
Fatih dan Shofi makan siang berdua tentunya di ruangan Shofi sendiri.
Mereka makan saling suap menyuapi satu sama lain.
Terlihat indah di pandang kelakuan mereka berdua. Saling mengerti satu sama lain, saling menyayangi dan mencintai.
Sesudah makan Shofi langsung membereskannya lagi hingga meja kembali terlihat bersih.
"Dear seperti kamu harus kembali ke kantor, aku juga sebenar lagi akan bertemu seseorang!"
"Baiklah, ada pekerjaan juga yang harus aku lakukan!"
Shofi tersenyum mengantarkan Fatih ke depan pintu.
Cup ...
"Sampai jumpa di apartemen!"
"Hati-hati di jalan!"
Shofi memegang dadanya yang berdebar kenapa Fatih selalu saja membuat hatinya emosi.
Shofi kembali kedalam ruangannya lalu duduk di kursi keberadaannya.
Shofi membuka pesan yang tadi belum sempat terbuka. Seperti dokter Jingga sebentar lagi sampai.
Tok ..
Tok ...
"Masuk!"
Elsa masuk ketika Shofi sudah mempersilahkannya.
"Maaf nona, dokter Jingga sudah sampai!"
"Baik, suruh beliau masuk!"
Elsa hanya mengangguk saja lalu mempersilahkan seorang dokter cantik nan anggun masuk kedalam ruangan Shofi.
Bertepatan dengan Shofi membuka berkas data dokter yang di juluki Jingga itu.
Deg ...
Mata Shofi membulat sempurna melihat data tersebut seolah tak menyangka.
"Silahkan duduk, Dok!"
"Stop!"
Ucap Shofi tegas membuat Elsa menautkan kedua alisnya bingung. Ada apa dengan Shofi kenapa terlihat tegang.
"Nona, apa anda baik-baik saja!"
Shofi mengangkat tangannya mengisyaratkan Elsa diam di tempat. Shofi langsung berdiri dengan mata yang masih menatap tajam berkas tersebut.
Entah ada apa dengan Shofi kenapa reaksinya seperti itu. Ini memang kesalahan Shofi yang terlalu percaya pada Philip hingga membuat Shofi tak memeriksa ulang berkas dokter tersebut.
Dengan ragu Shofi menatap ke depan semoga apa yang ia lihat orang yang tak sama.
Sesaat waktu seolah berhenti ketika mata mereka saling bertemu.
Shofi terdiam dengan wajah terkejutnya bahkan rasanya Shofi sulit bernafas. Baru saja tadi pagi ia di buat shok dan sekarang lagi-lagi Shofi di buat hal yang sama.
Sungguh ini benar-benar!
"Dek!"
"Selamat siang kakak cantik!"
Ucap Shofi dan Aurora barengan membuat Elsa menautkan kedua alisnya bingung dengan sapaan keduanya.
"Oh ya ampun seperti aku sudah gila!"
Ucap Shofi sambil menepuk-nepuk pipinya, tiba-tiba penglihatan Shofi mulai blur dengan kepala yang merasakan sakit.
__ADS_1
Bruk ..
"Nona muda!"
"Kakak!"
Teriak Elsa dan Aurora membulatkan kedua matanya melihat Shofi yang pingsan.
Ya, dokter yang di juluki Jingga adalah Aurora dokter muda dengan segudang prestasi. Dokter yang banyak di incar oleh negara-negara lain karena keahlian nya.
Namun Aurora memilih tawaran terbang ke Jerman bergabung dengan rumah sakit perusahaan keluarga Damaresh.
Rumah sakit yang terkenal selalu menyediakan pengobatan gratis bagi orang-orang yang tak mampu yang di dalamnya terdapat Dokter ahli.
Philip langsung membawa Shofi kedalam kamar rahasia dan menelepon dokter untuk datang ke kantor.
Tak mungkin bagi Philip membawa Shofi kerumah sakit yang ada satu gedung akan di buat heboh belum lagi para bodyguard yang menjaga di luar.
Elsa memegang tangan Shofi cemas sambil menatap Aurora juga. Elsa bertanya-tanya ada hubungan apa antara Aurora dan Shofi terlihat seperti nya mereka saling mengenal.
Melihat kecemasan di wajah Aurora membuat Elsa bisa menyimpulkan jika hubungan mereka begitu dekat.
Tak lama seorang dokter masuk terdiam sejenak menatap Shofi yang berbaring lemah.
Sang dokter langsung memeriksa keadaan Shofi dengan sangat hati-hati.
Huh ...
Dokter tersebut menghela nafas pelan menatap wajah Shofi yang sedikit pucat.
"Dok, apa yang terjadi dengan nona muda!"
"Tidak apa-apa, nona muda hanya shok saja!"
"Tak biasanya nona muda mengalami hal semacam ini. Kejadian apa yang membuatnya Shok?"
Elsa langsung terdiam sambil menatap Aurora. Elsa hanya bingung cara menjelaskannya bagaimana karena takut membuat Aurora tak enak sedang Aurora tamu kehormatan mereka.
