
Shofi hanya terdiam saja mendengar Fatih menyebut Moreo jahat. Setahu Shofi Moreo tidak seperti itu.
Entah apa yang terjadi lima tahun belakangan ini. Pasti banyak kejadian yang tak Shofi ketahui.
"Sayang,"
"Hm,"
"Sebentar lagi kita wisuda. Apa kamu mau ikut dengan ku ke Indonesia. Ada sesuatu yang harus kamu tahu di sana!"
Shofi memejamkan kedua matanya mendengar Fatih menyebut Indonesia. Terlalu banyak kenangan manis di sana.
Ingin sekali Shofi ikut tapi Shofi ragu bagaimana keadaan di sana. Apa keluarga Al-biru dan Prayoga akan menerimanya atau tidak.
"Aku takut!"
"Kenapa?"
"Karena sudah membuat kamu berada di titik terpuruk,"
"Itu bukan salah kamu, aku begini karena kecelakaan. Itu sudah takdirku,"
Shofi hanya diam saja, entah kenapa hatinya merasa ada sesuatu yang aneh. Namun, Shofi sulit untuk mengungkapkannya. Seolah akan ada sesuatu yang besar terjadi.
Entah bagaimana jadinya jika Shofi benar-benar ikut ke Indonesia. Apakah suasananya akan sama atau tidak.
"Aku cuma takut, keluarga kamu menyalahkan aku atas semuanya. Terbukti jika mereka tak pernah memberi tahumu tentang aku!"
Deg ...
Fatih terdiam seolah baru ngeh dengan ucapan Shofi. Kenapa Fatih tidak berpikir sampai ke sana. Apa ada alasan kuat kenapa semua keluarganya tak ada yang mengingatkan dia pada Shofi.
"Sudah, jangan terlalu di pikirkan. Aku yakin semua akan baik-baik saja!"
"Benarkah!"
"Iya!"
"Jangan tinggalkan aku apapun yang terjadi,"
"Harusnya aku yang bilang seperti itu!"
Sanggah Fatih karena sampai kapanpun Fatih tak akan pernah meninggalkan Shofi. Namun, yang Fatih takutkan Shofi akan meninggalkannya lagi.
Mengingat bagaimana kerasnya kakak Shofi yang menentang hubungan mereka. Namun, sampai kapanpun Fatih akan mempertahankan Shofi.
Walau sejujurnya Fatih tidak mengerti dengan keluarga Shofi. Mereka begitu misterius untuk di tebak. Bahkan mencari tahu tentang Shofi saja Fatih sangat sulit.
Dret ...
Sura ponsel membuat Fatih dan Shofi terkejut bahkan mereka sampai melepaskan pelukan mereka.
Dengan cepat Shofi langsung beranjak dari tempat tidur menuju meja di mana ponselnya berada.
Cherry!
Shofi langsung mengangkat telepon dari Chris dengan perasaan was-was.
__ADS_1
Kening Shofi mengerut sempurna dengan wajah yang begitu tegang. Seolah ada sesuatu yang terjadi.
"Tunggu aku, jangan pernah tinggalkan Elsa sebelum aku datang!"
Tegas Shofi langsung mematikan ponselnya dengan rahang mengeras.
"Ada apa, apa ada sesuatu yang terjadi?"
Tanya Fatih terkejut melihat perubahan wajah Shofi yang mengeras. Bahkan tatapannya menjadi tajam tak selembut tadi.
"Ada sesuatu yang terjadi pada Elsa, aku harus ke rumah sakit sekarang!"
"Ini sudah malam sayang!"
"Ok, biar aku yang antar!"
Putus Fatih karena tak tega melihat kecemasan di wajah Shofi. Entah apa yang terjadi kenapa Shofi panik seperti itu.
Di sepanjang jalan mereka tak saling bicara apalagi Shofi sedang sibuk dengan pikirannya sendiri.
Fatih pun tak berani bertanya, Fatih hanya menggenggam tangan Shofi yang mengepal pertanda Shofi sedang menahan amarah.
Sesudah sampai di rumah sakit Shofi langsung keluar tanpa menunggu Fatih bahkan sampai Fatih terkejut.
Dengan cepat Fatih memarkirkan mobil dengan benar lalu berlari menyusul Shofi.
Brak ...
Tubuh Fatih terpental ketika ada sebuah mobil yang sedang berputar balik tanpa sengaja menyenggol Fatih hingga kepala Fatih membentur body mobil lain bahkan sampai Fatih tak sadarkan diri.
Dalam situasi cemas seperti ini membuat Shofi meninggalkan Fatih yang tergeletak tak sadarkan diri.
Pikiran Shofi hanya di penuhi dengan Elsa dan Elsa. Entah apa yang terjadi kenapa Shofi se-panik itu.
"Cherry!"
