Fatih (Rindu Yang Belum Usai)

Fatih (Rindu Yang Belum Usai)
Bab 104 F2 (RYT) Sebuah anugrah


__ADS_3

Semua keluarga menatap haru melihat Mentari kembali ceria. Bahkan Mentari terlihat nyaman di gendongan Shofi.


Baby mungil itu bahkan tertawa ketika Elsa mengajaknya bicara.


Sungguh semua keluarga merasa lega melihat Mentari baik-baik saja.


Di usinya yang sekarang sudah menginjak delapan Bulan membuat Mentari bisa melihat dengan jelas orang-orang yang menyayanginya.


Bahkan Mentari tumbuh dengan baik walau terkadang seorang baby pasti merindukan seorang ibu.


"Sekarang Mentari makan ya, mommy yang suapin!"


Ucap Shofi mendudukkan Mentari di sebuah kursi makan baby. Mentari terlihat girang ketika Shofi menyuapinya makan.


Bahkan makanan sampai habis, biasanya Mentari makan tak pernah sehabis itu.


Elsa terus mengabadikan momen kebersamaannya Shofi dan Mentari. Elsa yakin Shofi pasti membutuhkan photo itu suatu hari nanti.


Bahkan Mentari kembali tidur bersama Shofi dan Fatih.


Mereka layaknya keluarga sesungguhnya bahkan Mentari begitu pulas tidur di pelukan Shofi.


Sedang Elsa tidur sendirian di kamar tamu. Entah berapa hari mereka tinggal di Indonesia.


Seperti nya pekerjaan Elsa menjadi dua kali lipat padatnya.


Drett ...


Elsa kembali membuka matanya tetkala ponselnya berdering. Ternyata Philip yang memanggil vidio call.


"Sayang,"


"Hm,"


"Bagaimana keadaan di sana?"


"Semuanya aman, hubby sedang apa?"


"Baru istirahat, ini mau makan!"


"Kenapa baru makan di jam segini!"


"Tanggung sayang,"


"Jangan di biasakan by, nanti lambung kamu kambuh!"


"Siap bu bos,"


Elsa tersenyum melihat kekasih kakunya yang sedang makan. Philip memang selalu hangat padanya berbeda pada orang lain.


Elsa memerhatikan Philip yang sedang makan.


Jika di Indonesia sudah malam maka di Jerman baru sore karena perbedaan waktu dua negara itu cuma selisih lima jam dan Indonesia lebih cepat dari Jerman.


Mata Elsa mulai berat membuat Philip terkekeh di ujung sana melihat kekasihnya malah tidur.


.


Pagi hari ...


Shofi memandikan Mentari dengan telaten seolah Shofi sudah terbiasa mengurus baby.


Apalagi Mentari sangat senang sekali di mandikan oleh Shofi sampai membuat baju Shofi ikutan basah karena ulah Mentari.

__ADS_1


"Ya ampun nak, baju mommy jadi basah!"


"Mau main basah-basahan ya sama mommy!"


Kekeh Shofi mengusap-usap rambut pirang Mentari yang memakai shampo. Mentari tertawa seolah senang menjahili Shofi.


Fatih yang melihat itu meneteskan air mata sungguh kasih sayang Shofi begitu kuat. Pantas saja Shofi begitu merindukan Mentari seperti nya Mentari juga memerlukan sosok Shofi.


Sudah selesai mandi Shofi memakai baju dan mendandani Mentari yang terlihat menggemaskan.


"Sayang sama Daddy dulu ya, mommy mau mandi!"


Ucap Shofi sambil menyerahkan Mentari pada Fatih. Shofi selalu saja menyebut dirinya mommy seolah Mentari anaknya sendiri.


Fatih membawa Mentari keluar menuju ruang keluarga di mana semua keluarga berkumpul di sana.


"Wah, cucu Oma sudah wangi!"


Ucap Melati menatap gemas cucunya dengan perasaan bahagia. Begitu juga dengan semua orang.


"Istri mu di mana, kak?"


Tanya Farhan pada Fatih yang duduk di hadapannya.


"Lagi mandi pah, tadi bajunya basah karena Mentari!"


"Hm,"


Begitulah Farhan hanya bicara seadaanya saja. Ada kalanya jika ia bicara panjang lebar.l


Tak lama Shofi keluar membuat semua orang langsung beranjak ke meja makan untuk memulai sarapan.


Mereka semua sarapan bersama begitu pun Elsa ikut dalam keluarga itu.


Rancu Mentari sambil mengangkat kedua tangannya. Semua orang langsung menatap Mentari.


"My .. my ..,"


Mentari terus saja berkata seperti itu membuat semua orang kebingungan.


