Fatih (Rindu Yang Belum Usai)

Fatih (Rindu Yang Belum Usai)
Bab 84 Saling memaafkan


__ADS_3

Dan benar saja sebelum Shofi berangkat ke Jerman Shofi mengunjungi kediaman Al-biru terlebih dahulu.


Shofi hanya tak mau meninggalkan kejanggalan di hatinya. Shofi hanya ingin semuanya benar-benar clear tak ada masalah lagi.


Shofi di sambut hangat oleh Queen dan Farhan sedang Aurora dia sudah kembali ke Amerika karena tak bisa terlalu lama pulang.


Shofi terpaku menatap sosok bocah kecil yang terlihat tampan tak jauh dari kakak. Sosok yang sendari di kandung sudah melalui hal berat bahkan sampai lahir pun.


Bocah yang dulu Shofi pergi ketika Queen hamil dan sekarang Shofi baru bisa melihat dengan jelas bocah ini ternyata sudah tumbuh dengan baik walau harus melalui masa sulit.


Aksara mengerutkan kening melihat wanita dewasa yang di bawa sang kakak. Dia sangat cantik apalagi mata biru bening nya Aksara menyukai itu.


Aksara menatap Shofi seksama yang juga sedang menatapnya. Aksara seolah pernah melihat wanita di depannya tapi di mana.


"Dek, kenalin ini kak Sho--"


"Philo!"


Celetuk Aksara membuat Shofi menautkan kedua alisnya begitu pun dengan Fatih. Bagaimana bisa adiknya tahu nama panggilan kesayangannya.


"Adek kenal kakak, bukankah kita baru bertemu!"


Aksara mengangguk mengiyakan ucapan Shofi. Namun, Aksara bocah yang pintar dengan ingatan kuatnya.


Aksara pernah mendengar sang kakak mengigau memanggil-manggil nama itu dan Aksara pernah melihat di sebuah


"Poto kakak banyak sekali di ponsel dengan nama Philo begitu pun kak Fatih sering mengigau nama Philo .. Philo ,,,"


Fatih menautkan kedua alisnya karena merasa belum pernah mengigau seperti itu lalu bagaimana bisa Aksara bicara seperti itu dan ponsel, ponsel apa yang Aksara maksud.


Queen dan Farhan hanya diam saja mendengar ocehan Aksara sudah di pastikan rahasia satu-satunya hari ini akan terungkap dan seperti Farhan harus siap menjelaskannya lagi.


"Benarkah seperti itu!"


Ucap Shofi sambil tersenyum semanis mungkin. Shofi berusaha tenang arena Shofi sudah faham akan kemana arahnya.


"Iya, mata kakak sangat cantik Aksa suka!"


"Terimakasih sayang, jadi bolehkah kakak tahu dimana Aksa melihat Poto kakak?"


Aksara terdiam sambil menatap kedua orang tuanya seolah meminta izin.


Queen hanya diam saja karena semua itu tak bisa di tutupi lagi.


"Bunda bolehkah Aksa mengambilnya?"


Izin Aksara sontak membuat Shofi menatap Queen.


"Boleh sayang, ambillah!"

__ADS_1


Aksara langsung berlari menuju kamar kedua orang tuanya guna mengambil ponsel yang sering ia mainkan. Bahkan di ponsel itu banyak sekali game kesukaan Aksara.


Fatih hanya diam saja seolah menjadi orang bodoh di sini. Jadi selama ini kedua orang tuanya benar-benar menutup rapat kisah Shofi kisah Filosofi Alin nya.


Sebuah kisah yang begitu istimewa di hidup Fatih, kisah dimana Fatih merasakan pertama kali hatinya jatuh cinta dan rapuh secara bersamaan.


Namun yang lebih heran lagi kenapa Shofi tak bereaksi apa-apa bahkan tak ada amarah dari tatapannya.


"Di sini!"


Shofi tersenyum melihat Aksara membawa sebuah ponsel. Ponsel yang sangat Shofi kenali siapa pemiliknya.


Shofi mengambil ponsel itu lalu menyalakannya. Shofi tersenyum ketika melihat wallpaper ponsel Fatih adalah Poto dirinya ketika Shofi sedang tertidur. Shofi ingat betul dimana ia tidur.


Shofi sangat mengingatnya dengan jelas jika ia tertidur di wastafel kamar mandi ketika ia di hukum pak Anwar untuk membersihkan toilet.


Shofi tersenyum geli jadi selama ini diam-diam Fatih selalu mengambil gambar tanpa seizin dia.


Lalu Shofi membuka galeri, sontak Shofi membulatkan kedua matanya ketika banyak sekali Poto dia memenuhi ponsel Fatih dan Shofi ingat dengan jelas kapan dan di mana kejadiannya.