Teriak Shofi membuat Cherry langsung berdiri dengan linangan air mata.
"Di mana Elsa,"
"Elsa ada di dalam, sudah tiga kali Elsa pingsan. Dan, sekarang keadaan Philip sangat kritis. Kadang detak jantungnya berhenti kadang normal dan tadi Philip mengalami kejang-kejang!"
Shofi memejamkan kedua matanya erat dengan tangan mengepal. Sungguh hati Shofi sakit mendengar cerita dari Cherry. Entah bagaimana perasaan Elsa saat ini.
Shofi bersumpah jika terjadi sesuatu pada Philip dan Elsa Shofi tak akan pernah memaafkan sang kakak. Karena semuanya sang kakak yang memulai.
Ini sudah di batas wajar dan Shofi tak bisa mentoleransi lagi.
Shofi masuk kedalam ruangan rawat Elsa dengan hati berdebar di ikuti Cherry dari belakang.
Hati Shofi mencelos melihat wajah Elsa yang begitu pucat dan lelah. Terlihat sekali kesedihan di wajahnya apalagi mata Elsa begitu bengkak pertanda Elsa terus menangis.
"Aku belum pernah melihat Frozen se-terpuruk ini!"
"Semua ini salahku, aku yang membuat Elsa dan Philip berada di titik seperti ini!"
Cherry memeluk Shofi, di sini pasti Shofi yang paling merasa bersalah karena memang Philip dan Elsa sudah menjadi saudara bagi Shofi.
__ADS_1
"Maafkan aku El, aku mohon sadarlah!"
Shofi tak bisa menahan kesedihannya lagi melihat Elsa seperti ini.
Elsa dan Philip dua-duanya sedang berjuang, atau mereka berdua terlalu lelah melewati semua ini hingga mereka memilih berbaring saja.
"El bangun jangan buat aku cemas, aku tahu kamu kuat!"
Lilir Shofi mengigit bibir bawahnya kuat karena tak sanggup melihat semua ini. Begitu dengan Cherry yang memang sendari tadi terus menangis juga menyaksikan bagaimana rapuh nya seorang Elsa.
Masalah yang silih berganti menghampiri mereka membuat Shofi, Cherry dan Elsa bukan saling menguatkan namun mereka malah sama-sama berada di titik terendah membuat mereka sulit untuk membantu satu sama lain.
Drett ...
Ponsel Cherry berdering membuat Cherry merogoh ponselnya. Cherry terdiam melihat siapa yang menelepon. Cherry bingung apakah harus di angkat atau tidak.
"Angkat saja Cher,"
Ucap Shofi lemah karena sendari tadi ponsel Cherry berdering pertanda bahwa panggilan itu sangatlah penting.
Dengan tak enak hati Cherry meminta izin keluar guna mengangkat telepon. Meninggalkan Shofi seorang diri di dalam menunggu Elsa.
Sebelum mengangkat telepon Cherry menengok kanan kiri terlebih dahulu baru mengangkatnya.
"Kenapa baru di angkat, apa kamu sedang sibuk!"
Terdengar protes dari Jarvis karena Cherry sulit sekali di hubungi dari kemarin. Dan sekarang Cherry baru mengangkatnya setelah puluhan kali di panggil.
Cherry hanya menghela nafas berat, kenapa sekarang Cherry di terpa masalah. Kenapa tidak nanti saja setelah Cherry menemani Elsa bangkit dari keterpurukannya.
Sungguh Cherry sangat pusing sekali apalagi Shofi yang harus memikirkan pekerjaan, kampus, masalah Fatih dan sekarang Elsa dan Philip.
Huh ....
Shofi menghela nafas dalam melihat Elsa yang tak bergerak sama sekali.
"El, ayo bangun aku tahu kamu kuat. Jika kamu seperti ini siapa yang akan menjaga Philip!"
"Philip sedang butuh kamu, tolong bangun lah. Aku janji aku akan melakukan apa saja demi kalian. Tak akan ada yang bisa memisahkan kalian walau aku harus menentang kak Davit!"
Gumam Shofi terus mengajak Elsa bicara berharap Elsa mendengarnya dan segera bangun. Sungguh Shofi tak bisa melihat orang-orang tersayangnya seperti itu.
"Aku keluar sebentar, ingin melihat Philip. Tunggu aku,"
Ucap Shofi lagi, karena harus memastikan bagaimana sekarang keadaan Philip. Shofi yakin, di ruang Philip pasti sedang di jaga ketat oleh anak buah sang kakak.
Setelah memastikan tidur Elsa nyaman Shofi langsung keluar.
Seketika Shofi menghentikan langkahnya ketika menyadari sesuatu. Bahkan mata Shofi membulat sempurna.
Fatih!
Deg ...
Bersambung ...
Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...
__ADS_1