Fatih (Rindu Yang Belum Usai)

Fatih (Rindu Yang Belum Usai)
Bab 34 Aku mencintaimu!


__ADS_3

Hari ini hari libur kuliah membuat Shofi bermalas-malasan di dalam kamar. Bahkan Shofi belum juga membual gordeng jendela kamarnya.


Beberapa kali Davit dan Angel menelepon namun tak ada satupun yang di jawab oleh Shofi. Shofi membiarkan nya begitu saja.


Bagaimana Shofi bisa menjawab kalau Shofi sendiri masih tidur bahkan hari sudah siang. Karena Shofi semalaman tidak bisa tidur seperti biasanya dan baru jam enam pagi Shofi bisa memejamkan kedua matanya akibat kelelahan menangis.


Seperti itulah hari yang selalu Shofi lalui. Mungkin, ia akan selalu tegar di luar namun Shofi tetap wanita lemah sama seperti yang lain. Tak ada yang sehebat itu membuat Shofi hingga sampai mengalami gangguan sulit tidur. Kecuali Fatih, ya Shofi menangis karena Fatih.


Rasanya Shofi sudah lelah untuk menahan kerinduan yang terus menyesakan dadanya. Entah sampai kapan Shofi harus menahannya lagi.


Tok ....


Tok ...


Ketukan pintu sendari tadi terus nyaring terdengar. Namun, tak sedikitpun membuat tidur Shofi terusik. Bahkan, yang mengetuk pintu menjadi kesal sendiri bahkan tangannya terasa kebas akibat entah sudah berapa jam ia menunggu.


Shofi bak putri tidur yang tak terusik sama sekali. Bahkan ponsel Shofi kembali menyala memperlihatkan Angel menelepon. Tapi, lagi-lagi suara dering telepon juga tak membuat Shofi terusik.


Sampai semua orang lelah sendiri dengan apa yang mereka lakukan. Bahkan bodyguard yang Davit tugaskan, mereka juga sama malah kelelahan sendiri harus menunggu berjam-jam nona muda mereka keluar apartemen.


Bagi Shofi, hanya tidur yang sejenak menenangkan hati dan pikirannya. Berharap jika bangun, hati Shofi berubah menjadi baik.


Emmz ...


Shofi menggeliat manja sambil memeluk guling kesayangannya. Perlahan bulu mata lentik itu mengerjap-enjap lucu.


Shofi membuka kedua mata indahnya seperti biasa Shofi langsung beranjak ke kamar mandi guna merendam tubuhnya agar segar kembali.


Aroma terapi Shofi pakai untuk kembali met fresh kan pikirannya.


Setengah jam cukup bagi Shofi menyegarkan kembali tubuhnya. Shofi langsung membilas tubuhnya di bawah shower.


Setelah selesai Shofi memakai jubah mandi, lalu membuka semua gordeng jendelanya. Entah berapa lama lagi musim dingin akan berganti menjadi musim gugur.


Udara segar menyeruak masuk kedalam kamar Shofi. Membuat Shofi sejenak menikmati suasana ini.


Shofi sengaja mendengarkan musik kenceng karena sendari tadi pintu kamar apartemen di ketuk terus. Shofi malas untuk sekedar membuka pintu karena Shofi yakin para bodyguard yang di utus sang kakak berada di depan pintu apartemen nya.


Karena tak mau mendengar ocehan sang kakak nantinya lebih baik Shofi tak membukanya sama sekali. Shofi asik saja mendengarkan musik sambil membuat sarapan. Harusnya itu bukan sarapan melainkan makan siang.


Begitulah Shofi, bahkan Shofi tak pernah memerhatikan dirinya sendiri untuk sekedar hidup sehat.


Shofi terlalu sibuk dengan dunianya sendiri sampai lupa jika dirinya juga butuh kesehatan.


Shofi mengirim pesan pada Elsa untuk bertemu di cafe karena Shofi harus menyakinkan Elsa jika hubungan mereka akan baik-baik saja.

__ADS_1


Shofi tahu siapa Elsa, Elsa akan tetap merasa takut jika bukan dia sendiri yang meyakinkan Elsa. Shofi berharap kejadian kemaren tak membuat Philip kelelahan membujuk Elsa agar bersabar menunggunya.


Karena hari sudah mulai sore dan Shofi ada janji bersama Elsa maka Shofi segera bersiap untuk berangkat.


Shofi berharap bodyguard sang kakak sudah tidak ada lagi di depan pintu apartemen nya. Dengan cerdiknya Shofi melihat dulu apa di luar masih ada atau tidak. Ternyata di luar tak ada siapa-siapa lagi membuat Shofi bernafas lega.