Hingga Shofi terpaku melihat beberapa Poto yang memperlihatkan punggung dia. Shofi masih ingat jika itu di malam ia terkurung bersama Fatih di ruang UKS.


Shofi pikir Fatih meninggalkannya nyatanya Fatih mengikutinya dari belakang sungguh Shofi tak bisa menahan harunya.


Di cintai begitu besar oleh Fatih membuat Shofi benar-benar merasa bahagia Shofi tak menyangka jika cinta Fatih akan sebesar itu.


"Bukankah ini kakak, walau rambut kakak sekarang berbeda!"


"Boleh, tapi izin dulu sama Bunda kata Bunda ponsel itu sangat berharga buat kak Fatih!"


"Boleh sayang, bunda mengizinkan karena itu memang milik kak Shofi!"


"Philo bunda kak Philo!"


Seloroh Aksara membuat Queen mengangguk saja. Seperti nya putra bungsunya sangat menyukai panggilan itu sama seperti Fatih.


"Sayang, bisakah Dede main sama nenek ada yang bunda ingin bicarakan dengan kak Philo!"


"Baik bunda,"


Aksara langsung berlari mencari sang nenek, nenek yang Queen maksud adalah Bi Marni pembantu di rumah Al-biru.


"Bun, pah apa maksud ini?"


Tanya Fatih tak habis pikir, Shofi langsung memegang tangan Fatih agar botak tersulut emosi.


Jika Fatih yang selalu menenangkan dirinya maka kali ini Shofi harus bisa menenangkan Fatih.


"Kami tak berniat membuang Shofi, tapi kami hanya menyimpan kenangan itu!"

__ADS_1


"Tapi kenapa kalian tak pernah memberitahu ku, tak tahukah kalian aku selalu kesakitan akan hal itu. Bayang-bayang itu selalu menghantui ku namun aku tak pernah menemukan titik terang,"


Shofi semakin menggenggam lengan Fatih agar tenang. Shofi tahu apa yang Fatih rasakan namun cerita om Farhan kemarin lusa membuat Shofi berpikir.


Tak ada cinta yang lebih besar dari seorang yang jatuh cinta kecuali cinta seorang ibu pada anaknya.


Shofi kini mengerti dengan apa yang Farhan dan Queen lakukan semuanya demi kebaikan Fatih walau mereka harus melalu masa tersulit.


"Dear,"


Shofi mengelus tangan Fatih yang semakin mencengkram tangannya. Shofi bisa merasakan jika amarah Fatih cukup kuat namun Fatih berusaha menahannya.


"Mere--"


"Aku tahu, aku sangat tahu bahkan aku juga ingin marah pada kak Davit. Tapi--"


Sungguh Shofi tak bisa menjelaskannya karena Shofi sendiri tak tahu caranya.


"Semua salah papa, papa yang merencanakan semuanya dan meminta tuan Davit membantu papa. Papa tak berniat menjauhkan kalian namun kondisi kamu waktu itu tak memungkinkan!"


"Dokter mengatakan jika kamu tak boleh terlalu keras di paksa mengingat karena itu akan membahayakan kesehatanmu. Itulah kenapa kami menjauhkan kalian dulu karena papa tahu Shofi akan tersiksa karena itu. Dan kenapa papa mengirim mu ke Jerman karena papa ingin menebus semua nya papa dan bunda tahu yang bisa mengembalikan ingatan mu hanya Shofi!"


"Maafkan papa dan Bunda kami tak bermaksud menyakiti kalian!"


Fatih mengepalkan kedua tangannya dengan mata memejam.


"Apa kakak marah sama bunda?"


Deg ...


Hati Fatih berdetak sangat kencang mendengar suara lembut penuh kesedihan sang bunda. Bagaimana mungkin Fatih bisa marah pada sosok yang sudah melahirkan, menjaga dan merawat nya.


"Maafkan kakak, Bun!"


Lilir Fatih menatap sendu sang bunda membuat Queen menggeleng kuat.


"Tidak ada kebahagiaan bagi bunda kecuali ketika mendengar kabar jika kamu sudah mengingat semuanya. Bunda hanya mau berterimakasih pada Shofi karena Shofi sudah mengembalikan putra bunda!"


Farhan memeluk sang istri Farhan tahu bagaimana kesedihan sang istri ketika Fatih berada di batas maut.


"Bunda!"


Fatih memeluk sang Bunda merasa bersalah karena sudah menyakiti hatinya.


Queen tak bisa lagi membendung air matanya yang sejak tadi terus memberontak minta keluar.


Shofi tersenyum melihat bagaimana cinta yang begitu besar antara anak dan orang tua. Shofi selalu merindukan momen itu momen di saat Shofi berada di antara pelukan kedua orang tuanya.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...


__ADS_2