Fatih (Rindu Yang Belum Usai)

Fatih (Rindu Yang Belum Usai)
Bab 44 Pertengkaran


__ADS_3

Keadaan Richard mulai membaik, rona wajahnya tak pucat lagi. Bahkan Richard sudah bisa berlari.


"Aunty kemana mommy, kenapa belum kelihatan. Biasanya Mommy akan menyambut pagi Richard?"


Tanya Richard pada Shofi, membuat Shofi terdiam karena bingung harus menjawab apa. Sedang dirinya sendiri belum bertanya tentang keadaan Angel.


"Mungkin Mommy lagi ada urusan, sini Richard sarapan dengan Aunty dulu,"


Richard anak yang pintar dan tak akan banyak tanya. Dia langsung, mengangguk saja membuat Shofi senang.


Tak lama Elsa muncul ke ruang makan, lalu membisikan sesuatu pada Shofi membuat Shofi membulatkan kedua matanya tajam.


Entah apa yang Elsa bisikan kenapa Shofi nampak tegang sekali. Apa lagi Shofi melirik Richard seolah ada ketakutan di sana.


"Aunty Frozen sini, makan bareng Richard!"


Ucap Richard membuat Elsa tersenyum, Elsa lalu duduk di samping Richard membuat Richard senang sekali.


Elsa dan Shofi menemani Richard makan dengan tenang seolah tak terjadi apa-apa. Sampai mereka selesai makan.


Elsa langsung membawa Richard ketempat belajar sambil bermainnya. Sedang Shofi langsung menuju kamar utama di mana itu tempat tidur Davit dan Angel.


Dua bodyguard menyingkir ketika ada Shofi.


Tok ...


Tok ...


Shofi mengetuk pintu kamar sang kakak, tak lama kamar itu terbuka sendiri membuat Shofi langsung masuk begitu saja.


Shofi melihat Angel yang berbaring lemah di atas ranjang dengan Davit ada di sampingnya.


Shofi mendekat lalu duduk di bibir ranjang, Shofi meraih tangan Angel yang begitu lemah.


"Bagaimana kabar kakak?"


Tanya Shofi lembut sambil mengelus punggung tangan Angel.


"Baik, di mana Richard?"


Tanya balik Angel karena Angel tahu putranya pasti menanyakan keberadaan dia.


"Richard sudah baikan, dia main bersama Elsa di rumah mainnya!"


"Berapa bulan kandungan nya?"


Tanya Shofi lembut, Shofi merasa bahagia mendengar kabar baik ini di mana ia akan menjadi aunty kembali.


"Enam Minggu!"


"Selamat ya kak, akhirnya Richard akan menjadi kakak!"


"Terimakasih sayang,"


Ucap Angel lemah, karena dia baru saja habis muntah-muntah kembali.


Ya, ternyata Angel sedang mengandung, dan mual-mual kemaren itu bukan masuk angin melainkan Angel sedang mengandung dan sebentar lagi Richard akan benar-benar menjadi seorang Kakak.


Namun, di balik kebahagiaan itu Shofi teringat mimpi Richard apa Richard akan menerimanya atau tidak.

__ADS_1


"Kakak jangan bicara, aku masih marah!"


Ketus Shofi menatap tajam Davit yang akan angkat bicara.


"Ya ampun dek, sejak kapan kamu membantah perintah kakak!"


"Karena yang kakak lakukan menyakitiku dan Philip!"


Ketus Shofi menatap tajam sang kakak membuat Angel langsung memegang tangan sang suami agar tak terbawa emosi. Dua-duanya sangat keras kepala membuat Angel sangat pusing mendengar perdebatan mereka apalagi keadaan Angel sedang sakit.


"Ikut kakak!"


Ucap Davit, membuat Shofi langsung mengikuti kemana Davit membawanya.


"Berikan satu alasan kenapa kamu menolak keinginan kakak?"


Tegas Davit menatap tajam sang adik yang mulai tak menurut padanya.


"Kakak tahu, aku sangat mencintai Fatih ak--"


"Fatih Fatih dan Fatih, kenapa harus Fatih. Bukankah dia hilang ingatan. Mau sampai kapan kamu terus menunggunya. Dia sudah melupakan kamu,"


"Tapi Fatih sedang berusaha kak, aku akan tetap menunggunya!"


"Mau sampai kapan hah, mau sampai kakak mati!"


Dua kakak beradik itu terlibat perdebatan yang sangat sengit. Salah satunya tak mau mengalah, dua-duanya sangat keras kepala.


Mau Davit ataupun Shofi, dia orang yang jika berdebat tak akan ada yang bisa memisah mereka bahkan Angel sekalipun.


"Apa alasan kakak menjodohkan kami, sedang kami tak saling mencintai!"


"Aku bisa menjaga diriku sendiri kak, aku bukan anak kecil lagi!"