Shofi menghela nafas lalu membuka pintu Apartemen.


Bruk ...


Shofi diam mematung melihat siapa yang terjatuh tepat di depan pintu apartemen nya.


Akhh ...


Fatih mengelus kepalanya yang terbentur dengan kaki Shofi. Karena Fatih ketiduran menunggu Shofi keluar hingga Fatih memilih bersandar pada pintu apartemen Shofi. Dan ketika Shofi membuka pintu otomatis Fatih akan terjatuh dan kepalanya membentur kaki Shofi.


Shofi sendiri hanya diam mematung karena masih terkejut dengan apa yang ia lihat. Shofi tak menyangka Fatih menunggunya sampai ke tiduran.


Sejak kapan?


Pertanyaan itu terlintas di pikiran Shofi. Sejak kapan Fatih kembali dan berada di depan apartemen nya. Jangan bilang kalau yang sendari tadi mengetuk pintu adalah Fatih.


Mustahil!


Shofi tak percaya jika Fatih yang mengetuk pintu sendari tadi. Mana mungkin orang yang sudah pergi meninggalkannya kembali dan rela menunggu dia.


Deg ...


Shofi membulatkan kedua matanya karena asumsinya ternyata salah. Fatih menunggu dia, sejak kapan apa sejak pagi.


"Mau kemana sudah rapi begitu?"


Tanya Fatih menatap Shofi dari atas sampai bawah. Yang sudah rapi dengan pakaian santainya. Seperti nya Shofi akan nongkrong.


"Bukan urusan kamu!"


Ketus Shofi berjalan meninggalkan Fatih, Shofi masih marah dengan apa yang Fatih lakukan pada dirinya empat hari yang lalu. Dan, sekarang Fatih baru muncul tak minta maaf sama sekali.


Membuat kekesalan Shofi semakin bertambah, apa lagi melihat Fatih baik-baik saja sedang dia harus menangis setiap malam.


Grep ..


Fatih memeluk Shofi dari belakang, membuat tubuh Shofi diam mematung sambil memejamkan kedua matanya merasakan pelukan hangat yang sudah lama tak Shofi rasakan. Pelukan yang sama persis dengan pelukan empat tahun lalu.


"Aku tahu aku salah, aku minta maaf atas apa yang aku lakukan empat hari lalu. Ak-aku tidak bermaksud m--"

__ADS_1


"Sudah lupakanlah!"


Ketus Shofi gemetar sambil menyingkirkan tangan Fatih di perutnya.


Hati Shofi sangat sakit, Shofi pikir Fatih akan menjelaskan tentang perasaannya nyatanya Shofi salah besar. Fatih minta maaf hanya merasa bersalah padanya.


Harusnya Shofi sadar, jika Fatih tak mengingatnya tapi bodohnya Shofi menyangka jika Fatih sudah mengingatnya.


"Tunggu!"


Ucap Fatih mencengkal lengan Shofi erat. Namun, Shofi menepisnya.


"Apa lagi, jika kamu merasa bersalah karena hilap aku tak apa. Sudahlah aku harus pergi!"


"Bukan itu yang aku maksud!"


Ucap Fatih mencegah Shofi pergi, namun Shofi sudah terlanjur kecewa dan berusaha pergi dari hadapan Fatih. Namun, Fatih terus menghalangi Shofi membuat Shofi menjadi kesal sendiri.


Andai Fatih adalah musuhnya sudah sendari tadi Shofi singkirkan dengan cara kasar.


"Berikan aku waktu untuk menjelaskannya, please!"


Mohon Fatih memelas membuat Shofi luluh kembali. Walau bagaimanapun Fatih adalah orang yang berharga di hidupnya. Bagaimana bisa Shofi tak memberi Fatih waktu.


"Lima menit!"


Ketus Shofi sambil memalingkan wajahnya karena tak sanggup jika harus menatap Fatih.


Fatih berjalan mendekat, memegang tangan Shofi erat.


"Aku tahu apa yang aku lakukan salah, tapi satu yang harus kamu tahu. Aku tak menyesal melakukannya!"


Shofi langsung berbalik menatap Fatih, Shofi menautkan kedua alisnya bingung. Apa yang Fatih maksud sebenarnya.


"Aku tak menyesal, karena itu naluriku sendiri. Aku melakukannya karena aku mau!"


"Maksudnya!"


"Aku mencintaimu!"


Duarrr ....


Shofi membulatkan kedua matanya tak percaya dengan apa yang Fatih ucapkan. Bahkan mata Shofi mulai mengembun siap untuk menumpahkan air matanya.


Bersambung ...

__ADS_1


Jangan lupa Like, Hadiah, komen, dan, Vote Terimakasih ...



__ADS_2