"Emmz,"
"Kakek!"
Lilir Shofi lemah berusaha bangun dari tidurnya.
"Dasar nakal, kau membuat kakek cemas!"
Omel sang dokter membuat Shofi merasa bersalah.
Shofi menatap Aurora yang berdiri diam bak patung dengan tatapan berkaca-kaca.
Sungguh ini benar-benar bukan mimpi, Shofi pikir dirinya hanya mimpi nyatanya benar.
"Apa yang membuat kamu seperti ini, asisten dan sekretaris sialan ini tak memberi tahu kakek!"
Ketus sang dokter membuat Elsa dan Philip hanya diam saja mereka sudah bisa mendengar ocehan Dokter Tuner dokter keluarga Damaresh yang sudah Shofi anggap Kakek nya sendiri.
"Seperti kita bahas di luar!"
"Kau!"
"Ayolah kek, ada tamu masa harus seperti ini!"
Dokter Tuner langsung menatap Aurora tajam membuat Aurora menunduk kaku.
Mereka semua keluar dan duduk tenang saling berhadapan satu sama lain.
Berkali-kali Shofi menghela nafas berat mencoba menetralkan emosinya. Kenapa hari ini kakak dan adik dua-duanya membuat Shofi jantungan. Entah di sengaja atau tidak rasanya Shofi sangat kesal.
"Sebelumnya saya minta maaf Dok sudah membuat anda menunggu!"
Ucap Shofi berusaha tenang dan profesional dalam pekerjaan.
"Saya hanya shok saja ternyata dokter muda yang sering orang bicarakan ternyata anda!"
"Bagaimana, apa anda sudah membaca isi kontraknya!"
__ADS_1
"Sudah, dan saya tak mempermasalahkan itu!"
"Terimakasih karena anda sudah berkenan menerima tawaran kami padahal kami tahu banyak rumah sakit lain yang menginginkan anda di antara mereka!"
"Dan saya memilih di sini!"
Shofi tersenyum melihat bagaimana cara Aurora menjawab. Ketegasannya sama seperti Fatih sungguh Shofi hanya belum menyangka saja jika dokter yang begitu banyak idolanya ternyata adik dari kekasihnya sendiri.
Jadi Aurora sudah berbohong tentang liburannya.
"Selamat bergabung dengan kami dokter Rora!"
Aurora tersenyum sambil menjabat tangan Shofi.
Aurora hanya tak menyangka reaksi Shofi sehebat itu bahkan sampai pingsan. Ternyata kejutannya membuahkan hasil.
"Apa ini semacam kejutan?"
"Sedikit!"
"Kalian bahas apa sih, apa kalian saling kenal?"
"Aurora adik kekasih Shofi, kek!"
"Hah!"
Dokter Tuner, Philip dan Elsa membulatkan kedua matanya tak percaya. Pantas saja sikap mereka seperti itu nyatanya Aurora adiknya Fatih.
"Kau benar-benar nakal, sudah lah jaga kesehatan kamu kakek harus ke rumah sakit kembali!"
"Tunggu profesor!"
Ucap Aurora membuat Philip dan Elsa kembali melongo. Begitupun dengan Shofi kali ini yang di buat bingung.
Apa Aurora mengenal dokter Tuner juga apa mereka saling mengenal.
"Apa profesor akan menepati janji!"
Dokter Tuner menatap Aurora gadis ini memang tak berubah dari satu tahun lalu ketika mereka bertemu di L.A.
"Asal kau bisa menjaga cucuku!"
"Siap!"
Dokter Tuner pergi begitu sama dengan senyum tipis di bibirnya.
"Dek!"
"Terimakasih kak, terimakasih!!"
Ucap Aurora memeluk Shofi erat membuat Elsa dan Philip lagi-lagi di buat melongo. Mereka pergi begitu saja meninggalkan Shofi dan Aurora karena mereka bingung situasi macam apa ini apa ini reuni keluarga.
"Dek, kamu mengenal kakek juga!"
"Profesor salah satu dokter yang pernah mengisi acara seminar di L.A satu tahun lalu dan dia juga yang sudah berhasil menyelamatkan nyawa teman Rora. Semenjak itu Rora ingin menjadi muridnya namun profesor selalu menolak dan dia berkata jika Rora bisa menjadi dokter ahli dalam satu tahun dan bisa menemukan keberadaan maka dia akan menerima Rora,"
Girang Aurora menceritakan semuanya membuat Shofi memangut-mangut.
"Lalu, apa kamu sengaja bekerja di sini!"
"Tidak, karena awalnya Rora tidak tahu jika perusahaan ini milik kakak!"
"Terus,"
"Apanya!"
"Kak Fatih!"
"Dia juga belum tahu!"
Dam ...
Shofi menepuk jidatnya sendiri dengan apa yang Aurora katakan. Jadi bukan hanya Shofi yang tak tahu apa-apa ternyata Fatih juga belum tahu jika adiknya.
Bersambung ...
__ADS_1
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan, Vote Terimakasih ...