"Tapi kamu masih lemah, kakak hanya ingin yang terbaik untuk kamu!"


"Yang terbaik untuk aku atau untuk kakak sendiri!"


"Untuk kamu, emang apa yang kakak lakukan selama ini!"


"Tapi, kakak akan banyak menyakiti hati orang lain. Kakak sudah menyakitiku, juga Philip dan Elsa!"


Deg ...


Davit terdiam, kenapa Shofi membawa-bawa nama Elsa. Apa urusannya dengan Elsa kenapa Elsa juga harus sakit hati.


"Elsa!"


"Ya, Elsa. Apa kakak tidak tahu, Philip dan Elsa saling mencintai. Mereka menyembunyikan hubungan mereka karena aturan kakak,"


"Beraninya mereka!"


Geram Davit mengepalkan kedua tangannya erat. Kenapa dia orang kepercayaan malah mengkhianati mereka.


"Apa kakak mau marah, jangan berani-berani menghukum mereka. Maka kakak harus berhadapan dengan ku!"


Sengit Shofi menatap tajam sang kakak. Dua-duanya benar-benar tak ada yang mau mengalah. Bahkan Shofi semakin berani menentang Davit membuat Davit semakin kesal karena sang adik tak mau menurut lagi.


"Terus jika mereka bersama, apa kamu mau tetap sendiri. Siapa yang akan menjaga kamu ketika kakak tak ada?"

__ADS_1


Ucap Davit mulai melemah, karena jika terus memakai otot Davit takut akan menyakiti sang adik.


"Aku akan menunggu Fatih, sampai kapanpun!"


Tegas Shofi membuat Davit tersenyum kecut, sebegitu berharga kah Fatih di hidup sang adik sampai Shofi berani menentangnya.


"Baiklah jika itu mau kamu, kakak beri kamu waktu empat bulan, jika Fatih masih tak mengingat kamu jangan salah kan kakak akan memaksa kamu menikah dengan pilihan kakak!"


"Kakak mengancam aku, baiklah. Aku yakin, Aku bisa mengembalikan ingatan Fatih lagi!"


Tegas Shofi tak ada keraguan sama sekali, walau Shofi tahu apa ia mampu atau tidak mengingat sampai sekarang saja Fatih belum sedikitpun mengingat tentangnya.


Davit tersenyum seringai melihat bagaimana keyakinan sang adik yang begitu besar. Kita lihat siapa yang akan menang di sini, Davit atau Shofi.


"Seyakin itu!"


"Iya!"


"Baiklah jika itu pilihan kamu, jangan pernah menyesal sudah mentang kakak!"


Ucap Davit langsung keluar dari ruang kerjanya meninggalkan Shofi seorang diri.


Shofi mengepalkan kedua tangannya kuat, dengan rahang mengeras. Kenapa sang kakak selalu saja tak memberikan dia kebebasan.


Apakah Shofi mampu mengembalikan ingatan Fatih sedang empat bulan waktu yang sedikit. Sedang Empat tahun saja Fatih belum bisa mengingat. Bagaimana dengan empat bulan dari sekarang. Apakah Shofi mampu atau tidak.


Shofi keluar dari ruangan kerja sang kakak dengan amarah, kekesalan dan kesedihan yang bercampur aduk menjadi satu.


Ingin sekali Shofi meluapkan kekesalannya, namun pada siapa.


Shofi keluar mansion membawa mobil sendiri. Shofi melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Semarah apapun Shofi jika masih bisa mengendalikannya Shofi akan tetap tenang.


Brak ...


Shofi terkejut ketika ada sebuah mobil menabrak mobil dirinya membuat Shofi harus membanting stir hingga Shofi menubruk pohon.


Shofi memegang kepalanya yang terasa pusing akibat benturan terjadi. Untung saja kening Shofi tak mengeluarkan darah. Hanya, memar saja yang terlihat.


Shofi keluar guna melihat siapa yang menabrak dirinya.


Sedang mobil yang menabrak Shofi sudah di amankan oleh polisi.


"Apa anda baik-baik saja nona?"


Tanya salah satu polisi, membuat Shofi mengangguk saja pertanda Shofi baik-baik saja.


"Seorang anak di bawah umur yang menabrak anda. Kami akan membawa bocah itu ke kantor, untuk di tindak lanjuti karena sudah melanggar aturan!"


"Tidak apa pak, dia masih kecil jangan sakiti dia. Telepon saja kedua orang tuanya dan berikan peringatan pada kedua orang tuanya agar lebih hati-hati memberi izin pada anaknya!"


"Baik nona!"


"Maaf, anda seperti nya harus e rumah sakit. Takut ada benturan dalam!"


Shofi mengangguk saja, membuat salah satu polisi langsung membawa Shofi ke rumah sakit.


Bersambung ...


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan Vote Terimakasih ...

__ADS_1


__ADS_2