharap Richard akan tenang.
"Sudah sayang jangan menangis, ada Aunty. Jangan takut ya,"
"Mommy, ninggalin Richard sama baby kecil hiks .., Richard di tinggalin. Richard takut, Aunty juga ninggalin hiks ..,"
Shofi terdiam mendengar rancu an Richard yang terus menangis ketakutan. Apa maksudnya baby kecil, Shofi belum faham.
Shofi diam saja sambil mengeratkan pelukannya. Sesekali mengelus-elus punggung Richard berharap Richard akan tenang.
Rengekan Richard mulai melemah pertanda Richard sudah tidur kembali. Bahkan pelukan Richard juga mulai melemah seiring nafas Richard yang mulai normal.
Shofi mengelus pipi Richard, lalu Shofi melihat jam tangannya. Terlihat sudah pukul sebelas malam pertanda sudah tiga jam Shofi menenangkan Richard.
Shofi yakin, kali ini Richard benar-benar sudah terlelap. Dan, kemungkinan besar, Davit juga sudah pulang.
Entah bagaimana keadaan Angel membuat Shofi khawatir juga. Pasalnya keadaan Angel begitu memperihatinkan.
Dengan pelan, Shofi turun dari ranjang sangat hati-hati takut membuat Richard terbangun.
Suasana di ruang tengah sangat hening pertanda semua orang sudah masuk kedalam kamarnya. Hanya ada beberapa bodyguard yang menjaga.
"Mungkin besok saja aku tanya?"
Gumam Shofi karena tak melihat Elsa dan Philip berjaga. Shofi mengambil tasnya di mana tadi Shofi menaruhnya di ruang tengah. Sudah mendapatkan yang Shofi cari Shofi kembali ke kamar Richard karena takut Richard terbangun kembali dan mencari dirinya.
Shofi duduk di sopa lalu mengambil ponselnya di dalam tas.
Ada beberapa panggilan dari Fatih yang tak terjawab. Dan, ada beberapa pesan juga dari Fatih dan Cherry.
Shofi memilih membuka punya Cherry terlebih dahulu apalagi Cherry yang lebih banyak panggilan tak terjawab nya.
Shofi tolong aku, aku di kurung di mansion utama.
Bantu aku keluar, aku tak mau di jodohkan!
Shofi terdiam membaca pesan dari Cherry. Bagaimana bisa Cherry bisa berada di mansion utama. Bukankah tadi Cherry bersama Jarvis.
Kenapa masalah mereka sama, Bagaimana bisa Shofi menolong Cherry sedang dirinya sendiri juga sama masih terjebak dalam perjodohan sang kakak.
Shofi menghela nafas berat lalu membuka pesan dari Fatih.
Sayang kamu di mana? aku di luar apartemen!
Sayang apa kamu pergi? kenapa tak memberi tahu. Jawab pesanku, jangan buat aku cemas?
Shofi tersenyum melihat pesan dari Fatih. Terlihat nampak khawatir sekali Fatih pada dirinya.
"Andai kamu sudah ingat, mungkin kamu tak perlu memberiku pesan seperti ini. Kamu akan hadir di saat aku butuhkan!"
Gumam Shofi sambil menghela nafas pelan berharap ada sebuah keajaiban datang.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan, Vote Terimakasih ....