"Nak, mau susu?"


Tanya Melati karena biasanya Mentari memang meminta susu jika mengoceh kata my.


"My ... my .. my ..,"


Mentari semakin mengoceh dengan mata mulai mengembun membuang sendok di tangannya.


"Mau sama mommy!"


Deg ...


Semua orang terkejut ketika Mentari merentangkan tangan seolah meminta di gendong oleh Shofi.


"Mommy!"


"My ..,"


"Mommy!"


"Mo-mo-my,"


Semuanya semakin terkejut ketika Mentari bisa mengucapkan kata mommy walau masih sulit namun mereka mengerti apa yang di maksud Mentari.

__ADS_1


Baru kali ini Mentari bicara dengan jelas bahkan kata yang keluar adalah panggilan untuk Shofi.


Shofi mengangkat Mentari pindah ke tempatnya.


"Dear, minta tolong kursi makan Mentari di pindah ke sini!"


Fatih tanpa bicara langsung memindahkannya di samping sang istri.


"Makan sama mommy!"


Mentari tertawa seolah mengiyakan ucapan Shofi.


Shofi tersenyum gemas memandang keponakan nya. Perlahan Shofi menyuapi Mentari. Mentari terlihat lahap sekali ketika di suapi Shofi.


Semua orang yang berada di sana lagi-lagi tak bisa berkata apa-apa melihat bagaimana Shofi memperlakukan Mentari. Apalagi Shofi terlihat menyayangi Mentari.


Shofi menyuapi Mentari sedang Fatih menyuapi istrinya agar Shofi juga sama-sama makan.


Awalnya Shofi malu karena menjadi pusat perhatian tapi Fatih terus memaksanya membuat Shofi mau tak mau menerima suapan dari Fatih.


Elsa yang melihat sahabatnya tak lupa mengabadikan momen itu seolah Shofi adalah ibu dari Mentari. Bahkan Elsa juga mengirim langsung pada Philip dan menyuruh Philip langsung mencetaknya karena Elsa tahu Shofi tak akan keberatan melakukan nya.


Biar jadi kejutan ketika Shofi kembali ke Jerman dan tentu itu semua tak luput dari perintah Fatih.


Entah apa yang Fatih rencanakan seperti nya memang Shofi tak tahu apa-apa.


Sudah sarapan semuanya berkumpul di taman belakang. Bercanda tawa di sana dengan perasaan haru di mana Mentari mulai bisa bicara.


Sungguh mereka seperti keluarga sesungguhnya. Tawa lepas Mentari menjadi kebahagiaan tersendiri bagi semuanya.


Padahal mereka sempat khawatir dengan keadaan Mentari.


Jek dan Melati terdiam menatap berkaca-kaca cucunya. Sungguh senyum itu mengingatkan mereka pada Amira.


Kepergian Amira masih saja membekas di hati mereka. Seolah mereka menghabiskan masa tuanya dengan sebuah kesedihan dan penyesalan yang begitu mendalam.


Mentari satu-satunya menjadi pelipur lara bagi Mereka. Seolah adanya Mentari sebagai bukti dan pengingat akan kesalahan mereka.


Mentari hadir bukan sebuah kesalahan namun anugrah yang begitu hebat sampai mempersatukan tiga keluarga sekaligus.


Antara Queen dan Jek memang tidak terlalu dekat tapi hadirnya mentari membuat mereka bersatu mengurus Mentari.


Kepergian Alam dan Amira membuat hubungan Jek dan Dinda ataupun Fandi tak sehangat itu. Tapi demi Mentari mereka semua kompak bersatu.


Tak cukupkah itu sebagai bukti bahwa Mentari lahir adalah sebuah anugerah bagi mereka semua.


"Bolehkah aku menggendongnya?"


Izin Elsa ingin sekali menggendong Mentari karena gemas.


Elsa menggendong Mentari dengan wajah aneh. Baru kali ini Elsa menggendong seorang baby dan itu tak mudah seperti yang di lihat.


Ternyata Mentari sangat berat dan tak mau diam membuat Elsa harus hati-hati.


Shofi yang melihat itu semua tersebut geli pasalnya ekspresi Elsa sangat-sangat aneh. Seperti nya Elsa lebih cocok memegang pistol dari pada memegang baby.


Elsa mengembalikan Mentari pada Shofi seperti nya Elsa benar-benar tak bisa menggendong baby. Kenapa sesudah itu memegang baby. Bagaimana jika Elsa punya anak tak bisa di bayangkan bagaimana jadinya.


Membayangkannya saja membuat Elsa bergidik ngeri.


Seperti nya Elsa lebih baik memegang pistol, panah, pisau dan belati saja.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2